
Setelah menghilangnya Klewing, kami bisa bernafas dengan lega.
" Bah udah ngilang ya tuh setan?" tanya Iman.
" Iya,udah man" jawabku
Tiba-tiba Pak Rizal yang tadinya berbaring diam melamun kini dia pun langsung terduduk dan melihat ke sekitar kamarnya.
"Dimas?" panggil Pak Rizal kepada anaknya.
" Bapak! Alhmdulilah... sekarang bapak akan baik-baik saja. Mahluk itu sudah tidak ada pak!" seru Dimas.
"Benarkah? Klewing itu sudah pergi?" seru Pak Rizal memastikan sambil melihat seluruh kamar.
" Klewing? jadi mahluk itu di sebut klewing?" ucap Dimas memastikan.
"Iya.." jawab Pak Rizal.
" Tapi kenapa bapak di datangi dan di ganggu oleh klewing itu? tanya Dimas lagi.
" Nanti bapak akan ceritakan. Dimana temanmu yang sudah menolong bapak, Dim?" tanya Pak Rizal mencari keberadaanku yang berdiri di belakang Dimas, Aku pun memajukan diri dan menyapanya.
" Hallo, Pak! saya Nandy panggil saja Abah saya temennya Iman dan Dimas" ucapku.
"Oh iya, begini Abah, Iman, Bapak ingin bererimakasih pada kalian begitu juga pada rekan goib Abah, yang sudah menolong Bapak dari klewing tadi." ucap Pak Rizal.
"Tunggu, rekan ghoib Abah? berarti Om bisa melihat mereka?" tanya Iman kaget.
"Tentu saja, Ayahku juga punya kesaktian, makannya aku sedikit ragu tadi saat abah bilang kalau Ayahu sakit gara-gara Klewing itu. padahal Ayahku itu kuat tidak mungkin dengan mudah terkena serangan dari mahluk. Maaf Ya Bah, saya sempat tak percaya, tapi setelah melihatnya..
" Tak apa, Dim, saya maklum kok." jawabku.
Dimas pun tertunduk malu.
"Tapi Pak! kenapa makhluk itu terus menerus meneror Bapak, kenapa bapak tidak lawan klewing itu dengan kesaktian yang Bapak punya?" tanya Dimas makin penasaran.
" Bapak tidak bisa?" jawab Pak Rizal.
" kenapa?" tanya Dimas lagi.
" Hufft, Baiklah Bapak akan menjelaskan semuanya." ucap Pak Rizal.
__ADS_1
" Di kampus Bapak memiliki seorang teman Mas Yono namanya. Dia berasal dari jawa tengah. Saat pertama kali menyapa nya entah kenapa bapak rasanya ingin berteman dekat dengannya. Suatu waktu dia menawari bapak untuk ikut bergabung ke sebuah sekte. Kami menyebutnya sekte 18. Bapak pun setuju." tutur Pak Rizal.
" Tunggu! Kenapa Om malah langsung setuju tanpa mencari tahu lebih dulu, Bagaimana jika itu sekte sesat." ujar Iman.
" Benar di sanalan letak kesalahan Om, Man. Om terbujuk oleh Ajakannya seakan terhipnotis bahkan Dia mengiming- iming om. katanya jika Om bergabung semua yang Om inginkan akan terwujud." jawab Pak Rizal.
" Memang apa keinginan Ayah saat itu hingga mau saja ikut bergabung dengan sekte itu?" tanya Dimas selidik.
" Bapak ingin punya ilmu supranatural. ingin memiliki kesaktian, Agar tidak ada orang yang memandang rendah Bapak. Bapak di ajak Mas Yono ke tempatnya yang ada didalam hutan. Bapak mengikuti acara ritual untuk ikut bergabung, Bapak harus meminum darah bayi yang segar yang di bunuh terlebih dulu didepan mata bapak." tutur Pak Rizal.
" Astaga!" ucap Iman dan Dimas yang syok.
Tapi tidak Bagiku kau tidak begitu kaget, karena aku pernah memimpikannya. Aku pahami satu hal mimpi itu adalah gambaran untukku bahwa aku akan menolong seseorang yang berhubungan dengan hal tersebut. Ya... dia adalah Pak Rizal.
" Bapak awalnya menolak meminum darah itu. Tapi bapak di paksa, Dan Mas Yono menjanjikan Bapak akan menjadi calon pemegang kunci pintu gaib dan semua makhluk akan tunduk pada bapak. Bapak baru tahu ternyata Sekte itu menyembah Klewing tadi. Memang setelah Bapak mengikuti ritual tersebut Bapak punya kesaktian yang bapak inginkan. Namun Bapak tidak tahu akan ada timbal baliknya dari yang bapak terima.
"Timbal balik apa pak?" tanya iman serius.
"Ya begitu, Om harus terus mencari bayi yang masih hidup untuk melakukanritual dan agar kesaktian Om terus bertambah, Maaf Bapak sudah melakukan hal yang keji, bapak menyesal" tutur Pak Rizal menyesal.
"Semua karena Si Yono sialan itu." ucap Dimas kesal.
"Sudah lah, Dim. Bapak juga sama bersalahnya. Bapak sudah memutuskan untuk keluar dari sekte itu namun Bapak bingung bagaimana caranya, Bapak sudah mencoba beberapa kali tidak hadir di acara ritual tersebut, tapi ternyata Klewing itu mendatangi bapak "keluh pak Rizal.
"Pasti,Bah. Dia tidak akan melepaskanku begitu saja. Karena dalam perjanjiannya jika Bapak keluar dari sekte ini maka harus menukarnya dengan nyawa atau sama aja dengan mati." jelas pak Rizal.
"Mati?!" ucap dimas kaget.
Kami semua diam termenung
"Bagaimana ini Bah? tolong bantu Ayahku."pinta Dimas.
"Insyaallah, Aku akan berusaha semampuku untuk membantu Ayahmu" jawabku.
"Untuk sekarang aku meminta waktu Pak. aku harus membicarakan ini dengan rekan ghoibku, untuk mencari cara bagaimana bisa membebaskan bapak dari perjanjian dengan Klewing itu." tuturku
" Terima kasih,Bah. Rekan gain abah sepertinya sedang mempersiapkan diri untuk membantumu dalam hal ini, Ya kan?ucap pak Rizal.
Wah, ternyata tebakan Pak Rizal benar, sepertinya kemampuannya tidak di ragukan lagi, dia bisa tahu tentang rekan ghoibku.
"Tentu saja aku akan tahu bah" jawab pak Rizal dan bisa membaca isi pikiranku.
__ADS_1
"Hah! oh.. hehe iya,Pak! sahutku sedikit kaget.
Melihat kondisi Pak Rizal yang sedikit membaik, aku pun pamit pulang.
Kulihat Dimas masih cemas. Dia khawatir tentang keadaan Ayahnya karena ternyata masih belum aman.
Dan Iman hanya diam mengikuti untuk pulang
......................
Di perjalanan pulang, Iman masih saja tediam tidak seperti biasanya. dia hanya fokus mengendarai sepeda motor yang kami naiki.
"Man? Hey, lu gak apa apa kan?" sahutku menepuknya.
Iman tetap diam tak menjawab ataupun menyahut. Dia menjalankan motornya menuju jalanan yang asing.
"Man, elu kenapa sih? elu mau bawa gua kemana? Ini kan bukan jalan ke rumah gue??ucapku panik.
Bukannya menjawab Iman malah mempercepat laju motornya dengan kencang hingga beberapa kali hampir menabrak pengendara yang lain.
Sial! pasti ada yang tidak beres dengan iman.
Laju motor semakin kencang, Iman terus menancapkan gasnya. Dan kini motor mulai memasuki jalanan yang banyak tikungan tajam, Sisi kanan kiri hanya ada jurang yang menganga, semua gelap. hanya lampu dari motor yang menerangi kami di sepanjang jalan.
Aku tidak tahu persis apa yang tengah terjadi pada iman.
Saat ini aku terlalu panik, sehingga tidak sadar dan tidak bisa melihat yang apa yang sebenarnya terjadi pada Iman.
Dari berlawanan arah aku melihat mobil tronton melaju dengan cepat, ke arah kami sedangkan Iman masih tidak peduli dia sama sekali tidak mengurangi kecepatannya
"Man! pelan-pelan woy! Ada mobil tronton di depa nanti kita nabrak!" Sahutku menepuk-nepuk pundaknya.
Tetap tidak ada tanggapan darinya.
Astaga! bagaimama ini.. apa yang harus aku lakukan!
Dan Jarak antara kami dan mobil teronton itu semakin dekat..
"Iman Awaaaaaassss !!!"
Dan....
__ADS_1
BRAKK!
......................