
Malam ini Alfan kembali kerumah uminya, dikarenakan sang umi akan mengadakan makan malam bersama dengan keluarganya. Alfina pun turut diundang untuk diajak makan malam bersama dirumah uminya. Sebelum pergi menuju rumah uminya ia akan menjemput Alfina terlebih dahulu karena perintah dari sang umi tadi.
Ia mengemudikan mobilnya menuju tempat Alfina bekerja, tentu ia tau karena calon istrinya itu bekerja ditempat uminya. Ia berjanji ketika nanti Alfina sudah menjadi istrinya ia akan berusaha memenuhi kebutuhannya dan mungkin akan melarang Alfina untuk bekerja ditempat uminya.
"Nana gimana reaksi kamu ketika kamu tau kalau aku adalah sahabat semasa kecilmu yang selalu kau panggil dengan sebutan kak Al". Kata Alfan dalam hati
Ketika sudah sampai ditempat, Alfan segera turun dari mobilnya kemudian masuk kedalam toko milik uminya untuk mencari Alfina dan membawanya kerumah sang umi karena ia diajak makan malam bersama dengannya
"Assalamualaikum". Salam Alfan ketika memasuki tempat tersebut
"Waalaikumussalam". Jawab sang kasir
"Ada yang bisa saya bantu pak?". Tanyanya
"Tolong panggilkan Alfina". Ucap Alfan datar
"Baik pak". Jawabnya
Perempuan yang bertugas dikasir itu segera mencari keberadaan Alfina karena ia dicari oleh putra tunggal bosnya itu. Ia segera menghampiri Alfina kala ia melihat Alfina sedang memajang baju dibagian ujung.
"Assalamu'alaikum Na". Salamnya
"Waalaikumussalam mbak". Jawabnya
"Kamu dicari sama seseorang tuh didepan". Katanya
"Siapa mbak?". Tanya Alfina
"Pak Alfan, putra dari umi Laila". Jawabnya santai
"Mau ngapain mbak". Tanya Alfina lagi
"Mbak gak tau, cepat samperin gih kamu taukan putra umi Laila itu orangnya dingin banget". Jawabnya sambil bergidik ngeri
"Ya mbak". Jawab Alfina
Alfina segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian menemui Alfan yang ada didepan, karena ia tidak mau kalau Alfan sampai menunggu lama.
"Assalamualaikum pak". Salam Alfina ketika melihat Alfan yang sedang duduk disofa
"Waalaikumussalam". Jawabnya singkat
"Bapak kenapa mencari saya?". Tanyanya sambil menunduk
"Saya akan mengantarmu ke rumah umi". Jawabnya datar
"Ta-tapi saya bawa motor pak". Balasnya ragu-ragu
"Motormu bisa dititipkan disini". Jawabnya
"Baik pak, sebentar saya ambil tas dulu". Kata Alfina pasrah
"Hmm". Balas Alfan
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pergi menuju rumah umi Laila menggunakan mobil milik Alfan. Tentu saja Alfan tidak akan membiarkan calon istrinya itu berangkat sendiri membawa motor, sebisa mungkin ia harus melindunginya mulai dari sekarang. Karena bagaimanapun ia dan Alfina sebentar lagi akan melangsungkan akad nikah.
Alfina yang duduk dibelakang selalu saja memperhatikan jalanan dari jendela samping mobil. Ia sangat suka melihat kendaraan yang berlalu lalang dalam perjalanan kemanapun. Menikmati perjalanan adalah bagian dari kenangan terakhir bersama dengan kedua orangtuanya walau didalam perjalanan tersebut ada duka yang mendalam yang sempat mematahkan semangatnya dalam hidup.
"Besok kita akan fitting baju pernikahan". Ucap Alfan yang membuyarkan lamunan Alfina
Alfina melihat kedepan sembari bertanya kepada Alfan "Jam berapa pak?".
"Besok kamu ada matkul?". Tanya Alfan
"Ada pak jam delapan pagi". Jawabnya pelan
"Baiklah kita fitting bajunya siang saja". Ucapnya
"Ya pak". Jawab Alfina
"Besok sepulang dari kampus kita akan langsung berangkat". Ujar Alfan
"Apakah bersama dengan umi pak?". Tanya Alfina takut-takut
"Kenapa?". Tanyanya
"Apa kamu takut jika bersama dengan saya?". Lanjut Alfan
Alfina bingung, sebenarnya apa yang dibilang Alfan adalah benar. Dirinya masih takut jika harus berduaan saja dengan Alfan. Apalagi dosennya itu adalah tipe orang yang datar dan tegas.
"Tidak pak". Jawabnya pelan
Alfan mengangguk, ia melihat Alfina yang duduk dibelakang sambil menunduk. Ia tau kalau mahasiswinya itu masih saja ragu dan takut jika berhadapan dengan dirinya. Terkadang Alfan juga melihat pipi Alfina yang bersemu merah jika berdekatan maupun tidak sengaja melihat kearah dirinya. Sungguh lucu menurut Alfan
Saat ini mereka sudah sampai dihalaman rumah umi Laila. Alfina segera turun dari mobil Alfan kemudian berjalan dibelakang Alfan dengan menunduk. Alfina tidak menyangka jika dirinya kembali kerumah umi Laila dan abi Lukman calon mertuanya itu.
"Assalamualaikum". Salam Alfan dan Alfina bebarengan
"Waalaikumussalam". Jawab perempuan paruh baya yang tak lain adalah umi Laila
"Maa Syaa Allah kalian sudah datang". Ucapnya sambil memeluk Alfina
Alfina yang mendapat pelukan dari umi Laila pun langsung membalas pelukannya dengan erat. Ia sangat nyaman bila dipeluk dengan umi Laila, mungkin selama ini ia juga merindukan sosok seorang ibu.
"Sayang kamu pasti capek nak, duduk dulu ya biar umi buatkan minum". Kata umi Laila
Alfina menggeleng "Alfina tidak capek umi". Jawabnya pelan
Umi Laila yang melihat Alfina nampak keliatan murung lantas bertanya karena umi Laila tau pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan Alfina kepada dirinya.
"Sayang kamu kenapa nak, apa selama diperjalanan tadi putra umi berbuat nakal sama kamu?". Tanyanya yang tak memperdulikan Alfan yang ada disamping Alfina
Alfan yang sedari tadi melihat perhatian uminya kepada Alfina lantas dibuat kesal lantaran ia tidak dipedulikan atau disapa dengan uminya. Tapi dalam hati Alfan bersyukur karena sang umi sangat menyanyangi Alfina yang notabenenya adalah calon istrinya sendiri.
"Sayang bilang sama umi nak". Kata umi Laila khawatir karena melihat Alfina yang hanya diam saja
"Umi boleh Alfina peluk umi lagi?". Ucap Alfina pelan sambil menunduk karena takut
__ADS_1
"Maa Syaa Allah boleh sayang". Jawab umi Laila
Mendengar jawaban dari umi Laila membuat Alfina langsung memeluknya dengan erat sambil menahan isakan tangisnya yang keluar. Saat ini Alfina rindu dengan kedua orangtuanya yang sudah wafat karena kecelakaan, apalagi ia rindu sekali dengan sang ibu. Biarlah ia dikatakan cengeng dan mudah menangis oleh calon suaminya itu, yang terpenting sekarang ia hanya ingin berada didekat umi Laila.
"Maaf umi, Alfina hanya rindu sama bunda". Ucapnya lirih dalam dekapan umi Laila
Umi Laila yang mendengar Alfina mengucapkan kata seperti itu dibuat sedih dan terharu karena saat ini Alfina sedang merindukan alm sahabatnya. Umi Laila selembut mungkin memberikan ketenangan untuk Alfina supaya putri dari sahabatnya itu tidak bersedih lagi.
"Sayang kamu yang sabar ya nak, umi tau perasaan kamu. Kamu harus terus berdoa ya buat ayah dan bunda kamu. Sekarang sudah ada umi dan abi yang bisa kamu anggap sebagai orangtua kamu sendiri, begitupula dengan umi dan abi yang sudah menganggap kamu sebagai putri kandung sendiri. Apalagi sekarang kamu adalah calon istri dari putra umi, umi dan abi sangat menyayangimu nak". Kata umi sambil mengelus kepala Alfina
"Terimakasih umi sudah mau menerima Alfina dengan baik, Alfina juga sayang banget sama umi". Jawab Alfina seraya mengurai pelukannya
Alfan yang masih berdiam disitu dibuat gemas dengan tingkah calon istrinya itu. Lihatlah sekarang wajah Alfina begitu lucu dengan mata yang sembab, hidung yang memerah, serta pipi yang bersemu. Mungkin masih malu dengan keadaan barusan, Alfina kembali memeluk umi Laila menyembunyikan wajahnya.
"Umi Alfina malu". Ucapnya dengan pelan
Walau Alfina berucap dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh Alfan yang berada disampingnya. Kenapa calon istrinya itu sangat menggemaskan, andaikan mereka sudah halal maka Alfan akan menciumi seluruh bagian wajahnya yang begitu lucu itu.
"Astaghfirullahaladzim". Ucapnya dalam hati
"Tidak apa-apa sayang, apa malu karena ada calon suami kamu?". Goda umi Laila
Alfina menggeleng dalam pelukan umi Laila, ia malu pasti sekarang pipinya sudah memerah. Habis sudah ia kalau sampai dosennya itu tau. Malu banget, pikir Alfina
"Yaudah sekarang kita makan malam dulu ya, umi tau kalau kalian pasti sudah lapar". Kata umi Laila seraya mengelus pipi Alfina
"Daritadi umi". Timpal Alfan singkat
"Maa Syaa Allah nak maafin umi karena umi sangat khawatir dengan calon istri kamu tadi. Umi tau kalau Alfina sedang banyak pikiran mangkanya umi harus tenangin dia dulu. Lagian kalau kamu sudah lapar kan bisa kemeja makan duluan disana juga ada roti yang bisa dimakan dulu sambil nunggu umi". Jawab umi Laila
"Terserah umi"? Jawab Alfan singkat
"Ayo sayang kita makan malam dulu, umi sudah buatin makanan kesukaan kamu". Ujar umi Laila
"Terimakasih umi, maaf Alfina sudah merepotkan umi". Jawabnya
"Tidak merepotkan sama sekali nak, karena kamu adalah putri dan calon menantu umi". Balas umi Laila
Ketika sudah sampai di meja makan Alfina segera duduk dikursi samping umi Laila. Ia senang akhirnya bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Alfina bersyukur sekali karena umi Laila begitu menyanyanginya dengan tulus.
"Sayang umi ambilkan ya makanannya?". Tanya umi Laila
"Abi dan calon suami kamu sudah umi ambilkan sayang. Umi ambilkan ya?". Kata umi Laila
Alfina mengangguk lucu "Ya umi terimakasih". Jawabnya
Lagi dan lagi Alfan melihat Alfina yang begitu lucu dimatanya, apalagi sekarang ia duduknya berhadapan dengan calon istrinya itu. Nana nya tidak pernah berubah dari dulu selalu saja menggemaskan.
"Dihabiskan ya sayang, kalau mau ambil lagi tidak apa-apa". Ucap umi Laila
"Terimakasih umi". Ujarnya
"Sama-sama sayang". Jawab umi Laila sambil tersenyum
__ADS_1
Akhirnya mereka berempat makan malam dengan tenang. Masakan umi Laila memang selalu enak dan lezat untuk dinikmati, itulah pikir Alfina. Ia berharap semoga suatu saat nanti bila ia sudah menikah dengan Alfan ia bisa menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suaminya.