Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Dimas


__ADS_3

Aku panik melihat tanduk RA yang keluar dari sigil itu, hanya tanduknya saja ukuran sudah sebesar batang pohon, berwarna hitam dan sisi tanduknya di kelilingi pucuk-pucuk kecil yang panjang juga tajam seperti mata pisau.


Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar RA yang sebenarnya, seperti apa rupa nya, dan sekuat apa dia.


Membayangkannya saja membuat aku merinding.


Kami semua nampak berpikir bagaimana menghancurkan portal sigil.


Yang awalnya hanya muncul kedua ujung tanduknya saja, kini sudah muncul setengahnya.


Di setiap pergerakannya untuk muncul, ada suara gemuruh angin yang kencang, di sertai tanah yang berguncang.


" Bagaimana kalau kita coba menggunakan Brajamusti mu Anom!" usul Aji Saka.


" Brajamustiku? Aku bisa saja melakukannya tapi apakah cara itu akan berhasil? sepertinya kekuatan Ra jauh lebih kuat dari perkiraan kita, kemunculannya saja sudah membuat tanah ini berguncang.." ucapku tak yakin.


" Tidak salahnya kita coba, Apalagi jika kita menyalurkan semua tenaga dalam kita pada Anom, sehingga Brajamusti pasti akan semakin kuat." usul Aji Saka.


" Dia sedang melihat kita! Cepatlah! Lakukan sesuatu!" teriak Nini kembar.


Melihat?


Sontak aku melihat ke arah sigil, benar saja setengah kepalanya dan matanya sudah muncul.


Mata itu sangat besar, pupil hitamnya melotot pada kami.


Aku yang menatap pada mata itu, membuat tubuhku bergetar.


" Cepatlah! kita sudah tidak banyak waktu lagi, dia semakin muncul ke permukaan." ujar Ki Dayeng.


Kami mulai membentuk posisi berbaris kebelakang.


Aku berada di posisi di paling depan, Aku sedikit gugup karena Mata besar itu ada di dihadapanku sekarang,


di belakangku rekan ghoibku mulai berbaris pertama Ki Dayeng, lalu Aji saka, dan seterusnya.


Aku mengarahkan kedua tanganku ke depan aku memusatkan energi di kedua telapak tanganku. Aku memejamkan untuk fokus.


Tiba-tiba..


GRRRR....


Terdengar Geraman yang sangat keras dan menggema bahkan memekakkan telinga, sontak aku membuka mata, dan mata besar itu terlihat marah padamu, membuat aku merinding dan takut.


" Tetap fokus Anom!" seru Ki Dayeng mengingatkanku.


Seketika seluruh tubuhku menghangat, aura hijau menyelimuti tubuhku. Lalu berkumpul di kedua tanganku, cahaya hijau semakin besar, dan terasa sangat berat.


Aku mulai membaca Ajianku. Dan..


SRAT!


Brajamusti keluar dari tanganku membentuk cahaya yang sangat menyilaukan mata dan terasa panas menguap menuju tanganku.


Hebat sekali, aku merasakan energi kali ini sangat besar, Inikah Brajamusti gabungan dari kekuatan kami semua.


GROAARRR...


Aku terhentak kaget mendengar suara RA yang marah saat aku menyerangnya. hampir saja aku menghentikan Brajamustiku. Namun ki Dayeng sedikit menyentuh punggungku agar aku tetap fokus.


Brajamustiku, mengenai Ra dan sigil itu. Warna merah dari energi sigil dan Brajamustiku saling beradu.


Tanah makin berguncang, kami hampir hilang keseimbangan.


Geraman dia semakin keras terdengar. Dia tidak bisa melawan, sebab dia hanya muncul kepalanya saja, tidak dengan tubuhnya, jika dia sampai keluar dengan tubuhnya, hancur sudah bumi kita.


Untunglah Brajamusti kami berhasil. Semakin lama RA semakin masuk ke dalam perlahan, seakan kembali tenggelam ke dasar bumi.


Tanduknya semakin lama semakin kecil hanya ujungnya saja yang tersisa lalu menghilang.


Cahaya merah di sigil juga mulai memudar.


Lalu..


DUARR!


Terjadi ledakan pada sigil itu, membuat kami semua jatuh dan terpental.

__ADS_1


Kulihat tanah yang bergambar sigil itu retak dan hancur berkeping-keping, ledakannya hingga membentuk sebuah lubang dengan lekukan yang cukup besar dan berasap.


" Kita berhasil!" seruku pada semuanya.


Mereka mengangguk dan tersenyum padaku secara bersamaan.


Lalu tanah bergetar, banyak batu-batu kecil jatuh dari atas kami.


" Kita harus segera pergi dari sini! Sepertinya tempat ini juga akan ikut hancur " seru Ki Sugro.


" Tunggu! Aku harus membawa jasad Pak Yono dan Pak Rizal." ujarku.


Namun Aneh saat aku hendak menyentuh tangan mereka, tiba-tiba tangan mereka berubah menjadi abu dan terbang tertiup angin.


"Kenapa begini?" tanyaku keheranan.


"Entahlah, mungkin hanya tuhan yang tahu." ucap Ki Jagat.


Ternyata bukan hanya jasad Pak Yono dan Pak Rizal saja tapi jasad kelima jendral itu juga sama.


" Biarkan saja! Lebih baik kita segera pergi dari sini, lihat lubang pohon ini sepertinya perlahan mengecil." ujar Ki Sugro.


Kami pun keluar dari dalam pohon beringin, Benar saja saat aku kami semua keluar lubang dalam pohon menghilang tanpa bekas. Tertutup sempurna tanpa celah sedikitpun.


Aku tertegun saat aku melihat kemunculan Dimas di depanku.


"Abaah! Syukurlah Abah selamat." serunya berlari dan memelukku.


" Apakah, itu berarti semua masalah sudah selesai?" ucapnya sumringah.


Aku hanya mengangguk.


" Alhamdulillah, Berarti Bapakku akan aman sekarang, dia akan sehat lagi, tapi.. Ngomong-ngomong bapak dimana bah? kenapa tidak kelihatan?" tanya Dimas heran.


Aku hanya diam membisu.


Bagaimana cara memberitahunya. Aku takut dia sedih dan terpukul.


"Dimana bapak bah?! Bapak bilang bapak akan masuk ke dalam pohon untuk menyusul Abah, dia juga menyuruhku untuk diam di sini menjaga Iman yang pingsan, Apa bapak masih ada didalam?" tanyanya lagi.


Aku menarik nafas panjang, memberanikan diri untuk memberitahu Dimas tentang kematian Ayahnya.


" Dim, maaf... Ayahmu.. dia.. sudah tiada." ucapku sambil menunduk dan memejamkan mata.


Tapi tidak ada jawaban dari Dimas, aku segera membuka mataku untuk melihat reaksinya.


Ternyata dia berdiri mematung Dengan wajah yang syok dan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


" Nggak Bah! Bapak gak mungkin meninggal, nggak mungkin! dia bilang dia akan kembali, makannya aku menunggunya disini." ucapnya menyayat hati.


Aku langsung memeluknya. Tiba-tiba tangis Dimas pecah.


" Bapaaakkk..." tangis Dimas.


" Yang tabah Dim.. yang lapang.. agar ayahmu bisa tenang di sana." ucapku menghibur Dimas.


Tiba-tiba Dimas melepaskan pelukanku dan berlari ke pohon beringin, dia menepuk-nepuk batang pohon itu, berharap pohon itu membuka kembali lubang nya.


" Pak! Bapak! Bapak ada di dalam kan! Buka Pak! Dimas mau masuk, bapak jangan ninggalin Dimas pak, Dimas gak mau sendirian.." teriaknya dalam tangis.


Aku menghampirinya.


" Dim, yang tabah, ini semua takdir tuhan, ikhlaskan ayahmu jangan buat dia berat di alam sana." ucapku.


" Huu..huu.. bapak.. Kenapa harus secepat ini bapak pergi. Hiks.. Hiks.. Kenapa.." ucapnya.


" Ayahmu meninggal dalam keadaan yang baik Dim, dia berada di jalan yang benar, meski musuh kami terlampau kuat, dia sudah bertarung sekuat tenaga melawan keburukan. Dia, berpesan padaku untuk menjagamu, jadi jangan berlarut dalam kesedihan, aku akan merasa bersalah pada ayahmu." tuturku.


Lama sekali dia menangis tersedu-sedu. Hingga Iman pun tersadar dari pingsannya.


Iman keheranan melihat Dimas yang menangis sesenggukan.


" Bah!" panggilnya beranjak dari batu besar tempat di berbaring.


" Ini dimana Bah? Si Dimas kenapa bisa ada disini? Terus kenapa dia nangis kaya begitu?" tanya nya bertubi-tubi.


Aku pun menceritakan semuanya.

__ADS_1


Iman tidak kalah syok, dia tak menyangka kedua orang itu telah meninggal dunia.


" Semoga kesalahan mereka di ampuni, dan ditempatkan di tempat yang baik di sisinya." ucap Iman mendoakan.


"Aamiin."


Iman mulai berempati pada Dimas.


" Dim, yang tabah yang Dim, gue ada sama elu, elu gak sendirian, kita teman dekat sejak kecil gue udah anggap bapak lu kaya bapak gue. Jadi elu jangan sungkan sama gue, gue bakal terus di sisi elu, dukung elu. Kita udah keluarga dari dulu." hibur Iman pada Dimas sambil menepuk-nepuk punggung Dimas.


" Iya Dim, gue juga sama, gue bakal selalu ada buat elu. ini udah wasiat dari ayahmu juga. jadi jaga juga diri elu sendiri " hiburku juga


" Terimakasih banyak Man, Abah seperti untuk sementara ini gue masih butuh waktu buat sendiri." lontarnya.


" Iya Dim, gue ngerti tapi inget, elu boleh bersedih tapi jangan berlebihan, gak baik buat kesehatan." Iman mengingatkan.


" Iya, man. Terima kasih banyak." jawabnya.


......................


Kami memutuskan untuk pulang. Aku dan Iman kembali ke rumah untuk membenahi diri.


Setelah selesai membenahi diri, kami memutuskan untuk mengikuti shalat ghoib di kediaman pak Rizal dan Pak Yono. Dan selama tujuh hari juga kami menghadiri acara tahlilan untuk mendoakan mereka berdua.


Semoga kalian berdua tenang di sisi-NYA


......................


Beberapa hari kemudian, Kami melakukan aktivitas seperti biasanya.


Meski sanak saudara dari kedua orang tuanya mengajak Dimas untuk tinggal bersama, Dimas menolak, dia memutuskan untuk hidup mandiri.


Rumah yang dia tinggali, dia jual karena tidak ingin teringat kenangan pahit. warisan peninggalan kedua orang tuanya dia pakai untuk membeli rumah sederhana di kota dan membuka usaha sendiri sebagai pemasukan sehari-hari dan untuk membiayai kuliahnya.


Dia hari senggang, sesekali dia mengunjungiku dan Iman, kami menghabiskan waktu bersama.


Semua telah selesai, meski Sekte 18 di daerah ini sudah tidak ada, tapi di luar sana masih banyak sekte lain di luar sana.


Jadi jangan sampai kita terhasut dan terbujuk akan rayuannya, perkuat Iman kita dan tetapkan hati kita selalu pada sang kuasa. Dia akan selalu melindungi kita dari bisikan dan rayuan setan.


......................


Di tempat kerjaku.


"Nandy! kamu tuh kemana aja? Tiga hari berturut-turut absen, kenapa? Sakit? Kok gak ada Kabar?" tanya Spv Pak Dirgan.


"Iya Maaf pak." jawabku.


" Sebelum absen yang ini juga, kamu juga sering absen Nan, kata kamu istrimu sakit, masa Iya istrimu sakit, katanya sudah di bawa ke dokter , kok gak sembuh-sembuh, ini sudah lebih dari 3 Minggu absen kamu kurang baik, tolong di perhatikan dong!" tegurnya lagi.


" Baik pak, mohon maafkan saya, akan saya perbaiki kedepannya." ucapku.


Yah, bagaimana lagi.. Masa iya aku harus jelaskan kalau aku harus menolong orang, dan bertarung dengan hak ghoib.


" Sebenarnya kamu itu kenapa Nan, bapak cuman pengen tahu aja yang sebenarnya. soalnya setiap kali kamu izin alasanmu tidak masuk akal, cobalah cerita." tutur Pak Dirgan.


Apa aku cerita saja ya, aku juga tidak mau di cap sebagai karyawan terburuk atau pemalas oleh Pak Dirgan. Mungkin sedikit penjelasan dia akan mengerti.


" Hmm.. sebernarnya Pak....


Aku menceritakan kegiatanku selama ini di luar jadwal kerja pada Pak Dirgan, kalau aku selalu menolong banyak orang yang kesulitan dalam hal mistis. Aku juga menunjukan bukti chat di ponselku dari orang-orang yang meminta pertolonganku pada Pak Dirgan.


Pak Dirgan terlihat syok.


" Ini beneran, Nan? Astaga bukannya yang yang seperti ini terlalu berisiko." ujarnya.


" Ya mau gimana lagi pak, sedari kecil saya sudah seperti ini, jika saya menolak mereka , saya tidak ingin sampai merasa bersalah jika orang yang tidak saya tolong itu meninggal, taruhannya nyawa pak, makannya kenapa saya sering bolos dengan berbagai alasan, saya harus menyelesaikan semua sampai tuntas." beberku


" Tapi Nan, bapak mungkin bisa mengerti sekarang posisimu, dan sebab ketidakhadiran mu selama ini, itu untuk bapak pribadi sebagai SPV tapi tidak dengan perusahaan. perusahaan tidak ingin tahu tentang apa yang terjadi padamu di luar lingkungan kerja. perusahaan hanya ingin tugasmu di sini kamu selesaikan dengan baik. Jadi bapak harap kedepannya kamu bisa bersikap profesional dalam bekerja karena tidak mungkin juga, perusahaan harus mengerti tentang masalah pribadi mu kan? mereka juga tidak mungkin akan ikut campur dalam masalahmu, sampai disini kamu paham kan maksudku?" tanya Pak Dirgan.


" Saya paham Pak." jawabku


" Baguslah kalau begitu, semoga semua urusanmu selalu lancar, Nan. Bapak tingg dulu." ujarnya berlalu pergi sambil menepuk pundak ku


Ya, inilah resiko yang harus aku tanggung, aku harus terima kadang itu pahit sekalipun, bagaimana pun, aku tidak pernah bisa menolak atau membiarkan mereka yang membutuhkan bantuanku.


Ini sudah jalan takdir yang harus aku jalani.

__ADS_1


.......... End..........


__ADS_2