
Kami tiba-tiba di hadang oleh seorang kakek tua dia tinggi, bertelanjang dada, dan sedang mengunyah sirih.
" Mau apa kalian kemari? Ini wilayahku kenapa datang seenaknya tanpa izin dariku, siapa kalian?." ucap kakek tua itu dia mulai berancang-ancang untuk menyerang kami.
Tanpa aku duga tiba-tiba saja Kakek tersebut di serang oleh Ki Dayeng, lalu mereka pun bertarung di depanku.
Aku terkejut dan kebingungan.
Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka tiba-tiba bertarung padahal kan bisa di selesaikan dengan baik-baik.
BAGH!
BUGH!
DAGH!
Mereka saling adu jotos dengan tenaga dalam yang begitu besar, hingga tanah yang ku pijak terasa bergetar.
" Ki Dayeng! Hentikan! Kita bisa jelaskan maksud kita kemari dengan baik-baik kan?!" ucapku panik mencoba melerai pertarungan mereka.
Namun mereka tidak mendengar teriakkan ku, mereka terus saja bertarung dengan saling berbalik serangan yang begitu kuat.
DUAR!
Serangan dari tenaga dalam mereka yang meleset, sesekali menghantam bebatuan besar hingga hancur berkeping-keping.
Kekuatan mereka sangat hebat! bagaimana caranya agar aku bisa menghentikan pertarungan mereka. aku bahkan tidak memiliki kemampuan untuk bertarung.
Pertarungan mereka membuat keadaan di sekitar menjadi hancur lebur, pohon-pohon banyak yang tumbang, ranting daun dan bebatuan hancur dan berserakan dimana- mana seolah hancur oleh angin tornado yang besar.
Setelah semua hancur, barulah pertarungan mereka berhenti, aku kira mereka berhenti karena kelelahan atau kehabisan tenaga dalam, tenyata bukan, mereka berdua justru malah saling tertawa satu sama lain.
"Hahahaha, sudah lama kita tidak bertemu selama tujuh ratus tahun, kamu tetap tidak berubah, apa kamu tidak tumbuh besar? Badanmu tetap saja kecil, botakmu makin mengkilap." ejeknya pada Ki Dayeng
" Hahahaha, dasar jangan mentang-mentang kamu tinggi, tapi kamu tetap saja tua, keriput tubuhmu juga tetap kurus kering begitu harusnya mudah angin menerbangkan mu." ejek balik Ki Dayeng.
lho kok! mereka tiba- tiba bersikap seperti itu? jadi mereka saling mengenal, tapi kenapa tadi malah bertarung sangat sengit, Ahh.. Aku tahu Sepertinya Ki dayeng berbuat usil lagi padaku dengan berpura-pura bertarung seperti tadi, dasar kakek si*lan!
Tiba- tiba setelah saling ejek, mereka berdua menatap ke arahku.
"Siapa dia? Kenapa ada manusia bisa sampai ke tempatku?" tanya Aki kurus itu.
"Dia manusia yang di titip Si Sugro padaku, untuk aku ajarkan dia Brajamusti." ujar Ki Dayeng
" Hahahaha.. Yang benar saja, mana mungkin manusia seperti dia bisa mempelajari Brajamusti, memangnya siapa dia?" sindir Aki kurus itu padaku.
" Coba saja kamu adu kekuatan dengannya jika kamu tahu seberapa besar kekuatannya." ujar Ki Dayeng.
Apa! Adu kekuatan denganku, aku di suruh lagi bertarung! Sial!
Tiba-tiba dia melesat dengan cepat ke arahku mengarahkan tinjunya padaku, aku memejamkan mata karena terkejut tanpa pemberitahuan dia langsung menyerangku.
Namun, Aku merasa aneh karena tidak ada rasa sakit yang kurasakan, aku mencoba membuka mata, ternyata dia menghentikan tinjunya tepat di depan wajahku.
"Hahahahaha, tenang saja nak! Aku tidak akan melukaimu, Aku adalah Ki Rongge, pemilik wilayah ini, banyak yang harus kamu pelajari di tempatku. sekarang, lebih baik kamu bersihkan dirimu di dekat candi yang berada di ujung, ada mata air di sana, lalu mandilah." ujar Ki Rongge menunjuk ke arah candi.
__ADS_1
Ternyata di sisi candi tersebut ku lihat ada sebuah kolam pemandian.
Tanpa pikir panjang, aku segera ke sana dan membuka seluruh pakaianku lalu masuk ke dalam kolam pemandian.
Aku merasakan segarnya air kolam tersebut, aku berendam begitu nyaman.
Tiba-tiba dari air di depanku bergerak-gerak sendiri, lalu muncul tiga kepala wanita dari dasar air mereka lalu berdiri di depanku.
Wajah mereka begitu cantik, memakai pakaian seperti kerjaan di sertai selendang.
Astaga! Apa-apaan ini! Siapa para wanita ini? tiba- tiba saja muncul dari dasar air, apakah ini ulah para kakek tua menyebalkan itu, aku yakin mereka berulah lagi padaku.
Para wanita itu mendekati ku.
" Mau aku bersihkan tubuhmu?" ucap salah satu wanita tersebut.
Tanpa Izinku, mereka malah semakin menempel dengan tubuhku, tiba-tiba mereka menjulurkan lidah yang begitu panjang, lalu menjilati seluruh tubuhku.
Aku sangat terkejut bukan main.
"Lepaskan! Pergi kalian! jangan sentuh aku!" teriakku marah lalu mundur dan menjauh, namun salah satu dari mereka menahanku.
Kini jumlah mereka semakin banyak, mereka semua muncul dari dasar kolam, aku makin meronta.
" Hey, kalian kakek tua! Ini ulah kalian lagi kan! Kalian mencoba mengusikku! Jika kalian terus bersikap seperti ini, akan aku adukan pada Ku Sugro!" teriakku kesal.
"Jangan ganggu dia siluman ular, biarkan dia tenang untuk membersihkan diri!" ujar Ki Rongge pada para wanita itu.
Apa dia bilang? Wanita-wanita ini siluman ular? Astaga!
Refleks Aku mencoba melepaskan ular-ular tersebut dari tubuhku, seketika aku bergegas keluar dari kolam dengan bertelanjang.
Kedua kakek itu tertawa melihat diriku yang bertelanjang tanpa sehelai pakaian pun.
"Hahahaha... Ternyata kepunyaanmu kecil, sama dengan nyalimu yang juga kecil. Hahaha" ejek Ki Dayeng.
Aku menahan amarahku. Tiba-tiba ada bisikan lagi di telingaku.
"Anom bersabarlah, tahan amarahmu, apapun yang terjadi kamu harus tetap patuh pada mereka berdua."
"Sekarang lebih baik kamu kembali ke dalam kolam, lalu duduk bersila di dalam kolam hingga semua tubuhmu tertutup air, dan sisakan kepalamu saja di atas air, lalu Jangan beranjak dari kolam sebelum aku menyuruhmu keluar." ucap Ki Rongge.
Aku terpaksa mengikuti perintahnya karena bisikan Ki Sugro tadi, aku pun memasuki kolam dan merendamkan seluruh tubuhku hingga sebatas leher.
Ki Dayeng dan Ki Rongge pun pergi meninggalkanku sendirian di kolam ini.
Malam pun tiba.
Aku masih berendam di dalam air.
Tubuhku sudah mati rasa.
Sampai kapan aku harus harus seperti ini, aku ingin keluar dari kolam, tapi aku tidak boleh keluar sebelum Ki Rongge mengizinkan, aku harus bagaimana?
Karena terlalu lama menunggu, aku malah mengantuk, hingga terlelap dengan posisi yang sama.
__ADS_1
Tiba-tiba Aku terperanjat, karena di bangunkan oleh Ki Rongge.
" Bangunlah, dirimu sudah bersih sekarang." ucapnya.
" Astaga sudah berapa lama aku tertidur di dalam kolam?" tanyaku. Karena ku lihat matahari sudah tinggi.
" Tiga hari, sudahlah, ayo kita makan." ajaknya.
Apa? mana mungkin aku tertidur selama tiga hari, aku yakin pasti ini candaan dari mereka juga.
Aku beranjak dari kolam dan memakai kembali pakaianku, lalu berjalan bersama Ki Rongge ke pendopo untuk makan.
Sampai di pendopo aku melihat banyak makanan di tertata di meja batu yang panjang.
" Duduklah, ayo makanlah." ucap Ki Rongge.
Aku sedikit termenung menatap makanan-makanan itu, Aku ragu.
" Bagaimana jika ini tipuan kalian, bagaimana jika makanan ini berubah menjadi benda yang aneh dan menjijikan" ujarku waspada.
" Ini makanan asli, coba saja kamu pertajam mata batinmu, agar kamu bisa tahu." ujar Ki Rongge.
Baiklah aku akan percaya ucapannya, aku tahu meski mereka memang sering bercanda keterlaluan tapi mereka makhluk yang baik.
Aku mencicipi sedikit dulu, setelah ku rasa lezat dan makanan itu aman, aku pun memakan itu dengan lahap.
" Wahai para istriku, kemarilah! Sambutlah tamuku yang datang dari alam jauh." ucap Ki rongge
Tiba-tiba muncul banyak sekali wanita berparas cantik dengan pakaian mewah seperti kerajaan di zaman dulu.
Mereka semua berjajar di depan meja.
Aku hanya bisa terdiam hingga aktivitas makanku terhenti.
Aku menatap wajah mereka satu persatu, mereka semua menatapku juga.
Ada satu dari mereka yang membuatku merasa malu saat menatapnya.
" Ada apa Anom! Apa kamu tertarik pada salah satu istriku?" tanya Ki Rongge.
......................
Assalamualaikum..
Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.
Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus
Terima kasih untuk dukungannya.
i love you readers.
😍🥰😘
Wasalam.
__ADS_1