Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Pertemuan


__ADS_3

Saat aku tengah mengobrol dengan Ki Sugro lewat pikiran, ternyata Iman berjalan mendahuluiku. Dia langsung menyalakan mesin motornya.


"Man, tungguin dong!" sahutku sambil berjalan cepat menghampirinya.


" Bah, elu bisa pulang sendiri kan?" tanyanya.


" Apa? Mm... Ya bisa sih emangnya lu mau kemana?" tanyaku lagi.


"Gak kemana-mana, gue mau pulang sendiri dulu." ucapnya.


"Tumben? yakin gak bareng? Elu kenapa sih? Ngambek?" ucapku menerka.


"Enggak.. Udah ya gue duluan! Bye!" ucap Iman berlalu pergi meninggalkanku tanpa penjelasan.


"Dasar! Iman kenapa sih, Ah sial, sudahlah masih ada angkutan umum ini, gue juga bisa balik sendiri tanpa elu man." gerutuku.


Aku paham Iman pasti marah karena kejadian tadi, sepertinya dia kepikiran dan terbebani.


Padahal aku berniat memberitahunya kalau dia masih aman, dia belum sah jadi pengikut sekte 18, tapi dia malah ninggalin gitu aja. huffht.. mungkin besok aku bisa ceritakan semua padanya.


......................


Keesokan harinya.


Sehabis pulang kerja aku duduk di teras. Memegang ponsel berniat untuk menelepon Iman dan menceritakan semuanya agar perasaannya merasa lebih baik.


Beberapa kali aku menelepon, dia tidak mengangkatnya, malah sesekali panggilanku di reject-nya. Sehingga panggilanku di alihkan.


" Sepertinya Iman marah besar. Dia tidak mengangkat teleponku, itu artinya dia tidak ingin berbicara denganku, ya sudahlah lain kali saja aku beri tahu dia, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri." pungkasku.


Aku memutuskan membicarakan masalah ini pada Pak Rizal. Aku pun pergi ke rumah Dimas.


Setibanya di sana aku, aku berniat bertemu Pak Rizal, Dimas memberitahu kedatanganku pada ayahnya. Tapi sayang..


" Bah, maaf... Kata Bapak, dia sedang tidak ingin bertemu siapapun sekarang, dia ingin beristirahat, dia tidak ingin di ganggu siapapun, begitu katanya." ucap Dimas memberitahuku yang tengah duduk di kursi teras depan.


" Oh, begitu ya, ya sudah tidak apa-apa mungkin kondisinya sedang tidak baik, sampaikan padanya semoga lekas membaik." ucapku.


" Bah, maafkan bapak ya. Aku juga tidak tahu harus bagaimana membujuknya, aku tidak bisa banyak membantu." keluh Dimas merasa tak enak hati padaku.


" Tidak apa-apa Dim, jangan terlalu di pikirkan. kalau begitu aku pamit pulang ya dim, jaga ayahmu dengan baik." ucapku dan pergi meninggal Dimas yang berdiri mematung di teras menatapku pergi.


Entah apa yang sedang Dimas pikirkan, semoga mereka berdua selalu dalam keadaan baik-baik saja.


Aku berjalan sambil termenung, aku terus memikirkan tentang masalah ini, sekarang aku harus bagaimana. Mungkinkah aku harus bergerak sendirian sekarang?


Entah berapa lama aku berjalan tanpa fokus, Kini aku berada di depan sebuah perkebunan teh.

__ADS_1


Di tengah cuaca cerah,Terlihat hijau, dan asri. Begitu menyejukkan pandangan.


Tapi, entah kenapa firasatku menuntun aku untuk masuk ke perkebunan teh tersebut.


Aku pun masuk, Aku berjalan hingga ke tengah perkebunan teh yang lapang dan luas.


Sedari tadi Firasatku mengatakan bahwa aku akan bertemu Pak Yono disini, entah dari mana Firasat ini datang.


Tiba-tiba Ki Sugro muncul.


" Kamu juga merasakannya? Tidak salah lagi memang benar, kamu akan bertemu dengan orang itu disini." timpal Ki Sugro.


" Kenapa aki sebegitu yakin bahwa aku akan bertemu dengannya?" tanyaku.


" Dia memang sedang memberi sinyal padamu, Anom. Tanpa sadar kamu menerima sinyal itu dan mengikuti nalurimu sehingga kamu datang kemari." sahut Ki Sugro.


"Hmm.. Begitu ya? Tapi apa tujuannya menyuruhku untuk kemari?" tanyaku.


"Satu hal yang aki sadari, dia memang sudah merencanakan semuanya dari awal. Pertama, dia membuat Rizal menyerah padamu dan menolak bantuanmu, kedua, dia sengaja membuatmu dan temanmu saling menjauh, sehingga tujuan sebenarnya hanya padamu, kini setelah kamu bergerak sendirian, dia mendatangimu. Sejak awal memang hanya kamu tujuannya." tutur Ki Sugro.


"Benar juga! Selama ini aku tidak menyadarinya, Ki." jawabku setuju.


Saat aku dan Ki Sugro tengah mengobrol, ada seorang pria yang berjalan ke arahku,


Ya, Dia adalah Pak Yono , ternyata dia benar-benar muncul di hadapanku, dia datang seorang diri tanpa pengikutnya, dan juga tanpa Klewing, aku makin bertanya-tanya apa tujuan dia sebenarnya.


Melihat kedatangan Pak Yono, seketika membuat Ki Sugro marah, dan hendak menyerang Pak Yono.


" Hey, hey, tenang dulu aki! Aku datang kemari dengan niat baik Oke?! Aku harus berbicara empat mata dengan cucumu." seru Pak Yono.


Aku mengernyitkan alis, dan menahan Ki Sugro yang hendak menyerang lebih dulu.


" Apa yang ingin kamu bicarakan denganku di sini?" tanyaku heran.


" Tunggu, sebelum itu suruh keluar dulu semua rekan ghoibmu." Pinta Pak Yono.


" Untuk apa?!" tanyaku curiga.


" Akan aku beritahu jika mereka semua sudah muncul." ucapnya.


" Baiklah."jawabku.


Aku memejamkan mata dan memanggil rekan-rekan ghoibku. Pertama, muncul Aji Saka, kemudian di susul munculnya Nini kembar.


" Sudah, mereka sudah muncul, apa yang ingin kamu beritahu sekarang?" tanya ku.


" Aku ingin kamu menyuruh mereka membuat Halimunan. Aku ingin kita berbicara tanpa ada gangguan." ucapnya.

__ADS_1


" Bicara ya bicara saja apa susahnya. Pake halimunan segala." gerutuku.


" Astaga banyak bicara juga kamu ya? tentu saja agar para Klewing tidak bisa mendeteksi posisi kita." tutur Pak Yono.


Seketika aku mengernyitkan alis, Aku makin heran dengan ucapannya barusan. Aku hanya bisa menuruti permintaannya tanpa tahu apa maksudnya.


Aji saka, Nini kembar dan Ki Sugro mulai membentuk formasi memutari kami dan memasang Halimunan.


" Sudah, sekarang apa yang hendak kamu bicarakan, cepat katakan." tanyaku langsung.


"Haha, ternyata kamu tidak sabaran. baiklah, ada satu kebenaran yang ingin aku sampaikan padamu." ucapnya.


" Apa itu?" jawabku.


" Sebenarnya Aku adalah korban yang sama seperti rekanku Rizal." ungkapnya.


" Cih! Aku tidak percaya, aku tahu kamu sedang membual." jawabku.


"Haha lucu sekali, tidak apa-apa bagaimana jika aku katakan kalau aku dan Rizal adalah bagian dari 7 jenderal yang memegang dan mengatur sekte 18 di wilayah ini apa kamu akan percaya?" tuturnya.


"Jendral? Sekte ini memiliki jendral? Lucu sekali, kamu sedang menceritakan kisah dongeng kerajaan?" ejekku.


" Hahahaha, astaga! Bukankah kamu memerlukan Informasi tentang sekte ini dariku? baiklah aku akan sedikit menceritakan dongeng untukmu bocah, maka dari itu dengarkanlah baik-baik."cetusnya.


Aku sadar kali ini dia tengah serius dengan ucapannya, sepertinya dia akan membuka sebuah rahasia.


Dari tindakan dan kedatangannya tanpa Klewing aku curiga dia merencanakan sesuatu di belakang sektenya sendiri. mungkinkah dia hendak berkhianat pada pengikutnya seperti Pak Rizal?


" Baiklah, tidak perlu kamu suruh pun, aku adalah pendengar yang baik, sepertinya akan ada orang yang hendak berkhianat pada sektenya sendiri." sindirku.


Dia tersenyum miris.


" Sebelum itu, apa kamu tahu info tentang tingkatan dalam pemujaan?" tanyanya.


" Ada yang seperti itu?" tanyaku heran.


"Bodoh! Tentu saja ada, sekte 18 ini adalah pemujaan tahap paling dasar, semua level pemujaan ada 7 tingkatan, level pemujaan yang tertinggi adalah pemujaan untuk sang Iblis." tutur nya.


Gleg!


Iblis?


Aku menelan ludah mendengar kenyataan bahwa pemujaan sekte ini hingga setinggi itu.


Ini sudah sangat - sangat menyimpang. bukannya menyembah sang kuasa mereka bahkan berani menyembah Iblis juga. Astaga!


......................

__ADS_1


__ADS_2