
Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada kakakmu,Wan."ujar ku
"Hah? Maksunya gimana,Bah?" tanya Iwan tak mengerti.
"Tadi aku bertemu dengan Qorin kakakmu."
"Qorin?" tanya Iwan heran.
" Iya, yang menemui kamu, Desi dan keluaraga mu adalah Jin Qorin dari Kakakmu. setiap manusia memiliki Jin Qorinnya masing-masing. Qorin lahir bersamaan dengan lahirnya kita ke dunia. mereka serupa dengan kita sama persis. 'Dia' hidup dengan meniru semua aktivitas yang kita lakukan hanya berselang beberapa detik setelah kita. Makannya kenapa Jin qorin kita bisa tau, sifat, sikap dan kebiasaan kita. 'Dia' juga akan menggantikan diri kita yang tidak bisa menyampaikan pesan pada orang-orang yang perlu di beritahu. Lebih sering muncul melalui mimpi seseorang. Makannya sering ada orang yang memimpikan orang yang sudah meninggal. Itu adalah jin Qorin dari orang sudah meninggal. 'Dia' pun bisa menemui seseorang dengan cara seperti yang Kang Iwan Alami menyampaikan pesan hingga maksudnya tercapai." Tuturku.
"I..itu artinya kakakku sudah meninggal..." ucap Iman gemetar.
Aku mengangguk.
" Ta..tapi bagaimana mungkin, Bah.. Kenapa? Apa penyebabnya? bahkan jika dia benar meninggal. kenapa kami belum bisa menemukan jasadnya hingga sekarang.." ucap Iwan bergetar. mencoba menahan air matanya yang mulai membendung di pelupuk mata.
" Yang kuat, Wan! Yang tegar!" ucap Iman sedikit menghiburnya.
" Apa Abah yakin Kak Lilis sudah meninggal?" ucap Iwan penuh harap.
" Aku bertemu dengannya di dimensi penumbalan. Banyak yang lain selain Kakakmu di sana. Sebenarnya itulah yang masih membuatku bingung kenapa Kakakmu terperangkap disana." ucapku dengan mengerutkan alisku.
" Apakah Kakakku jadi korban penumbalan? "
" Entahlah itu masih teka-teki,Wan. itulah yang harus kita cari tahu. Satu hal yang pasti Kakakmu memang sudah meninggal." ucapku.
Iwan menunduk sedih. Dia termenung.
" Kalau gue boleh tahu,Bah. Apa dimensi penumbalan itu mirip dengan dimensi Siluman Kera yang menangkap Rusli dulu, bisa aja kan Lilis itu masih hidup cuma koma kaya Si Rusli dulu." tanya Iman penasaran.
" Rusli lain cerita, Man. Dia Di tangkap karena tak sengaja membuat kesalahan pada dimensi siluman kera. Bukan korban penumbalan. Untuk mendapatkan tumbal Mahluk seperti mereka memerlukan sebuah perjanjian dengan manusia terlebih dulu. Memang keadaan para korban tumbal disana kurang lebih sama seperti di dimensi kera itu. Namun Mahluk yang menguasai dimensinya berbeda-beda. Dimensi penumbalan tempat Lilis berada di tinggali oleh Mahluk Aglong." tuturku.
"Aglong?mahluk apa itu?" tanya Iman lagi.
" Mereka Mahluk kerdil, mereka bertaring, tangan dan kukunya panjang, tubuhnya penuh luka menjijikan dan berbau. Setahuku mereka itu bawahan dari seorang setan penyihir Nenek Kutek." tuturku.
" Astaga!! mahluk apa lagi itu,Bah! Namanya aneh dan asing." ucap Iman.
" Ah, terlalu panjang kalau ceritain,Man. kalau elu pengen liat, gue bakalan bikinin sketsa bentuk mereka." ucapku.
" Bah, kalau benar kematian Kak lilis seperti itu. Tolong bantu aku untuk mencari jasadnya bah, Aku yakin ada orang jahat di balik semua ini. Makanya dia tak tenang dan sering menemui kami sekeluarga." tutur Iwan
"Baik wan, insyaallah saya akan bantu. Saya akan mencoba menelusuri lagi petunjuk dari hilangnya Kakakmu lilis agar kematiannya bisa mendapatkan titik terang." Sahutku.
"Kalau begitu, aku harus bergegas pulang bah, aku akan menceritakan hal ini kepada keluargaku. Dan kalau bisa jika Abah ada waktu tolong mampir ke rumahku dan bersilaturahmi dengan keluargaku. Agar kita bisa membicarakan ini lebih jelas." pinta Iwan.
"Iya,Wan. Insyaallah hari minggu saya datang ke rumah kamu." jawabku.
"Kalau begitu saya pamit pulang, Bah. Terimakasih,Man. Sudah bawa mempertemukan aku dengan Abah. Kalau kalian mau ke rumah nanti, kabari dulu, ya." Sahut Iwan.
"Oke, Wan. Nanti kita bakal barengan kerumah lu minggu." cetus Iman.
Iwan pun pamit pulang.
"kalo gitu gue juga mau pulang,Bah. Keburu malem. hehehe.. jadi parno gue denger kematian kakaknya Si Iwan, serem." ujar Iman
" Iya, gih. sana.." jawabku.
Setelah mereka semua pergi. Aku pun menutup pintu. Dan sedikit merenung tentang kematian Lilis.
Setahuku Aglong adalah bawahan dari Nenek Kutek. Apa mungkin dia di tumbalkan melalui ritual pemujaan? Ah tidak mungkin. Masa di jaman sekarang masih ada yang memuja dan melakukan ritual pemujaan seperti itu sih.
Tiba-tiba.
Tok..., Tok..., Tok...
Terdengar suara pintu di ketuk perlahan.
__ADS_1
Eh, siapa malam-malam begini bertamu.
Tok..., Tok..., Tok...
Aku langsung membuka pintu dan terlihat seorang wanita berambut pendek berdiri didepanku dan membelakangiku.
Apa itu Lilis.
"Lilis? Apa kamu Lilis?" tanyaku penasaran.
"Tolong aku, aku ingin pulang." ucap Lilis dengan suara parau dan terisak.
"Aku akan menolongmu. Tapi aku ingin kamu juga memberi tahu di mana keberadaan jasadmu. Katakanlah dimana, agar kami bisa membawamu pulang. dan apa sebab kamu bisa terperangkap di alam penumbalan, Beritahu aku semuanya." ucapku.
namun dia hanya menangis tersedu-sedu.
"Lis bicara lah. Aku akan membantu menemukanmu." ucapku sambil mendekati dan memegang pundaknya untukmencoba melihat wajahnya, apa benar dia Lilis atau bukan.
Astaga!!
Wajahnya berubah menjadi tengkorak dengan dua mata yang melotot dan darah segar keluar dari sela matanya. Seolah sedang menangis darah.
Kulihat ke tubuhnya, tepat di perutnyaya ada luka yang menganga, isi perutnya menjuntai keluar, beserta darah yang terus menetes.
Dia bergerak seperti menahan rasa sakit pada tubuhnya dan berteriak histeris
"kyaaaaaaaaaaaa..."
Lilis pun menghilang. Aku segera masuk ke dalam rumah. Khawatir kedatangnya mengganggu keluargaku.
Setelah menutup pintu aku pun berbalik.
"Astaga, Ditaa! sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanyaku kaget melihat Dita telah berada di belakangku.
"Mmm, dari tadi,Yah. Aku lihat kamu lagi ngobrol sama perempuan tadi, siapa dia? Kenapa tidak di suruh masuk?" ungkap dita.
"Loh, dia kan cuman wanita biasa, dia kelihatan habis pulang kerja sebab dia masih memakai seragam kerja nya. Kenapa mesti takut." cetus Dita.
Hah? Apa mungkin yang di lihat Dita berbeda denganku?
"Ada perlu apa dia datang Yah. Dia pasti meminta pertolonganmu, Kan?" ucap Dita memastikan.
Aku yakin pasti ada sesuatu di balik kematiannya. Jangan sampai dia pun ikut menampakan dirinya pada Dita juga
"Yah? Ayah! Hey! kok melamun, ada apa sih?" ucap Dita membuyarkan lamunanku.
"Eh, nggak ada apa apa kok. lebih baik kamu segers tidur, aku juga mau istirahat." ucap ku.
......................
Aku kini berada di sebuah jalan raya di depan pabrik pada malam hari.
Di tepi jalan aku melihat Lilis, dia tengah menunggu angkutan umum. Dia juga masih memakai seragam kerjanya. Mungkin dia hendak pulang.
Tiba-tiba dari jauh aku melihat mobil hitam berhenti di depannya. Lalu muncul dua orang pria.
Wajah salah satunya terlihat jelas, namun aku tak tahu dia siapa karena aku tidak kenal.
Aku akan ingat kalau dia memakai topi.
Mereka membawa tubuh Lilis dengan paksa ke dalam sebuah mobil.
Astaga ini penculikan, Lilis di culik.
Aku mencoba berlari mengejar mereka. Namun mobil itu terlalu cepat berlaju.
PATS...
__ADS_1
Tiba-tiba saja aku berganti tempat di sebuah hutan. Dari jauh aku melihat ada mobil yang membawa lilis tadi tengah terparkir di dekat sebuah gua.
Aku mencoba mendekat.
Dan benar saja, dari dalam mobil. Lilis di seret paksa oleh kedua pria itu. Dari dalam Gua muncul beberapa orang yang memakai jubah hitam. Ikut menyeret Lilis ke dalam gua.
"kyaaaaaaaa! lepaskan aku! Tolong! Tolong!" teriak Lilis meronta.
Aku segera berlari untuk menolong nya.
"Hey! kalian cepat lepaskan dia! jangan bawa wanita itu!! teriakku sambil berlari menghampiri mereka.
"Yah! Ayah! hey bangun! kamu kenapa?" ucap dita dan membangunkan tidurku.
"Hah! ternyata cuma mimpi. oh, iya lilis, Mah! aku bermimpi tentang dia." sahutku.
"Hah? Lilis ? siapa?" tanya dita.
Sepertinya Lilis sengaja datang dalam mimpiku untuk memberitahu semuanya.
"Itu Loh, Mah. Lilis itu wanita yang kamu lihat sedang mengobrol denganku waktu di teras rumah. Dia itu sudah meninggal, yang kamu lihat itu jin qorin dari Lilis. Dia datang padaku untuk meminta tolong. Dia adalah kakaknya Iwan, pria yang kemarin datang ke rumah kita. Iwan juga memintaku untuk menolongnya mencari kakaknya Lilis yang hilang itu." tuturku
"Apa?! Berarti yang kulihat wanita tadi itu hantu?"ucap Dita kaget.
"Iya mah" jawabku.
" Hiiiii... Aku takut Yah, bagaimana kalau dia datang lagi dan mengganggu kita." ucap Dita cemas.
"Tidak. Lilis hanya akan menemuimu. Karena aku sudah berjanji untuk menolongnya, untuk menemukan jasadnya dan membuka misteri tentang kematiannya." ucapku.
......................
Keesokan paginya.
Saat aku tengah membantu istriku mengerjakan pekerjaan rumah.
Ponselku bebunyi tanda panggilan masuk.
Iwan? ada apa ya pagi-pagi gini dia telepon.
" Ya, Hall..
Ucapanku terpotong oleh, Iwan yang langsung membuka pembicaraan dengan nada yang ketakutan.
"Bah, apa bisa Abah kerumahku sekarang? tolong bantu saya, Bah. Desi terus diam melamun tak beranjak dari tidurnya,Bah." sahut Iwan.
"Astaga!! iya,Wan. Saya akan segera kesana" jawabku.
"Makasih,Bah. Di tunggu secepatnya ya, Bah." ucap Iwan terburu- buru dan langsung menutup teleponnya
"Tapi, wan?...
Astaga Iwan-Iwan, kenapa malah di tutup sih teleponnya, aku kan belum tau alamat rumah nya dimana.
......................
Assalamualaikum..
Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.
Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus
Terima kasih untuk dukungannya.
i love you readers.
😍🥰😘
__ADS_1
Wasalam.