Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Kawan lama


__ADS_3

Melihat sosok Ki Dayeng, Nini kembar semakin bertanya-tanya dan keheranan.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini Dayeng? kau sudah mengacaukan pertarungan ku dengan manusia itu?" tanya Gandiwa.


" Justru aku ke sini, karena aku harus melindungi manusia itu." jawab Ki Dayeng.


Nini kembar semakin bingung.


" Apa maksudmu? kenapa kau harus melindunginya? dia adalah lawanku." seru Gandiwa


" Melindungi manusia itu adalah takdir dari tugasku sekarang." ucap Dayeng.


" Hihi, bagaimana mungkin mahluk sepertimu melindungi seorang manusia, sejak kapan kau berubah menjadi mahluk baik, sungguh menggelikan." ejek Nini kembar.


"Ah, nenek tua cerewet, jangan banyak bicara, pergilah dari sini, jika tidak aku yang akan bertarung dengan kalian, kalian pikir aku takut! Cih." cibir Dayeng.


"Anom! Kau istirahat saja, lalu pulihkan tenaga dalammu, agar kau bisa kembali menggunakan brajamustimu, biar aku yang menggantikan mu melawan mereka." pungkas Dayeng.


" Baik, tapi berhati-hatilah Ki, mereka kuat dan sakti." ucapku mengingatkan.


" Aku tahu, karena mereka adalah kawan lamaku. Tentu aku tahu kemampuan yang mereka miliki."ucap Ki Dayeng pergi untuk bertarung.


Mendengar perkataan Ki Dayeng aku berpikir sejenak.


" Sejak kapan mereka saling mengenal?" tanyaku heran.


Aku berjalan tertatih mencari tempat aman untuk bermeditasi. Dan membiarkan Ki Dayeng bertarung dengan Nini kembar sendiri.


......................


" Kenapa kalian masih tetap disini, aku sudah menyuruh kalian untuk pergi, apa kalian ingin merasakan api yang menyambar seperti tadi?" seru Ki Dayeng.


" Hahahaha, melihatmu seperti ini sungguh lucu, dulu kau di sebut sebagai mahluk sadis yang tidak kenal ampun untuk membunuh para manusia. bahkan kau selalu tunduk pada tuanmu, tapi lihat sekarang, mungkin karena pengaruh dari manusia itu, kau berubah." tutur Gandiwi.


" Aku berubah seperti apapun, tidak ada urusannya dengan kalian, sebagai kawan lama aku ingin memperingatkan agar kalian pergi saja dari sini, atau kita bertarung disini sekarang juga." tegas Dayeng.


" Cih! kau sedang menggertak kami, kau pikir kami takut?" jawab Gandiwi lalu menyerang Dayeng dengan selendang yang melesat dengan cepat melilit tubuh Ki Dayeng dan membungkusnya hingga seluruh badan


Lalu selendang itu mulai mengeluarkan api, kini api juga menyelimuti Ki Dayeng dan terperangkap di dalamnya


Aku sempat panik, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa, aku tidak bisa menolong Ki Dayeng, energiku belum pulih.


" Rasakan itu Dayeng, hihi hihi, kamu akan hangus terpanggang, salah sendiri kamu terlalu berani ikut campur mengacaukan pertarungan kami, lagipula kita sudah berbeda jalan, jadi aku tidak perlu ragu lagi untuk melenyapkan mu." ujar Gandiwi.

__ADS_1


" Ahaha haha.." alih-alih merasakan sakit karena di bakar oleh selendang itu, Ki Dayeng justru malah tertawa.


"Dasar Nini peot! Sudah bertahun-tahun aku mengenal kalian, tapi kemampuan kalian hanya seperti ini, huh! Tidak ada peningkatan sama sekali." ejek Ki Dayeng.


" Kurang ajar! Kamu meremehkan kami dasar bocah tua ceboll! rasakan ini!!" teriak Gandiwi marah seketika dia memperkuat lilitan pada selendangnya, lalu volume api juga semakin besar.


" Hahaha, segini saja tidak ada apa-apanya bagiku, coba saja kau tambahkan lagi api nya agar semakin besar, aku sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun." ejek Ki Dayeng lagi.


Tidak mau kalah, Nini Gandiwa juga melilitkan akar berduri tajam pada tubuh Ki Dayeng, bahkan kini api tersebut di tambah lebih besar oleh Nini Gandiwi. Hingga semua tubuh Ki Dayeng terbungkus api yang membara.


Namun bukannya kesakitan, Ki Dayeng malah tertawa lagi bahkan lebih kencang.


Tiba-tiba..


KRAK... KRAK..!!


Akar pohon itu terbelah sendirinya.


BRET... !


Selendang api itu tiba-tiba di sobek oleh Ki Dayeng dari dalam.


"Tidak mungkin!" ujar Gandiwi terkejut.


" Sepertinya selama kita tidak bertemu dengannya, ilmu yang dimilikinya lebih meningkat dari kita gandiwi." ucap gandiwa tidak menduga jika serangannya juga akan gagal.


"Cih, sombong sekali!" Jawab Gandiwa kesal


" Hufht.. sejak awal aku tidak berniat untuk menyerang kalian kawan lamaku, Namun apa boleh buat aku sudah menyuruh kalian untuk tidak menyerang manusia itu, bahkan menyuruh kalian untuk pergi juga, namun kalian masih kukuh untuk tetap bertarung. Baiklah aku akan layani kalian." tutur Ki Dayeng, kali ini dengan cepat dia langsung menyemburkan api dari mulutnya, mengarah kepada Nini kembar.


Tentu saja karena semburan api dari Ki Dayeng datang tiba-tiba. Sehingga Nini kembar tidak sempat menghindar. Mereka pun di selimuti api yang membara dan membakar mereka berdua.


Nini kembar berteriak kesakitan.


Aaaaaa....


Panasss,,!!! Panass,,!!


Mereka berdua meronta-ronta.


" lepaskan kami Dayeng! Apa kamu benar-benar ingin membunuh kawan lamamu ini?" tanya gandiwa pada Dayeng.


" Tentu saja! Aku sudah bertekad untuk membunuh kalian, agar tidak ada lagi mahluk jahat yang menyesatkan manusia. Rasakan ini!" ucap Ki Dayeng Dangan raut wajah marah kembali hendak memperbesar semburan api miliknya

__ADS_1


Tidak! itu tidak boleh..


Aku sontak berdiri untuk memperingatkan Ki Dayeng agar tidak membunuh Nini kembar.


"Hentikan! Jangan Ki! Jangan bunuh mereka berdua!" teriakku.


Ki Dayeng menoleh padaku.


" Heh Anom! Lebih baik kau diam saja! Tidak perlu mengganggu." ujar Ki Dayeng tanpa memedulikan perkataanku, justru dia malah menyemburkan api yang lebih besar dari yang tadi ke arah Nini kembar.


Ku lihat Nini kembar sudah tidak berdaya, mereka sudah tidak bisa melawan lagi.


Bagaimana ini? jika terus seperti itu Nini kembar bisa mati, Huh! Dasar bocah tua menyebalkan, aku harus menghentikannya.


Meski kakiku lemas dan bergetar, Aku berusaha lari ke arah Ki Dayeng yang masih menyemburkan api besarnya.


Dan.


PLAK!


Refleks aku langsung memukul kepala botak Ki Dayeng dengan tanganku sendiri.


Seketika semburan api itu berhenti, dan Ki Dayeng langsung menoleh padaku dengan tatapan murka.


" Kau ini! Apa yang kau lakukan! Kenapa kau memukul kepalaku! Dasar manusia tidak punya sopan santun!" bentak Ki Dayeng marah besar.


" Maaf Ki! Maaf, aku refleks ingin memukul kepalamu, karena aki tidak mau mendengarkan ucapanku." tuturku sedikit takut dan mundur menjauhi Ki Dayeng.


"Jangan kabur! Dasar bocah sial*n! Kemari kau!" teriak Ki Dayeng yang hendak lari mengejar ku.


Melihat Ki Dayeng lengah yang fokusnya tertuju padaku, Nini kembar dengan sigap tidak menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk kabur meninggalkan pertarungan, dalam sekejap mata Nini kembar pun menghilang entah kemana.


Ki Dayeng menyadarinya hal itu


" Kau lihat! Ini semua gara-gara ulahmu, mereka jadi melarikan diri!" bentak Ki Dayeng marah-marah.


" Ya maaf Ki, aku terpaksa melakukan itu, aku tidak ingin aki membunuh teman baik aki sendiri. Meski mereka memang mahluk jahat, bisa saja jika kita mengajak mereka untuk berubah, mereka bisa berubah menjadi mahluk baik, seperti aki ini." ujarku menjelaskan.


Mendengar perkataanku, Ki Dayeng nampak termenung, seolah dia sedang memikirkan sesuatu.


Ya, Mungkin dia akan mempertimbangkan perkataanku barusan.


" Argh, menyebalkan.. sudahlah, selesaikan saja tugasmu sekarang. Aku akan kembali ke tempatku." gerutu Ki Dayeng dengan perasaan jengkel, lalu menghilang begitu saja meninggalkan aku di dunia pararel sendirian.

__ADS_1


"Astaga! Apa-apaan sikapnya itu! kenapa tega sekali dia meninggalkan murid baik sepertiku di dunia pararel sendirian. harusnya dia membantu atau membimbingku dalam tugas ini, tapi dia malah pergi begitu saja. Huh! Menyebalkan." gerutuku kesal sekali pada sikap Ki Dayeng.


Hufht, mau tidak mau, aku harus mencari sendiri portal dimensi untuk kembali ke dunia nyata.


__ADS_2