
Pagi harinya Alfina sudah berkutat didapur untuk memasak menu makanan sarapan pagi. Setelah shalat shubuh tadi ia langsung menuju dapur dan memasak bersama dengan bi Marta. Sedangkan suaminya masih belum pulang dari masjid.
"Non nanti malam bu Laila sama pak Lukman sudah kembali pulang kan?". Ucap bi Marta
"Ya bi". Jawab Alfina sambil tersenyum
"Umi sama abi ambil penerbangan malam katanya bi". Lanjut Alfina sambil memotong beberapa sayuran
"Ya non, semoga Bu Laila dan pak Lukman selamat sampai tujuan". Kata bi Marta
"Aamiin terimakasih bibi". Ucap Alfina
"Sama-sama non". Balas bi Marta
Setelah hampir satu jam memasak, kini Alfina mulai menyajikan masakannya kedalam wadah kemudian menaruhnya diatas meja makan. Ia akan bersiap karena pagi ini ia akan pergi ke kampus untuk melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya.
"Sudah non, biar bibi yang bereskan semuanya, non siap-siap saja katanya mau pergi ke kampus?". Ucap bi Marta
Alfina mengangguk "Ya bi, terimakasih". Ujar Alfina
"Kalau gitu Alfina keatas dulu ya bi mau ganti baju dan siap-siap". Kata Alfina pada bi Marta
"Ya non". Jawab bi Marta
Alfina kemudian naik keatas menuju kamarnya dan kamar suaminya guna bersiap diri menuju kampus sambil menunggu Alfan pulang dari masjid. Ia cantik sekali menggunakan rok hitam plisket panjang dipadukan dengan tunik bewarna senja kesukaanya serta hijab syar'i nya yang senada dengan warna rok nya.
Ceklek ...
"Assalamualaikum". Salam seseorang yang tak lain adalah Alfan suaminya
"Waalaikumussalam". Jawab Alfina
Alfina mengambil tangan suaminya untuk ia cium kemudian Alfan membalasnya dengan memberikan kecupan dikening dan dikedua pipi Alfina. Alfina yang diperlakukan seperti itu lantas membuatnya salting dan gugup secara bersamaan, karena suaminya itu sangat manis sekali memperlakukannya.
"Kamu cantik sekali dek". Ucap Alfan sambil menatap Alfina dengan lekat
Alfina menunduk malu karena dipuji oleh suaminya, ia kemudian mendongak menatap suaminya yang juga sedang menatapnya "Terimakasih mas". Jawabnya sambil tersenyum manis
"Mas siap-siap dulu ya, bajunya sudah Alfina siapin diatas ranjang". Lanjut Alfina memberitahu suaminya
"Baiklah dek, tunggu mas sebentar". Balas Alfan
Alfan mengganti baju kokonya dengan baju formal yang disiapkan oleh istrinya, setelah selesai menggunakan bajunya ia mendekati istrinya yang sedang duduk dimeja rias sambil merapikan kerudungnya supaya tidak berantakan.
"Dek". Panggil Alfan
"Ya mas". Jawab Alfina seraya membalikkan badannya menghadap suaminya
"Tolong pasangkan dasi mas". Kata Alfan sambil memberikan dasinya kepada Alfina
Alfina meraih dasi itu kemudian berkata "Baik mas".
Setelah selesai memasangkan dasi suaminya, Alfina mengambil sisir yang ada dimeja riasnya kemudian menyisir rambut Alfan dengan pelan dan hati-hati, Alfan yang diperhatikan oleh istrinya seperti itupun lantas tersenyum manis menatapnya. Alfina nya itu sosok perempuan yang baik hati, suka membantu, dan perhatian kepada dirinya. Bahkan istrinya selalu menuruti perkataannya dan tidak pernah sekalipun istrinya itu membantah ucapannya.
"Sudah?". Tanya Alfan pada Alfina
Alfina mengangguk "Sudah mas". Ucapnya
"Yasudah kita sarapan pagi dulu dek". Ujar Alfan kemudian menggandeng tangan Alfina untuk keluar dari kamar menuju meja makan
Disana Alfan melihat banyak makanan yang sudah tersaji diatas meja makan, ia tau kalau istrinya itu selalu memasakkannya setiap hari bahkan terkadang istrinya itu rela memasak pada malam hari padahal dirinya sudah capek karena pagi sampai sore berada dikampus untuk kuliah. Alfina yang mempunyai sifat pendiam tidak pernah berkata capek ataupun lelah kepada dirinya, ia hanya takut kalau istrinya itu sampai kenapa-kenapa. Mulai dari sekarang ia harus lebih ketat dalam mengawasi pola makan dan pola tidur istrinya supaya istrinya tidak sampai drop dan berakhir sakit.
__ADS_1
"Mas mau makan lauk apa?". Tanya Alfina kepada suaminya
"Apapun dek yang penting itu masakan kamu, In Syaa Allah selalu mas makan". Jawab Alfan sambil tersenyum manis kearah Alfina
"Ya mas". Balas Alfina
"Kamu tadi masak sendirian dek?". Tanya Alfan
Alfina menggeleng "Enggak mas, tadi Alfina dibantu sama bibi". Jawab Alfina
"Syukurlah kalau dibantu sama bibi, mas tidak mau kalau kamu sampai kecapekan". Kata Alfan
"Alfina enggak papa kok mas, lagian kan cuma memasak". Balas Alfina menenangkan suaminya
"Jangan terlalu kecapekan dek, setiap hari kamu selalu bersih-bersih rumah dan memasak buat keluarga. Kalau kamu capek kamu bisa istirahat dulu". Ucap Alfan panjang lebar
Alfina mengangguk patuh "Ya mas". Jawabnya
"Silahkan mas, maaf kalau hari ini Alfina tidak memasak makanan kesukaan mas". Ucap Alfina kepada suaminya
"Tidak apa-apa sayang, apapun yang kamu masak bakalan mas makan. Mas tidak pilih-pilih dan mempermasalahkan kalau soal makanan". Jawab Alfan lembut kepada istrinya
"Terimakasih mas". Ucap Alfina
"Sama-sama sayang". Balas Alfan
Alfina bersyukur memiliki seorang suami yang begitu pengertian seperti Alfan. Ia jadi terharu karena dulu ia pernah bermimpi kalau ia hanya ingin menikah dengan sahabat semasa kecilnya sendiri, dan qadarullah Allah telah mengabulkan semua doa-doanya yang selama ini ia panjatkan setiap selesai shalat lima waktu atupun setiap selesai mengerjakan shalat-shalat sunnahnya.
"Kamu tidak usah ambil piring lagi, sini duduk disamping mas. Mas akan menyuapi kamu makan". Kata Alfan sambil menarik tangan Alfina dengan lembut
Alfina menggeleng "Ehm tidak usah mas, nanti mas makannya tidak kenyang kalau berbagi dengan Alfina". Jawab Alfina pada suaminya
"Kan bisa nambah lagi sayang". Balas Alfan yang mulai menyendokkan makanan untuk istrinya
"Sudah ayo buka mulutnya biar mas yang suapin". Ucap Alfan yang tidak bisa dibantah
Akhirnya Alfina menurut untuk disuapi oleh suaminya, ia melihat Alfan yang begitu lahap memakan masakannya dan sesekali menambahkan lauknya bila dirasa kurang atau sudah habis. Ia jadi semangat memasak kalau suaminya menyukai makanan hasil memasaknya sendiri, besok ia akan mencoba membuat cake kesukaan suaminya agar suaminya tambah sayang kepada dirinya.
Setelah sarapan pagi mereka berdua berangkat menuju kampus karena kegiatan masing-masing. Hari ini Alfina akan mengajukan judul dan mulai menyusun skripsinya yang akan ia konsultasikan dengan dosen pembimbingnya.
"Dek nanti jangan lupa keruangan mas". Kata Alfan pada istrinya
"Ya mas, nanti Alfina akan mengajukan judul skripsi kepada dosen pembimbing Alfina". Jawab Alfina dengan sopan kepada suaminya
"Memangnya siapa dosen pembimbing kamu?". Tanya Alfan jahil dan menggoda Alfina, padahal dirinyalah dosen pembimbingnya dari istrinya sendiri
Alfina menatap suaminya dengan heran, apakah suaminya itu lupa kalau dirinyalah dosen pembimbingnya yang selama ini ia takuti dan segani. Alfina mencoba bersikap biasa saja agar tidak terlihat gugup bila bersama dengan suaminya.
"Kan dosen pembimbing Alfina mas sendiri". Kata Alfina pada Alfan
"Kamu siap bimbingan dengan suami kamu sendiri?". Tanya Alfan sambil tersenyum smirk kearah Alfina
"In Syaa Allah Alfina bakalan selalu siap kok". Jawab Alfina dengan yakin
"Memangnya kenapa mas?". Tanya Alfina penasaran
"Kita lihat saja nanti". Balas Alfan singkat sambil menatap Alfina
Beberapa menit kemudian pasangan suami istri itu sudah sampai dipelataran parkiran kampus, dengan segera Alfan memakirkan mobilnya dengan aman kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya. Ia tersenyum melihat Alfina yang begitu sejuk bila dipandang, wajahnya yang manis, kalem, dan penuh perhatian membuat dirinya tidak bisa berpaling sedikitpun dari istrinya itu. Ia begitu mencintai dan menyayangi lebih dari apapun, bahkan ia rela melakukan apapun demi istri tercintanya itu.
"Mas Alfina ke kelas dulu ya?". Kata Alfina sambil meraih tangan Alfan untuk ia salimi
__ADS_1
Alfan mengangguk "Ya dek, nanti jangan lupa buat bimbingan sama mas". Jawab Alfan sambil mengingatkan Alfina lagi
"Ya mas Alfina enggak lupa kok". Kata Alfina
Setelah berpamitan dengan suaminya Alfina bergegas menuju kelasnya untuk bertemu dengan si Amel sahabatnya. Hari ini sahabatnya juga akan melakukan bimbingan sama seperti dengannya.
"Assalamualaikum Mel". Salam Alfina saat sudah bertemu dengan Amel sahabatnya
"Waalaikumussalam". Jawab Amel
"NANA". Pekiknya yang membuat mahasiswa lain ikut melihatnya
"Shutt jangan teriak-teriak enggak baik". Ucap Alfina memperingati Amel
"Hehe ya lupa". Jawab Amel sambil cengengesan
"Nanti kamu bimbingan kan na?". Tanya Amel pada Alfina sahabatnya
"Ya Mel nanti aku bimbingan sama pak Alfan". Balas Alfina
"Ciee bimbingan sama suami sendiri, hati-hati lho na kalau bimbingan sama pak Alfan. Siapa tau kalau kamu salah nyusun skripsinya kamu bakalan dikasih hukuman, dan hukuman itu khusus hanya diberikan sama kamu". Kata Amel menakut-nakuti Alfina sahabatnya
"Maksud kamu apa si Mel?". Tanya Alfina tak mengerti dengan perkataan Amel
"Udahlah yang penting kamu nurut saja sama suami kamu nanti". Jawab Amel sambil tertawa
"Kan sudah semestinya seorang istri harus menuruti perkataan suami". Balas Alfina
"Ya sahabatku". Timpal Amel sambil memeluk Alfina
Setelah melakukan bimbingan dengan dosennya tadi, kini Alfina duduk manis disofa ruangan suaminya. Saat bimbingan dengan suaminya tadi ia sempat dibuat kesal dan jengkel karena suaminya yang terus-terusan menjahili dan menggoda dirinya, sampai sekarang ia hanya diam tidak mengatakan apa-apa kepada suaminya. Kalau pun ia marah ia akan membuat dosa terlebih berbuat dosa kepada suaminya sendiri, jadi lebih baik ia diam dan tidak emosi menghadapi situasi sekarang ini. Dalam hati ia berkata apa dirinya bisa lulus dengan cepat kalau bimbingan skripsinya dengan dosen yang notabenenya adalah suaminya sendiri.
"Dek makan dulu, kamu pasti laper". Ucap Alfan kepada Alfina sambil memberikan dua kotak nasi untuk dirinya sendiri dan untuk istrinya
Alfina hanya mengangguk menanggapi perkataan Alfan, kemudian Alfina beranjak dari duduknya menuju wastafel diruang pribadi suaminya untuk mencuci tangannya sebelum makan. Setelah makan siang mungkin dirinya akan pulang karena harus memasak dan membuat cake untuk menyambut kepulangan umi Laila dan abi Lukman dari Surabaya.
"Minum dulu dek". Ucap Alfan sambil menyodorkan segelas air putih pada Alfina
Setelah meminum air pemberian suaminya kini Alfina makan siang dengan tenang sedangkan Alfan sedari tadi memperhatikan istrinya yang sedang memakan makanannya tanpa menoleh sedikitpun kearahnya. Setelah selesai makan Alfina bergegas mencuci tangannya kemudian meminta izin pamit untuk kembali pulang terlebih dahulu karena mesti ada hal yang harus diurusnya dirumah.
"Mas Alfina izin pulang dulu ya?". Ucap Alfina sambil menunduk kepada suaminya
"Tunggu disini dulu dek nanti pulangnya bareng sama mas". Jawab Alfan
"Tapi Alfina ingin pulang sekarang". Kata Alfina pelan sambil memohon kepada suaminya agar diizinkan pulang terlebih dahulu
"Kenapa ingin pulang sekarang?". Tanya Alfan sambil memperhatikan Alfina
"Alfina ingin memasak dan membuat cake untuk umi dan abi". Jawabnya
"Nanti saja bareng sama mas pulangnya". Balas Alfan keukeh dengan pendiriannya
"Tapi ..". Ucap Alfina yang langsung dipotong oleh Alfan
"Mas tetap tidak akan mengizinkan adek pulang terlebih dahulu". Kata Alfan tegas namun masih tersirat lembut
"Tunggu disini sebentar temani mas". Lanjut Alfan
Alfina terkejut dengan perkataan yang dilontarkan oleh Alfan, rasanya ia ingin menangis tapi ia tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya didepan suaminya. Ia sedih dan lelah karena sedari tadi dirinya terasa dikekang oleh suaminya apalagi waktu bimbingan skripsi dirinya juga terus dijahili oleh suaminya sendiri.
Alfina hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang dikatakan oleh Alfan, ia tidak mungkin membantah ucapan dari suaminya yang memintanya untuk menunggu diruangannya sambil melihat suaminya bekerja. Sejujurnya ia tidak apa-apa namun ia juga harus menyiapkan makanan dan beberapa kue untuk umi dan abi yang nanti malam sudah kembali pulang kerumah.
__ADS_1
Alfina kembali duduk disofa ruangan suaminya, hawa sejuk akibat ac yang ada diruangan Alfan membuat Alfina mengantuk dan akhirnya tertidur. Alfan yang melihat istrinya tertidur disofa sambil duduk, lantas membenarkan posisi tidurnya menjadi berbaring diatas sofa kemudian menyelimutinya menggunakan jas yang ia pakai saat ini supaya badan istrinya hangat dan tidak kedinginan. Setelah selesai menyelimuti, Alfan mencium kening dan kedua pipi istrinya dengan sayang.