Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Konflik


__ADS_3

Bagaimana caranya agar aku bisa tahu alamat rumah Iwan.


"Oh , iya Iman! mudah mudahan iman tahu alamatnya dan bisa mengantar kesana" seruku sendiri.


Aku segera menghubungi Iman.


"Halo, Man. elu ada di rumah gak? gue mau minta tolong,Nih!" ucapku.


"Emang ada apa,Bah? gue lagi kerja soalnya." sahut Iman.


"Ini, gue harus cepet- cepet ke rumah Iwan,Man. Ada hal aneh yang terjadi pada desi sekarang" ucapku.


"Waduh, gawat dong! tapi gimana nih, Bah! gue pulang sore. gue gak bisa anter elu. paling elu pergi duluan aja ke sana ntar gue nyusul." sahut Iman.


"Justru itu gue gak tahu alamat iwan dimana ,Man." gerutuku.


"Lah, kenapa gak langsung minta alamat sama orangnnya." keluh Iman.


"hehe, Iya gue lupa,Man. Keburu ditutup teleponnya. Gue minta alamatnya ke elu aja deh, biar gue berangkat sendiri." Sahutku


"Gue kirim lewat message aja ya, supaya lu gak lupa." sahut Iman.


"Oke,man. Makasih."


Iman pun menutup teleponnya


aku lihat ada notif di ponselku Iman sudah mengirim alamatnya.


"Wah, jauh juga tempat nya, aku gak bisa dateng cepat kalau naik angkot, lebih baik naik ojek saja." sahutku sendiri melihat pesan di ponsel.


Aku segera pamit pada Dita.


Aku juga pesan ojek online agar perjalananku lebin cepat sampai tujuan.


Satu jam perjalanan menuju rumah Iwan


Aku memasuki Perkomplekan, dan aku pun mulai mencari rumah iwan disitu dengan nomor ke 25.


aku sampai di rumah iwan. Ternyata Iwan langsung menyambutku. Sepertinya dia sudah menunggu kedatanganku


" Abah!! Alhamdulillah dateng juga." seru Iwan dan membukakan pagar.


"Iya,Wan. Maaf agak lama." ucapku.


"Gak apa-apa,Bah. Aku yang salah lupa kasih alamat rumahku ke Abah, sebelumnya Iman juga telepon katanya abah brangkat sendiri. Jadi aku tunggu Abah di depan rumah." tutur Iwan.


"Ayo bah masuk, keluargaku sudah menunggu, keadaan Desi juga masih melamun kaya tadi,Bah. Di panggil juga nggak nyahut, kasian dia." turur iwan lagi.


Kami pun masuk, Aku pun di sambut oleh ayah, ibu dan paman iwan.


"Kenalkan,Bah. Ini Ayahku Pak Budi, dan ini Ibuku Ratna, juga dia adalah pamanku Pak Yusron." ucap Iwan memperkenalkan keluarganya padaku.


Kami pun bersalaman.


"Kita langsung ke kamar aja,Bah. Ke kamar Desi." ujar Iwan.


Aku pun mengikuti Iwan menunu kamar Desi.

__ADS_1


Benar saja, Aku melihat qorin ibu nya tengah ikut berbaring memeluk Desi. Mengusap-usap kepala desi.


Keadaan desi begitu mengkhawatirkan. Desi hanya berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosongnya hanya menatap langit-langit kamar.


Terlebih kerinduan akan kehadiran pada ibunyalah yang begitu besar sehingga membuatnya seperti itu.


Aku pun mengampiri Desi dan memegang tangannya.


Lalu qorin Lilis pun menghilang.


Seketika itu tiba-tiba Desi berteriak dan meronta-ronta.


"kyaaaaaaa...!! Mamah jangan pergi!! Desi mau ikut. jangan pergi, mamaaaaaa..!!! kyaaaaaa!!!!!" teriakan Desi makin kencang.


Semua kaget. Pak Budi, Bu Ratna dan Pak yusron segera menghampiri Desi.


Iwan segera memeluk Desi dan mencoba menenangkannya.


"Desi sayang, kamu kenapa? cucuku.." ucap Bu Ratna meneteskan air matarnya.


" Mama pergi! Desi mau ikut huu...huu mamaa.. hiks.. hiks." Desi menangis sesenggukan.


"Wan, maaf saya boleh minta air mineral untuk Desi." pintaku pada Iwan.


"Oh, iya Bah, tunggi aku segera ambilkan." ucap Iwan dan pergi ke dapur.


"Aku sudah berdoa dan mengaji di samping Desi, tapi tidak ada respon apa-apa. dia hanya terdiam denga tatapan kosong. Seiring waktu dia pasti sembuh." tutur pak yusron membuka pembicaraan.


Aku mengangguk dan tersenyum ke arah pak yusron.


Menurutku ada kemajuan di bandingkan tadi. dia bisa merespon.


"Bah ini airnya." ucap Iwan dan menyodorkan segelas air.


"Terima kasih." jawabku sambil menerimannya.


Aku lantas membacakan do'a dan ku tiupkan ke dalam air tersebut. Tak lupa meminta kepada Sang Kuasa agar Desi bisa sembuh dan sedikit lupa dengan ibu nya. Dan qorin dari ibunya juga tidak menganggu lagi.


"Minumkan dan usapkan sedikit air nya ke wajah desi, Wan." pintaku.


iwan pun melakukan apa yang ku suruh.


Desi kini mulai tenang dan berhenti menangis. Dia mulai mengantuk dan terlelap di pangkuan Bu Ratna neneknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Desi, Bah?"tanya Iwan.


"Desi terus-menerus, di datangi oleh qorin ibunya,Wan. Terlebih Desi memang saat ini teringat terus akan ibunya


"Maksudnya apa?Desi begitu gara-gara jin Lilis begitu? Jika Lilis memang sudah meninggal tidak mungkin arwah nya atau roh nya mengganggu keluarganya sendiri, karena yang saya ketahui orang yang sudah meninggal pasti sudah berada di akhirat. tidak mungkin keluyuran!" ujar Pak Yusron dengan nada marah.


"Itu jin qorin lilis,Pak. Dia datang menemui keluarganya, Bukan untuk menggangu namun hanya ingin memberi isyarat tentang dirinya yang ingin segera ditemukan. Keterbatasan komunikasi yang membuat qorin Lilis bingung bagaimana memberi isyarat."tuturku.


"Paman tidak tahu, selama ini kak Lilis gentanyangan. Bahkan kami semua di datangi oleh jin qorin daru kak Lilis. Kematian Kak Lilis penuh dengan teka-teki ada yang ganjil. makanya aku coba nyari bantuan ke Abah selama kak lilis masih dalam pencarian polisi." sahut Iwan


Aku merasa Pak Yusron nampak ragu dan tidak percaya padaku.


Pak Yusron berpakaian gamis, dia juga mengsunahkan janggut yang agak panjang, juga peci di kepala nya.

__ADS_1


Sepertinya beliau ta'at agama.


"Tapi itu kan, namanya musrik jika kita percaya pada hal yang seperti itu." ucap Pak Yusron.


"Jadi begini pak maaf sebelum nya bukan saya mendahului orang yang lebih tua tentang apa yang saya pahami tentang hal ini. saya hanya ingin membantu memecahkan masalah tentang Kak Lilis. Saya hanya menceritakan tentang apa yang saya lihat. tidak di kurangi ataupun di lebih-lebihkan."


"Oh, jadi kamu ini Dukun?Orang pinter?atau sejenis orang-orang Indigo? ucapnya sambil tersenyum sinis.


"Saya bukan Ketiganya,Pak. Saya Hanya di beri kemampuan untuk melakukan dan mengetahui hal-hal yang gaib." ucapku menjelaskan.


"Iya, sama aja dengan Dukun atau orang-orang indigo yang sejenisnya. Mereka bisa tahu ini dan itu karena bantuan jin,kan?cetus Pak Yusron mulai memojokanku.


"Tapi, saya bukanlah orang yang seperti bapak pikirkan. Kami orang-orang spiritualis terkadang memang harus berhadapan dengan hal-hal di luar logika dan akal sehat. Saya hanya memiliki kelebihan yang saya pergunakan untuk membantu dan menyelematkan orang-orang yang mengalami hal semacam itu."ucapku dan tersenyum.


"Halah! sudahlah daripada bingung. Kalau akhirnya Lilis memang sudah meninggal, kita adakan pengajian dan yasinan pinta Pak Yusron.


"Jangan gitu dong,Paman. Saya sudah ikhtiar kesana kemari mencari info tentang kak Lilis, apa salahnya kita mencoba melalui orang yang lebih paham seperti Abah." ucap Iwan.


"Sudahlah, Yus. kalau kamu tidak mau membantu jangan bikin rumit. Segala apa pun pasti ada ahlinya masing-masing, kamu tuh guru ngaji emang kamu paham tentang hal semacam ini." jawab Pak Budi.


"Lihat Desi, dia sudah bisa kembali normal. jika di tangani oleh ahli dalam bidang nya!" ejek Iwan kepada Pak Yusron.


"Jangan terlalu percaya dengan hal-hal sperti itu,musrik !!"ucap Pak Yusron.


"Aku hanya berusaha mencari titik terang tentang Kak Lilis, seperti seorang pasien yang menanyakan sakitnya kepada dokter, Agar penyakitnya cepat di tangani oleh ahlinya. Tidak mungkin kita menanyakan penyakit pada tukang sate. kan gak nyambung! Umpamanya seperti itu,Paman." cetus Iwan kesal.


Pak Yusron pun pergi.


Aku hanya terdiam, memang sulit jika berdebat dengan orang yang berbeda pandangan.


Bukankah setiap manusia sudah diberi peran masing-masing oleh sang pencipta, maka berperan lah sesuai skernario yang sudah tuhan buat.


*Huffht...kok jadi tegang gini sih*.


"Maafkan adik saya,Bah. Dia memang Fanatik." ucap Pak Budi


"Iya, Tidak apa, Pak. Saya mengerti." Jawabku dan tersenyum


"Nah,Bah. Sekarang apa yang harus kami lakukan, Apakah ada titik terang tentang keberadaan Kak Lilis?"tanya Iwan.


"Iya, Wan. Semalam kakakmu datang menemuiku. Lalu aku bermimpi melihat kakakmu di culik oleh beberapa orang kedalam mobil saat pulang kerja, dan di bawa ke hutan dan di seret masuk ke dalam goa."tuturku.


"Di culik!!" ucap Iwan kaget.


"Iya, setelah kamu pulang Kak Lilis datang menampakkan dirinya padaku. Sepertunya Lilis sengaja memberikan isyarat lewat mimpi, Wan.Tentang kejadian yang dia alami sebelum meninggal." ucapku.


"Apa abah tahu ciri-ciri orang yang membawa Kak Lilis?" tanya iwan.


"Aku melihat wajahnya namun aku tak tahu dia siapa. Karena aku tak mengenalinya dia hanya memakai topi, kalau dilihat dari posturnya Dia tinggi." jelasku.


"Pak. Mendengar ciri-ciri dari abah, Kok aku tiba-tiba kepikiran Bang Roni. Bukankah Bang Roni kalau kemana-mana tak lepas dari topinya. Dia juga punya mobil, Kan?" sahut Iwan memastikan.


"Iya sih, tapi kan mungkin saja bukan Roni" sambung Pak Yusuf.


Roni ?siapa dia?


......................

__ADS_1


__ADS_2