
Keris yang seharusnya dia terbangkan, dia ambil untuk menyerangku, dia berlari ke arahku dengan amarah meledak-ledak.
Melihatku dalam bahaya, sontak Asep dan Deni menangkap Bu Rita untuk melindungiku dari serangannya.
Bu Rita memberontak.
"Lepas! lepaskan aku! Aku harus memberinya pelajaran! Dia sudah menghancurkan semuanya! Lepaskan aku!" teriak Bu Rita.
"Bu Rita! Tenangkan dirimu! Jika Bu Rita menyerangnya dan dia terluka hukuman ibu akan bertambah berat." ucap Deni sambil memegangi tangan kanan Bu Rita.
"Berhentilah menipu Bu Rita, pertanggung jawabkan perbuatanmu, jika Bu Rita tidak ingin berakhir ke jalur hukum diskusikan dan minta maaflah pada semua tamu yang sudah menjadi korban." ucap Asep yang memegangi tangan kiri Bu Rita.
" Kalian! Kenapa kalian membelanya padahal aku sudah membantu kalian." ujar Bu Rita kecewa.
" Bu, ibu itu telah menipu kami dengan kedok menolong, dan kami pun menipu ibu dengan kedok berkonsultasi, impas bukan." ujar Asep.
Mendengar penuturan Asep Bu Rita semakin Marah wajahnya merah penuh emosi.
Dengan sekuat tenaga Bu Rita menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Asep dan Deni.
Saat terlepas, Asep dan Deni mencoba menangkapnya lagi, namun aku menghentikan mereka.
" Biarkan saja, dia sedang emosi." ucapku.
" Kamu! Aku tidak akan diam saja setelah apa yang kamu perbuat! Pergi kamu dari sini!" teriak Bu Rita menunjukku dan mendorong tubuhku.
" Pergi kalian semua!" teriak Bu Rita mengamuk mendorong semua orang yang ada di dekatnya, dia tidak menggubris orang yang mencaci nya , maupun orang yang meminta pertanggung jawabnnya semuanya di usir dari kediamannya tanpa terkecuali.
Kami dan para tamu yang lain pun terpaksa meninggalkan kediamannya untuk saat ini dengan keadaan marah. Mungkin orang-orang tertentu pasti akan kembali untuk menuntut kerugian.
Sedangkan aku, Asep dan Deni memutuskan untuk pulang setelah menghancurkan bisnis haram Bu Rita ini. Namun tiba-tiba beberapa para tamu menghampiri kami.
" Tunggu sebentar nak!" teriak salah satu yamu memanggilku dan beberapa tamu lain di belakangnya ikut menghampiri.
" Ada apa pak?" tanyaku.
" Sebelumnya, kami ingin mengucapkan terima kasih padamu, kalau bukan berkat kamu, saya pasti terus tertipu oleh tipuannya. Bahkan hingga saat ini saya sudah rugi sampai seratus juta karena dia terus memeras saya dengan kifarat yang tinggi, untunglah berkatmu pandangan kami terbuka. Terima kasih nak." ucapnya.
__ADS_1
" Sama-sama pak" jawabku.
" Tapi, darimana kamu bisa tahu kalau dia adalah dukun palsu yang menipu kami? Apa kamu juga seorang paranormal sepertinya?" tanya salah satu tamu yang lain.
" Ah, tidak, saya tahu dia menipu dari kabar seseorang, bahkan teman saya juga salah satu korbannya, maka dari itu saya melakukan ini untuk menolong teman saya juga." ucapku beralasan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
" Oh begitu, maafkan kami jika kami salah menduga." ucapnya.
" Tidak apa-apa pak, saya pun memakluminya, baiklah kalau begitu saya pamit, ada keperluan lain saat ini." ujarku pamit pada semua tamu.
" Oh ya, silahkan, maafkan kami yang sengaja menahanmu tadi, semoga kita dapat bertemu lagi lain kali, semoga allah membalas kebaikanmu sekarang. Hati-hati di jalan." ucap tamu tersebut.
" Aamiin terima kasih." lalu kami pun meninggalkan tempat tersebut.
Sesampainya di rumah Deni, aku dan Asep juga ikut pamit padanya, karena kami juga harus segera pulang.
" Bah, terimakasih banyak, akhirnya saya bisa bebas dari dukun palsu itu." ucap Deni.
" Ya sama-sama, oh ya benda-benda yang selama ini bang Deni beli darinya lebih baik di buang saja, takutnya masih ada energi negatif yang di kirim dari salahsatunya." tuturku.
' Oh begitu baiklah besok akan saya kumpulkan lalu membuangnya." jawabnya.
......................
beberapa hari pun berlalu, aku bekerja seperti biasa di pabrik, aku melihat Asep buru-buru menghampiriku saat jam istirahat.
"Bah!" panggilnya.
" Ada apa sep?Oh ya bagaimana kabar toko bang Deni sekarang?" tanyaku penasaran.
" Itu dia bang kenapa saya kemari, ini ada bingkisan dari bang Deni dia menitipkan ini pada saya buat Abah dan keluarganya." ujar Asep sambil memberikan sebuah bingkisan dengan ukuran tas yang cukup besar.
" Duh, kenapa kasih bingkisan segala, padahal saya ikhlas membantu." jawabku tidak enak menerimanya.
" Terima saja Bah, katanya sebagai ungkapan terima kasih, lagipula Bang Deni sudah mewanti-wanti pokoknya Abah harus terima meski menolak, katanya dia hanya ingin mengucap syukur dengan berbagi, karena berkat Abah juga tokonya jadi laris sekali sekarang." tutur Asep.
" Wah, syukurlah saya turut senang mendengarnya sep. Kalau begini kamu gak usah khawatir lagi gaji kamu habis di pinjam bang Deni." candaku.
__ADS_1
" Hahaha iya Bah, sepertinya begitu, bahkan kemarin Bang Deni mulai mengganti sebagian uang yang sudah dia pinjam padaku.Hehehe." celotehnya.
" Syukurlah kalau semuanya berjalan dengan baik." jawabku.
" Oh ya bah, Abah mau tahu kabar soal Bu Rita nggak?" tanya Asep.
"Kabar Bu Rita? Memangnya bagaimana?" tanyaku penasaran.
" Katanya Bu Rita banyak di tuntut oleh korbannya ke jalur hukum karena tamu sudah mendapat kerugian dalam jumlah besar. Kabarnya hartanya juga habis untuk membayar denda hukuman dan mengganti seluruh kerugian korban." ujar Asep .
" Berarti dia masuk penjara?" tanyaku memastikan.
" Iya, yang menuntutnya itu orang yang waktu itu menghampiri kita sebelum kita pulang lho bah, bahkan gosipnya sekarang Bu Rita kehilangan akal sehatnya." ujar Asep bercerita.
"apa! Masa sih?! Yang bener kamu kalau cerita Sep." tegurku.
" Beneran Abah, aku dapat kabar ini dari Bang deni sendiri yang sempat menjenguk ke lapasnya Bu Rita bersama tamu yang lain. keadaannya sudah berbeda, dia sering ngamuk tanpa sebab, seperti orang gila." ujar Asep.
" Astagfirullah, aku nggak sangka dia sampai bernasib sepeerti itu, aku jadi sedikit merasa bersalah padanya." ujarku.
"Dih, kenapa perlu merasa bersalah?! Abah tidak salah sama sekali, justru dia yang banyak salah, harusnya dia insaf, jelas-jelas jalannya sudah salah tapi dia nggak mau terima, jadinya kan begitu. Stress, marah-marah, pada akhirnya Allah menurunkan azabnya tuh." ujar Asep nampak puas.
"iish...jangan seperti itu sep, kita doakan saja yang terbaik untuknya semoga dia bisa segera sembuh dan menyesali perbuatannya." jawabku.
" Hmm, iya bah." jawab Asep.
Setelah kami melewati istirahat bersama dan mengobrol dengan nyaman, kami kembali melakukan perkerjaan kami lagi.
......................
Selepas sembahyang magrib, aku seperti biasa bermeditasi, ada rasa rindu terbesit di hatiku akan kejadian Ki Sugro dan Ki Dayeng.
Kemana perginya mereka selama ini, apa urusan mereka masih belum selesai, terakhir kali aku mendapati Ki Dayeng hanya bersantai-santai saja dia sengaja pergi dariku karena terlalu penat Melihat manusia yang sibuk dengan dunia. Padahal tentu saja aku masih berharap bimbingan darinya, tapi apa yang dia lakukan, Ki Dayeng justru sengaja membuatku menyelesaikan tugas sendiri,sungguh menyebalkan.
Jika aku boleh meminta ingin rasanya aku menjumpai tugas yang sedikit berat agar mereka berdua muncul, dan kembali membimbingku.
Hahaha, astaga harusnya aku tidak boleh berbicara seperti itu, hmm..semoga saja mereka baik-baik saja selama kami berjauhan.
__ADS_1
......................