Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Tersesat 2


__ADS_3

Malam disini benar makin larut, Aku tidak bisa menolak, karena tidak tahu harus apa dan bagaimana, terpaksa aku harus menuruti keinginan si ibu warung untuk menginap di sini.


Ada yang tidak beres disini, itu yang aku pikirkan dari tadi, kini mata batinku mulai terbuka, aku bisa melihat sesuatu yang membuatku tersadar.


Warung yang aku dan iman singgahi ini, bukanlah warung yang kami kira, melainkan sebuah makam yang panjang, posisi kami tengah duduk tepat di depan makam panjang tersebut.


Sial, lagi-lagi aku terjebak oleh tipu daya mereka.


Makanan yang di sajikan oleh ibu warung tadi bukanlah singkong rebus melainkan buah jambu busuk yang penuh belatung, serta kopi yang di sajikannya adalah air yang berwarna merah seperti darah.


Bukan hanya itu, aku dibuat kaget saat melihat wujud asli mereka.


Wujud asli si ibu warung adalah sosok wewek gombel dengan rambut yang acak acakan dan di penuhi ulat bulu di kepala nya, dan sebagian wajahnya sudah terkelupas memperlihatkan tulang tengkoraknya.


sementara Si kakek yang dari tadi duduk di sampingku kini berubah menjadi sosok genderuwo dengan mata merah dan berbulu lebat yang sedang asik memakan bangkai tikus.


Astagfirullohaladzim! sekarang bagaimana cara aku keluar dari tempat ini.


Aku pun mencoba menyadarkan iman, ternyata Iman sudah terperdaya oleh tipuan mereka.


"Man? Sst.. " sahutku berbisik kepadanya.


Namun dia tidak mendengar sahutanku, Dia tetap asik memakan jambu busuk penuh belatung yang dia kira adalah singkong rebus.


"Man! udahan makannya anj**t itu belatungan." bisikku menepuk pundaknya, karena risih melihat dia makan benda tersebut dengan lahap.


"Apaan sih? udah tau gue lagi ngopi, emangnya elu kaga laper apa? Nih ya! gue kasih tahu, kita ini lagi gak tau ada di dimana dan daerah apa.. Terus perjalanan buat kita pulang belum tahu jauh atau enggak. Mendingan lu makan dulu supaya ada tenaga." tutur Iman sambil menyeruput gelas dengan air yang seperti darah itu.


Ck! Dasar! aku buka mata batinnya aja kali ya, pasti dia sadar apa yang dia makan.


Fokusku teralih kan saat ada beberapa yang datang, semakin gelap suasana di tempat ini, semakin ramai dan banyak makhluk-makhluk lain berdatangan.


Mereka datang dengan wujud yang aneh-aneh, seperti hantu tanpa kepala bahkan hantu berwajah rata pun ada.


"Wah, ada pelanggan lain yang datang, ayo sini mau pesan makanan?atau ngopi?" seru si ibu warung menawari pada setan- setan tersebut.


"Wah, ternyata kalau malem makin rame ya Bu?" tanya Iman sok akrab.


"Iya Den, Apalagi kalo ada orang baru kaya Aden, pasti meraka seneng terus pada Dateng." jawab si ibu warung tersenyum.


Iman, sadar dong b*go! Kita ini lagi di kelilingi setan. Mumpung yang lain gak liat, ini waktu yang tepat buat buka mata batin si Iman.


Segera aku memegang kepala Iman, dan membuatnya menatap lurus ke arahku.


"Man? Coba lu liat gue." pintaku pada Iman.

__ADS_1


" Emang elu kenapa? "ucap iman intens menatapku.


Aku langsung mengusap telapak tangan ku ke mata dan wajahnya Iman.


"Man, setelah gue lepas kepala lu, pas nengok, tolong jangan teriak dengan apa yang loe liat nanti, bisa-bisa kita bakal dalam bahaya, ngerti!" ucapku pelan pada Iman.


Iman pun mengangguk dan aku melepaskan tanganku yang memegang kepalanya. Sontak Iman pun menengok


Dan..


"ABAH!!! Itu kan set.."sontak aku langsung membekap mulut Iman yang hendak berteriak


"Ngomongnya jangan keras-keras, kalau ketahuan kita dalam bahaya." ucap ku berbisik pada Iman yang tengah syok dengan mata melotot dan deru nafas yang cepat.


"Bah, kaki gue gemeteran bah, gue takut bah, jadi dari tadi kita ada di tempat kaya gini? Ayo buruan kita pergi dari sini bah, gue takut bah, gue enek pengen muntahin semuanya." rengek Iman berbisik dan panik.


"Belum bisa, kita harus menjauh dari sini diam- diam tanpa sepengetahuan mereka, jadi sementara gue nyari jalan keluar, elu pura-pura aja kaya tadi, supaya mereka nggak curiga."pintaku


"i.. I.. Iya Bah."ucap Iman mengangguk pelan.


Benar saja beberapa makhluk lain, kembali bermunculan dan duduk di sebelah kami. Mereka memakan hidangan yang sudah di siapkan oleh ibu warung wewek Gombel.


Sedangkan Iman dia mulai ketakutan setengah mati, Dia melihat makhluk-makhluk aneh yang berdatangan tadi, tubuhnya semakin gemetar dia mencoba menahan rasa takutnya.


"Bah, cepetan gue takut banget! pengen pingsan gue."ucap Iman


"Loh, Aden kenapa kok makan nya gak di abisin atau mau tambah lagi kopi nya?"ucap ibu wewek Gombel.


"Oh, nggak buk, terimakasih saya udah kenyang hehe." jawab Iman tersenyum dengan wajah takut


"Adeb Kenapa? kamu seperti ketakutan begitu?" tanya ibu wewek Gombel.


"Ah, masa sih bu, saya cuman gak enak perut saja." ucap iman mencoba untuk tetap tenang


"Kalau begitu istirahat saja di dalam warung ibu, ada kasur disana, kamu bisa baringkan tubuhmu disana." pinta ibu wewek Gombel.


"Ah, nggak usah Bu. Saya lebih nyaman disini sekalian ngadem hehe."ucap Iman tersenyum paksa, dia menyenggolku karena ingin segera pergi dari tempat ini.


"Iya Man, ayo kita pergi dari sini." ucapku


Ku lihat para mahkluk itu sedang halap memakan bangkai-bangkai tikus


Aku pun memutuskan untuk pamit pergi dari tempat ini


"Bu punten, saya mau pamit mau meneruskan perjalanan." ucapku kepada ibu wewek gombel.

__ADS_1


"Loh, Mau kemana? ini masih kan gelap? disini bahaya jika malem banyak binatang buas." Ibu warung wewek menakuti kami.


"Gak Apa-apa Bu, kami berani kok, hehe. semua jadi berapa Bu aku makan singkong sama satu kopi."ucap Iman melakukan sandiwara.


"Gak usah bayar Den, ibu kasih secara cuma-cuma kasian kalian kan datang dari jauh." ucap si ibu wewek.


"Oh gitu ya Bu, kalau begitu saya mengucapkan terimakasih." ucap Iman dan menarik tanganku dan pergi dari tempat ini.


"Kalau begitu kami pamit, mangga semuanya hatur nuhun." ucapku dan berjalan meninggalkan kumpulan para setan yang sedang duduk di depan makam panjang tersebut.


Aku dan iman berjalan di jalan setapak yang penuh dengan lumpur. kanan kiri banyak semak belukar


"Man, motor lu simpen dimana?"tanyaku


"Lah iya, gue lupa! Seinget gue sih gue parkir sekitar sini, tapi Kok nggak ada ya?." Iman celingukan mencari motor di antara lebatnya semak- semak.


Tiba tiba terdengar suara deru kendaraan. Dan itu seperti suara motor Iman


Brum... Brum..


"Bah elu denger sesuatu nggak? Itu kayak suara motor gue nggak sih?" ucap iman penasaran dan menajamkan pendengarannya .


"Iya Man, itu kaya suara motor lu, ayo kita cari suaranya dari sebelah mana, siapa tahu kita temuin motor lu." seruku.


Tak berapa lama kami lihat motor iman terjungkir di sela sela pohon bambu dalam keadaan menyala.


"Alhamdulilah ketemu Bah, itu bener motor gue, bantuin gue bah! motornya nyangkut nih." keluh Iman.


Aku pun segera membantu iman untuk menarik motor yang tersangkut dari sela sela pohon bambu. setelah di cek, syukurlah motor dalam keadaan baik- baik saja, dan masih bisa berfungsi dengan baik.


Tidak jauh dari tempat kami, kami pun segera menaiki motor mulai menelusuri jalan setapak yang sedikit berlumpur ini.


Kami mengendarai motor tanpa arah dan tujuan, yang penting kami bisa pergi dari tempat tadi.


"Bah, kita mesti kemana ini?"tanya iman.


"Gue juga nggak tahu, Man. gue juga masih mikir." jawabku


"Kenapa lu gak manggil temen-temen gaib lu buat nolong kita?" cetus Iman.


" Dari sewaktu disana juga gue udah coba komunikasi dengan mereka, tapi susah Man, kaya ada yang penghalang agar gue gak bisa manggil mereka." ujarku.


"Terus giman dong Bah, kita bisa pulang nggak nih? Tempatnya udah serem banget, bensin motor gue juga udah hampir abis." rengek Iman panik


"Yaudah Man, sabar dulu, kita harus banyak berdo'a mudah-mudahan ada jalan keluar." ucapku menenangkan Iman yang panik.

__ADS_1


......................


__ADS_2