Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Belenggu


__ADS_3

Malam harinya Iman datang menjemputku.


" Bah, beneran gak apa-apa nih, gue repotin elu lagi." ucap Iman.


" Ya, gpp lah, Man. Kalau elu mau tahu nih, Dulu tuh gue sampe stres, Man. karena gue gak bisa terima diri gue yang berbeda dari orang normal, kenapa sih gue harus melihat yang gak seharusnya gue lihat. Orang yang tahu soal keadaan gue, kebanyakan pada gak percaya. Gue di sebut caper lah, orang gila, lah, sesat lah, Ah, banyak cemoohan dari mereka gara-gara kelebihan yang gue punya. Melihat kelebihan gue yang sekarang, Ternyata gak seburuk yang gue kira, buktinya kelebihan gue ini, bisa bermanfaat dan berguna untuk menolong banyak orang. sekarang gue bisa nerima diri gue sendiri. Dengan ikhlas gue menjalani takdir yang sudah tuhan skenariokan buat gue. Jadi elu gak usah gak enakan, Lah, gue seneng malah, bisa menolong banyak orang." tuturku.


" Gue jadi sedih denger cerita elu. Gue kira punya kelebihan kaya elu itu keren, hebat, jago, orang lain gak bakal ngerendahin kita. Ternyata ada gak enaknya, ya! Ada masanya dimana hidup lu dalam keadaan kelam juga." sahut Iman.


" Lah, mana ada hidup bisa seneng terus, Man. Semua orang juga punya masa kelam dan kesulitannya masing-masing cuman berbeda-beda tergantung kita menghadapinya. Hidup jadi gue tuh terlalu beresiko, Man. Keselamatan diri jadi taruhan. Ngehadapin 'mereka' tuh bukan hal sepele,Man. Bahkan keselamatan keluarga gue juga bisa jadi incaran 'Mereka'. Lebih beresiko lagi kalau ada orang yang jahat yang ngincer dan ngeganggu keluarga gue, gara-gara korbannya gue selametin."


"Iya juga ya.." sahut Iman.


" Makannya elu dukung gue dong, semangatin gue, doain gue yang baik-baik, biar gue bisa lancar dan sehat terus menjalani semua ini." sahutku.


" Aamiin, Bah, siap lah gue selalu ada dampingin elu, meski gue gak bisa banyak membantu." jawabnya.


" Malah jadi curhat, jadi gak nih kita berangkat." seruku.


" Eh, iya. Yaudah sekarang aja, Bah. Udah siap kan?" tanya Iman memastikan.


"Daritadi juga udah." jawabku.


Aku pun pamit pada Dita. Dan bergegas pergi.


......................


Kami pun sampai di rumah Dimas.


Iman berjalan ke teras dan mengetuk pintu.


Sedangkan aku masih berdiri di halaman.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum." ucap Iman memberi salam.


" Walaikumsalam" jawab Dimas sambil membuka Pintu.


" Eh, Man. baru dateng lu, gue udah nunggu daritadi." ucap Dimas.


" Sori, gue telat gara-gara curhat. Hahaha..." jawab Iman tertawa.


" Oh iya, gue lupa. kenalin Nih temen gue yang gue ceritain." ucap Iman hendak mengenalkanku pada Dimas, namun Iman celingukan mencari keberadaanku yang dia kira ada di sampingnya. lalu dia menoleh ke belakang, mendapatiku masih berdiri di halaman dekat pagar.


" Eh, Buset! ngapain lu berdiri disono? cosplay jadi patung selamat datang, Hah?" ejek Iman padaku yang jaraknya sekitar empat meter darinya.

__ADS_1


" Gue gak bisa masuk kesana!" ucapku.


" Apaan sih lu! udah jangan bercanda! cepetan sini!" seru Iman.


" Gue gak bisa kesana!" seruku.


" Heh! elu kan punya kaki, ya tinggal jalan kesini, napa! atau elu mau gue gendong?" jawab Iman mulai kesal dan menghampiriku lalu menarik tanganku.


Aku refleks melepaskan tanganku dari Iman.


Iman heran begitu juga Dimas.


" Elu kenapa,sih? jangan bikin gue malu deh. Kasian Si Dimas udah nunggu elu." Bisiknya.


" Gak bisa, Man! Udah gue bilang gue gak bisa masuk kesana! Rumah ini ada penghalangnya." tuturku


" Hah? penghalang apa maksunya?" tanya Iman keheranan.


" Ada energi penghalang yang kuat disini,Man. Energi itu membelenggu seluruh rumah ini. Jadi gue gak bisa masuk." tuturku.


" Tapi Kok, gue bisa?" tanya Iman heran.


" Elu mah Gpp, gue beda. Penghalang ini tuh, sengaja di buat biar gak ada orang macam gue yang bisa masuk ke sini." beberku.


" Maksud lu, orang kaya paranormal begitu?"


" Terus gimana dong, kalau elu gak bisa masuk berarti gak bisa ngobatin bokap Si Dimas dong." sahut Iman.


" Bentar dulu. Daritadi tuh gue lagi nyari cara." ucapku.


Melihat kami yang sedang berbicara berdua dari jauh, Dimas heran dan menghampiri kami.


"Man, temen elu kenapa? Gak bisa masuk ya?" sahut Dimas.


" Kok, Elu tau?"


" Ya, gue tahu. Kan, ada beberapa orang pinter dan Paranormal yang kesini sebelumnya. Pas Mereka datang, mereka juga tiba-tiba berdiri disitu tepat disitu. Mereka juga bilang ke gue mereka gak bisa masuk. Persis kaya temen lu ini." tutur Dimas bersalaman denganku


" Oh, berarti bener dong, Bah! Kayanya gak bisa sembarangan orang bisa masuk ke rumah elu deh, Dim " sahut Iman bergantian berbicara padaku lalu pada Dimas.


" Ada sih, ada beberapa dari mereka yang bisa masuk. Tapi ya gitu, cuman sampe depan pintu kamar bokap doang, terus pada kabur. Kan gue pernah cerita." sahut Dimas.


" Nah, itu berarti itu sebabnya mereka nyerah duluan. Elu tau nggak selama ini rumah elu ada penghalangnya jadi orang kaya temen gue, terus paranormal dan yang lain gak bisa sembarangan masuk ke rumah lu." tutur Iman.


Sontak Dimas Kaget tak percaya.

__ADS_1


Sementara Iman menjelaskan keadaan pada Dimas.


Ki Sugro muncul.


" Biar aki bantu." ucap Ki Sugro.


" Terima kasih Ki, untung ada aki." jawabku, kami pun berkomunikasi lewat pikiran.


"Kamu juga harus bantu aki dengan energimu. Kita akan menghancurkan belenggu ini bersama." tuturnya.


" Baik, Ki"


Aku memusatkan energi di telapak tanganku. begitu juga Aki dia tengah membaca sebuah doa. kami fokuskan energi kami pada belenggu energi yang berwarna hitam keunguan itu.


Iman melihat aku menggerak-gerakan tanganku, dia paham apa yang tengah aku lakukan. Dimas hanya keheranan.


Tiba-tiba..


BLAGH!


Terdengar suara hantaman keras di atas genting.


" Suara apa itu! Jangan-jangan ayah!" ucap Dimas panik berlari meninggalkan kami dan masuk ke rumahnya.


" Udah, Man, belenggunya hancur. Gue bisa masuk sekarang." sahutku.


" Jadi suara keras tadi, suara hancurnya belenggu" tanya Iman.


Aku mengangguk.


" Wiihhh, suaranya aja keras banget, gimana bentuk belenggunya ya.." sahut Iman.


" Kalau elu mau lihat, elu harus buka mata batin lu dulu." ucapku.


" Ogah!" serunya.


Aku tersenyum. Kami berdua pun masuk menyusul Dimas ke dalam. Ternyata Dimas ada di depan pintu kamar Ayahnya dengan pintu yang terbuka.


" Tadi itu suara apaan, ya? keras banget, gue kira ayah. Tapi Ayah gak kenapa-napa tuh." sahutnya pada kami yang datang menghampiri.


" Bokap lu lagi apa emang?" ucap Iman mengalihkan pembicaraan sambil melihat kondisinya dari depan pintu kamar juga Sedangkan aku mengikuti Iman dari belakang


" Bah, sini cepetan. lihat deh kira-kira ada apa sama kondisi Om Rizal. sejak gue datang dia terus aja mandang langit- langit kosong. Setiap gue masuk ke sini gue merinding. Ada yang aneh nggak?"


" Mana?" Aku pun berjalan menghampiri pintu kamarnya.

__ADS_1


Saat aku melihat ke dalam kamar.


"Astagfirullohaladzim!"


__ADS_2