
Samber nyawa ilmu itu sangat berbahaya, dalam wujud raga halus seperti ini bisa langsung terluka karenanya dan akan berdampak parah pada raga kasar.
Aku harus bagaimana ini benar-benar sangat berbahaya..
Pak Kuncen itu membuka mata dan menyeringai kepadaku dan Iman.
Argh sial, ternyata dia akan menyerang kami berdua.. Aku harus melindungi Iman juga..
Dan benar saja akhirnya dia melesatkan kedua bola api itu ke arahku dan juga Iman, sontak aku berlari melindungi Iman yang berada jauh dariku.
Iman gemetar ketakutan, bola api makin membesar dengan api yang berkobar mengelilinginya, terbang melesat cepat ke arah kami, kami hanya bisa berpelukan, dan memejamkan mata.
" Bah kita bakal mati..." ucap Iman putus asa dan ketakutan.
Entahlah, setidaknya aku harus melindungi Iman lebih dulu, karena aku yang membawa dia kemari..
WUSH!
Tiba-tiba saja dari arah samping muncul semburan api yang membakar kedua bola itu, yang hampir saja mencelakai kami.
Bola api dan semburan api saling beradu energi, mereka berbenturan, Seolah bertarung dan mengalahkan satu sama lain, lalu..
DUAR!!
Terjadi ledakan besar dan mengguncangkan seluruh tempat ini.
Bola api samber nyawa menghilang bak ditelan oleh semburan api.
Aku tak menyangka ternyata semburan api itu berasal dari mulut Ki Dayeng.
Syukurlah Ki Dayeng menolong kami berdua, tepat waktu.
" Kamu baik-baik saja Anom!" tanya Ki Dayeng padaku.
" Ya, Ki kami baik-baik saja." jawabku lega.
Pak Kuncen terlihat kaget dan marah melihat samber nyawa nya telah di kalahkan oleh Ki Dayeng.
Ayah Iman dan temannya keluar dari dalam goa karena terkejut akibat guncangan besar tadi.
" Ada apa ini pak! Kenapa tempat ini berguncang? Apa ada gempa?!" tanya ayah Iman panik bertanya pada pak Kuncen.
" Kenapa kalian keluar! lanjutkan saja ritualnya! Aku sedang mengatasi sedikit gangguan di sini." teriak Pak Kuncen marah pada Ayah Iman.
" Ba..baik.." jawab mereka dan kembali masuk ke dalam goa.
Tentu saja Pak kuncen langsung menyerang Ki Dayeng, mereka langsung saling bertarung, saling beradu ilmu dan kesaktian.
Iman yang tadi sempat melihat Ayahnya keluar, Dia langsung berlari masuk ke dalam goa dan menyusul ayahnya dengan perasaan marah.
Untung saja Pak kuncen tidak menyadari Iman yang sudah masuk. Karena terfokus pada pertarungannya dengan Ki Dayeng.
" Man ! Tunggu!" teriakku hendak berlari menyusul Iman.
__ADS_1
Namun tiba-tiba tempat ini kembali berguncang hebat, bahkan guncangannya lebih besar dari yang tadi.
Guncangan apa lagi Ini?
Aku mencoba mengatur keseimbanganku agar aku tetap bisa berdiri, meski tanah ini terus berguncang.
"Berhati-hatilah anom!" teriak Ki Dayeng yang tiba-tiba mengingatkan dari jauh.
Hati-hati? Dari apa?
Ku lihat Pak Kuncen justru hanya tertawa - tawa dengan senangnya.
" Hahahahaha, akhirnya tuanku akan datang kemari dan membereskan para pengganggu seperti kalian. " ucapnya senang.
Meski langkahku gontai, Aku tetap mencoba berjalan menghampiri mulut goa.
Saat aku hendak masuk, Seketika guncangan berhenti, sontak aku menoleh ke arah pertarungan Ki Dayeng.
Aku terkejut ternyata, Ki Dayeng sedang bertarung dengan sosok siluman ular raksasa.
Rupanya guncangan tadi terjadi karena kemunculan sosok siluman ular itu.
Siluman ular itu bagian tubuh atasnya berbentuk manusia, dan sebagian tubuh bawahnya berbentuk ular. Siluman ular ini adalah seorang pria dengan mahkota.
Melihat mahkota yang dia pakai sepertinya dia adalah Raja Siluman Ular.
" Ada apa ini! Kenapa terjadi keributan di tempat ritualku!!" ucap Raja Ular itu marah pada Pak kuncen.
" Maafkan tuan! Dia yang telah mengganggu ritualnya, sehingga aku mencoba membereskan, namun sepertinya dia cukup sakti, hampir menghancurkan tempat ini!." ucap Pak kuncen membela diri dan menyalahkan Ki dayeng.
Tentu saja Ki Dayeng balik membalas serangan Raja Ular, dan kini mereka bertarung dengan sengit, karena sama-sama sakti, tanah kembali bergetar, akibat benturan energi mereka.
Aku ingin membantu Ki Dayeng, namun
Ki Dayeng menatapku di tengah pertarungannya, dia menggelengkan kepala, seolah dia berkata 'tidak perlu membantuku, masuklah biar aku yang mengurus ini.'
Aku pun masuk ke dalam goa yang membentuk lorong, aku terus berlari mencari Iman yang sudah masuk lebih dulu tadi.
Tepat di ujung lorong aku melihat Iman berdiri membelakangiku.
" Itu Iman! Tapi dia sedang apa berdiri di situ?!"
Aku langsung menghampirinya.
Jelas aku terkejut keluar dari lorong yang sempit kini aku ada berada ruangan besar dan luas sekali
Di tempat aku dan Iman berdiri, terbentang kolam besar yang airnya mengeluarkan gelembung- gelembung panas yang mendidih.
Lalu Di tengah kolam terdapat sebuah singgasana, dan duduk sesosok siluman ular juga.
Apa ini! Ternyata siluman ular itu tidak hanya satu!
Siluman ular itu berbeda dengan siluman ular yang bertarung dengan Ki Dayeng tadi, siluman ular disini ternyata seorang perempuan, tubuhnya sama separuh manusia separuh tubuh ular, Dia juga sama memakai mahkota.
__ADS_1
Aku paham, seperti nya penunggu air terjun ini adalah sepasang siluman ular, mereka raja dan ratu siluman ular.. Ternyata untuk pertama kali, aku sudah mendapatkan musuh yang cukup berat. Bagaimana caraku mengalahkan mereka berdua dan melindungi Iman.
Aku mencoba menoleh ke arah Iman yang berdiri di sampingku. Dia fokus menatap ke depan.
"Man?" panggilku menepuk pundaknya.
" Lihat di sana Bah, Bokap gue ada di sana." serunya sambil menunjukkan arah depan.
Tentu saja sontak aku melihat ke arah yang Iman tunjuk, ku lihat Ayahnya tengah masuk ke dalam kolam air panas yang sedang mendidih dengan bertelanjang, hendak berjalan menuju singgasana ratu ular.
Ayah Iman mulai berjalan di kolam air panas tersebut dengan tubuhnya yang terendam sebagian, anehnya Ayah Iman tidak terlihat kesakitan saat memasuki air panas itu, dia justru lancar melewati kolamnya, hingga dia pun berhasil naik ke singgasana dan berlutut pada ratu ular yang berdiri depannya.
Siluman ular itu memegang dua ekor ayam.
Di tangan kirinya dia memegang seekor anak ayam berukuran kecil, di tangan kanannya dia memegang induk ayam dewasa yang berukuran besar.
" Pilihlah salah satu, mana yang kamu mau? Lalu makanlah hidup-hidup di hadapanku sebagai bentuk kepercayaan mu padaku." ucap Ratu ular pada Ayah Iman.
" Ayam Ini hanya sebuah simbolik, Aku akan memberikan harta kekayaan yang sangat berlimpah dan berkali-kali lipat untukmu setiap waktu. Namun sebagai gantinya jika kamu sanggup, kamu harus memberiku persembahan sesuai dengan bentuk dari simbolik yang kamu pilih, jika kamu memilih anak ayam, maka aku meminta jiwa anakmu, jika yang kamu pilih induk ayam, aku akan meminta jiwa istrimu. Bagaimana? Cepat tentukanlah pilihanmu." tutur ratu ular.
Ayah Iman nampak berpikir untuk memilih.
" Bapaaak! Hentikan semuanya sekarang!!" teriak Iman yang terkejut mendengar penuturan ratu ular.
Namun percuma saja Iman berteriak karena Ayahnya tidak bisa mendengar suara Iman.
" Bah ayo cepat! Kita hentikan bokap gue di sana!" ajak Iman panik.
" Bagaimana caranya? singgasana ini di kelilingi oleh air panas yang mendidih Man!" ucapku.
" Tapi bukankah Ayahku bisa melewatinya dengan mudah? Kita juga sedang dalam bentuk raga halus kan? seperti pertarungan tadi saat elu terkena pukulan dari kuncen, elu gak ngerasa sakit sama sekali. Mungkin saat kita memasuki air juga sama Bah! kenapa tidak di coba dulu." ungkap Iman.
Benar juga kata Iman.. Kenapa tidak di coba dulu.. Mungkin ini satu-satunya cara untuk membatalkan perjanjian ritual penumbalan..
" Ayo man, kita coba saja semoga tidak terjadi efek samping pada raga kasar kita nanti." harapku.
Kami pun berlari menuju kolam
" Hey! Dasar bocah-bocah si*lan! Jangan mendekati kolam Itu! Jangan ganggu ritualnya." teriak Pak kuncen yang tiba-tiba muncul dan marah meneriaki kami.
Kami tidak memedulikannya, kami berusaha memanjat tembok pembatas antara kolam dan daratan tempat kami berdiri.
" Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian bisa melewati kolam itu." ucap Pak kuncen marah, dia lalu mengeluarkan keris dan membaca mantra.
Tiba-tiba volume air dalam kolam meninggi, bahkan gelembung-gelembung panas dan asapnya mengepul banyak.
Kami berdua seketika kaget dan mundur, sedikit ragu juga takut untuk mencoba masuk ke kolam air panas tersebut.
" Apa yang kuncen itu lakukan pada air kolamnya? Kenapa malah makin tinggi dan semakin panas?" seru Iman panik.
" Tentu saja kuncen itu sengaja membuat air kolam seperti ini, untuk menghalangi kita Man! Aku tidak yakin untuk masuk ke kolam itu sekarang Man, jika kita masuk bukan sebagian tubuh yang terendam namun kita akan tenggelam di buatnya." ucapku memperingatkan.
" Terus dengan cara apa kita bisa menggagalkan ritualnya? gue harus apa?! Bapak gue udah mulai nentuin pilihannya." tanya Iman begitu panik.
__ADS_1
......................