
Kini usia kehamilan Alfina sudah mencapai usia sembilan bulan, tinggal beberapa hari lagi Alfina akan melahirkan sang buah hati kedunia, ia senang dan bahagia karena sebentar lagi dirinya akan menjadi ibu dari anaknya. Ia masih tidak menyangka jika dirinya sampai dititik ini, bulan kemarin ia berhasil meraih gelar sarjananya sampai wisuda. Kini ia akan diberikan kebahagiaan lagi dengan kedatangan buah hatinya.
"Mas". Panggil Alfina pelan
"Ya sayang". Jawab Alfan
"Bunda kesini jam berapa?". Tanya Alfina sambil menatap wajah suaminya
"Insya Allah jam empat sore sayang, kenapa hmm?". Jawab Alfan seraya mengelus pipi Alfina dengan lembut
Alfina menggeleng "Enggak apa-apa mas, Alfina cuman nanya aja". Balas Alfina
Sekarang Alfan berada dirumah karena ia tidak tega jika meninggalkan sang istri yang sebentar lagi akan melahirkan buah hatinya. Meskipun dirumah ada umi dan abinya, akan tetapi dirinya harus tetap menjaga dan melindungi istrinya dengan baik. Jadi ia mengambil alih pekerjaannya untuk dikerjakan dirumah sambil menemani sang istri.
"Aduhh". Pekik Alfina sedikit keras sambil memegangi perutnya
"Dek perut kamu kenapa?". Tanya Alfan khawatir
"Tadi dia nendang mas". Jawab Alfina dengan pelan
"Perutnya masih sakit?". Tanya Alfan lagi
Alfina menggeleng "Sudah enggak kok mas". Jawab Alfina sambil menatap suaminya
Alfan mengelus perut Alfina dengan lembut seraya berkata,
"Sayang jangan nakal ya diperut umma, Insya Allah beberapa hari lagi kamu akan bertemu dengan umma dan papa". Ucap Alfan pada buah hatinya
"Ya papa, dedek gak nakal kok. Tunggu dedek beberapa hari lagi ya buat ketemu sama papa dan semuanya". Balas Alfina dengan suara seperti anak kecil
Alfan terkekeh mendengar ucapan dari Alfina, istrinya itu sangat lucu dan menggemaskan. Ia mengusap lembut kepala istrinya dan mencium keningnya dengan lembut.
Alfina tersenyum menatap suaminya yang juga sedang menatapnya dengan lekat. Tapi terkadang ia juga masih takut dengan suaminya, entah itu takut untuk meminta sesuatu ataupun takut untuk meminta izin.
"Dek mas keruang kerja dulu sebentar ya, kalo adek mau apa-apa segera bilang sama mas". Kata Alfan kemudian bangkit dari duduknya dan mencium pelipis Alfina singkat
"Ya mas". Jawab Alfina
Setelah suaminya menuju ruang kerjanya, ia berniat untuk menonton tv mengurangi rasa bosannya didalam kamar. Akhirnya Alfina menuju ruang keluarga untuk menonton tv karena umi Laila hari ini pergi ke butik karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
Beberapa menit kemudian Alfina merasa perutnya lapar, ia mengambil kue dan pudding cokelat kesukaannya didalam kulkas. Karena ia masih malas jika harus memakan nasi, jadi ia memutuskan untuk memakan makanan yang berserat seperti pudding. Setelah menghabiskan makanannya, Alfina pergi ke dapur untuk mencuci wadah bekas pudding tadi.
"Dek". Panggil Alfan pada Alfina
Merasa tak ada sahutan, Alfan panik dan khawatir karena sang istri tidak berada diruang tv. Ia pun menuju dapur untuk mencari sang istri. Karena dirumah hanya ada dirinya dan juga istrinya, abi dan uminya sedang keluar menuju pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
"Sayang". Panggil Alfan ketika mendapati Alfina yang sedang mengelap kedua tangannya karena habis cuci piring
"Kamu lagi ngapain dek?". Tanya Alfan sambil menghampiri istrinya dengan cepat
"Alfina habis nyuci mas". Jawab Alfina
"Nyuci apa sayang, nanti kamu kecapekan". Kata Alfan gemas kepada istrinya
"Tadi Alfina habis makan pudding buatan umi mas, terus wadahnya Alfina cuci karena sudah habis". Jawab Alfina dengan pelan
"Masya Allah dek, mas khawatir sama kamu". Ujar Alfan
"Alfina enggak apa-apa kok mas". Jawab Alfina sambil tersenyum kearah suaminya
"Yasudah ayo kembali kesana, biar mas temani nonton tv nya". Ucap Alfan pada Alfina
"Ya mas". Jawab Alfina
Alfan menggandeng tangan Alfina menuju ruang tengah untuk melanjutkan nonton tv nya. Karena pekerjaan Alfan tinggal sedikit jadi ia memutuskan untuk menemani istrinya saja. Masalah pekerjaan bisa ia selesaikan nanti, yang penting ia harus mendahulukan kepentingan istrinya.
"Adek enggak ingin makan apa-apa?". Tanya Alfan perhatian
Alfina menggeleng "Alfina sudah kenyang mas, habis makan pudding sama kue". Jawab Alfina sambil tersenyum manis menatap suaminya
Alfan membalas senyuman Alfina kemudian berkata,
"Ya mas". Jawab Alfina sambil mengangguk menatap suaminya
Ditengah-tengah menonton tv Alfina tidak dapat menahan kantuknya, sehingga ia ketiduran sambil bersandar di bahu suaminya. Alfan yang melihat istrinya ketiduran langsung menggendongnya menuju kamar lantai bawah. Walaupun berat badan istrinya naik karena kehamilannya, tapi itu semua tidak mempengaruhi Alfan untuk mengangkatnya memindahkan keatas ranjang agar istrinya merasa nyaman.
"Tidur yang nyenyak sayang, nanti jam satu siang mas bangunin buat shalat". Ucap Alfan pada Alfina
"Masya Allah umma kamu gemesin banget sayang". Lanjut Alfan sambil mengelus perut istrinya mengobrol dengan buah hatinya
Cup ...
Alfan mencium kening dan pipi istrinya dengan lembut, setelah menyelimuti tubuh istrinya ia kembali keruang tengah untuk mematikan siaran tv nya. Kemudian ia masuk kedalam kamarnya menemani sang istri sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Tiga puluh menit lamanya Alfan menyelesaikan pekerjaannya, ia merenggangkan ototnya sebentar kemudian menatap Alfina yang nyenyak dalam tidurnya. Ia mengusap kening istrinya yang berkeringat, padahal didalam kamarnya ada AC akan tetapi jika tidur siang istrinya itu keringetan dan ia selalu mengusapnya menggunakan telapak tangannya.
Ia ikut merebahkan tubuhnya disamping istrinya untuk beristirahat sebentar, karena waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang jadi ia bisa tidur sebentar bersama dengan Alfina. Ia memeluk sang istri yang menghadap kearahnya sambil mengelus rambutnya dengan lembut.
"Kamu cantik sekali sayang". Ucap Alfan sambil memandang wajah cantik Alfina yang sedang tertidur
Suara adzan dhuhur terdengar, Alfan bangun dari tidurnya. Ia membuka matanya melihat sang istri yang masih nyenyak menyelami alam mimpinya, Alfina memang selalu tenang ketika tidur siang, akan tetapi saat malam hari terkadang susah sekali untuk tidur dan berakhir begadang.
__ADS_1
Alfan bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu karena akan melaksanakan shalat dhuhur. Setelah selesai dari kamar mandi ia berniat untuk membangunkan istrinya agar segera melaksanakan shalat dhuhur juga, karena ia akan melaksanakan shalat di masjid
"Adek bangun dulu". Ucap Alfan sambil menggoyangkan lengan Alfian dengan pelan
Alfina bangun dari tidurnya, ia melihat suaminya yang sudah rapi menggunakan sarung dan baju koko. Ia jadi merasa bersalah karena tidak menyiapkan pakaian suaminya yang akan melaksanakan shalat dimasjid. Ia malah tertidur dengan nyenyaknya hingga lalai menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Shalat dhuhur dulu sayang, habis itu kita makan siang bersama". Lanjut Alfan sambil menatap muka bantal Alfina
"Ya mas". Jawab Alfina dengan lirih
"Kalau gitu mas ke masjid dulu ya sayang". Kata Alfan
Alfina mengangguk "Ya mas hati-hati". Balas Alfina
Setelah suaminya berangkat ke masjid ia segera membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu. Tadi ia tidur siang cukup lama karena badannya merasa capek dan mudah lelah. Hamil di trimester akhir membuat Alfina malas melakukan aktivitas, terutama melakukan pekerjaan rumah. Akan tetapi ia sebisa mungkin membantu sang umi untuk membersihkan rumah, karena menurutnya tak pantas bila seorang menantu hanya leha-leha tidak ngapa-ngapain saat tinggal bersama dengan sang mertua. Jadi ia harus tetap menghormati dan menghargai umi Laila dan abi Lukman.
Tak lama Alfan kembali pulang kerumah setelah melaksanakan shalat dhuhur berjamaah di masjid. Ia langsung menuju kamar untuk melihat keadaan istrinya.
Ceklek ...
"Assalamualaikum". Salam Alfan sambil membuka pintu kamarnya
"Waalaikumussalam". Jawab Alfina yang masih memakai mukenahnya
"Udah shalat hmm?". Tanya alfan menghampiri Alfina
Alfina mengangguk "Sudah mas". Jawabnya
"Kalau sudah selesai shalat, sekarang kita makan siang ya sayang, adek dan dede bayi pasti sudah lapar ingin makan". Kata Alfan sambil memegang tangan Alfina
Alfina mengangguk menjawabnya, ia merasa tidak enak dengan suaminya karena lalai menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia tidak menyiapkan pakaiannya, tidak membuatkannya makan siang dan selalu merepotkan suaminya.
"Mas". Panggil Alfina dengan pelan
"Ya". Jawab Alfan
"Maafin Alfina ya mas kalau selama ini Alfina belum bisa jadi istri yang baik untuk mas. Maafin Alfina karena hari ini Alfina lalai tidak menyiapkan pakaian mas dan tidak memasak untuk makan siang". Ucap Alfina lirih namun bisa didengar oleh Alfan
"Tidak apa-apa sayang, kamu sudah berhasil menjadi istri yang baik untuk mas. Jadi tidak perlu risau ya sayang, mas mengerti kalau adek pasti capek apalagi kandungan adek juga sudah besar sebentar lagi akan melahirkan buah hati kita kedunia". Jawab Alfan sambil mengelus pipi Alfina
"Mas memang melarang adek untuk melakukan pekerjaan rumah yang berat, jadi adek harus banyak istirahat supaya bayinya juga selalu sehat". Imbuh Alfan
Alfina menatap suaminya dengan wajah yang sedih dan murung, ia masih takut untuk memandang wajah suaminya yang berada tepat dihadapannya.
"Terimakasih banyak mas". Ucap Alfina
__ADS_1
"Sama-sama sayang". Balas Alfan sambil mencium kening istrinya
Kemudian Alfan mengajak Alfina untuk makan siang bersama dimeja makan karena jam sudah menunjukkan pukul dua sore. Jadi Ia harus memastikan istrinya agar tidak telat dalam urusan makan.