
Pukul tiga pagi Alfan terbangun dari tidurnya, ia melihat kearah Alfina yang masih memejamkan matanya kemudian Alfan mengecup keningnya dengan lembut. Ia kembali teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu bahwa kini Alfina sudah menjadi milik dirinya seutuhnya. Ia tersenyum bahagia karena telah memiliki istri yang pandai menjaga dan menutup aurat dengan sempurna.
Ia akan bangkit untuk mandi terlebih dahulu kemudian membangunkan istrinya yang masih mengejar alam mimpi. Alfan akan mengajak Alfina untuk melaksanakan shalat tahajud berjamaah dengan dirinya. Ia sangat bersyukur karena memiliki istri yang baik dan shalehah.
Ceklek ...
Bunyi pintu kamar mandi terbuka, disana Alfan sudah keluar dari kegiatan mandinya lalu menghampiri Alfina yang masih nyenyak dalam tidurnya untuk ia bangunkan dan ia ajak untuk shalat tahajud berjamaah bersamanya. Ia memandang wajah istrinya dengan lekat, pipi yang kemerahan dan tembam itu membuatnya sangat menggemaskan bila dilihat. Ia mengusap lengan Alfina dengan lembut untuk membangunkannya.
"Adek". Panggilnya pelan
"Bangun dulu adek, kita shalat tahajud bersama-sama". Ucap Alfan pada Alfina
Alfina menggeliat pelan kemudian membuka kedua matanya menatap Alfan yang berada dihadapannya yang kini sudah memakai pakaian shalatnya dengan lengkap. Alfina kemudian menundukkan kepalanya karena ia kembali teringat dengan aktivitasnya bersama dengan suaminya semalam. Ia malu kala melihat wajah Alfan yang terus memandanginya seperti saat ini.
"Adek mandi dulu habis itu kita shalat tahajud berjamaah". Kata Alfan yang dibalas anggukan oleh Alfina
Alfina bangkit dari tidurnya dengan pelan, ia merasakan nyeri dibagian bawahnya saat mencoba untuk berjalan kekamar mandi. Ia pun berusaha sambil memegang tembok sebagai tumpuannya agar bisa sampai kedalam kamar mandi. Alfan yang melihatnya pun tersenyum manis kemudian dengan segera ia menghampiri istrinya yang kesusahan berjalan itu.
"Biar mas gendong". Ucapnya tiba-tiba
"Ehm tidak perlu mas". Jawab Alfina
Alfan tak menuruti perkataan dari istrinya, ia pun langsung menggendongnya menuju kamar mandi kemudian mendudukkannya di bathub yang sudah terisi air hangat dan cairan sabun yang begitu baunya sangat harum.
"Adek mandi dulu, kalau sudah selesai bilang sama mas biar mas gendong keluarnya". Ucap Alfan sambil tersenyum jahil menatap Alfina
Alfina tetap menunduk malu karena suaminya, jantungnya berdebar kala melihat senyuman manis dari Alfan. Ia tidak menyangka kalau suaminya bisa sebucin itu dengan dirinya, padahal sebelum menikah suaminya itu sifatnya dingin, datar, dan tegas apalagi ketika berada dikampus.
"Kenapa diam?". Tanya Alfan
__ADS_1
"Atau adek mau mas yang mandiin?". Lanjut Alfan
Alfina mendongak sambil menatap suaminya tajam, kenapa suaminya itu selalu frontal ketika berbicara dengan dirinya. Alfan yang ditatap seperti itu oleh istrinya lantas tersenyum manis, baginya tatapan tajam yang dilayangkan oleh Alfina itu sangat menggemaskan dimatanya. Istrinya itu begitu lucu dan tidak terlihat seperti orang marah pada umumnya.
"Yaudah mas keluar dulu, lihat tuh pipi adek sudah memerah". Kata Alfan menggoda Alfina kemudian berlari keluar dari kamar mandi
"Mas Alfan". Ucap Alfina sedikit keras
Ia malu karena suaminya itu terus-menerus menjahili dirinya. Sejak semalam ia selalu digoda oleh suaminya itu. Ia pun bergegas mandi agar bisa melaksanakan shalat tahajud bersama dengan suaminya.
Kini Alfina sudah berpakaian lengkap dan sedang memakai mukenanya yang sudah disiapkan oleh suaminya. Alfan tersenyum melihat Alfina yang sudah segar dan siap untuk beribadah kepada Allah dengan dirinya sebagai imam dan Alfina sebagai makmumnya.
"Sudah?". Tanya Alfan ketika melihat Alfina yang sudah selesai memakai mukenanya
Alfina mengangguk "Sudah mas". Jawabnya pelan
Alfan mulai memimpin shalatnya dengan membaca bacaan surah yang merdu. Hati Alfina bergetar kala mendengar suara Alfan yang begitu indah saat membacakan surah dalam shalatnya. Ia sangat bersyukur dan bahagia karena Allah telah mentakdirkan dirinya dengan seorang laki-laki yang shaleh dan bertanggungjawab.
Alfan menatap Alfina dengan lembut kemudian berkata "Dek terimakasih karena kamu sudah bersedia untuk menjadi istri dan calon ibu dari anak-anak kita kelak". Kata alfan sambil mengusap kepala Alfina yang masih berbalut mukena
"Sama-sama mas, Alfina juga berterimakasih kepada mas karena sudah menjadikan Alfina sebagai istri dan ibu dari anak-anak kita nanti". Jawab Alfina
"Kamu tau dek selama ini mas telah mendoakan seseorang yang mas harapkan untuk menjadi pendamping hidup didunia dan diakhirat kelak". Ucap Alfan yang membuat Alfina mendongak menatapnya
"Siapa seseorang itu mas?". Tanya Alfina dengan wajah yang sendu
"Perempuan itu adalah kamu dek, hanya kamu yang bisa membuat hati mas menjadi tenang dan menggiring mas untuk selalu menyebut namamu dalam doa sepertiga malam saat itu". Jawab Alfan dengan mantap
Alfina terenyuh mendengar jawaban dari Alfan, ternyata selama ini ia juga didoakan oleh seorang laki-laki yang juga ia sematkan namanya dalam sujud sepertiga malamnya. Alfina sangat terharu dengan perkataan suaminya itu.
__ADS_1
"Alfina juga mau jujur dengan mas". Ucap Alfina yang memberanikan diri untuk menatap suaminya
"Adek mau jujur apa dengan mas?". Balas Alfan sambil memperhatikan istrinya lebih saksama
"Sebenarnya Alfina juga mendoakan seseorang yang Alfina harapkan menjadi imam dan pemimpin dalam rumah tangga Alfina nantinya". Kata Alfina dengan pelan
Alfan memejamkan matanya mendengar ucapan dari Alfina, ia harus sabar dan tidak boleh emosi bila menghadapi seorang perempuan apalagi perempuan tersebut adalah istrinya.
"Doa-doa Alfina sudah diijabah oleh Allah karena laki-laki yang Alfina harapkan menjadi imam dalam rumah tangga Alfina, sekarang sudah menjadi seorang suami dan saat ini berada tepat dihadapan Alfina". Lanjut Alfina sambil tersenyum manis
Alfan menatap Alfina dengan intens kemudian berkata "Apa benar laki-laki itu adalah mas?".
Alfina mengangguk mantap "Ya mas, mas lah salah satu laki-laki yang bisa membuat hati Alfina berdebar setiap melihatnya, apalagi mendengar bacaan Al Quran mas yang begitu merdu mengalun di telinga Alfina". Jawab Alfina sambil menatap Alfan
Alfan lantas membawa Alfina kedalam pelukannya, ia memeluk istrinya dengan erat menumpahkan semua rasa bahagianya karena perempuan yang ia sebut namanya dalam doanya ternyata diam-diam mendoakan dirinya agar ditakdirkan menjadi pendamping dalam hidupnya. Alfina membalas pelukan Alfan dengan lembut, kini ia sangat bersyukur karena ditakdirkan menjadi suami dari seorang laki-laki yang ia kagumi dalam diam.
Alfan mengurai pelukannya lalu menatap Alfina dengan lembut kemudian berkata "Mas sangat mencintaimu dek". Ucap Alfan sembari mengelus pipi Alfina dengan sayang
"Alfina juga mencintaimu mas". jawab Alfina sambil menunduk
Alfan tersenyum melihat Alfina yang saat ini kedua pipinya memerah seperti kepiting rebus. Ia sangat suka melihat istrinya yang malu-malu seperti itu dengan dirinya. Alfan yang dibuat gemas lantas mencubit kedua pipi Alfina dengan pelan kemudian mencium keningnya dengan lembut.
"Yasudah kita membaca Al Qur'an bersama dulu ya?". Ucap Alfan kepada Alfina
"Ya mas". Jawab Alfina dengan pelan
Alfan mulai membaca Al Qur'an dengan Alfina yang berada disampingnya. Suara bacaan Alfan yang begitu merdu membuat Alfina terbuai ketika mendengarnya. Tak lama kemudian Alfina menyenderkan kepalanya dibahu Alfan karena ia tidak bisa menahan kantuknya akibat semalam tidak bisa istirahat dengan lama.
Alfan yang merasakan itu lantas memberhentikan bacaannya kemudian mengangkat tubuh istrinya untuk ia tidurkan diatas ranjang king size nya supaya lebih nyaman. Ia melepaskan mukena Alfina kemudian menaruhnya ditempat semula. Alfan duduk disebelah Alfina yang saat ini tengah tertidur pulas kemudian ia memberikan kecupan lembut dikening istrinya.
__ADS_1
"Kasihan pasti kamu capek sayang". Kata Alfan sambil mengelus rambut Alfina
Ia membiarkan istrinya tertidur dan akan ia bangunkan waktu adzan shubuh nanti. Ia tau mungkin istrinya masih kecapekan akibat aktivitasnya semalam dengan dirinya. Alfan kembali terkekeh kala mengingat wajah istrinya yang merah padam dikala ia menyentuhnya kemarin. Sungguh istrinya sangatlah menggemaskan, itulah pikir Alfan.