Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Bab 3. Sekte 18


__ADS_3

Seperti biasa malam hari Pak Rizal pulang selesai mengajar di kampus, beliau adalah dosen di unversitas besar di kota parahyangan.


Dia pulang menaiki angkutan umum. Setelah turun dari angkutan umum Pak Rizal harus berjalan satu kilometer menuju rumahnya.


Belakangan ini hari-hari Pak Rizal di landa keresahan dan kecemasan, membuat hidupnya tak tenang dan tak nyaman.


Entah apa yang terjadi padanya. Setiap hari dia merasa dirinya selalu di ikuti, di awasi, dan di teror, baik di tempat sepi maupun tempat ramai, baik itu siang ataupun malam hari.


Dia berjalan dengan penuh rasa was-was.


Tiba-tiba..


Kiiiikk.. Kiiiikkk...


Terdengar bunyi hewan yang memekakan telinganya.


Sontak Pak Rizal mencari arah suara itu. Dia lalu menatap langit.


Ada yang terbang di atas langit. seperti kelelawar raksasa seukuran tubuhnya. Hitam pekat dengan warna mata yang merah menyala dan taring yang tajam terbang ke arahnya.


Dari pantulan cahaya bulan, bayangannya layaknya tubuh manusia yang bertangan dan berkaki, juga bersayap dan bertanduk wujudnya bagaikan setan bertanduk yang punya sayap.


Dari atas, mahluk itu menatap tajam pada Pak Rizal. Dan mulai terbang memekik ke arah Pak Rizal.


" Oh, tidak! mahluk itu lagi!" ucap Pak Rizal panik dan berlari ketakutan.


Sayangnya mahluk itu terbang sangat cepat. Kakinya berhasil mencengkram rambut Pak Rizal. Membuat tubuhnya melayang terangkat ke atas.


" Aaaaaaa.. lepaskan! mahluk sialan!" pekik Pak rizal kesakitan lalu memukul kaki mahluk kelelawar itu dengan tas yang di jinjingnya.


BUGH!


Kelelawar itu melepaskan cengkraman kakinya


BRUK!


Pak Rizal pun jatuh ke tanah dan segera berlari kencang.


Kelelawar besar itu terus mengejarnya.


Pak Rizal terus berlari dan mencoba bersembunyi di balik pohon. Dia mencoba mengatur nafasnya.


"haahh.. haahhh.. apa.. mahluk itu sudah pergi" lirihnya.


Tiba-tiba..


Kiiiiiikk! Kiiiikk!


Mendengar suara itu lagi Refleks Pak Rizal menelan salivanya. Dia gemetaran dan celingukan mencari keberadaan mahluk kelelawar itu.


"Kamu mencariku." ucap Mahluk kelelawar tersebut.


Deg!


Pak Rizal semakin gemetaran suara yang bicara itu begitu dekat. dia mencoba menadah ke atas pohon.


Sontak Pak Rizal diam terpaku.


Dan benar saja, ternyata mahluk kelelawar itu tengah bergantung terbalik di dahan pohon tempat Pak Rizal bersembunyi.


Kini wajahnya dan wajah mahluk itu begitu dekat hanya berjarak 30 cm di depannya.


Matanya yang merah menyala tanpa pupil menatap lekat padanya. Dia Menyeringai menujukan taring dan deretan gigi yang tajam. Lidahnya yang panjang menjulur ke arah wajahnya seakan ingin mencicipinya.


"Aaaaaaa...!" Pak Rizal pun berlari lagi dan kabur.


Semakin cepat Pak Rizal berlari, semakin cepat mahluk kelelawar itu melesat terbang mengejarnya.


Akhirnya dia sampai di depan rumah. Bergegas dia pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan cepat.


Nafasnya menderu sangat cepat, jantungnya juga berdegup kencang.

__ADS_1


" Haahh.. haaahh.. haaahh.. Apa mahluk itu masih mengikutiku." lirihnya dengan nafas yang tersengal-sengal dia menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup. Segera dia mengintip di balik tirai jendela.


Tidak terlihat apapun di sana. Hanya jalanan yang sepi.


" Fiuhh, syukurlah sudah tidak ada." ucapnya sambil membalikan tubuhnya.


Tiba-tiba anaknya Dimas tengah berdiri tepat di depannya. Entah sejak kapan dia di sana.


"Astaga!" Pak Rizal terhentak kaget.


"Apanya yang tidak ada, Pak?" ucap Dimas menatap heran melihat wajah Ayahnya yang Panik, dengan raut wajah yang pucat dan bercucuran keringat.


" Ti..tidak ada! tidak ada apa-apa kok." ucap Pak Rizal sedikit gagap.


" Terus Bapak kenapa? sakit? kenapa pucat begitu?" tanya Dimas cemas.


"Mm.. enggak, Bapak baik-baik saja." jawab Pak Rizal sambil menyeka peluhnya dengan tangan.


"Sudahlah. Bapak lelah, Bapak mau istirahat. Kamu juga cepatlah tidur jangan bergadang." sahut Pak rizal mencoba bersikap biasa dan memasuki kamar.


" Eh.. Tapi, Pak..


BRAAK!


Ucapan Dimas terhenti karena bantingan pintu yang tertutup keras oleh Ayahnya.


"Bapak kenapa, Sih? Akhir- akhir ini dia aneh. Pulang dari kampus pasti deh begitu, kaya yang habis di kejar setan aja. Pagi dan siangnya banyak melamun. Bahkan, suka ngurung sendiri di kamar. Biasanya, bapak ceria suka nongkrong sama bapak-bapak komplek di pos ronda, sekarang dia lebih penyendiri. Huuffhht.. semoga Bapak gak kenapa-napa, tapi makan malam hari ini, sendirian lagi,Deh." gerutu Dimas.


......................


" Duh.. Bagaimana ini? Aku kelihatan panik di depannya tadi. Dimas gak curiga,Kan? Aku gak mau membuat anakku cemas, Jika dia tahu, aku harus menjelaskan apa padanya?" keluh Pak Rizal menyandar pada pintu sambil memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya.


Saat Pak Rizal membuka mata.


Tiba-tiba...


Deg!


Pak rizal lagi-lagi kaget dan diam terpaku menatap ke arah pojokan atas di langit-langitnya.


Pak Rizal ketakutan dan gemetaran.


"Kenapa kamu terus mengejarku! Apa maumu?!" ucap Pak Rizal mencoba memberanikan diri untuk membentak mahluk kelelawar itu.


" Kamu sudah mengingkari perjanjian! dan pergi dari kami! Siapapun yang pergi dan mengingkari perjanjian maka dia harus Mati!" ucapnya dan terbang hendak menyerang Pak Rizal yang berdiri depan pintu.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa....."


Teriakan Pak Rizal dari kamar membuat Dimas yang tengah makan kaget.


"Bapak!!" ucapnya panik dan sontak Dimas berlari menuju kamar Ayahnya.


"Pak! Bapak kenapa? Ada apa pak?" seru Dimas cemas menggebrak- gebrak pintu kamar yang terkunci dari dalam.


Sayangnya tak ada jawaban dari dalam kamar Ayahnya. Hening tak ada suara. itu membuat Dimas Panik.


Dimas memutuskan untuk mendobrak pintu.


dan...


BRAK!


Pintu pun terbuka lebar.


Dimas syok melihat Ayahnya tergeletak di lantai kamar.


"Astaga! Bapaaaaaaakkk!!"


......................


Aku ada dimana? ini kan hutan.. kenapa aku bisa disini? Apa Ki Sugro memberiku akses menuju dimensi lain lagi?

__ADS_1


Tiba-tiba aku melihat sebuah lubang di badan pohon beringin tua, Ada cahanya dari dalam.


"Pintu dimensi apa itu ya?" ucapku penasaran dan mencoba memasukinya.


Seketika aku memasuki sebuah ruangan gelap hanya dua buan obor yang menerangi.


Lagi-lagi aku kaget karena aku mengenakan jubah hitam lagi.


Apa-apaan ini, kenapa aku memakai jubah hitam ini lagi. Apa mungkin ritual pemujaan Nini Kutek masih ada?


Benar saja di sekelilingku aku melihat tujuh orang asing memakai jubah yang sama sepertiku.


Mereka mengelilingi sebuah Api unggun yang Api nya sangat besar dan panas.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang menangis.


Ada bayi?


Salah seorang dari mereka pergi dan datang lagi menggendong bayi yang masih merah dan memegang belati di tangan satunya.


Bayi itu menangis keras.


dan..


CRAATT !


Darah memuncrat kemana-mana. Seketika tangisan bayi berhenti. Dengan sangat cepat mereka membunuh bayi itu. Kini bayi itu sudah tidak bernyawa dan mati.


Aku terkesiap. Tak percaya melihat apa yang terjadi didepan mataku.


Kejadian tadi mulai menyulut emosi ku. Aku marah, aku murka. Jelas manusia berhati iblis yang tega membunuh bayi yang tak bedosa itu.


Tiba-tiba darah yang mengalir dari tubuh bayi itu dia masukan kedalam sebuah wadah.


Dan mereka meminum darah itu secara bergilir.


Kini wadah berisikan darah sang bayi itu di sodorkan padaku.


Aku yang tak segera mengambilnya. Membuat mereka keheranan.


" Minum!" bentak salah seorang dari mereka.


Jelas aku tidak mau. Aku perlahan mundur namun mereka memegangi kedua tanganku dan menghentikan tubuhku yang meronta mencoba melepaskan diri.


"Lepaskan!" Bentakku.


"Kamu harus meminumnya untuk membuktikan kesetiaanmu padanya." ucap salah seorang yang memegangi wadah darah tersebut.


Dia menghampiriku dan menyodorkan wadah itu menuju wajahku.


"Tidaaaaakk!!" teriakku.


SRAAT!


Dengan peluh dan degupan jantung yang begitu kencang, Aku terbangun dan terduduk di sisi kasurku, sontak aku melihat sekeliling, aku sadar kini aku ada di kamarku.


" Ternyata tadi cuman mimpi." lirihku.


"Yah! kenapa tadi teriak?" ucap Dita yang tiba-tiba terbangun di sampingku sambil mengucek-ngucek matanya.


" Aku tadi cuma mimpi buruk." ucapku.


" Berdoa dulu kalau tidur, Mau aku ambilkan air minum?" sahutnya menawari.


" Ya, kalau boleh. Mana anak-anak?" tanyaku cemas yang teringat pada anakku karena mimpi buruk tadi.


" Disana, mereka sudah tidur." sambil menyodorkan segelas air padaku.


Aku melihat Raka dan Rayi sudah tertidur lelap di kasurnya. Alasan kenapa kami tidur bersama dengan anak-anak, adalah untuk melindungi mereka dari gangguan jin dan semacamnya, dan agar kami bisa tetap mengawasi keadaan mereka dan memastikan mereka baik-baik saja.


Melihat pulasnya mereka tertidur membuatku hatiku kembali tenang.

__ADS_1


"Maaf aku mengganggu tidurmu. Tidurlah lagi, aku sudah tidak apa-apa." sahutku selesai meminum air dan menyuruh Dita kembali tidur.


......................


__ADS_2