
Dalam Bab ini Tokoh utama akan menceritakan awal mula dia mendapatkan kemampuan spiritualnya dan bertemu dengan rekan-rekan ghoibnya.
Selamat membaca, jangan lupa like, komentar dan dukungannya yaa!
......................
FLASHBACK
Aku Nandy, Saat ini aku baru menginjak kelas tiga sekolah dasar.
Aku tinggal di sebuah desa. Dengan lingkungan yang masih asri, bahkan masih banyak hutan dan kebun yang dipenuhi pohon-pohon lebat di sekitar rumahku.
Sering kali aku melihat sosok-sosok makhluk ghoib di sana, kadang ada yang hanya menampakan diri, ada juga yang mencoba berkomunikasi denganku.
Karena aku masih kecil, aku masih merasakan takut, jadi untuk mencoba menenangkan hatiku, aku sengaja berpura-pura tidak melihat, atau sengaja tidak menghiraukan mereka.
Terkadang aku selalu bermimpi, Aku berada di sebuah tempat asing, tempat itu sangat indah, seperti taman yang memiliki bukit-bukit kecil yang hijau sejauh mata memandang.
Dan pernah juga aku bermimpi ada di sebuah perkampungan yang sangat dusun, seperti perkampungan jaman dulu.
Aku menceritakan semua itu pada ibuku, namun ibuku hanya menganggap ceritaku sebagai imajinasiku saja.
Dan pada saat aku menginjak kelas enam sekolah dasar, Aku semakin sering melihat 'mereka'.
Saat itu entah kenapa, tiba-tiba aku lumpuh tanpa sebab, padahal aku tidak mengalami kecelakaan, dan tidak juga memiliki riwayat penyakit apapun.
Ibuku panik, segera aku di bawa ke orang pintar, untuk menanyakan apa yang sedang terjadi padaku.
" Anak ibu ini, banyak di sukai oleh makhluk ghoib" ucap perkataan orang pintar itu pada Ibuku.
Memangnya apa yang ada di dalam diriku? hingga para makhluk itu menginginkan aku?
Pada suatu hari.
Aku pernah tertidur seharian penuh, tidak kunjung bangun meski ibuku mencoba membangunkanku.
Dalam tidurku, entah itu nyata atau mimpi, aku bertemu dengan seekor kuda putih dan bersayap. Dia bisa berbicara, Sebut saja dia Kuda Sembrani.
"Hayu milu (ayo ikut)." ajaknya.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya dan umurku yang masih kecil saat itu, Aku mau saja ikut, dan langsung menungganginya.
Aku di bawanya terbang menembus awan.
Di atas awan aku melihat sebuah perkampungan dengan jalan yang lurus membentang dan di setiap tepi nya berjajar rumah- rumah gubuk.
Aku dan Sembrani yang sedang terbang, mencoba turun untuk menelusuri jalan lurus di kampung tersebut.
Setelah melihat dari dekat dan menelusuri jalan, aku melihat para penghuni rumah itu keluar.
Anehnya semua orang yang tinggal di sana adalah sosok kakek-kakek, dan Nenek-Nenek.
Ada yang berjalan, ada yang duduk, Sebagaimana akitivitas kita sehari-hari.
Saat aku berjalan menunggangi sembrani di jalan lurus itu, mereka semua menatapku sambil tersenyum dan menundukkan kepala mereka seakan memberi penghormatan padaku.
" Jang bade kamana? ulin teh meni jarambah. Kadieu atuh singgah hela ka imah?(Nak, mau kemana, pergi mainnya kok jauh-jauh, sini singgah dulu ke rumah)" ucap seorang Nenek yang tiba-tiba menyapaku.
Aku mengangguk dan hendak turun dari tubuh Sembrani.
" Ulah! Can waktuna maneh deket jeung nu karieu (Jangan, belum waktunya kamu akrab dengan yang seperti ini)." tegas Sembrani menegurku.
Dan Sembrani pun membawaku kembali terbang, Aku sempat menoleh ke belakang, ku lihat Kakek-Kakek dan Nenek-Nenek itu melambaikan tangannya padaku seolah mengucapkan salam perpisahan.
Di tempat ini banyak sekali para pedagang dengan macam-macam jualannya, layaknya sebuah pasar, dan penghuninya kali ini bukan orang tua seperti tadi, melainkan para pemuda dan pemudi.
Aku dan Sembrani mencoba menelusuri lagi tempat ini, banyak sekali dari mereka yang memberiku makanan, ada kue, ada buah dan lain-lain.
Aku hendak menerimanya, dan sekali lagi Sembrani melarangku.
" Maneh di bawa ku urang kadieu teh, ngan saukur ulin, tempoken we hungkul tempatna, bisi engke hiji waktu maneh kadieu, tapi lain ayeuna-ayeuna sabab maneh can boga bekel ayeuna mah ( kamu aku ajak kemari, hanya untuk jalan-jalan, perhatikan saja tempatnya, mungkin suatu saat kamu akan kemari, tapi tidak sekarang, karena kamu belum punya bekal saat ini)." tutur Sembrani.
Lalu aku di bawa lagi terbang, menuju ke sebuah benteng tinggi seakan itu sebuah perbatasan.
Aku berdiri di tepi benteng tersebut.
"Sok gera ngajleng ka handap (Ayo, cepat lompat ke bawah)" Suruh Sembrani padaku.
Namun, saat aku hendak melompat, dia sempat menyampaikan sesuatu padaku.
__ADS_1
"Engke oge di handap, bakal Aya nu ngaping maneh, ngajaga maneh, ngabimbing maneh nepikeun maneh jadi mampu ngahadapan jeung nu ghoib (Nanti di bawah juga, akan ada yang mendampingimu, menjagamu membimbingmu sampai kamu mampu berhadapan dengan yang ghoib)" tuturnya
Karena aku yang masih kecil saat itu, aku belum bisa memahami apa maksud dari ucapannya.
Satu hal yang aku ingat hingga sekarang. Dia berkata.
" Omat! Engke mun maneh ges ninceuk umur opat puluh tahun, maneh kudu balik hela, milu jeung urang (Harus Ingat! Nanti jika kamu sudah menginjak umur empat puluh tahun, kamu harus pulang dulu dan ikut bersamaku)."
Dan setelah itu aku tersadar, lalu terbangun dari tidurku yang cukup lama, saat aku membuka mata, aku sedang di tangisi oleh semua keluargaku ada orang pintar juga yang pernah ku temui dulu.
" Anak ibu ini jika sudah besar nanti, dia akan menjadi seseorang yang memiliki kekuatan spiritualis." ucapnya.
Aku masih belum mengerti apa maksudnya karena umurku.
Setelah kejadian itu, hingga SMP, aku sering melihat penampakan-penampakan, dan penglihatan tentang kejadian-kejadian aneh yang belum terjadi, seperti bencana alam dan kecelakaan, lalu beberapa hari kemudian penglihatan itu menjadi kenyataan.
Namun aku tidak menghiraukannya, karena aku cukup takut dan tidak percaya dengan perubahan yang terjadi pada hidupku, bahkan aku merasa aku seperti orang aneh dan gila.
Saat aku telah menginjak SMA, Aku mulai mencari kebenaran dan jati diriku yang sebenarnya.
Di saat itulah aku mulai sering melihat sosok seorang kakek tua yang berpakaian serba putih.
" Aku ingin kamu masuk ke sebuah perkumpulan, yang dimana setiap anggota di dalamnya memiliki kemampuan spiritual, jadi jangan merasa aneh, manfaatkan perkumpulan itu untuk mengasah kemampuanmu." tuturnya lalu menghilang
Dan benar keesokannya, ada seorang pemuda yang bernama Iman mendekatiku, dia satu sekolah denganku hanya berbeda kelas.
Karena sering bertemu di sekolah, kami pun semakin akrab dan berteman, Lalu tanpa sengaja dia mengajakku ke sebuah perkumpulan spiritual kenalannya.
Aku di sambut baik oleh anggota perkumpulan itu, kami jadi saling berbagi cerita dan pengalaman tentang kemampuan kami yang hampir sama, dan kami sama-sama belajar serta mengasah kemampuan kami, tentu saja saat aku belajar pun kakek tua itu ada, dia selalu mengawasi dan membantuku.
Setelah kemampuanku meningkat, aku merasa ingin memamerkannya pada semua teman sekolahku, Aku begitu bangga akan kemampuanku yang bisa melihat mahluk ghoib, dan juga bisa menerawang masa depan.
Tanpa sadar aku terlalu berlebihan, aku mencoba berkomunikasi dengan mahluk ghoib di depan semua temanku, mereka melihat ku berbicara sendiri.
Mereka bukan memujiku, justru sebagian dari mereka menyebutku orang gila, dan itu membawa pengaruh buruk untukku, karena selama menjalani masa sekolah, tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku.
Aku jadi penyendiri dan sering merenung.
" Sudah jangan terlalu di pikirkan. Seharusnya kamu mampu mengontrol dirimu, jangan terlalu melewati batas, kamu harus tahu waktu dan tempat yang tepat, saat berkomunikasi dengan yang ghoib, karena manusia seperti mereka ada yang percaya ada juga yang tidak, hiduplah kamu seperti tanaman padi, semakin tumbuh tinggi justru semakin menunduk. Semakin kamu banyak ilmu dan kemampuan yang tinggi, tetaplah rendah hati jangan sampai kamu menjadi sombong." tegas aki tersebut. mengingatkanku lalu menghilang.
__ADS_1
Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia selalu muncul saat aku sedang kesulitan, dia selalu memberiku wejangan dan membimbingku apa mungkin. Dia leluhurku?
......................