
Setelah sampai di rumah sakit, Alfina turun dari mobil digandeng oleh suaminya. Umi Laila tersenyum melihat putranya yang begitu perhatian dengan istrinya, beliau jadi ingat semasa masih hamil Alfan dulu ketika bersama dengan suaminya.
"Ayo sayang kita masuk, jangan takut ada umi dan suami kamu yang menemani". Kata umi Laila pada Alfina
Alfina mengangguk "Baik umi". Jawab Alfina
Setelah masuk keruangan dokter kandungan, Alfina dipersilahkan untuk berbaring diranjang pasien kemudian diperiksa oleh dokter. Ia dan suaminya sepakat untuk tidak melakukan USG, jadi ia siap menerima jenis kelamin buah hatinya yang entar kelahirannya laki-laki ataupun perempuan. Karena ini juga anak pertama dari Alfan dan Alfina.
"Baik bu silahkan duduk". Ucap dokter pada Alfina
Alfina mengangguk "Baik dokter". Jawab Alfina
"Bagaimana keadaan istri saya dok?". Tanya Alfan dengan tegas
Umi Laila yang duduk disebelah Alfina mengelus tangannya pelan, ia tau istri dari putranya itu takut untuk dibawa periksa ke dokter kandungan. Oleh karena itu umi Laila ikut agar Alfina ada yang menemani selain Alfan suaminya.
"Istri bapak baik-baik saja, kandungannya juga baik dan sehat. Karena ini kehamilan pertama dan masih muda sekali usia kandungannya, jadi sebisa mungkin dijaga dengan baik ya pak bu. Oh ya pak tolong selalu perhatikan pola makan dan istirahat istri anda supaya istri dan janin yang sedang dikandungnya selalu dalam keadaan sehat". Ucap dokter tersebut
Alfan mengangguk "Baik dok". Jawab Alfan
"Satu lagi jangan lupa minum susu ibu hamil ya bu?". Kata dokter lagi
"Ya dok". Jawab Alfina
"Terimakasih banyak dok, In Syaa Allah kita semua akan menjaga ibu hamil ini dengan baik". Ucap umi Laila pada dokter
__ADS_1
"Baik ibu sama-sama". Jawab dokter tersebut
Setelah keluar dari ruangan dokter, Alfan mengajak Alfina dan umi Laila untuk kembali pulang karena ia juga harus berangkat mengajar ke kampus. Ia menggandeng tangan istrinya menuju mobil. Dalam perjalanan pulang Alfina hanya diam sambil memandangi pemandangan jalan lewat kaca mobil suaminya, ia tidak menyangka diusianya yang muda ia sudah diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menjaga sang buah hati.
"Sayang kamu kenapa?". Tanya umi Laila sambil mengelus kepala Alfina. Karena Alfina dan umi Laila duduk di kursi belakang sehingga Alfan didepan mengemudikan mobilnya.
"Tidak apa-apa kok umi". Jawab Alfina seraya melihat umi Laila
"Jangan memikirkan hal-hal yang berat ya sayang, kalau dirumah jangan melakukan pekerjaan yang membuat kamu kecapekan. Umi, abi, dan suamimu akan selalu menjaga dan menyayangi kamu". Kata umi Laila pada Alfina
"Terimakasih umi, Alfina sayang banget sama umi dan abi". Balas Alfina sambil memeluk umi Laila
"Sama mas enggak sayang dek?". Celetuk Alfan yang sedari tadi mendengarkan obrolan uminya dan istrinya
"Sayang juga kok". Jawab Alfina santai
Hal itupun membuat Alfina malu sehingga pipinya berubah menjadi kemerah-merahan karena suaminya secara langsung mengatakan hal seperti itu didepan uminya. Walaupun sudah hamil akan tetapi Alfina masih merasa malu dan salah tingkah jika suaminya tersebut menggoda atau menjahilinya.
"Kamu enggak pengen beli apa-apa dek?". Tanya Alfan pada istrinya
Alfina menggeleng "Aku enggak pengen apa-apa kok mas". Jawab Alfina sambil terus memeluk uminya dari samping
"Yasudah nanti kalau mas bekerja, kalau adek menginginkan sesuatu segera telpon mas ya?". Ucap Alfan
"Ya mas". Jawab Alfina
__ADS_1
Alfina masih setia memeluk umi Laila dari samping, karena menurutnya bermanja-manja dengan sang umi adalah sesuatu yang wajib dilakukan menurut Alfina. Mungkin karena selama ini Alfina merindukan sang bunda yang terlebih dahulu dipanggil oleh Allah, mangkanya ia selalu bersikap manja dengan umi Laila maupun kepada bunda Nila yang sudah mengasuhnya di panti asuhan.
"Maa Syaa Allah, kamu manja sekali sayang". Kata umi Laila
"Tapi tidak apa-apa, umi malah suka kalau kamu juga bermanja dengan umi". Lanjut umi Laila sambil terkekeh karena menurutnya Alfina itu tetap lucu dan menggemaskan
"Terimakasih umi". Jawab Alfina dengan pelan
Setelah kurang lebih beberapa menit sudah sampai di pelataran rumah, Alfina turun dibantu oleh Alfan kemudian mengantarkannya kedalam rumah begitupun dengan umi Laila seraya menggandeng tangan Alfina. Alfina tersenyum haru melihat umi Laila dan suaminya yang begitu perhatian dengan dirinya.
"Sayang mas berangkat dulu ya, kalau menginginkan sesuatu segera telpon mas". Kata Alfan pada istrinya
Alfina mengangguk "Baik mas". Jawab Alfina seraya tersenyum kearah suaminya
"Umi Alfan titip Alfina dirumah, kalau ada apa-apa segera hubungi Alfan". Ucap Alfan pada uminya
"Ya nak, kamu tenang saja. Istrimu yang lucu ini aman dengan umi. Kamu hati-hati ya, jangan ngebut bawa mobilnya". Jawab umi Laila pada putranya
"Baik terimakasih umi". Balas Alfan
"Sama-sama nak". Kata umi Laila
Sebelum suaminya berangkat kerja, Alfina terlebih dahulu menyalimi tangan suaminya yang dibalas ciuman di kening dan dipipi oleh Alfan. Wajahnya memerah karena ulah suaminya yang terang-terangan mencium dirinya didepan uminya sendiri. Alfan terkekeh melihat sang istri yang masih malu dan salah tingkah.
"Assalamualaikum". Salam Alfan
__ADS_1
"Waalaikumussalam". Jawab umi Laila dan Alfina