Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Hutan


__ADS_3

Setelah Iman pulang, rumahku terlihat nampak sepi dari luar.


Pasti Dita dan Raka sudah tidur untung aku bawa kunci rumah cadangan..


Aku pun masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu, saat aku berbalik, tiba-tiba Ki Dayeng muncul di belakangku.


" Astaga!" ucapku kaget.


" Kebiasaan dasar aki! bikin kaget orang aja." ucapku kesal sambil menggantung tasku di belakang pintu.


" Ayo kita pergi " ajaknya.


" Pergi? Aki gak salah?! baru juga aku pulang, udah di suruh pergi lagi, memangnya pergi kemana?" tanyaku lagi, sambil berlalu menuju dapur untuk mengambil air minum.


" Kita pergi ke tempat pesugihan siluman ular." tutur Ki Dayeng yang terus mengekor di belakangku.


"Untuk apa ke sana? temanku kan sudah selamat, apa mungkin aki hendak menolong ayahnya juga?" tanyaku heran dan menoleh pada Ki Dayeng.


" Bukan, tujuan kita kesana, untuk menghancurkan tempat pesugihan, dan binasakan kedua siluman ular itu, agar tidak ada lagi korban seperti yang di alami temanmu."tutur Ki Dayeng


" Apa?! Itukan sulit Ki, aku tidak punya kemampuan yang bisa membinasakan mereka, kemampuanku masih kurang Ki." keluhku.


" Aki akan membantumu." jawab Ki Dayeng.


" Hah, Mudah sekali aki berbicara seperti itu, bahkan tempat aslinya saja aku tidak tahu ada dimana, bagaimana cara aku kesana?" keluhku lagi.


" Kamu kan sudah pernah ke sana.." ucap Ki Dayeng.


"Itu kan beda Ki, aku datang ke sana dalam wujud raga halus yang meraga Sukma, kalau tidak dengan meraga sukma mana aku tahu tempat aslinya ada dimana.." jawabku.


" Aki tahu tempatnya, akan aki tunjukan jalannya padamu, ayo!" ucap Ki Dayeng.


" Ya ampun! memangnya harus pergi sekarang? Gak bisa besok malam aja.. pasti tempat itu jauh Ki aku tidak punya kendaraan untuk ke sana, ini kan sudah cukup larut, besok saja lah." jawabku kesal dan malas.


"Tidak bisa, Kita harus pergi sekarang! Teman yang kemarin kita tolong dia kan punya kendaraan, ajak saja dia sekalian." jawab Ki Dayeng.


"Mana bisa seperti itu Ki! Dia baru saja pulang, dia pasti kelelahan habis menjenguk ayahnya. Ini sudah malam Ki, besok saja ya.." pintaku.


"Tidak, kita harus pergi sekarang juga."bantah Ki Dayeng.


" Astaga...." keluhku kesal dan mengusap wajah dengan kasar.


Aku pun mencoba menelepon Iman.


Semoga saja Iman belum tidur, lagian ini aki-aki ngeyel banget, kalau sudah harus, gak bisa lagi di bantah..


Trrr... Trr ..(suara telepon tersambung)


" Hallo bah? Ada apa?" jawab Iman mengangkat panggilanku.


" Mm.. elu udah mau tidur ya man?" tanyaku.


" Belum bah, gue nggak bisa tidur, jadi ngadem dulu di teras depan, kenapa?" tanya Iman.


" Oh, gue mau minta tolong sama elu man." ucapku ragu.


"Minta tolong apa bah?" tanya Iman.


" Anterin gue bisa? gue mau pergi ke suatu tempat." ucapku.


" Oh, bisa bah, mau kapan?" tanya Iman lagi.


" Kalau Sekarang bisa nggak man? itu juga kalau elu gak keberatan sih, kalau elu capek, Besok juga gak apa-apa kok" jelasku padanya.


" Oke bah, sekarang aja, gue ke tempat elu ya?." jawab Iman.


" Eh, beneran elu bisa sekarang? gue nggak enak nih, ngerepotin elu malam-malam begini." ucapku merasa tidak enak.


" Gak apa-apa bah, gak usah sungkan, elu kan udah nolong gue, jadi kalau elu butuh bantuan gue, gak usah sungkan lah, lagian gue gak bisa tidur juga, daripada bergadang sendirian, mending cari angin bareng elu." tutur Iman.


" Iya man, makasih banyak ya.." ucapku.

__ADS_1


" Sama-sama bah, ya udah gue ke tempat elu sekarang." pungkas Iman.


" Oke.. Man."


......................


" Dita.." panggilku perlahan mencoba membangunkan dia dari tidurnya.


" Hmm..?" Dita membuka mata terbangun dengan setengah mengantuk


" Hoaamm.. Ada apa yah?" jawab Dita sambil setengah sadar berjalan keluar kamar dan mengikutiku.


" Lho, kamu mau kemana? Malam-malam begini bersiap-siap." Dita kaget melihat aku yang tengah bersiap-siap untuk pergi.


" Aku mau pergi lagi, ada urusan penting." tuturku.


"Kemana lagi? Ini kan sudah larut malam, gak ada angkutan umum juga lho jam segini." ucap Dita.


" Aku pergi bareng Iman, dia kan ada motor, aku di antar olehnya, tuh! dia udah nunggu di depan, udah ya? aku pergi dulu, jaga Raka, terus kunci rumah. Tidur lagi gih! aku pulang pasti subuh atau pagi hari." ucapku


" Huffht.. Iya deh.. Hati-hati yaa.." jawab Dita.


Aku pun bergegas pergi bersama Iman. Sementara Ki Dayeng terbang di atas kami, sambil memberi tahu arah jalan.


" Bah, kita mau kemana?" tanya Iman sambil tetap fokus mengendarai laju motornya.


"Mm.. Kita mau ke tempat air terjun waktu itu man." ucapku.


" Maksud lu, tempat pesugihan yang di datangi bokap gue?" Iman sedikit terkejut.


" Iya man.." jawabku.


" Ngapain ke sana lagi? Apa elu mau nolongin bokap gue? Bukannya kata elu dia gak bisa di tolong." tutur Iman.


" Sorry bukan man, gue bukan mau nolong bokap elu, justru gue ke sana mau menghancurkan tempat pesugihan itu, biar nggak ada lagi korban kaya elu sama bokap elu man." tuturku.


" Oh gitu ya bah.. hmm.. memangnya elu tahu jalan ke sana? kalau tahu tunjukin aja jalannya ke gue." seru Iman.


......................


Sekitar satu jam perjalanan, kami memasuki jalanan yang menanjak, sepertinya ini jalan menuju pegunungan.


Ki Dayeng masih terbang memberi arah di atas kami.


Tak lama kami pun tiba di sebuah desa, Ki Dayeng berhenti.


" Anom, sebaiknya kamu titipkan kendaraan temanmu di salah satu warga sini, sebab jalan yang harus kita tempuh selanjutnya tidak bisa di lewati oleh kendaraan." tutur nya.


Aku pun menyuruh Iman memberhentikan motornya di depan sebuah warung yang hendak tutup.


" Permisi.." ucapku pada pemilik warung Itu.


" Oh ya.. Ada apa nak?" tanya seorang bapak tua menoleh ke arahku.


" Anu pak! bolehkah saya minta tolong sama bapak?" ucapku.


" Oh tentu nak, minta tolong apa?" dia pun menghampiri kami.


" Saya ingin titip motor kami di rumah bapak boleh?" tanyaku meminta ijin.


" Memangnya kalian mau kemana?" tanyanya heran.


Jelas bapak itu terheran-heran, sebab ada dua anak muda yang datang malam-malam dan tiba-tiba meminta tolong padanya untuk menitipkan motor.


" Kami hendak pergi ke air terjun larangan pak." tuturku.


"Eh, Ari terjun larangan yang di gunung itu kan?! jangan nak! Jangan ke sana!" seru bapak itu melarang kami.


" Lho, kenapa memangnya pak?!"tanyaku heran.


" Mmm.. Air terjun itu kabarnya terkenal angker nak, banyak orang yang hilang di sana dan tidak bisa kembali, warga di desa ini juga sudah tahu, jadi tidak ada yang berani datang ke sana. Kenapa kalian mau pergi ke sana?" ucap Bapak itu setengah berbisik.

__ADS_1


"Kami ada urusan di sana." ucapku.


" Jangan ke sana nak..di sana berbahaya, apalagi malam-malam begini, lebih baik kalian pulang saja." ucap bapak itu.


" Gak apa-apa pak, kami kesana cuman sebentar kok, tidak akan lama." ucapku.


" Tapi nak..


" Ini, ada uang untuk bapak, saya minta tolong titip motor kami di sini ya Pak. Bapak tolong rahasiakan ini." seru ku memberi beberapa uang kertas berwarna merah padanya.


" Ah, ya sudah baiklah.. Tolong berhati-hatilah, jaga diri kalian selama perjalanan, semoga kalian kembali dengan selamat, bapak tunggu kepulangan kalian." ucapnya terlihat khawatir melihat aku dan Iman pergi.


......................


Karena ini pegunungan jalanan menuju ke sana sedikit menanjak dan kami harus mendaki menuju untuk sampai hutan.


Cahaya bulan menyinari setiap langkah kami.


Kami mulai memasuki kawasan hutan yang mulai rimbun dengan pepohonan tinggi, jalan lapang saat mendaki tadi mulai menjadi jalan setapak dengan banyak kerikil dan ranting-ranting yang berserakan.


Cahaya bulan seolah mulai bersembunyi di balik lebatnya dedaunan pohon di hutan ini. Suasana mulai gelap.


" Bah.. pulang yuk." pinta Iman.


" Lah, belum juga nyampe man." keluhku.


" Di sini gelap bah, gue baru pertama kali masuk hutan malam-malam begini, kalau ketemu setan gimana." ucap Iman takut sambil celingukan melihat sekitar


" Gak bakalan, ada gue, gue bisa lihat yang begituan jadi kita aman." ucapku menenangkan Iman.


Aku sedikit termenung mengamati sekitar, nampak tidak asing dengan hutan yang kami lewati sekarang.


"Bah! Bukannya ini tempat yang dulu pernah kita datangi, sewaktu kita nungguin bokap gue datang. Kalau tidak salah kita menunggu di .. Sini!" tunjuk Iman pada sisi semak belukar.


Ah, ya! Aku ingat sekarang, pantas saja aku merasa familiar.


" Wah, ternyata elu masih Ingat, Man!" seruku.


" Hehe, iya soalnya itu kan pengalaman gue pertama kali meraga Sukma bareng elu, gue sampai terpana bah." seru Iman.


" Iya elu heboh sampe lupa ngikutin bokap elu kan." seruku juga.


"Hehe.. Iya bah." jawab Iman.


" Anom.. Aki akan pergi lebih dulu, untuk mengecek keadaan di depan sana, kalian tentu sudah hafal kan jalan ini. Aki pergi dulu." ucap Ki dayeng.


Aku mengangguk, Ki Dayeng pun pergi menghilang.


Kami terus berjalan menyusuri hutan, sesekali Iman terus merengek mengajak pulang karena takut.


Aku sedikit kerepotan dengan sikap yang penakut. Tapi bagaimana, aku harus bisa menyakinkan Iman dan membuat nya berani, tidak mungkin aku harus menyerah di tengah jalan, tanpa menuntaskan tugasku.


Kami sudah lama menyusuri hutan. kami pun tiba di pelosok hutan yang semakin dalam dan gelap, aku teringat, kami pun sempat mengikuti ayah Iman hingga kemari.


Jalan setapak yang tadinya terlihat sudah mulai hilang di tutupi ilalang, hutan di kawasan ini mulai gelap gulita, aku mencari jalan yang ilalangnya tidak terlalu menutupi jalan, sebab dulu ayah Iman pernah memotong ilalang- ilalang itu agar mudah untuk berjalan dan melewatinya.


Tentu saja aku menemukan jalan yang kami lalui dulu saat membuntuti Ayah Iman.


"Hiii, bah buruan balik yuk.. Gue udah gak sanggup lagi menelusuri hutan yang gelap begini." rengek Iman lagi.


" Ssst, jangan berisik!" Bisikku padanya.


" Apa! Ada apaan bah?!" iman mulai panik.


" Lihat ke depan! Ada bayangan di sana." tunjukku.


" Bayangan apa!?" tanya Iman makin panik.


Dari kejauhan kami melihat sesosok bayangan hitam yang tengah duduk di atas batang pohon yang tergeletak, seolah sedang menunggu sesuatu.


" Hiii... Setaan!! Teriak Iman.

__ADS_1


......................


__ADS_2