Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Tertangkap


__ADS_3

Kami bertiga bergegas melewati hutan gelap itu menuju tempat air terjun.


Kami sedikit terkejut saat keluar dari hutan, tidak jauh hadapan kami tergeletak tubuhng seseorang.


"Hii! Itu a..ada Mayat..!" teriak Iman Panik bersembunyi di balik punggungku.


" Jangan panik Man! Sepertinya itu bukan mayat, mungkin orang yang sedang camping dan tertidur di lantai." ucapku mencoba menenangkan Iman.


" Jangan ngaco dong bah! Jelas-jelas penampilannya kacau seperti itu! coba elu cek siapa dia." tanya Iman.


" Sepertinya dia Pak Kuncen Man."aku menghampirinya.


" Apa?! Apa dia udah mati?!" tanya Iman.


" Aku cek dulu.." jawabku sambil aku memegangi pergelangan tangannya, mencoba mencari denyut nadi.


Masih ada.. meski denyutnya sangat lemah.. Sepertinya dia terluka cukup parah akibat serangan api dari Ki Dayeng..


Kulihat bajunya sudah terkoyak, seperti habis terbakar, tapi anehnya kulitnya tidak memiliki luka bakar sama sekali saat aku cek tadi.


Justru aneh kulitnya berubah menjadi hitam pekat dan sedikit membiru, tidak seperti luka bakar biasanya.


Sepertinya dia mendapatkan luka dalam di tubuhnya... Mungkinkah semburan api Ki Dayeng membakar tubuhnya dari dalam? harusnya dia langsung mati sebab tidak mungkin orang biasa, bisa bertahan dengan serangan yang mematikan seperti itu.


" Aki sengaja memberinya pelajaran, dan aki tidak sekejam yang kamu kira, Anom." tutur Ki Dayeng seolah tahu isi pikiranku.


" lalu kita apakah dia, Bah? Perlu kita menolongnya." tanya Iman.


" Tinggalkan saja dia, dia cukup sakti, dia tidak akan mati semudah itu." timpal Ki Dayeng padaku.


" Biarkan saja dia di sana Man, aku masih punya tugas penting yang belum aku selesaikan." jawabku pada Iman.


Kami meninggal Pak kuncen yang tergeletak begitu saja, Iman terlihat prihatin melihatnya, namun dia tetap mengikutiku menuju air terjun.


Air terjun terlihat mengalir deras dari atas, membuat percikan air yang jatuh membentuk seperti embun.


Kami menghampiri air terjun, dan bersama-sama menerobos air terjun tersebut.


Tentu saja seluruh pakaian kami basah kuyup.


"Brrr... Dingin bah air nya.. Dulu kenapa ya kita tidak basah waktu menerobos air terjun."tanya Iman


" Kan, dulu kita dalam wujud raga halus man. Kita sama aja seperti wujud yang tak kasat mata, tidak terlihat, tidak terdengar, bisa menembus dinding juga. Tentu saja saat menerobos air terjun kita tidak basah." jelasku.


" Ohhh iya..iya.." jawab Iman mengangguk-anggukan kepalanya.


Namun saat Iman melihat goa yang ada di hadapan kami, goa berubah seram dan sangat gelap Iman kembali mengeluh.


" Bah, apa kita harus masuk ke dalam goa juga? gelap begitu loh...gue beneran takut bah.. Yuk balik yuk.." rengek Iman menarik baju lenganku.


" Nggak bisa Man.." jawabku.


" Gue takut banget bah!gue gak sanggup kalau harus lihat lagi wujud siluman ular waktu itu. Gue udah lemes banget nih bah, kaki gue udah gemetaran ini... Rasanya ketakutan gue udah naik ke ubun-ubun." keluh Iman terlihat sangat cemas.

__ADS_1


"Ya gimana lagi Man, tujuan gue ke sini memang untuk nemuin siluman itu, gue berniat menghancurkan mereka, biar nggak ada lagi korban tumbal kaya elu Man."jelasku.


" Kan bener dugaan gue, Gak bisa kita balik sekarang aja. Haahh... Kenapa sih harus banget ya, ketemu setan- setan begini" rengek Iman.


" Elu mau ikut gue atau nunggu di sini." cetusku.


" Gue ikut.." jawab Iman langsung, takut di tinggal sendirian.


Kami pun masuk ke dalam goa, sepanjang lorong goa keadaanya sangat gelap sama sekali tidak ada cahaya, aku berjalan sambil meraba-raba dinding goa.


Tentu Iman memegangi tanganku begitu erat dan sangat menempel.


Tepat di ujung goa terlihat cahaya oranye bergerak-gerak, Kami pun bergegas menuju ujung goa tersebut.


Begitu keluar dari lorong gelap, kami 0di sambut oleh ruang yang begitu luas dan tinggi menjulang ke atas, di setiap dinding goa ini di tempeli obor-obor yang menyala.


Mungkin cahaya oranye yang kami lihat itu berasal dari cahaya obor yang apinya tengah berkibar dan mengeluarkan asap hitam.


Karena jumlah obor yang cukup banyak yang menempel di setiap sudutnya, membuat tempat ini tidak terlalu gelap, sehingga di tanah yang kami pijak, aku dapat melihat banyak kelopak bunga tujuh rupa yang berserakan.


Tidak hanya itu, bahkan banyak sekali nampan-nampan yang berisikan macam-macam sesajen, dan sepertinya sengaja di taruh di setiap sisi jalan.


Mungkin tidak hanya Ayah Iman yang datang kemari dan melakukan perjanjian sesat. Pasti banyak juga orang lainnya yang kemari, karena sesajen yang aku lihat begitu banyak berjejer.


Tepat di depan kami, terbentang kolam air panas yang mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung panas. Dan tengah kolam itu ada tanah kosong yang terbentang.


Apakah karena aku sedang melihat dengan penglihatan biasa, singgasana ularnya tidak terlihat?


" Tajamkan mata batinmu Anom!" ucap Ki Dayeng, namun aku tidak melihat sosok Ki dayeng di dekatku.


Aku segera menajamkan mata batinku.


Dan benar saja, saat aku melihat dengan mata batin, tanah kosong yang berada di tengah kolam berubah menjadi singgasana mewah kerajaan.


Pasangan siluman ular itu pun muncul di hadapanku.


Tiba-tiba Iman kembali bersembunyi di balik punggungku. Dia gemetar ketakutan. Gemertak giginya juga terdengar di telingaku.


Iman sangat ketakutan.. Apa mungkin dia melihat wujud siluman ular?


" Bahh.. lindungin gue.." lirihnya berbisik di telingaku.


" Elu bisa lihat mereka?" tanyaku.


" I..iya bah, si.. Siluman ular yang cewe itu.. ke..kenapa terus lihat ke arah gue.."ucap Iman terbata-bata saking takutnya.


"Wah! Lihat ini ! siapa yang datang bertamu ke tempatku ini.. Kenapa kamu datang ke tempat kami anak muda?" tanya raja ular padaku.


" Ya, Bahkan kamu juga membawa manusia, yang dulu akan menjadi mangsa kami, ada apa ini?" timpal ratu ular sambil menatap fokus pada Iman.


"Apa mungkin kamu berubah pikiran? Dan ingin menyerahkan mangsa itu pada kami?" ucap raja ular dengan wajah sumringah.


" Tidak! kalian salah, aku datang kemari bukan untuk menyerahkan temanku, tapi kedatanganku kemari untuk menghancurkan tempat pesugihan ini dan membinasakan kalian." ucapku berani.

__ADS_1


Mereka sontak saling memandang satu sama lain, lalu keduanya terdiam menatapku dan...


" Hahahahahahaha...." keduanya tertawa terbahak-bahak seolah ucapanku adalah lelucon.


" Apa tadi yang kamu bilang? Kamu ingin menghancurkan kami dan tempat ini?" sindir raja ular memastikan.


Aku mengangguk.


" Jangan bercanda, Bocah sepertimu ingin membunuh kami. Hahahaha.... itu sungguh konyol" ejek ratu ular padaku.


" Bahkan ilmu yang kamu miliki masih sangat kecil! Mana mungkin kamu bisa menghancurkan kami, sudahlah! lebih baik kamu sekarang, pulang ke rumahmu. Daripada kamu mati sia-sia disini dan menjadi santapan kami." sindir raja ular mengingatkan.


BUGH!


BUGH!


Tiba- tiba Ki Dayeng menyerang mereka dari arah belakang. Lalu melompat dan berdiri di depanku.


Kedua siluman ular itu sedikit meringis kesakitan akibat pukulan Ki Dayeng di punggung mereka yang tiba-tiba.


Namun mereka sangat terkejut saat melihat kemunculan Ki Dayeng. Terutama Ratu ular. terlihat rasa takut muncul sekilas di raut wajahnya.


Aku ingat, Ratu ular pernah terluka parah akibat semburan api Ki Dayeng waktu itu, tentu saja dia takut.


" Rupanya kamu tidak sendirian.." ucap Raja ular sedikit meringis.


" Kenapa dia juga ikut-ikutan datang kemari, apa kamu juga mengincar nyawa kami?" tanya ratu ular pada Ki Dayeng


" Tentu saja." jawab Ki Dayeng.


" Kenapa kalian mengusik kami? Bukankah kami sudah berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi." keluh raja ular


" Ya, Bahkan kami sengaja mengalah dan menyerahkan persembahan kami pada kalian, apa kalian belum puas." ucap Ratu ular sambil menunjuk ke arah Iman.


"Memang, tapi tetap saja siluman seperti kalian akan mencari mangsa lain setelah kejadian kemarin, lalul korban baru akan berjatuhan, lalu Untuk apa aku harus percaya pada janji yang di buat oleh siluman seperti kalian." ejek Ki Dayeng


" Si*alan! Dasar bocah tua kep*rat!" umpat raja ular dengan sangat cepat langsung melilit tubuh Ki Dayeng.


" Akiii!" teriakku panik.


" Baaaahh! Tolooong!" teriak Iman. Ku lihat Iman juga dililit oleh ratu ular.


Sial, dia menangkap Iman juga saat fokusku mencemaskan Ki Dayeng tadi, ternyata dia menangkap mereka dengan bersamaan..


" Apa yang akan Kamu lakukan anak muda? Pelindungmu aku tangkap, bahkan temanmu juga aku tangkap. Hahaha.. Setidaknya ini peringatan untukmu yang gegabah ingin menyerang kami" ucap raja Ular.


" Bah! To.. Tolong gue! Ugh... Gue... Gak bisa.. Na.. Fas." teriak Iman tersengal-sengal.


Lalu lilitan ratu ular semakin dia perkuat. Iman merintih dan meronta-ronta lalu dia pun terkulai lemas tidak bergerak.


" Lakukan sesuatu Anom!" teriak Ki Dayeng padaku.


Uh! bagaimana ini? Mana yang harus aku selamatkan lebih dulu? aku harus bisa menyerang mereka.. Tapi bagaimana caranya menyerang dua siluman ular yang besarnya puluhan meter dari besar tubuhku..

__ADS_1


......................


__ADS_2