Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Sang penunggu


__ADS_3

Pada siang hari di sebuah pedesaan. Seorang pria sedang berjalan menuju hutan yang tidak jauh dari rumahnya. Dia berniat untuk mencari kayu bakar di sana.


Di hutan itu terdapat sungai yang sangat jernih, tidak heran warga desa menjadikan sungai tersebut sebagai sumber air, mereka melakukan kegiatan sehari-hari di sana untuk mencari ikan, mandi dan juga mencuci.


Selain menjadi tempat berburu hewan, sebagian kawasan hutan di jadikan sebagai lahan perkebunan oleh warga, mereka sengaja menanami sayur-mayur dan buah-buahan. Karena tanahnya yang subur, Hasil panen mereka pun melimpah dan terkadang warga desa sering mendapat keuntungan yang cukup besar.


Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika melihat warga desa yang berlalu lalang memasuki kawasan hutan, mereka beraktifitas dari pagi hingga sore hari.


Namun hari ini kondisi hutan terlihat berbeda, hutan terlihat gelap dan mencekam. tidak nampak seorang pun yang memasuki hutan pada saat itu, situasi tersebut membuat pria itu terheran-heran.


"Hmm, kenapa hari ini terlihat sepi sekali. Kemana orang-orang? Padahal matahari belum terbenam, Biasanya mereka masih berlalu-lalang disini." Lirih pria itu yang sedang memperhatikan keadaan sekitar sambil terus berjalan.


"Ah sudahlah, aku harus bergegas ke hutan Kasihan istriku belum masak di rumah." Ucapnya.


Pria tersebut tidak memedulikan situasi jalanan yang sepi, dengan berani dia tetap pergi menuju hutan, karena apapun kondisinya dia harus tetap mendapatkan kayu bakar.


..........


Tidak terasa pria tersebut sudah memasuki kawasan hutan.


Dia mulai mengambil ranting-ranting yang tergeletak di tanah, sesekali dia menebang pohon yang kecil juga.


Namun pria tersebut nampak kecewa, karena ranting yang dia dapatkan ternyata basah semua.


"Ck! kalau seperti ini, aku harus mencari lagi ranting-ranting yang kering. Pasti karena semalam turun hujan, ranting di sini basah semua, mana bisa aku pakai untuk memasak makan malam, haahh.. aku akan menjemurnya esok hari." Keluhnya sambil mengibaskan air yang keluar dari ranting-ranting tersebut.


Setelah itu, pria tersebut memutuskan untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan, dia berharap bisa mendapatkan ranting-ranting yang kering di sana.


Setelah sekian lama dia berjalan menyusuri hutan yang cukup gelap, pria tersebut menemukan sebuah pohon yang berukuran sangat besar, berdiri kokoh tidak jauh dari hadapannya.


Pohon itu tidak hanya besar tapi juga tinggi, memiliki daun yang begitu lebat dan rimbun, pohon itu juga memiliki banyak akar gantung yang panjang menjuntai.


Pria itu bergegas menghampiri pohon tersebut.


"Kenapa aku baru tahu kalau ada pohon sebesar ini di dalam hutan." Ucapnya pelan.


Dia sedikit penasaran dengan pohon itu, kini di sentuhnya akar gantung yang menjuntai di hadapannya. Dia mengamati dahan-dahan pada pohon itu dengan seksama.


"Wah! pohon ini ternyata kering. Ukuran dahannya juga cukup besar. sepertinya aku bisa menjadikannya sebagai kayu bakar." Ungkapnya senang.


"Tapi, aku merasa sedikit aneh, jika aku amati, pohon ini semuanya kering, sedangkan pohon yang berada di sekitarnya semua basah." Pikirnya terheran-heran sambil mengamati pohon tersebut.


" Ah, Sudahlah! aku terlalu banyak berfikir. aku harus segera memotong salah satu dahannya, hari sudah semakin larut. Tidak ada waktu lagi untuk mencari ranting-ranting yang kering lagi." Keluh pria tersebut.


Dia pun menaruh tas punggungnya di tanah, dan berbalik badan, lalu membungkuk untuk mencari kapak di dalam tas.


Setelah dia mendapatkan kapak nya, dia pun berdiri. Namun tiba-tiba.


"Astaga!!" Pria itu terhentak kaget, karena entah dari mana, muncul sesosok kakek tua memakai pakaian serba hitam yang tengah berdiri tepat di depannya.


Kakek tua itu sedikit bungkuk dengan janggutnya yang putih panjang, pakaian hitam yang dia kenakan seperti pakaian adat Sunda. Dia tengah melotot menatap marah pada pria tersebut.


Pria tersebut sedikit takut, namun dia mencoba untuk bertanya.


"Ka, kakek siapa?! Ke, kenapa kakek tiba-tiba muncul di sini?!" Tanyanya sedikit gemetar.


Namun kakek itu tidak menjawab, kakek itu terus melototi wajah pria tersebut dengan seksama, dari jarak yang begitu dekat.


" Se, sejak kapan kakek berdiri di sini? Setahuku aku sendirian di hutan ini dari tadi." Tanya pria tersebut mulai merasa resah dengan kehadiran kakek tersebut.


" Pulanglah! Jangan pernah kamu mencoba untuk menebang pohon ini!" himbau Kakek tersebut mengingatkan dengan tegas.


Pria tersebut tidak mengerti dengan ucapan si kakek. Lalu dia memberanikan diri untuk menjelaskan niatnya.


" Aku tidak akan menebangnya, aku hanya ingin memotong dahannya sedikit saja, aku membutuhkan dahan itu untuk bahan kayu bakar." Ucap pria tersebut menjelaskan sambil menunjuk ke arah pohon yang berada dibelakangnya.


Namun saat akan kembali menoleh ke arah si kakek, kakek tersebut tiba-tiba menghilang begitu saja.


Pria tersebut nampak begitu terkejut.


" Lho! Kakek tadi pergi kemana?" serunya kaget, kini dia terlihat kebingungan, melihat ke seluruh penjuru hutan mencari keberadaan si kakek, namun tetap saja tidak kelihatan.


"Apa-apaan ini?! Kok bisa kakek itu menghilang begitu cepat? Tiba-tiba muncul dan tiba-tiba pergi seperti ini, sungguh tidak masuk akal. apa ini lelucon? Ini kan tidak lucu." ujarnya nampak kesal dan marah mencoba menghilangkan rasa takutnya.


Namun, pria itu sedikit merenung, sepertinya dia tengah mengingat ucapan si kakek tadi, yang menyuruhnya untuk tidak menebang pohon itu.


"Ah, sudahlah, aku tidak perlu menganggap serius ucapan kakek tadi, lagipula aku tidak akan menebang pohon ini, aku hanya akan memotong sedikit dahannya aja, setelah itu aku akan pulang." celotehnya sendiri.


Pria itu mulai memilih dahan pohon mana yang akan di potongnya, lalu dia pun mengayunkan kapaknya pada dahan pohon yang sudah dipilihnya.


KRAK!


Kapaknya mulai menancap pada salah satu dahan pohon, namun belum terpotong karena ukurannya cukup besar, dia berusaha menarik kembali kapaknya dan mengayunkannya sekali lagi.


Namun saat kapak itu hampir mengenai dahannya, tiba-tiba saja pohon besar tersebut bergetar dan bergoyang-goyang kencang, Daun-daunnya yang rimbun mulai berjatuhan di atas kepalanya.


Pria tersebut kaget bukan main.


"Eh?! Ada apa ini?!" Ucapnya panik, refleks dia berjalan mundur menjauhi pohon tersebut.


Di lihatnya pohon itu masih bergoyang dan bergetar kencang, padahal tidak ada angin yang menerpanya, sontak dia melihat ke sekitar hutan, dia mulai merasakan keanehan, semua pohon di sekitarnya nampak diam dan hanya pohon besar itu yang terus bergerak.


"Ck! Ada apa lagi ini?!" Ucapnya panik, namun berusaha tenang.


Tiba-tiba, dari atas pohon, dia melihat sebuah bola api terbang yang memutar.


"A,apa itu!" Ucap pria itu semakin kaget dan panik.


Bola api itu berhenti terbang tepat di puncak pohon.


PATS!


Sinar muncul begitu terang sesaat dan


BLAR!


Terdengar suara ledakan beserta angin yang berhembus kencang.


Sontak pria tersebut melindungi wajahnya dengan kedua tangan.


"HaHaHaHa..." Terdengar suara tawa yang berat dan keras menggema.


Mendengar suara tawa itu, bulu kuduknya seketika berdiri. Dengan gemetar pria tersebut mencoba melihat ada siapa di atas puncak pohon.


" Astaga! Apa itu!" Ucapnya terkejut, detak jantungnya mulai berdebar, nafasnya kini mulai tidak karuan, Kaki dan tangannya mulai gemetaran.


Ternyata di atas pohon, dia melihat sosok kera berbulu hitam yang ukurannya sangat besar, Matanya yang merah menatap tajam pada pria tersebut dengan penuh amarah.

__ADS_1


Pria tersebut hendak melarikan diri, namun tubuhnya tiba-tiba saja tidak bisa di gerakan. Dia hanya bisa diam dan berdiri mematung.


Sosok kera itu kini menyeringai padanya, menunjukkan gigi taringnya yang panjang dan tajam di penuhi alir liur yang menetes. Dengan sangat cepat, sosok kera itu melompat dan melesat ke arahnya.


"Aaaaaaaaaaaa........." Pria tersebut pun berteriak sangat kencang, membuat semua burung di hutan kaget dan berterbangan pergi menjauhi hutan.


..............


Tiga hari pun berlalu.


Pada siang hari yang begitu terik saat itu, Iman tengah mengendarai sepeda motornya menuju pedesaan yang berada di kaki gunung.


Tujuan Iman ke sana untuk mengunjungi rumah temannya yang dalam grup komunitas burung. Dia hendak mengambil burung peliharaannya yang dia titipkan pada temannya itu.


Beberapa jam pun berlalu, akhirnya Iman pun sampai di kediaman rumah temannya tersebut.


Sambil memarkirkan motornya, dia melihat suasana rumah nampak sepi dengan pintu yang tertutup rapat.


Dia menghampiri rumah tersebut.


Tok, tok, tok!


"Assalamualaikum.." ucap Iman, berharap sang pemilik rumah mendengar dan membukakan pintu. Namun sekian lama dia menunggu tidak ada yang menjawab. Bahkan pintu pun tidak kunjung terbuka.


"Assalamualaikum.." ucap Iman lagi dan mengetuk pintu rumah itu sekali lagi.


Sama seperti sebelumnya, rumah itu seolah sedang di tinggal pergi oleh pemiliknya.


" Orang rumahnya pergi kali ya? Gak ada yang menyahut dari tadi, sekarang gimana dong, gue mau ambil burung kesayangan gue tapi orangnya nggak ada, besok aja kali ya gue kesini lagi" celotehnya sendiri, sambil mengintip ke dalam rumah lewat jendela.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Iman dari belakang.


" Astaga!" Iman sontak terkejut dan berbalik untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya.


" Sedang apa kamu di sini, nak?" Tanya seorang bapak-bapak yang bertubuh gempal dengan kumis tipisnya tersenyum pada Iman.


"Eh, pak, maaf hehehe... ini benar rumahnya rusli kan pak? Atau rumah Rusli sudah pindah? Kelihatannya tidak ada orang di dalam, dari tadi saya ketuk pintunya gak ada jawaban." Ungkap Iman menjelaskan dia merasa malu karena kepergok sedang mengintip rumah orang lain.


" Oh, sepertinya kamu temannya Rusli ya?" Tanya Bapak itu memastikan.


" Iya pak, benar saya temannya, Nama saya Iman, maaf bapak ini siapa ya?" Tanya Iman memperkenalkan diri dengan sopan.


" Oh, saya warga di sini, tetangganya pak Amin, nama saya Toto, ini memang benar rumahnya Rusli nak, tapi Pak Amin beserta keluarganya sedang pergi tadi pagi, mereka mengantar Rusli ke rumah sakit, jadi rumahnya memang sedang kosong tidak ada orang." Jelas Pak Toto pada Iman.


Mendengar penjelasan Bapak tersebut Iman sedikit bingung


" Mengantar Rusli Ke rumah sakit?" Tanya Iman memastikan.


" Iya nak." Jawab Pak Toto.


"Memangnya Rusli sakit apa pak?" Tanya Iman sedikit panik.


" Memangnya kamu belum tahu apa yang terjadi pada Rusli kemarin?" Tanya Pak Toto.


Iman menggelengkan kepala.


" Memangnya Rusli kenapa? saya baru sekarang bisa berkunjung lagi ke sini pak. Jadi saya tidak tahu apa-apa." Ujar Iman menjelaskan ketidaktahuannya.


" Oh begitu ya, jadi begini kemarin itu Rusli..."


" Assalamualaikum" ucap seseorang yang tiba-tiba datang, fokus Pak Toto teralihkan sehingga tidak jadi bercerita.


"Walaikumsalam.. nah! itu Pak Amin sudah pulang." Seru Pak Toto menjawab salam dan berseru pada Iman.


Mereka pun bersalaman.


" Pak Amin, ini ada temannya Rusli datang, sepertinya dia ingin bertemu dengan Rusli." Ungkap Pak Toto memberitahukan kedatangan Iman.


" Oh Nak Iman, bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama tidak berkunjung ke sini, kemana saja?" Sapa Bu Yasmin ramah pada Iman.


" Hehe iya Bu maaf, saya baru sempat ke sini lagi, Kabar saya baik kok Bu, bagaimana keadaan Rusli sekarang Bu? apa benar Rusli masuk rumah sakit?" Tanya Iman langsung tanpa berbasa-basi.


Raut wajah Bu Yasmin seketika berubah menjadi sedih, Begitu juga dengan Pak Amin.


"Mari kita bicarakan di dalam saja ya, ayo semuanya silahkan masuk" Ajak Pak Amin.


Mereka pun masuk dan duduk di kursi tamu, sementara ibu Yasmin langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Lalu, bagaimana dengan kondisi Rusli sekarang Pak, Apa kata dokternya?" Tanya Pak Toto yang membuka pembicaraan lebih dulu dengan perasaan cemas.


Pak Amin nampak menghela nafas panjang, seolah dia berat menceritakan tentang kondisi Rusli.


" Rusli koma, To." Ucap Pak Amin dengan wajah yang begitu sedih.


" Inalillahi wa Inna ilaihi rojiun" ucap Pak Toto dan Iman secara bersamaan.


" Kenapa Rusli bisa koma pak?! Apa yang terjadi padanya?" Tanya Iman begitu panik.


" Entahlah Man, bapak juga bingung dengan diagnosa dokter kali ini." Ungkap Pak Amin yang kelihatan cemas.


"Bagaimana bisa dokter kebingungan?" Tanya Pak Toto yang merasa heran.


"Entahlah, saya juga tidak mengerti Dokter bilang kondisi Rusli begitu membingungkan, bahkan riwayat seperti itu jarang sekali terjadi, sudah beberapa dokter yang bergantian untuk memeriksa Rusli, namun Rusli tetap tidak kunjung sadar, bahkan dokter juga melakukan pemeriksaan fisik pada Rusli, Rusli di nyatakan sehat, dia tidak memiliki riwayat penyakit berat, bahkan tidak ada luka yang di temukan di tubuhnya, Rusli baik-baik saja, hanya saja dia kehilangan kesadarannya dalam waktu yang cukup lama. Berbagai cara di lakukan dokter untuk membuatnya tersadar, namun tidak ada respon sama sekali dari Rusli." Tutur Pak Amin yang bercerita dengan menitikkan air mata, namun segera dia usap, terlihat dia mencoba untuk tegar.


" Ya Allah, yang sabar pak." Ucap Iman turut bersedih.


" Aku yakin apa yang menimpa Rusli ada sangkut pautnya dengan pohon keramat itu, pasti pohon itu ada penunggunya." Ucap Pak Toto terlihat begitu yakin.


Pak Amin hanya diam mendengar penuturan Pak Toto.


" Apa penyebabnya sampai Rusli bisa jatuh koma?" Ucap Iman yang semakin bertanya-tanya.


" Rusli itu sempat hilang selama dua hari man, keluarganya mencari dia ke sana kemari, namun tidak kunjung ketemu, kemarin malam istrinya baru ingat, jika Rusli sempat pamit untuk mencari kayu bakar di hutan, malam itu juga warga sekampung termasuk saya ikut mencarinya beramai-ramai ke hutan, dan benar saja kami menemukan Rusli tidak sadarkan diri tergeletak di depan pohon keramat itu, dan Rusli tidak kunjung bangun hingga sekarang ." Tutur Pak Toto bercerita.


"Astagfirullahaladzim" Mendengar penuturan Pak Toto, Iman begitu syok.


" Makanya saya yakin, pasti ini terjadi karena ulah penunggu pohon keramat tersebut, buktinya, medis pun tidak dapat mengetahui apa yang terjadi pada Rusli kan? pasti ada kejadian mistis yang menimpa Rusli." Ujar Pak Toto dengan wajah begitu yakin.


"Yang saya tidak mengerti, mengapa penunggu pohon itu membuat Rusli hingga separah ini, Apa salah Rusli? Dia hanya mencari kayu bakar, apa mencari kayu bakar di sana mengganggu mereka? lalu apa yang harus saya lakukan jika memang itu penyebabnya, saya sama sekali tidak tahu apapun mengenai hal-hal seperti itu. Saya harus berbuat apa agar Rusli sembuh?" Ungkap Pak Amin mulai gusar.


"Pak! yang tenang, yang tabah Pak. kita harus terus mendoakan anak kita. Ibu yakin Rusli akan sembuh pak." Ucap Bu Yasmin yang menyiapkan minuman, tiba-tiba memeluk Pak amin dan menenangkannya meski dia pun mencoba kuat demi suaminya.


Suasana hening sesaat. Semua larut dalam pikiran masing-masing, yang saling mencemaskan keadaan Rusli.


"Pak, Bu! Saya ingat saya memiliki seorang teman, dia seorang ahli spiritual dia memang ahli dalam hal mistis semacam ini, saya akan mencoba menemuinya dan menceritakan hal yang menimpa Rusli, siapa tahu, dia mau membantu kita. Mungkin di zaman sekarang hal seperti itu terkesan tidak masuk akal, namun tidak salahnya kita coba, bagaimana?" Usul Iman kepada semuanya.


Semua saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


" Benarkah ada orang yang ahli dalam hal seperti itu?" Tanya Pak Amin ragu.


" Tentu saja ada pak, ibarat penyakit pasti ada obatnya, pasti ada juga orang yang ahli dalam mengobatinya. Dokter pun memiliki keahlian tersendiri pada bidangnya, bukan." Ungkap Iman menjelaskan.


Semua nampak mengangguk dan memahami perkataan Iman.


" Bagaimana Bu?" Tanya Pak Amin menanyakan pendapat Bu Yasmin.


" Kita coba saja dulu pak." Jawab Bu Yasmin mengangguk.


" Baiklah man, mohon bantuannya. Jika dia bersedia, ajaklah dia ke sini, saya ingin bertemu dengannya." Ucap Pak Amin penuh harap.


" Baik pak, setelah ini saya akan langsung menemuinya dan mendiskusikan semuanya, semoga masalah yang menimpa Rusli ini tidak berat dan tidak begitu membahayakan, saya yakin dia pasti mau membantu kita. Saya kenal baik dengan beliau." Ucap Iman.


" Terima kasih man, semoga dia bisa menyembuhkan Rusli." Ucap Pak Amin yang tadi terlihat gusar seolah menemukan secercah harapan.


..............


Aku adalah seorang ahli spiritual, tentu saja aku bisa berkomunikasi dengan makhluk ghoib. Aku juga peka tehadap hal-hal mistis.


Awalnya aku bertanya-tanya dari mana asal kemampuan ini, karena sedari kecil aku sudah sangat peka dengan hal mistis. menurut cerita dari kedua orang tuaku, Leluhurku dulu adalah seorang tabib yang memiliki keahlian spiritual juga, dan kami menduga kemampuan ini di turunkan secara turun-temurun padaku.


Saat ini aku bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik farmasi di kota Parahyangan.


Di tengah kesibukan itu aku menyempatkan diri untuk belajar dan terus mengasah kemampuan yang ku miliki ini, aku sebisa mungkin dapat membantu banyak orang yang mengalami permasalahan dalam hal-hal mistis.


Seperti menyembuhkan orang yang menderita penyakit aneh, mengusir jin-jin yang mengganggu penghuni rumah, menyadarkan orang yang kesurupan, dan lain sebagainya.


Terkadang karena aku terlalu peka akan kehadiran mereka yang ghoib, sering juga aku di datangi oleh jin Qorin dari orang-orang yang sudah meninggal, ada yang meninggal secara tidak wajar, seperti korban pembunuhan, kecelakaan, atau korban tumbal. Mereka sengaja meminta tolong padaku untuk menyampaikan pesan atau tujuan mereka kepada keluarganya yang masih hidup.


Peranku tidak hanya sebatas sebagai ahli spritual dan karyawan saja, di rumah aku juga memiliki peran sebagai seorang suami dan seorang ayah dari kedua anak laki-lakiku.


Disinilah aku harus bisa menjalani semua peranku itu dengan baik. Bagaimana cara mengayomi keluargaku, bagaimana cara menjadi karyawan yang baik dan teladan, dan bagaimana caraku agar bisa menolong orang lain sebagai ahli Spiritual.


Itu semua menjadi sebuah di lema bagiku, terutama dalam hal membagi waktu.


Mana yang lebih di utamakan, antara keluarga, pekerjaan atau sebagai ahli spiritual.


Jika menolong orang lain dalam hal mistis adalah hal yang begitu penting, apalagi menyangkut nyawa, Maka mau tak mau aku harus menolongnya tanpa terkecuali hingga tuntas, karena itu adalah alasan utama, mengapa aku mendapatkan kemampuan ini.


Untuk menyelesaikan masalah mistis itu hingga tuntas, terkadang aku harus izin untuk tidak bekerja dengan berbagai alasan, tidak hanya itu, aku juga terpaksa harus meninggalkan keluargaku selama berhari-hari .


Tidak jarang pula, aku sering bertengkar dengan istriku karena semua hal itu.


Pernah satu kali aku mencoba menolak permintaan dari seseorang yang membutuhkan kemampuan spiritual ku ini.


Saat itu pekerjaan dan keluarga lebih penting dan tidak bisa di tinggalkan.


Tanpa tahu jika masalah mistis orang tersebut sangat berbahaya dan menyangkut nyawa, aku justru menolak untuk membantunya, dan akibatnya orang tersebut kehilangan nyawanya.


Di sanalah penyesalan pertamaku muncul.


Apalah dayaku, hidup yang aku alami sangatlah rumit, namun inilah risiko yang harus di hadapi sebagai seorang Spiritual.


Bukan inginku, namun inilah jalan hidup yang sudah di takdirkan untukku, aku tidak bisa menolak ataupun merubahnya.


............


Tiba-tiba ponselku berbunyi.


Ada panggilan video call dari Iman.


Iman adalah temanku sejak SMA, dia mengetahui semua tentang kehidupanku.


Bahkan jika ada tugas dalam hal mistis. Dialah yang selalu menjadi partner yang menemani.


" Halo bah?" Sapa Iman.


" Ya hallo, ada apa Man?" jawabku.


" Sedang apa Bah?" tanyanya.


Abah adalah panggilan akrabku.


Entah kenapa orang-orang selalu memanggilku seperti itu. Mungkin bagi mereka panggilan abah terlihat lebih sopan dan nyaman.


Mungkin juga dengan sebutan Abah mereka lebih leluasa mengobrol denganku tanpa memikirkan perbedaan umur, baik yang lebih tua atau yang lebih muda dariku, Mereka terlihat lebih leluasa memanggilku dengan sebutan Abah.


"Biasa sedang santai, Man, ada apa?" tanyaku lagi.


"Boleh nggak gue berkunjung ke rumahmu bah? ada perlu nih!" tanya Iman.


" Oh, silahkan, Tapi jangan lupa bawa makanan, Man." ucapku menjahilinya.


"Oke siap, mau gue bawain makanan apa bah?" tanya Iman menawari.


" Bawakan ayam bakar, sate, martabak, roti bakar, nasi padang, seblak, cilok, dan mie bakso." candaku.


" Wah, parah.. itu namanya pemerasan, Jangan kebanyakan makan dong bah! Ingat perut tuh! Sudah hampir mirip dengan kantung semar." timpal Iman mengejekku.


"Hahaha, gak apa-apa! setidaknya kulit gue lebih putih dibanding kulit elu yang mirip black coffee." Ejek ku balik pada Iman.


"Sial*n, Bawa-bawa jenis kulit segala, jualan skincare ya bah. Hahaha..." Ejeknya Iman lagi.


" Ada tuh lulur tahi kebo mau? Di jamin makin wangi man. Hahaha.. mau datang jam berapa? Ini malam Jumat lho man. Gue ogah kalau loe nanti minta di anterin pulang." jawabku mulai menakutinya.


" Lho! jangan nakut-nakutin gue dong Bah. curang nih! Mentang-mentang temannya kebanyakan sama setan." keluh Iman.


" Hahaha, ya sudah cepetan gue tunggu sekarang." jawabku.


" Oke Bah, gue siap-siap dulu." jawab Iman.


Kami pun menyudahi video call kami, dan aku pun menunggu kedatangan Iman di teras depan, di temani secangkir kopi yang panas.


................


Assalamualaikum..


Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.


Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus


Terima kasih atas dukungannya.


i love you readers.


😍🥰😘

__ADS_1


Wasalam..


__ADS_2