
Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, Malam pun tiba.
Sekitar pukul delapan malam, Iman datang bersama temannya yang dia bicarakan di telepon tadi
Tok tok tok.
"Assalamualaikum, Bah." Iman mengucap salam dari luar.
"Walaikumsalam Man, tunggu sebentar." jawabku sambil berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
Kulihat Iman dan temannya tersenyum melihatku membuka pintu.
Aku pun menyuruh mereka untuk masuk.
" Mah, bisa tolong bikinin kopi?" sahutku sedikit teriak pada dita yang sedang di dapur.
" iya Yah, Tunggu di bikin dulu." jawab dita dari dapur.
" Ayo, silahkan duduk. Maaf gak ada kursi biasanya kita di sini senang duduk lesehan, Kang. Biar luas. Hehehe." sahutku pada teman Iman.
"Nggak apa-apa,Kang. Lebih nyaman seperti ini, lebih leluasa." jawab Iwan tersenyum sambil terduduk di karpet.
" Saking luasnya, elu juga bisa tiduran,Wan!" canda Iman pada Iwan.
"Hahaha, nggak begitu juga,Man. Ini kan, rumah orang. malu, Lah." sambung Iwan.
"Gak usah malu, Wan. biasanya juga malu-maluin. Hehehe..." canda Iman pada Iwan.
Iwan terkekeh menahan tawa.
"Sabar,Kang. Kang Iman emang begitu orangnya kalau sudah kehabisan obat." sambungku mengejek Iman.
Kami pun tertawa bersama.
"Kenalin nih, Bah. Ini temen gue yang gue ceritain tadi, namanya Iwan. Dia temen Se-komunitas burung juga sama kaya si Rusli." sahut Iman memperkenalkan Iwan padaku.
"Oh, iya salam kenal,Kang. Saya nandy." jawabku sambil bersalaman dengan Iwan.
"Panggil aja Abah, Wan. Biar akrab." cetus Iman
"Oh, iya Man." jawab Iwan.
" Kata Iman, ada yang ingin di bicarakan dengan saya, ada apa kang?" tanyaku.
"Iya Bah, maaf sebelumnya kalau mengganggu waktunya, Begini Bah, Maksud tujuan saya kemari, saya ingin minta tolong sama Abah. Iman banyak cerita tentang Abah ke saya. Kalau Abah katanya bisa bantu permasalahan yang sedang keluarga saya alami." Tutur Iwan.
" Oh, kalau boleh saya tahu, permasalahan apa ya, Kang?" tanyaku.
" Gini Bah, Kakak saya Lilis sudah dua minggu menghilang, kami sudah melapor ke polisi untuk mencari keberadaannya. Tapi sampai sekarang belum ada kabar apapun. Kami sudah kebingungan mencari kesana kemari. Tapi tidak ada satu pun petunjuk yang di temukan tentang Kakak saya." Tutur Iwan.
" Nahh, gue yang saranin dia datang ke sini. Siapa tau elu bisa bantu gitu Bah. Bisa tahu lewat mata batin elu, kira-kira elu bisa terawang gitu keberadaan kakaknya." ujar Iman.
Tiba-tiba Dita pun menghampiri kami membawakan kopi dan cemilan.
" Maaf ganggu ya, Ini kopinya udah jadi, di minum dulu." ucap Dita menawari sambil menyimpan nampan kopi di depan kami.
"Oh, iya teh makasih." ucap Iman.
Setelah menyajikan kopi. Dita pun masuk ke kamar dan membawa kedua anaku bersama nya.
Seakan dia mengerti, kalau hal semacam ini terlalu sensitif untuk diketahui banyak orang.
Iman pun melanjutkan pembicaraan.
"Kita lanjutin ya, Bah. Lebih baik elu aja yang ceritain supaya jelas, Wan." sahut Iman
"Terus, sempat ada kejadian yang janggal di rumah saya tiap malambBah. Kakak saya punya satu anak. Desi namanya. Mungkin karena dia masih kecil dan polos. Desi tuh suka cerita, katanya setiap malam kakak saya ada di kamarnya. Menurut cerita Desi, kakak saya sering bilang dia 'ingin pulang' dan minta 'di jemput'. Saya juga mengalami hal serupa. Saya pernah di datangi kakak saya waktu tidur. Dia bilang hal yang sama. katanya dia 'ingin pulang' dan 'di jemput'. Saya takut, Bah. Tubuhnya penuh darah dan luka. Bahkan bukan hanya saya dan Desi yang mengalami semua ini. Tapi semua keluarga juga sering melihat bayangan kakak saya itu di rumah. Jelas-jelas Kak Lilis sudah menghilang, Saya gak tahu itu apa? setan atau mahluk apalah. kalau dia benar arwah kakak saya dan sengaja mengunjungi kami, berarti... kemungkinan kakak saya suda." Tutur Iwan sedih.
"Hmmm... saya coba terawang dulu ya,Wan. untuk memastikan." jawabku.
Iwan dan Iman pun mengangguk.
__ADS_1
Aku pun duduk bersila dan mulai memejamkan mata.
Tiba-tiba saja aku melihat sebuah portal dengan cahaya putih.
Siapa yang memberi akses portal ini padaku?
Rasa penasaranku memintaku untuk memasuki portal itu. dimensi apakah yang ada di sana.
Kalau aku masuk kesana, aku harus meraga sukma lebih dulu.
Aku memutuskan meraga sukma pada diriku. Aku membaca Ajian meraga Sukma, dan Tubuh ku mulai ringan, lalu wujud halusku meninggalkan wujud kasarku
Aku pun masuk menuju portal bercahaya putih tersebut, namun tiba-tiba saya muncul di dunia pararel, dunia penghubung antar dimensi.
Dunia pararel yang aku masuki berupa lorong panjang, seperti dalam goa. dan di setiap sisi kanan dan kiriku ada banyak jeruji besi seperti penjara
Namun aku di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku dan menghalangi jalanku.
Seorang wanita berambut pendek, badannya sedikit gemuk, dia memperlihatkan wajahnya yang pucat dan nampak sedih.
" Siapa kamu?" tanyaku sedikit was-was.
"Tolong aku?" ucapnya.
Hah, Maksudnya?
Dia pun memegang tanganku dan mengajakku ke suatu tempat.
Dia menutunku.
Ku rasakan tangannya sangat dingin, sedingin es.
Kami telusuri lorong goa berjeruji ini bersama menuju cahaya putih portal yang muncul di ujung sana.
Tibalah aku di ujung lorong ini. Dia pun menujuk ke cahaya putih di depan kami.
Sepertinya dia memintaku untuk melihat ada apa di sana.
Dia pun menghilang.
Aku pun mencoba memasuki cahaya portal ini.
Dan saat aku memasuki nya.
Kini aku di perlihatkan dengan pemandangan yang tidak asing, banyak orang-orang yang berlalu lalang memikul batu-batu besar. Layaknya pekerja rodi.
Di leher mereka di ikatkan tali layaknya seekor binatang peliharaan dan di ikuti oleh mahluk kerdil, bertelinga panjang dan giginya tajam seperti taring, dengan tubuh yang penuh sayatan dan bau busuk.
Mereka adalah AGLONG
Di lain tempat aku juga melihat mahluk serupa sedang menaiki sebuah delman.
Delman di tarik oleh kuda, tapi disini bukanlah kuda melainkan orang-orang seperti manusia tadi yang memikul batu.
Mereka menarik kereta itu sambil di cambuk habis- habisan oleh Aglong.
Tempat apa ini?
Aku merasa tidamk asing dengan melihat keadaan mereka, mengingatkanku pada orang-orang yang dijadikan budak dan tawanan di dimensi kera waktu itu.
Namun, mahluk di dimensi ini berbeda. Bukan siluman kera. Melainkan kumpulan Aglong
Aku mencoba menelusuri tempat ini,
Anehnya mereka semua seperti tidak melihat keberadaanku.
Aku melihat banyak penjara-penjara yang berisikan banyak orang didalamnya. Dan mereka di jaga oleh Aglong seperti tadi, mereka juga membawa tombak.
Aku mengerti sekarang, tempat ini pasti tempat penumbalan. seperti tempat di dimensi kera.
__ADS_1
Huufht... mengapa banyak sekali mahluk yang menginginkan jiwa manusia seperti ini.
Dan mengapa banyak manusia yang keji dengan tega menumbalkan orang Lain
Aku kembali menelusuri tempat ini dan melihat semua isi penjara yang aku lewati.
Aku berhenti pada salah satu penjara.
dari sekian banyak orang didalamnya.
Pandanganku tertuju pada seorang wanita di dalam sana.
Wajahnya mirip dengan sosok yang ku temui di lorong tadi.
Wanita itu!
Aku memutuskan untuk lebih dekat dengan penjaranya. Agar bisa lebih jelas memastikan dia wanita di lorong tadi atau bukan.
Aku sedikit takut ketahuan, aku takut aglong tahu keberadaanku
Tapi aneh, Aglong yang berdiri di depan penjara itu tiddak dapat tmelihatku.
Aku menganggap ini keberuntungan.
aku segera mendekati penjara tersebut
Benar saja dia adalah wanita tadi yang menuntunku kemari.
Siapa dia?
Dia pun melihat ke arahku dan menangis.
"Hiks... Hiks... Tolong aku. Aku ingin pulang." ucapnya terisak.
Saat aku hendak memastikan dan bertanya.
Tiba-tiba sesuatu menariku mundur kembali ke lorong goa tadi dan aku pun kembali ke tubuh kasarku.
"Woy! Bah! lu nerawang apa tidur?" seru iman sambil menepuk-nepuk dan menggoyangkan tubuhku.
"Hah, elu Man, ganggu aja." cetusku
"Habis elu sih, kita udah nunggu dua puluh menitan, tapi elu diem terus. Gue kira elu tidur." sahut iman
"Ya. kagak lah man. Gue abis liat kakaknya Iwan." sahutku.
"Hah, Kak lilis ? Memang Abah liat Kak Lilis dimana?" tanya iwan penasaran.
"Kakakmu itu rambutnya pendek tidak? terus agak gemuk?" tanyaku pada Iwan.
"I.. iya Bah,betul."Jawab Iwan heran
"Terus ada tahi lalat di bawah mata kiri nya" tanyaku memastikan.
"Wah, iya betul,Bah. Kok abah bisa tahu ciri- ciri Kak Lilis? Terus dimana dia sekarang, Bah? Dia masih hidup? tanya Iwan.
......................
Assalamualaikum..
Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.
Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus
Terima kasih untuk dukungannya.
i love you readers.
😍🥰😘
Wasalam.
__ADS_1