Mencintaimu Dalam Doa

Mencintaimu Dalam Doa
Part 14


__ADS_3

Saat ini Alfina sudah sampai didalam rumah panti. Ia duduk sebentar di sofa ruang tamu karena malam ini bunda Nila masih ada urusan dengan salah satu temannya sehingga beliau belum pulang. Ia mengistirahatkan badannya sejenak guna mengurangi rasa lelah sehabis pulang dari bekerja. Apalagi ia juga dag-dig-dug karena diantar pulang oleh umi Laila dan juga putranya.


"Assalamualaikum kak na". Salam gadis kecil berumur 7 tahun yang bernama Aira


"Waalaikumussalam sayang". Jawab Alfina


Gadis kecil itupun menyalami tangan Alfina dengan sopan, karena bunda Nila selalu mengajarkan kepada mereka tentang adab sopan santun dan berakhlak mulia sehingga mereka semua In Syaa Allah shaleh dan shalehah.


"Kok Rara belum tidur?". Tanya Alfina


"Rara gak bisa tidur kakak". Jawabnya


Aira atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Rara itu adalah salah satu adik panti yang sangat dekat dengan Alfina. Ia sudah menganggap Alfina seperti kakak kandungnya sendiri, begitu juga dengan Alfina yang sangat sayang kepada mereka semua. Pada dasarnya Alfina juga sangat menyukai anak kecil.


"Kenapa Rara gak bisa tidur?". Tanya Alfina lagi


"Rara kangen sama ayah bunda". Ucapnya dengan raut wajah sedih


Mendengar jawaban dari Rara, Alfina dengan segera memeluknya dengan erat. Ia tau kalau Rara tidak bisa tidur seperti ini maka Rara akan selalu mendatangi dirinya dan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Alfina juga ikut turut sedih ketika mendengarnya, ia pun kadang teringat juga dengan kedua orangtuanya yang sudah wafat ketika dirinya masih kecil.


"Sayang, kalau lagi kangen sama ayah bunda Rara harus apa?". Tanya Alfina


"Berdoa". Jawab Rara yang sudah menangis dalam dekapan Alfina


"Rara benar, setiap hari sehabis shalat Rara harus selalu mendoakan ayah dan bunda ya. Rara harus bacain surah Al Fatihah buat mereka. Rara juga harus jadi anak yang baik dan berbakti, supaya ayah dan bunda nya Rara disana bangga memiliki putri yang shalehah seperti Rara". Kata Alfina dengan lembut


Rara mengangguk dalam dekapannya, tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya dengan Alfina seraya berkata "Ya kak na, Rara selalu doain ayah bunda kok". Jawab Rara sambil sesenggukan


"Nah pinter, sekarang Rara tidur ya. Mau tidur bareng sama kakak?". Kata Alfina


"Ya, Rara mau tidur sama kak na". Jawabnya sambil memeluk Alfina kembali


"Baiklah sayang jangan sedih lagi ya, nanti kakak juga ikut sedih". Kata Alfina seraya mengusap pipi Rara


"Ya kakak". Jawabnya

__ADS_1


Keduanya pun akhirnya tidur bersama dikamar milik Alfina dengan tenang. Alfina sangat menyayangi mereka, tak heran ia juga selalu dicarinya setiap hari bila mereka belum bertemu dengan dirinya. Alfina bersyukur memiliki keluarga yang saling menyayangi satu sama lain, apalagi melihat Rara yang selalu menggemaskan seketika ia kadang ingin membawanya ke kampus ataupun ketempat kerjanya karena tidak ingin berjauhan dengan Rara.


Ketika bangun Alfina melihat Rara yang masih tidur dalam dekapannya dengan nyaman. Ia terus memandangi wajah Rara yang tidur karena terlalu menggemaskan menurutnya. Ia jadi membayangkan kalau suatu saat nanti ia pasti menikah dan mempunyai anak apalagi anak perempuan yang pasti sangat menggemaskan seperti Rara saat ini.


Kemudian ia bangun untuk mandi dan melaksanakan shalat shubuh dikamarnya. Setelah mandi ia akan membangunkan Rara untuk ia ajak shalat shubuh berjamaah dikamarnya.


"Sayang bangun yuk, kak na udah mandi lho. Ayo Rara bangun shalat shubuh dulu sama kakak. Tapi nanti gak boleh tidur lagi lho setelah shalat". Kata Alfina dengan lembut


Rara yang dibangunkan seperti itupun lantas membuka matanya sayu, mungkin ia masih mengantuk karena semalam ia habis menangis dalam dekapan Alfina.


"Ya kak na, Rara udah bangun kok". katanya sambil mengucek kedua matanya


"Gak boleh digituin sayang matanya nanti sakit". Peringat Alfina


Rara hanya mengangguk kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi dan mengambil air wudhu setelah itu ia akan melaksanakan shalat bersama dengan kakaknya Alfina.


***


Pagi ini Alfan berada dirumah uminya karena semalam setelah mengantar Alfina, Alfan tidak pulang kerumahnya sendiri melainkan pulang kerumah uminya. Ia juga akan berangkat ke kantor saat pukul sembilan nanti.


"Fan sarapan dulu sayang". Ujar umi Laila saat mengetahui putranya itu turun dari tangga


"Ya umi". Jawabnya sambil berjalan kearah uminya dan mencium pipi uminya sekilas


"Maa Syaa Allah putra umi sweet sekali, pasti nanti perempuan yang akan jadi istri kamu bahagia tinggal bareng sama kamu". Kata umi Laila seraya tersenyum manis pada Alfan


Alfan tersenyum tipis "Terimakasih umi".


Abi Lukman yang melihat interaksi antara istri dan putranya tersebut tersenyum, ia tau jika diluar Alfan akan bersikap dingin dan tegas sedangkan kalau dirumah ia akan bersikap manja dengan uminya.


"Boy kamu hari ini mengajar dikampus?". Tanya abi Lukman


"Nanti sore bi Alfan akan ke kampus". Jawabnya


Hari ini Alfan dengan abinya akan berangkat ke kantor bersama karena siang nanti akan diadakan meeting penting di perusahaan pribadinya. Ia akan membawa mobilnya sendiri bersama dengan sang abi karena nanti ia akan pergi menuju kampus setelah selesai meeting, sementara sang abi akan dijemput oleh sopir pribadinya.

__ADS_1


"Udah selesai boy?". Tanya abi Lukman ketika melihat Alfan sudah menyelesaikan sarapan paginya


"Sudah bi". Jawabnya


"Yasudah kita berangkat". Kata abi Lukman


"Umi, abi berangkat dulu dengan Alfan. Umi jaga diri baik-baik ya dirumah, setelah selesai meeting abi akan segera pulang supaya umi tidak sendirian". Ucap abi Lukman seraya mencium kening dan pipi istrinya


"Ya abi". Jawabnya


Alfan yang melihat keromantisan kedua orangtuanya tersebut berdecak kesal, abinya selalu tidak tau tempat untuk bermesraan dengan uminya.


"Ehmm". dehem Alfan


"Kamu kenapa boy?". Tanya abi Lukman sambil melihat putranya


"Kalau kamu ingin seperti abi dan umi cepatlah menikah boy, supaya bisa merasakan keromantisan bersama dengan istrimu". Goda abi Lukman


"Udah abi, katanya mau berangkat nanti telah lho sampai kantornya". Ucap umi Laila


"Abi berangkat dulu". Ucapnya


Alfan kemudian maju mendekati uminya untuk berpamitan dan mencium pipi uminya sekilas. Dengan senang hati umi Laila diperlakukan seperti itu.


"Alfan berangkat umi". Kata Alfan


"Ya sayang hati-hati ya, bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Jangan lupa shalat dan makan ya nak". Pesan umi Laila kepada Putranya itu


Alfan mengangguk "Ya umi"


"Assalamualaikum". Salamnya


"Waalaikumussalam". Jawab umi Laila


Setelah kepergian suami dan putranya, umi Laila bergegas membersihkan meja makan dan mencuci piring yang dibantu oleh art dirumahnya. Mungkin umi Laila akan kembali memasak nanti saat waktu makan siang berlangsung sekalian memasak untuk dihidangkan pada saat makan malam. Suami dan putranya itu tipe orang yang tidak suka makan diluar misalnya makan di cafe atau restoran, keduanya lebih suka memakan masakan yang ia siapkan dirumah terlebih ia sendiri yang memasaknya. Jadi setiap dua minggu sekali ia dan suaminya atau putranya akan menemaninya belanja kebutuhan rumah di supermarket.

__ADS_1


__ADS_2