Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Teror Untuk Bang Syukur


__ADS_3

Malam hari telah tiba.


Bang Syukur kini menginap di mess seorang diri tanpa ada yang menemaninya


Menurutnya malam ini terasa berbeda dari malam biasanya, rasanya sedikit menyeramkan, untuk menghilangkan rasa takut dia pun memainkan ponselnya.


Melihat sekilas info terbaru di medsosnya, lalu menscroll video pendek yang lucu sehingga membuatnya tertawa dan sedikit terhibur.


Tiba-tiba..


Tok.. Tok.. Tok..


Bang Syukur terkejut dan terdiam sejenak.


Dia menyadari sesuatu, kalau mess kamarnya berada di dalam pabrik di lantai dua, Bahkan dia sudah mengunci gerbang pabrik dari dalam, dia tahu betul jika dirinya hanya sendirian di pabrik.


Lantas siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya sekarang.


Di tengah pikirannya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara orang berjalan cepat dan mondar mandir di depan pintu kamarnya


Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. Tap...


" Si.. siapa Itu?!" teriak Bang Syukur memberanikan diri bertanya dengan terbata-bata.


Suasana hening sesaat..


Tiba-Tiba..


HiiHiiHii...


Terdengar jelas suara tawa perempuan yang sedikit menggema di area mess.


Seketika Bang Syukur bersembunyi di balik selimut.


Menunggu hingga suara tawa itu berhenti.


Lalu, setelah tawa perempuan itu hilang, terdengar suara mesin besar yang menyala di lantai bawah.


Wuuung.. Wuuung..


Sontak Bang Syukur membuka selimutnya agar dia bisa mendengar lebih jelas suara apa itu.


" Itu bukannya suara mesin pengering untuk cat sablon, siapa yang menyalakannya di jam segini." lirih bang syukur.


Karena dia ketakutan, dia kembali bersembunyi di dalam selimut.


Lalu tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya


" Syukur... "


Dia terhentak, dan bangun dari tidurnya, dia menempelkan punggungnya di dinding sambil menutupi dirinya dengan selimut.


"Syukur..."


Suara yang memanggilnya itu terdengar familiar. Dia kembali mendengarkan dengan saksama.


"Syukur..."


" Itu kan suara si Bos." serunya.


Namun, beberapa saat kemudian suara itu menghilang dan berubah menjadi ketukan lagi di pintu di kamarnya.


Tok.. Tok.. Tok..


" Jangan-jangan itu beneran si bos datang " serunya dan dia pun beranjak dan berlari menuju pintu untuk membukanya, dia merasa terselamatkan dengan datangnya Bos.


Ceklek!


Bang Syukur membuka pintu dengan senang.


" Wah bos, syukurlah bos datang.. saya...


Namun, saat dia membuka pintu tidak nampak siapa pun di sana.

__ADS_1


" Kok, gak ada orang.. Bos? Bos?" panggil Bang syukur celingukan di koridor mess yang sepi.


Namun hening tidak ada jawaban sama sekali.


Bang Syukur bergegas masuk ke kamarnya lagi, lalu mengunci pintu dengan terburu-buru.


Dia masih berdiri di depan pintu, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, dan detak jantungnya yang masih berdegup kencang.


Setelah di rasa nafasnya mulai normal, dia berbalik.


Namun, saat dia menoleh, Ada sosok putih yang memanjang, dan sedari tadi berdiri di belakangnya.


Kain putih yang kotor dan lusuh menutupi seluruh tubuh sosok tersebut, dengan ikatan di kepala dan di seluruh tubuhnya, Wajahnya hitam pekat, dengan mata yang hilang satu, dia melayang dan berdiri tegak di depan Bang Syukur.



" PO.. PO.. POCONG!!!!" teriak Bang Syukur histeris.


Dia lekas membuka pintu, namun pintunya terkunci.


Saking paniknya dia mencoba membuka pintu dengan paksa dan memukul-mukul pintu.


" Tolooooong! Toloooong!" teriak Bang Syukur ketakutan, namun sayang pabrik ini begitu besar dan luas, sehingga tidak ada warga sekitar yang mendengar teriakannya, Bahkan dia hanya seorang diri di pabrik ini.


Dia dengan terburu-buru membuka kunci pintu kamar dan keluar, tapi ..


Tepat di hadapannya muncul sosok wanita yang melayang, dengan rambut panjang yang acak-acakan, memakai pakaian bergaun putih yang lusuh dan kotor, tepat di bagian perutnya terdapat luka yang menganga.


Hiks .. Hiks..


Dia menangis sambil menundukkan kepalanya yang tertutupi oleh rambutnya yang panjang.


" Pergi kamu!" Bentak Bang Syukur memberanikan diri.


Kuntilanak tersebut terdiam, lalu kepalanya bergerak-gerak


KRAK.. KRAK..




Sorot Matanya yang tajam, di sertai air mata darah, mulutnya tersenyum lalu menyeringai lebar dan memanjang hampir ke pipi, menunjukan luka sobekan bibirnya yang panjang.


Bang Syukur berlari terbirit- birit menuju lantai bawah.


Sialnya, tiba-tiba kaki nya tidak bisa di gerakan.


Dia pun menoleh ke arah kakinya, ternyata ada sosok yang memegangi tangannya dengan kuat, sosok seorang wanita yang hanya separuh badannya saja, isi perutnya menjuntai tak karuan dengan darah yang masih mengalir dia menatap melotot pada Bang Syukur.


" Tolong...." lirihnya


" Uwaaaaaa!!! teriak Bang syukur panik dia mencoba melepaskan tangan sosok itu dengan menendangnya.


Setelah terlepas dia langsung berlari menuruni tangga dengan paniknya, hingga di lima anak tangga terakhir kakinya tersandung dan jatuh ke bawah dan berguling.


Dia pun jatuh pingsan.


.....................


Satu jam kemudian dia bangun, dan tersadar kalau dirinya terbaring di lantai yang dingin.


Dia menatap jam, jam menunjukan pukul tiga dini hari, kepalanya mulai terasa pusing, tengkuknya terasa berat.


Dia merogoh ponsel di sakunya, sambil celingukan takut jika muncul setan lagi di depannya, dia mencoba bangun dan berjalan tertatih menuju pintu gerbang, sambil terus menelepon Bos.


Panggilan terhubung, namun tidak ada yang mengangkat, tentu saja di jam segini orang lain pasti tengah terlelap.


Dia tidak putus asa, Bang Syukur mencoba menghubungi bos berkali-kali.


Setelah sekian lama akhirnya bos mengangkatnya.


" Yaah, siapa ini?" jawab bos di telepon terdengar suara khas bangun tidur.

__ADS_1


" Bos! tolong saya, Bos! ucap Bang Syukur panik.


" Ada apa? ini siapa?" seru Bos yang ikut kaget, lalu merubah posisinya dan duduk di di pinggir kasur.


" Saya Syukur bos! bos tolong datang ke pabrik sekarang! secepatnya! tolong saya.. saya di teror!"ucap Syukur lagi.


" Apa? di teror siapa? maling?! panggil security di depan!" seru Bos panik dan menduga.


" Bukan bos! bukan Maling.. Pokoknya Bos cepetan datang kemari! saya takut sendirian di sini." rengek Bang Syukur.


" Heh! elu nggak sadar nggak?! ini tuh jam berapa? lagian kalau bukan Maling, terus kamu di teror apaan?!"tanya Bos heran.


" Setan bos, di sini banyak setan yang meneror saya, saya mohon, tolong saya Bos!" rengek Syukur ketakutan setengah mati.


"Heh, jangan bercanda syukur! kamu yang bilang kalau setan di pabrik udah gak ada, udah kamu usir semua, terus kenapa bisa neror kamu?"tanya Bos.


Tut.. Tut.. Tut..


Tiba-tiba sambungan telepon terputus begitu saja.


" Kur? Syukur? lho, malah di matiin. dia kenapa sih, dari suaranya kaya panik banget, apa saya ke Pabrik aja ya? ngecek keadaannya. Eh, Tapi kalau dia di teror setan beneran gimana? waduh! kalau ke sana sendiri saya juga nggak berani. Duh gimana ini?! Minta di temenin siapa ya ke pabrik... mmmm.. Oh iya s Nandy!" celoteh Bos sendiri.


......................


Di saat selesai meditasi, aku merasa tidak bisa tidur malam ini, aku memutuskan untuk menyalakan Tv dan menonton pertandingan sepak bola.


Ku lihat ponsel ku yang ku simpan di atas meja bergetar tanda ada notifikasi telepon masuk dari bos ku.


Drrrt.. Drrrt..


Tentu saja aku terkejut.


Ada apa bos telepon malam-malam begini?


" Hallo ,bos ada apa?" Tanya ku langung tanpa berbasa-basi.


" Nan, maaf ya ganggu malam-malam begini, kamu sibuk nggak sekarang?! Saya mau minta tolong sama kamu, kamu bisa temenin saya ke pabrik? saya mau lihat keadaan Si Syukur." tanya Bos yang to do point.


" Lho memangnya Bang Syukur kenapa bos?" tanyaku penasaran.


"Saya juga nggak tahu Nan, sebelum ini, dia sempat telepon saya, dia terus minta tolong dan meminta saya datang ke pabrik sekarang juga, kalau tidak salah dia bilang dia teror setan katanya, Mungkin kamu lebih paham soal hal begitu, saya juga nggak berani kalau ke sana sendirian."ungkap Bos terdengar cemas.


"Itu sih, salah dia sendiri bos, ngapain bikin acara ritual pake dupa segala, yang ada setan tambah senang dan makin bermunculan. sekarang jadi Boomerang kan. Terus sekarang bos mau gimana? jelaskan! dia udah nipu dan manfaatin bos." ucapku


" Ya saya tahu, saya hanya ingin dia mengakui perbuatannya dan meminta maaf pada pegawai yang lain, makanya kenapa selama ini saya diam saja, situasi ini juga termasuk kesempatan Nan, siapa tahu di mau jujur sekarang, akibat dari ulahnya sendiri, tapi tetap saja Nan, masa dia dibiarin gitu aja di sana, kita harus tetap nolong dia, kamu bisa nggak ikut temenin saya ke sana? tanya bos memastikan.


" Bukannya saya gak mau bos, rumah saya jauh dari pabrik, terus di jam segini mana ada angkutan umum yang lewat Bos. Bos juga tahu kalau saya tidak punya kendaraan." keluhku.


" Oh iya saya lupa, kalau begitu saya jemput kamu ke rumah bagaimana? biar langsung kesana sama- sama." usul bos


" Ya sudah deh bos, saya nurut aja" ucapku


" Maaf ya Nan saya ngerepotin kamu, Tenang aja Nan nanti gaji kamu saya kasih bonus deh, anggap aja ini tugas dadakan dan lemburan dari pabrik." serunya.


" iya pak, terimakasih, saya siap- siap dulu pak, nanti saya kirim alamat rumah saya lewat pesan." ucapku.


Kami pun menyudahi percakapan kami di telepon, dan aku bergegas bersiap.


......................


Assalamualaikum..


Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.


Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus


Terima kasih sudah untuk dukungannya.


i love you readers.


😍🥰😘


Wasalam.

__ADS_1


__ADS_2