
Aku melompat ke laut sambil memejamkan mata.
Tapi aku heran, kenapa aku tidak merasakan tubuhku mencebur ke air.
Karena merasa aneh, aku membuka mata.
Ternyata aku sudah berada di dalam kamar, dan aku sudah kembali ke raga kasarku.
Refleks aku melihat jam di dinding, dan jam menunjukan pukul satu malam.
Tiba-tiba aku melihat Dita terbangun dari tidurnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Dita heran melihatku masih bersila di atas sajadah.
"Ini baru mau tidur, aku baru selesai sembahyang, maaf membangunkanmu." jawabku mencari alasan.
" Tidak! Aku terbangun karena ingin ke kemar kecil." jawab Dita hendak beranjak ke kamar mandi.
" Tunggu ini hari apa?" tanyaku penasaran.
" Hari Kamis, kemarin hari Rabu. Ada apa?" tanya Dita.
" Ah, tidak apa-apa." jawabku.
Dita pun masuk ke kamar mandi. Aku termenung.
Hari Kamis? Rabu malam pukul dua belas, aku mulai meraga Sukma ? Dan sekarang baru pukul satu malam, itu artinya aku pergi hanya satu jam?! Tapi kenapa Ki Dayeng bilang sudah dua puluh lima hari aku pergi ? Kenapa bisa berbeda seperti ini?
Tiba- tiba Ki Dayeng muncul.
" Tentu saja alammu dan alamku berbeda." ujar Ki Dayeng tiba- tiba muncul di sampingku.
"Lebih baik kamu segera beristirahat, esok hari akan ada yang membutuhkan bantuanmu, kamu harus bersiap." ucap Ki Dayeng lagi lalu menghilang.
Maksudnya? Ah, entahlah aku sudah lelah untuk berpikir, aku ingin segera pergi tidur sekarang.
......................
Keesokan harinya.
Kamis pagi, aku menerima telepon dari Iman.
" Hallo bah!" sapanya.
" Ya hallo, ada apa Man?!" jawabku.
" Mmm, hari ini ada di rumah?" tanyanya.
" Ya ada, kenapa?" tanyaku.
__ADS_1
" Itu bah.. Mmm.. Gue.. Ada perlu.. Gimana ya.. gue.. Mau minta tolong.. Tapi gue malu takutnya ngerepotin elu." ungkapnya.
" Kirain kenapa.. Mau minta tolong apa? Kalau gue bisa bantu pasti gue bantuin kok, jadi gak perlu sungkan." jawabku.
" Mm.. Gimana ya.. Biar enak ngobrolnya, gue datang ke rumah elu gimana?" tanya Iman.
" Boleh tinggal ke sini aja, rumah kita kan dekat. Kebetulan hari ini tanggal merah jadi gue libur." jelasku.
" Iya deh, gue berangkat ke sana sekarang." ucap Iman.
Setelah menutup telepon aku langsung memberitahu pada Dita tentang kedatangan Iman nanti.
" Dita, nanti ada temanku yang akan datang berkunjung." ujarku pada istriku.
" Siapa?" tanya Dita.
" Iman.." jawabku.
" Oh, Iman yang dulu pertama kali ngajak kamu masuk perkumpulan itu bukan?"tanyanya memastikan.
" Iya.." jawabku.
" Oh.. Iya suruh kemari saja, mungkin dia punya urusan penting sama kamu, aku juga gak akan ganggu, aku akan diam dengan Raka di kamar, kalau ada perlu apa-apa tinggal panggil aja." ujar Dita.
" Ya.." jawabku singkat.
......................
" Assalamualaikum.. " salam Iman.
" Walaikumsalam.. Nyampe juga akhirnya man, kenapa lama? gue kira elu kesulitan nyari rumah gue." ujarku.
" Hehehe, nggak kok bah, gue lama karena tadi gue ragu mau kemari, malu.. Soalnya baru pertama kali berkunjung ke rumah elu." ucapnya.
"Yaelah Man! Silaturahmi aja pake malu, gue kan bukan orang asing." keluhku.
Iman pun aku suruh masuk dan duduk.
" Hehe iya bah.. Istri sama anak pada kemana Bah?" tanyanya.
" Ada di kamar.. Ngomong-ngomong ada apa man, kayanya penting banget." tanyaku penasaran.
" Hmm. Gimana ya bah, gue langung cerita aja gitu? agak malu nih, gue kesini sebenarnya mau nanyain sesuatu soal hal-hal mistis gitu, elu kan peka sama hal yang begitu." ujarnya.
" Hmm.. Terus?" tanyaku.
" Gue sama nyokap ngalamin hal mistis yang serupa bah! Kita berdua mimpi di kejar-kejar mahkluk hitam besar, tapi untungnya di mimpi itu kita cuma di kejar-kejar aja bah, gak sampai tertangkap, hampir tiap hari kita mimpi hal serupa, ini mulai terjadi sejak orang tua gue pisah. Kira-kira elu bisa tahu gak bah apa penyebabnya? Apa gue ketempelan mahluk halus atau gimana?" tanya Iman.
Aku harus menyampaikan apa? Dan melakukan apa? Sementara yang aku bisa hanya peka dan melihat mahluk halus
__ADS_1
"Hahaha,, temanmu itu memiliki sebuah tanda, dia akan di tumbalkan oleh ayahnya sendiri." beber Ki Dayeng yang muncul tiba-tiba.
"Apa! Mana mungkin?!" ucapku kelepasan berbicara dan terkejut mendengar ucapan Ki Dayeng.
"Mana mungkin apa bah?" tanya Iman.
" Eh, bukan apa-apa Man.. Itu.. Mm.. Menurut gue, elu sedang dalam incaran penumbalan yang di lakukan sama bokap lu, Man." ungkapku.
"Wah, ternyata elu sakti juga bah, soalnya gue udah coba nanya ke orang pinter lain, dan semua yang mereka ucapkan sama kaya ucapan elu, tapi sayang mereka gak bisa bantuin gue bah, sama sekali gak ada perubahan, mungkin dengan gue datang ke elu sekarang, elu bisa bantu gue bah." tuturnya penuh harap.
Aku hanya terdiam kebingungan karena aku belum mahir apa-apa.
" Insyaallah Man, tapi..
" Sudah, bantu saja dia Anom!" seru Ki Dayeng menyela dan berkomunikasi lewat pikiranku .
" Tapi bagaimana aku bisa Ki? aku belum mahir dalam dunia spritual, untuk menerawang dan menelisik aku kan belum bisa, aku hanya mampu melihat yang ghoib dan berkomunikasi saja." ungkapku pada Ki Dayeng lewat pikiran.
"Kamu kan sudah bisa melalukan meraga Sukma, tenang saja, ilmu menerawang aku akan ajarkan padamu, bantu saja anak itu, nanti kamu juga mampu, lagian ada aku dan Ki Sugro yang akan melindungimu di saat kamu terdesak nanti." ungkap Ki dayeng.
" Memangnya Ki Sugro kemana Ki?" tanyaku.
" Ada tugas yang harus di selesaikan, maka dari itu aku yang menggantikan dia mendampingimu untuk sementara, segala persoalan tentang hal ghoib, aku akan membantumu." ungkap Ki Dayeng.
" Baiklah Ki" jawabku."
" Woy, bah! Kok elu malah ngelamun, bisa nggak elu bantu gue?" tanya Iman.
" Iya insyaaallah bisa man." jawabku.
" Wah, terimakasih banyak Bah, terus untuk selanjutkan gue harus apa?" tanya Iman lagi.
" Lalu dia harus apa,Ki?" tanyaku dalam pikiran lagi pada Ki Dayeng
" Ambilah satu botol air, lalu bacalah doa pada air tersebut, aku akan memberikan energiku pada air itu, lalu berikan pada temanmu suruh dia pakai untuk minum dan mandi, agar dia terlindung dari hal-hal ghoib." tutur Ki Dayeng
Aku pun segera mengambil air di dalam botol, dan memberikan doa pada air tersebut, lalu mengulang kembali apa yang di ucapkan Ki Dayeng pada Iman untuk dia pakai minum dan mandi.
" Terima kasih Bah! gue bakal minum ini dan bakal pakai untuk mandi nanti. moga aja gue bisa selamat dari penumbalan yang bokap ke lakuin ke gue." tutur Iman.
" Ya Man, kita harus banyak berdo'a juga pada sang kuasa." ucapku.
" Siap Bah, kalau gitu gue pamit pulang sekarang ya bah." ucapnya.
"Ya Man, nanti kabari gue kalau ada sesuatu yang harus gue bantu buat elu." ungkapku.
" Siap Bah." jawab Iman.
......................
__ADS_1