Mencintaimu Dalam Doa

Mencintaimu Dalam Doa
Part 17


__ADS_3

Setelah berbincang dengan umi dan abinya tadi, sekarang Alfan berada didalam kamarnya seraya kembali mengingat kejadian masa lalu bersama sahabat kecilnya Alfina.


Flashback on


Saat itu Alfan yang masih kelas dua SMP sedangkan Alfina masih kelas dua SD. Saat pulang sekolah ia melihat Alfina berdiri didepan gerbang sekolah menunggu jemputan dari ayahnya. Alfan yang melihatnya pun segera menghampiri karena kasihan melihat gadis kecil yang cantik seorang diri sementara teman lainnya sudah pada pulang.


"Kamu siapa?". Tanya Alfina saat ada seorang anak laki-laki menghampiri dirinya


"Aku Alfan, kamu?"


"Aku Alfina".


"Ngapain kamu disini sendirian?". Tanya Alfan


"Aku belum dijemput sama ayah". Jawabnya


"Aku akan antar kamu pulang ayo". Ajak Alfan


"Rumah kakak dimana?". Tanyanya


"Rumahku dekat dengan supermarket". Jawab Alfan


Alfina mengangguk kemudian berkata "Aku mau diantar sama Kak Al?". Katanya sambil tersenyum manis


"Kak Al?".


"Aku gak punya kakak, jadi mulai sekarang aku akan panggil kakak dengan sebutan kak Al". Jawabnya


"Boleh". Ucap Alfina lucu yang membuat Alfan gemas


Alfan mengangguk "Boleh, aku juga akan panggil kamu Nana".


"Nana?".


"*Namu kamu Alfina kan, jadi aku ringkas aja jadi Nana". Jawab Alfan sambil mengacak rambut Alfina


Flashback off


Mereka berdua memang bersahabat sejak saat itu, sampai dimana ia dan Alfina berpisah karena takdir. Ia dan uminya harus ikut tinggal bersama abinya di Surabaya, karena ibu dari sang abi yang saat itu sedang sakit. Alfan tidak menyangka jika dipertemukan kembali dengan sahabat kecilnya. Ia bersyukur ternyata sahabat kecilnya saat ini adalah mahasiswa sendiri.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Rabb engkau sudah mempertemukan kembali dengan seseorang yang sudah mengisi hati hamba sedari dulu". Ucap Alfan lirih


Dari dulu ia sudah berusaha mencari sahabat kecilnya itu, akan tetapi tidaklah mendapatkan hasil atas pencariannya tersebut. Akhirnya Alfan yang saat itu sudah remaja dan beranjak dewasa memilih memfokuskan dirinya terhadap dunia pendidikan dan belajar di pesantren milik kakeknya, Ayah dari sang umi.


"Nana aku akan segera menemuimu, mengkhitbah, dan menghalalkanmu secara agama dan terhormat". Kata Alfan lirih


Alfan berharap semoga sahabat kecilnya itu mau menerima lamarannya, akad dengannya, kemudian membangun sebuah rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah bersama dengan dirinya hingga maut memisahkan mereka.


Tok.. Tok ...


Lamunan Alfan tersadar ketika ada seseorang yang mengetuk pintunya. Ia dengan segera membuka pintu kamarnya dan terlihatlah disana sudah ada umi Laila yang datang dengan membawa segelas air putih dingin kesukaan Alfan.

__ADS_1


"Assalamualaikum nak".


"Waalaikumussalam umi".


"Minum dulu sayang". Kata umi Laila sambil menyodorkan segelas air putih dingin kepada Alfan


Alfan menerimanya kemudian meminum air putih dingin itu sampai habis. Kemudian menaruhnya di meja samping tempat tidurnya.


"Gimana sayang perasaan kamu setelah tau kalau mahasiswi mu itu ternyata gadis kecil yang selalu kamu rindukan?". Tanya umi Laila sambil menggoda putranya


"Umi". Kata Alfan manja


"Umi lagi tanya lho sayang, dijawab dong?".


"Alfan bersyukur umi karena dipertemukan kembali dengan Nana". Ucapnya


"Alhamdulillah nak, ternyata gadis yang ikut umi memasak kemarin adalah putri dari sahabat umi". Kata umi Laila sambil tersenyum


Alfan tersenyum tipis mendengarnya, ia beruntung memiliki kedua orangtua yang sangat mensupport dan menyanyangi dirinya. Karena mereka hanya mempunyai satu anak laki-laki. Dari dulu Alfan selalu diberikan kasih sayang yang cukup oleh kedua orangtuanya. Itulah yang menjadikan Alfan bisa sesukses sekarang.


"Kamu makan malam dulu sayang udah umi siapin dimeja makan, apa umi bawakan kesini saja makanannya?". Kata umi Laila


"Tidak umi, Alfan akan turun". Jawabnya


"Yaudah ayo, biar umi ambilkan makannya. Mumpung kamu belum menikah, kalau sudah menikah pasti istri kamu yang akan melayani kamu dirumah". Kata umi Laila sambil tertawa


"Terserah umi". Jawabnya


Akhirnya Alfan turun kebawah bersama dengan uminya menuju meja makan yang sudah terhidangkan banyak makanan termasuk makanan favoritnya yaitu rendang daging. Ia jadi membayangkan jikalau sudah menikah pasti istrinya lah yang akan memasak untuk dirinya. Alfan tersenyum tipis.


Alfan hanya menurut, kemudian sang umi memberikan piring yang sudah terisi kan makanan kesukaanya dimeja makan tersebut.


"Dihabiskan ya sayang, kamu harus makan yang banyak supaya selalu sehat dan bisa segera menghalalkan gadis kecil Nana". Goda sang umi


"Umi". Tegur Alfan


"Sudah dimakan habis itu istirahat". Ucap uminya


"Terimakasih umi". Ujar Alfan


"Sama-sama sayang". Balasnya


Alfan memakannya dengan santai setelah itu ia mencuci piringnya sendiri karena ia tidak mau merepotkan uminya dan juga art yang sedang istirahat. Jika ia bisa melakukannya sendiri maka akan ia lakukan. Ia bergegas naik kekamarnya untuk istirahat karena besok ia harus kekantor dan juga kekampus.


***


Malam ini Alfina berada dikamar bersama dengan bunda Nila yang katanya beliau akan memberitahu satu hal penting terhadap dirinya. Ia jadi penasaran hal penting apa yang akan disampaikan oleh bunda kesayangannya itu.


"Nak kamu kenapa?". Tanya bunda Nila saat mendapati Alfina yang hanya diam


"Tidak apa-apa bunda". Jawabnya

__ADS_1


"Bunda mau menyampaikan hal apa?". Tanyanya


Bunda Nila tersenyum melihat Alfina, meskipun Alfina sudah dewasa tapi ia kelihatan masih imut dan wajahnya seperti anak kecil.


"Bunda mau bertanya dulu sama kamu nak". Ucap bunda Nila


"Bunda mau menanyakan apa?". Balasnya


"Jika ada seorang laki-laki yang mengkhitbah, apa kamu akan menerimanya sayang?". Tanyanya


"In Syaa Allah akan Alfina pertimbangkan bunda". Jawabnya


"Sayang kemarin ada seorang laki-laki dan keluarganya datang kesini untuk mengkhitbah kamu, tapi ia akan datang kesini lagi secara resmi bila ada kamu". Jelas bunda Nila


"Siapa beliau bunda?". Tanya Alfina


"Besok beliau akan datang kesini sayang, jadi besok kamu akan tau". Jawab bunda Nila yang membuat Alfina penasaran


"Besok pulang kuliah langsung balik ya nak, karena tamunya akan datang setelah shalat Maghrib". Kata bunda Nila


"In Syaa Allah bunda, besok Alfina akan meminta izin untuk tidak masuk bekerja


"Baiklah sayang". Ucap bunda Nila


"Kalau begitu besok dandan yang cantik ya, karena mau bertemu sama calon suami". Canda bunda Nila


"Ihh bunda kok calon suami, kan belum tau Alfina terima apa enggak". Ucapnya sambil merengek


"Ya bunda paham, udah sekarang kamu istirahat ya. Besok kuliah pagi kan?". Tanyanya


"Ya bunda besok Alfina sedang ada kelas pagi". Jawabnya


"Bunda keluar dulu ya sayang". Kata bunda Nila


"Ya bunda, bunda juga istirahat ya. Alfina enggak mau kalau sampai bunda sakit, bunda pasti capek seharian penuh mengurus kami Alfina dan adik-adik panti". Ucap Alfina sedih


Bunda Nila tersenyum menenangkan kemudian berkata "Bunda gak capek kok sayang, justru bunda senang dan bahagia bila melihat kalian bahagia. Kalian semua itu penyemangat bunda dari dulu. Apalagi kamu yang sekarang sudah dewasa, dan sebentar lagi akan ada laki-laki shaleh yang akan meminang dan menjadi imam kamu nak".


"Bunda Alfina gak rela kalau harus berpisah dengan bunda". Katanya sambil memeluk bunda Nila


"Sayang dengerin bunda nak. Kamu berhak bahagia bersama dengan pasangan kamu yaitu suami kamu suatu saat nanti. Beliaulah yang akan menjadi imam dan pelindung kamu dimanapun kamu berada. Jadi bunda berpesan kalau sudah menikah, jadilah istri yang baik dan taat sama suami kamu ya sayang. Bunda yakin kamu pasti paham apa maksud bunda". Jawab bunda Nila


Alfina mengangguk dalam dekapan erat bunda Nila "Ya bunda Alfina paham".


"Sekarang tidur ya, jangan begadang".


"Baik bunda". Jawabnya


"Bunda keluar dulu Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam".

__ADS_1


Setelah bundanya keluar, Alfina kembali memikirkan perkataan dari bundanya tadi bahwa ia akan dikhitbah besok. Ia penasaran siapa sosok seorang laki-laki yang sudah berani mendatangi bundanya untuk menyampaikan niat baiknya itu.


Alfina cuma berharap bisa berjodoh dengan seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan paham akan ilmu agama. Karena menurutnya laki-laki yang paham agama pasti bisa membimbing istri dan anak-anaknya kelak. Membina rumah tangga yang harmonis dan romantis sampai maut memisahkan mereka.


__ADS_2