
Agar tidak bisa di ikuti mini bus yang terus saja mencoba menabrak kami. Kami masuk ke sebuah gang kecil.
Gang kecil ini hanya bisa di masuki oleh satu motor saja, nampak hanya jendela- jendela kecil di kanan kirinya.
Tempat apa ini gang nya sepi sekali dan terasa jauh dan panjang sekali.
"Bah,kok gang nya panjang amat ya?" tanya iman melihat sekeliling.
"Iya Man, aneh! perasaan tadi pas di jalan besar, gang ini keliatan seperti jalan pintas pada umunya, tapi perasaan lama amat buat sampe ke ujung sana ." jawabku heran, sambil kami masih menyusuri gang itu dengan motor
Setelah beberapa menit kami melewati gang ini, kami melihat jalan utama.
"Nah,itu dia jalannya Bah!" ucap iman senang dan kembali menancapkan gas motornya.
Namun saat kami tiba dan keluar dari gang itu, bukan jalan raya utama yang kami lihat, melainkan jalan asing.
Kami berada di sebuah jalan yang belum di aspal, masih tanah merah, dan banyak pohon-pohon besar juga nampak sepi.
"Astagfirulloh! kita ada dimana ini man, kok bukan jalan raya?"ucap ku heran dan kaget.
"Lah, gue juga nggak tahu, bah!" ucap iman celingukan dan kebingungan mencari jalan raya tadi.
"Ya sudah, kita putar balik lagi ke gang tadi ,Man." pintaku.
Saat iman kami membalikan motor untuk berbalik, ternyata jalan gang yang kami lewati tadi hilang, malah berubah jadi batas antara tebing dan jurang
"Jalannya hilang Bah, Kenapa ini Bah? Apa yang sebenarnya terjadi?Gimana ntar kita balik." ucap Iman panik.
Sudah pasti ini ulah Klewing yang ingin mencelakakan kami.
"Jangan panik Man, ayo kita telusuri jalan yang ada man."pinta ku pada Iman
Kami pun melajukan motor kami menelusuri jalan yang tidak beraspal tersebut, sambil melihat sekeliling, mudah-mudahan ada seseorang yang bisa membantu kami.
Namun anehnya tidak ada orang atau kendaraan lain yang terlihat.
Hanya pepohonan yang besar dan semak belukar di setiap pinggir jalan yang kami temui.
"Bah, serem amat ini jalan. Padahal kan masih siang." rengek Iman mulai ketakutan.
"Ya gimana lagi, Man. Cuman ini satu-,satunya jalan, kita terus aja lurus mudah mudahan ada petunjuk."ucapku
Hampir satu jam kami mengendarai motor menyusuri jalan tersebut. Lalu kami menemukan pertigaan, kami mengambil jalur kiri, dan syukurlah ada sebuah warung kecil yang kami lihat dari kejauhan.
"Alhamdulillah! ada warung Bah! kita bisa menepi di sana sambil menanyakan jalan."ucap Iman merasa lega.
"Iya Man, ayo kita kesana." timpal ku
Kami pun menepi di depan warung tersebut.
__ADS_1
Aku lihat ada berbagai macam aneka jajanan seperti layak nya warung angkringan, ada buah-buahan juga, ada pisang yang menggantung, serta ada juga beberapa makanan yang sudah di kukus,
seperti umbi-umbian.
"Assalamualaikum? Permisi?"ucap iman sambil celingukan mencari pemiliknya.
Ada tv yang menyala di dalam warung itu.
Kok gak ada orang ya? tapi tv nya nyala dan tercium wangi masakan yang masih di goreng dari dalam
"Mungkin orang nya di dapur,Man."ucapku.
"Pintu warungnya juga kebuka, aku coba masuk aja kali ya kedalam buat nge cek." ucap iman dan pergi masuk ke dalam warung.
Sementara Iman mengecek ke dalam aku memeriksa keadaan dari luar.
keadaan benar-benar sepi, bisa-bisanya warung seperti ini buka di tempat sepi begini, siapa yang beli? Sebenarnya aku tahu ini ulah Klewing, tapi sebenarnya kemana Klewing membawa kami.
Aku hanya termenung sambil terduduk di bangku kayu yang di sediakan warung itu, termenung memikirkan bagai mana cara untuk keluar dari tempat ini.
Tiba- tiba ada suara yang menyapaku.
"Bade kamana Aden?" (kamu mau kemana,Nak?)
Terlihat sosok kakek tua yang muncul tiba-tiba di sampingku. Wajahnya ramah namun menyeramkan.
"Eh Kek, sejak kapan kakek berdiri di situ?" tanyaku heran dan kaget.
Iman pun datang setelah melihat-lihat dalam isi warung, dia nampak kebingungan.
"Bah, di dapur juga gak ada orang." Seru Iman
"Ya sudah, mungkin pemiliknya sedang keluar, kita duduk aja dulu sebentar."ucapku.
Iman pun duduk di sampingku, lalu melihat ke arah si kakek yang kini sedang meminum segelas kopi dan ubi yang sudah tersedia di sana
"Siapa kakek itu bah?"tanya iman.
"Nggak tahu,Man. gue belum sempet tanya " ucapku
"Kek? mau tanya ini dimana ya? Daerah apa? Kalau hendak ke jalan raya besar apa kakek tau lewat mana?" tanya Iman mendahului ku.
Ku lihat si kakek hanya diam dan tidak menggubris pertanyaan iman.
Aku dan Iman hanya saling bertatapan, tanpa tahu harus bagaimana, tak ada kejelasan dan tanggapan dari si Kakek yang diam dan fokus makan.
Tiba tiba entah muncul dari arah mana, ada seorang ibu paruh baya, datang ke hadapan kami menawarkan jajanannya.
"Eh ada tamu! silahkan mau pesan apa? kopi atau buah buahan?" tanyanya
__ADS_1
"Eh, i.. iya boleh Bu kami minta kopi sama singkong rebus ya."ucapku kaget namun tetap bersikap biasa.
"Ini tempat apaan sih bah? Orang-orang nya senang banget bikin kita sport jantung. Muncul tiba-tiba gak tahu dari mana." timpal iman berbisik kepadaku
Mungkin si ibu itu pemilik warung ini, Karena dia bergegas pergi ke dapur setelah aku memesan kopi, dan hanya dalam hitungan detik dia sudah kembali dan membawakan dua cangkir kopi dan beberapa singkong rebus yang masih panas.
"Ini Den, kopi sama singkong nya."ucap ibu warung meletakkan nampan di depan kami.
Aku dan iman lagi- lagi hanya saling bertatapan.
"Iya Bu, terimaksih." jawabku.
"Ya udah bah kita ngopi dulu, pusing gue mikirinnya."ucap Iman langsung menyantap singkong dan kopi yang sudah di hidangkan
"Iya Man, elu aja duluan yang ngopi." ucapku
menolak, karena tidak berselera untuk memakan atau ngopi di tempat ini.
Sesekali aku kembali menatap si kakek yang sedang makan. Aku mencoba kembali memberanikan diri untuk menanyakan tempat dan arah jalan yang benar dengan bahasa yang tadi kakek itu ucapkan saat menyapaku tadi,aku tahu bahasa daerah itu.
"Ki, punten naros, ieu teh dimana, Nami daerah na naon? Upami Bade ka jalan ageung ka paling mana?(Kek, maaf mau tanya, ini dimana, apa nama daerah sini? Kalau mau ke jalan besar ke sebelah mana?)"tanyaku pada si kakek dengan bahasa tersebut, Mungkin dia tidak paham dengan bahasa umum yang di ucapkan Iman.
Tiba tiba dia menatapku dan tersenyum
"Ari Aden teh timana?naha beut nyasab kadieu?( memang kamu darimana, kenapa bisa tersesat ke sini?)" ucapnya bertanya padaku.
Ternyata dia menjawab dengan bahasa ini tapi jawab nya gimana ya? masa harus bilang kita kabur di kejar Klewing..
" Muhun ki, abi teh ti Bandung Bade ka bumi rerencangan, Bade motong jalan, lebet ka gang alit, jol abi teh aya didieu. ( Iya Ki, saya dari Bandung, hendak ke rumah teman, mau lewat jalan pintas, masuk ke gang kecil, tapi tiba-tiba muncul disini)" jawabku bercerita.
Si ibu yang muncul dari dalam warung, melihat ku dengan tersenyum dan berkata
"Sudah disini saja dulu, sebentar lagi hari gelap, bahaya kalau pergi malam-malam di sekitar sini."
"Hah? memangnya sekarang jam berapa ya Bu?"ucap ku penasaran.
Ku sentuh Iman yang dari tadi malah asik ngopi dan makan.
"Man! Woy! jam berapa sekarang lu bawa hp gak?"ucapku pada Iman.
"Eh, iya, sekarang baru jam 12, Bah? Emang kenapa Bah?" ucap iman kaget dan penasaran.
"lu liat dong sekeliling lu, hari tiba- tiba jadi malem." ucapku bersisik kepada Iman.
iman pun sontak berdiri dan melihat sekitar dan benar saja hari mulai gelap dan menuju malam.
"Kok bisa Bah? Padahal di hp gue masih jam 12 siang ini?" ucap iman heran kembali berbisik
"Wah, ada yang gak beres ini Bah, gue jadi takut anjr*t." ucap iman lirih.
__ADS_1
"Tenang man, kita ber do'a saja, semoga kita selamat dan tidak terjadi apa apa."ucapku menenangkan Iman.
Bagaimana ini sepertinya aku dan iman sudah di bawa masuk ke dimensi lain.