Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Bab 5. Tugas pertamaku


__ADS_3

Setelah semua godaan terlewat, Akhirnya aku berhasil menyelesaikan bacaanku , aku berhasil mengkhatamkan al-quran.


Tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan mata, cahaya itu menyorot ke wajahku, lalu cahaya itu masuk seolah masuk ke dalam mataku.


SRAT!


Malam yang tadinya larut dan gelap, seketika berubah menjadi siang, aku masih terpaku duduk di batu sambil memegangi al- Qur'an yang selesai aku baca tadi.


Apa yang terjadi?


Segera aku mengambil ponsel untuk melihat jam, jam pada ponsel menunjukan tepat pukul dua belas


Tunggu, ini pukul dua belas malam atau dua belas siang? Astaga ini sangat membingungkan, apa yang sebenarnya terjadi ?


Aku melihat sekitar, tempatnya masih sama di air terjun, tidak ada yang berubah, tapi ada satu yang membuatku aneh.


Siang bolong begini mahluk astral di tempat ini muncul semua, dari mahluk menyeramkan, hingga pocong, kuntilanak semua ada, mereka berlalu lalang di tempat ini.


Aku benar-benar kebingungan, hingga Ki dayeng pun muncul.


" Tempatnya memang sama, namun waktunya yang berbeda, ini adalah pasar ghoib, makannya semua jenis mahluk di sini, di tempatmu ini sudah tepat tengah malam, namun di alam ghaib ini adalah siang hari, tidak heran kenapa selama kamu mengaji banyak sekali mereka yang mengganggu." ujar Ki Dayeng.


" Jika kamu ingin kembali ke penglihatan di alammu, basuh saja wajahmu dengan air." ucapnya.


Aku pun segera mengambil air terjun dengan tanganku dan membasuhkannya ke wajahku.


Benar saja apa yang kulihat kembali seperti semula, suasana kembali menjadi malam suasana air terjun yang tadi ramai oleh mahluk ghoib kembali jadi sepi.


"Intinya cahaya tadi sudah berhasil mempertajam mata batinmu, kamu juga bisa menerawang, dan beberapa ilmu lainnya sudah berhasil kamu dapatkan." ujar Ki Dayeng.


" itu artinya tugasku sudah selesai dan aku bisa segera pulang kan?" tanyaku.


" Ya.." jawab Ki Dayeng.


Singkat cerita bergegas pulang, di perjalanan aku kebingungan karena tidak ada kendaraan umum untuk aku pulang.


Aku berjalan sedikit jauh sambil menunggu berharap ada mobil atau kendaraan yang bisa aku tumpangi.


Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat seorang pria, tengah duduk di atas motornya di tepi jalan.


"Wah, mungkin itu tukang ojeg." sahutku sambil menghampirinya.


" Bang! Ojeg? Bisa anter saya pulang ke daerah Bandung?" tanyaku.

__ADS_1


" Naik saja, saya akan antar." ucapnya tanpa ekspresi.


"Wah, alhmdulilah, berapa kira-kira ongkos sampai sana?" tanyaku lagi.


Pria itu tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menyalakan motornya lalu menengok ke arahku seolah menyuruhku segera naik.


Tanpa pikir apa-apa aku langsung menaiki motornya, sungguh beruntung masih ada tukang ojeg yang mangkal dan mau mengantar hingga tempat tujuanku, aku bisa pulang tanpa perlu berjalan kaki mencari kendaraan umum.


Singkat cerita ku tiba di depan rumah, aku turun dari motor.


"Wah sudah sampai akhirnya, makasih ya bang, meski jauh,udah mau anter sampai tujuan, jadi Berapa bang ongkosnya?" tanyaku sambil merogoh uang di saku celanakuuntuk membayar tukang ojeg tersebut.


Tapi tukang ojeg itu menyalakan motor dan berlalu pergi begitu saja tanpa menoleh


" Hey! Bang tunggu! aku kan belum bayar ongkosnya!" teriakku memanggilnya


" Astaga, kenapa dia malah pergi, memangnya dia gak butuh di bayar ya? haah.. aneh sekali.." keluhku mengerutkan alis.


Ah, sudahlah yang terpenting aku bisa pulang sampai rumah dengan selamat.


Aku pun membuka pagar dan masuk ke teras rumah, ku lihat ponsel menunjukan pukul satu dini hari.


Tok.. Tok.. Tok..


" Assalamualaikum!" ucapku memanggil Dita berharap dia masih terbangun dan membuka kan pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek..


Terdengar suara kunci pintu di buka, dan akhirnya Dita membukakan pintu untukku. Namun dia menyambutku dengan sedikit berbeda.


Dia melipat kedua tangannya di dada dan memasang raut wajah kesal.


"Dari mana saja kamu! Jam segini baru pulang." ucapnya dengan nada sedikit marah.


" Lho? aku sebelum pergi kan sudah pamit sama kamu, aku akan ada urusan pergi dengan Iman." ucapku.


" Oh ya? Tapi kata Iman dia gak pergi sama kamu tuh! Jangan bohong!" ungkapnya kesal.


" Aku pergi dengan Iman kok, beneran.. ini urusanku juga baru selesai. Masa si Iman lupa, padahal tadi pulang bareng juga" ucapku beralasan.


" Ck, ck, ck... Terus aja bohong! udah jelas Iman tadi ke rumah nanyain kamu! aku bilang kamu pamit pergi karena ada janji sama dia, tapi Iman bilang dia gak ada janji apa-apa sama kamu. Jadi hingga selarut ini kamu pergi kemana aja!" ucapnya dengan nada tinggi.

__ADS_1


" Ahaha.. Begitu ya.. Hehe maaf ya, kalau aku jujur pasti kamu gak bakal ngizinin aku pergi" ucapku sambil menggaru kepala yang tidak gatal.


" Memang kamu pergi kemana?!" tanya Dita lagi


" Aku pergi ke air terjun, aku sedang ada tugas spiritual untuk mengaji disana." jujurku.


" Haahh.. Lagi.. Lagi.." keluhnya menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar.


" Maaf.." ucapku tertunduk malu


" Tapi sudah beres kan?! Lain kali kalau pergi jauh lagi aku gak bakal kasih ijin! aku udah capek kamu tinggal-tinggal terus kaya gini. Jangan sampai kejadian lagi seperti waktu kamu kumpul sama perkumpulan itu, kamu sampai lupa keluarga sendiri, mentingin kumpul perkumpulan di banding nemenin keluarga di rumah." omel Dita marah-marah.


" Iya.. Iya.. Gak akan kok, aku akan bagi waktu dengan baik mulai sekarang." jawabku.


Setelah drama sedikit dengan Dita akhirnya aku bisa beristirahat di kamar. Dan mulai lelap tertidur.


......................


Keesokan harinya pada malam hari, Iman datang mengunjungi rumahku.


" Elu kemarin pergi kemana sih? Gue datang ke rumah elu gak ada, gak ngasih kabar, di telepon gak di angkat, malahan istri lu bilang elu pergi sama gue, yaa gue jadi bingung lah.." celotehnya.


" Iya sorry, gue kemari ada keperluan jadi gue alasan ke istri bilang pergi sama elu." jelasku.


"Oh, keperluan apa emangnya?" tanyanya.


"Yaa ada lah.. Ngomong- ngomong elu ada apa nyariin gue?" tanyaku.


"Oh iya! Gue tuh mau kasih kabar ke elu, gue sama nyokap udah nggak mimpi aneh- aneh lagi bah! intinya elu gue gak salah minta tolong sama elu." serunya menjelaskan.


" oh, syukur kalau gitu man." jawabku.


" Tapi gue masih penasaran bah! gue sama nyokap masih di incar gak?" tanya Iman.


" Hmm.. tunggu bentar gue liat dulu." kataku sambil mengusap sedikit air minum ke wajahku.


Tiba- tiba.. Aku melihat sebuah gambaran.


Aku melihat ayah Iman pergi ke sebuah goa di gunung, dia bertemu dengan siluman ular, lalu menyebutkan nama Iman dalam perjanjian mereka.


Aku yakin ini pasti gambaran dari ilmu menerawang yang di jelaskan Ki Dayeng kemarin.


" Masih man! Kalau bisa hari ini elu nginep aja di sini, soalnya dalam perjanjian mereka, siluman itu pasti akan datang dan ngincer elu malam ini." himbauku.

__ADS_1


" Astaga! Terus gimana dong bah, gue harus apa? gue takut bah." keluhnya.


......................


__ADS_2