
"Terus siluman ular yang mau nangkap gue kemana?" tanya Iman.
" Mereka udah kabur man, mereka udah pergi nggak akan ganggu elu lagi." jawabku.
" Ini beneran bah, terus kalau gue udah aman dan selamat, gak jadi tumbal mereka, terus yang gantiin jadi tumbalnya siapa? Jangan-jangan.. nyokap gue.." ucap Iman panik.
" Tenang aja nyokap elu juga aman kok, Karena tumbalnya gagal, semua akan berbalik pada pemiliknya yang bersekutu dengan mereka, yaa.. bokap elu." jawabku.
" Bokap gue! Jadi bokap gue yang bakal jadi tumbalnya?! Ya Allah! apa elu nggak bisa nolongin bokap gue juga bah!?" pinta Iman panik.
" Elu tuh, kenapa sih Man? Jelas- jelas bokap elu udah jahat sama lu, mau numbalin elu ke siluman ular, bukannya sama aja dia udah niat mau ngebunuh elu secara halus." tukasku.
" Tapi bah, tetap aja, dia bokap gue, orang tua gue." jawabnya cemas.
"Ya, gimana lagi, itu udah jadi konsekuensinya, siapa suruh dia mau-mau nya bersekutu dengan siluman dan membuat perjanjian, jadi dia sendiri yang harus menanggung akibatnya." jelasku.
Iman sedikit termenung.
" Udah serahkan aja pada hukum karma, berdoa aja semoga Allah mau mengampuni semua dosa yang telah dibuat oleh bokap lu" ucapku meyakinkan Iman.
" Huhhhhftt." Iman hanya bisa membuang nafas panjang.
" Iya bah, moga aja Allah mau mengampuni dosanya. Tapi gue masih cemas sama keadaan nyokap gue, gue masih takut siluman-siluman itu ngincar nyokap. Beneran gue sama nyokap bakal aman bah?" tanya Iman memastikan.
"Insyaallah aman. Gue dan rekan ghoib gue bakal siap buat nolongin elu man, jika memang terjadi sesuatu." ucapku.
" Rekan ghoib? Maksudnya?" tanya Iman.
" Ya, gue nolong elu nggak sendirian, gue juga di bantu oleh rekan ghoib, makannya gue berhasil nyelametin elu, udah lah, jangan banyak tanya lagi, jelasin ke elu nya terlalu rumit, otak lu gak bakal paham juga." tukasku.
" Cih! dasar.. Ngomong-ngomong makasih banyak ya bah, elu dah nolong gue, gue berhutang budi sama elu." ucapnya padaku.
"Sama-sama, man." jawabku.
" Mmm, gue harus balik sekarang kayanya bah, gue masih cemas sama nyokap, gue harus pastiin keadaan nyokap baik-baik aja di rumah." ungkapnya.
" Ya, silahkan, kalau ada apa-apa elu tinggal kabarin gue aja man." jawabku.
" Ya Bah, sekali lagi makasih banyak yaa! Salam buat istri elu ya bah nggak enak udah ngerepotin selama nginep. Gue pamit yaa! Assalamualaikum" ungkapnya lagi
" Santai aja man.. Walaikumsalam" jawabku.
Akhirnya Iman pulang ke rumahnya. Dia sempat mengabari lewat telepon setibanya di rumah jika ibunya baik-baik saja, terdengar lega dari suara Iman, aku juga ikut lega dengan kondisinya sekarang, semua keadaan menjadi aman seperti semula.
Tak sangka berkat bimbingan Ki Dayeng dan Ki Sugro kami berhasil menyelamatkan Iman, meski aku tidak banyak membantu, tapi syukurlah ternyata kelebihanku sekarang bisa berguna untuk banyak orang.
......................
Keesokan harinya..
Iman meneleponku pagi-pagi sekali.
" Iya man ada apa? Tumben pagi sekali elu nelepon. Untung gue belum berangkat kerja." seruku.
" Oh, hehe maaf ganggu ya bah, soalnya ada hal penting yang gue harus kasih tahu, sekalian gue juga mau minta tolong sama elu lagi bah!" ungkap Iman.
" Oh, ada apa memangnya man?"Tanyaku.
" Gue di telepon sama istrinya bokap." jelasnya.
" Ibu lu kan?"tebakku.
" Bukan! tapi ibu tiri gue." jelas Iman.
"Oh, kirain.. Terus dia bilang apa?" tanyaku lagi
" Katanya bokap sakit parah sekarang bah, gue diminta jenguk ke sana nanti, elu bisa nggak pulang kerja temenin gue jenguk ke sana. Gue takut ada apa-apa bah!" Ungkap Iman.
__ADS_1
" Oh, oke bisa man, gue pulang sekitar jam delapan malem, apa gak kemalaman? maklum gue masih jadi buruh di pabrik percetakan baju, jam kerja masih nggak tentu. Hufht.." keluhku.
" Gak apa-apa bah, nanti malem gue jemput elu yaa." jawabnya.
" iya man. Ya udah gue tutup dulu teleponnya ya man, gue mau berangkat kerja sekarang nih! Keburu telat" ungkapku.
" Oke bah." jawab Iman.
Kami pun mengakhiri percakapan kami di telepon. Aku pun bergegas pergi untuk bekerja.
Singkat cerita, pukul sembilan malam Iman datang menjemputku menuju rumah ayahnya.
Setelah pamit dan ijin pada Dita, kami pun pergi.
Setibanya di sana.. Dari kejauhan rumah ayahnya terlihat ramai banyak orang dan anak kecil.
" Rame banget rumah bokap elu Man" seruku turun dari motor Iman yang terparkir cukup jauh dari rumah ayahnya.
" Paling keluarga nyokap tiri gue lagi kumpul bah." cetusnya.
Tiba-tiba Iman berdiri mematung melihat ke arah rumah Ayahnya, terlihat seorang wanita tengah menyuguhkan minuman pada orang-orang yang berkumpul, duduk di teras.
" Pulang yuk bah!" Iman berbalik dan hendak mengambil helm untuk di pakainya.
" Lho, elu kenapa sih? Baru juga sampai!" tanyaku sedikit kesal dan heran.
" Liat nyokap tiri, males jadinya buat masuk rumah itu, gara-gara tuh cewek bokap sama nyokap gue jadi cerai, jadi kesel sendiri." ungkap Iman terlihat kesal.
" Elu kan udah niat dari awal mau jenguk bokap elu. Jadi gak usah di pikirin soal ibu tiri elu man, lihat nya ke bokap elu aja kasihan dia, siapa tahu dia memang ingin ketemu elu, terus ada suatu hal penting yang perlu di sampaikan ke elu.. bisa aja minta maaf gitu, kan kita nggak tahu, coba aja masuk dulu." bujukku.
" Hmm.. Iya deh Bah." jawab Iman.
Kami pun menghampiri rumah ayah Iman, ibu tiri Iman terlihat terkejut dengan kedatangan Iman.
" Iman?! kenapa malam sekali kesini nya." ucap ibu tirinya.
" Ada di kamar.. Ini siapa? Temen kamu?" tanya ibu tiri Iman padaku.
" Hallo Bu! Maaf ganggu malam-malam saya cuman nemenin Iman." ucapku.
" Oh, iya gak apa- apa, ya sudah ayo ibu antar kalian ke dalam." ucapnya.
Raut wajah Iman terlihat tidak suka, dia sama sekali tidak menatap wajah ibu tirinya. Namun ibu tirinya tetap menyambut kami.
......................
Kami bertiga pun akhirnya masuk ke dalam kamar ayahnya.
Kami sedikit terkejut melihat kondisinya sekarang.
Yang dulu saat masih sehat, dia terlihat gemuk, sekarang justru terlihat sangat kurus, dia terbaring lemah tak berdaya di atas kasur, dengan terus menatap ke langit- langit kamar dengan tatapan yang kosong.
Aku merasa iba dan kasihan melihat kondisinya sekarang, ingin sekali aku menolongnya, tapi jelas itu tidak bisa.
Dia telah berbuat berbuat jahat pada anak kandungnya sendiri, apa yang dia tabur itu yang dia tuai.
Bagaimana lagi inilah akibatnya bersekutu dan menduakan Allah, dia sudah gelap mata karena keindahan dunia.
"Pak..!" panggil iman pada ayahnya dan memegangi tangannya.
" Siapa?" jawabnya dengan masih menatap ke atas.
" Aku Iman, anak bapak.." ucap Iman.
Seketika Ayah Iman pun menoleh pada Iman.
" Iman.." Ucap ayahnya membelai kepala Iman, seketika raut wajahnya berubah haru dan di liputi rasa bersalah saat menatap Iman di sampingnya.
__ADS_1
" Maaf.. Maafkan bapak ya Man! Bapak telah gelap mata hendak menumbalkan kamu dalam pesugihan yang bapak lakukan, Maaf Man! Bapak Khilaf." ucap ayah Iman mulai menitipkan air mata.
" Aku tahu pak.. aku sudah tahu semua perbuatan bapak selama ini padaku dan ibu. Kenapa bapak tega lakukan itu padaku, apa salahku sama bapak? Bukankah dari kecil bapak acuh, tidak ingin mengurus aku. bahkan waktu aku menangis memanggil bapak supaya tidak pergi bapak tidak peduli, pergi begitu saja meninggalkan aku dan ibu, apa sebegitu bencinya bapak padaku, hingga bapak ingin aku mati. Kenapa bapak tega melakukan itu padaku." Ungkap Iman mengeluarkan semua beban di benaknya.
" Maaf Man! Bapak bersalah, bapak telah di butakan oleh harta, bapak Khilaf.. Maafkan bapak." ucap ayah mulai menangis.
" Bapak dari dulu memang begitu kan?! senang sekali dengan harta, karena kondisi kita yang miskin dulu, itulah sebab bapak pergi ninggalin ibu, seandainya Bapak berhasil menumbalkan aku dalam pesugihan dan aku mati, apakah bapak akan menyesal dan meratapi kematianku? Aku rasa tidak! Bapak pasti akan kegirangan dengan harta yang begitu banyak yang didapatkan dari hasil kematianku. Lalu, jika harta itu habis aku yakin bukan hanya aku yang akan mati dan di tumbalkan oleh baoak, tapi pasti ibu juga, nasib ibu akan sama sepertiku dan akan di jadilan tumbal berikutnya oleh bapak, aku benar kan?!" ungkap Iman mencoba menahan amarahnya.
"Maaf Man! Bapak benar-benar menyesal sekarang, Mohon maafkan semua kesalahan bapak padamu." ucap Ayah Iman memohon dan berderai air mata penyesalan, dia tidak mampu menjawab perkataan Iman dan hanya bisa terus meminta maaf.
" Jangan hanya minta maaf padaku saja pak! Minta maaf juga pada Allah, minta ampun pada-NYA karena bapak telah berdosa menyekutukannya" tutur Iman.
Seketika, ayah Iman berhenti menangis dan kembali termenung lalu kembali dengan tatapan kosongnya menatap langit-langit kamar.
Dia terdiam tidak bergeming, hanya mata nya sesekali berkedip.
" Pak.." Panggil Iman.
Namun ayah Iman tidak menjawab sama sekali.
" Bapak.." panggil Iman sekali lagi sambil sedikit menggoyangkan tangan ayahnya.
Tetap saja ayah Iman tidak menyahut ataupun menoleh pada Iman yang terus memanggilnya.
" Kenapa dia bah?! Dia sama sekali tidak merespon." keluh Iman.
" Mungkin dia hanya sedang merenungi kesalahannya, Man." jawabku.
" Huhfth.. Ya sudah kalau bapak ingin seperti ini, aku akan pulang sekarang.. semoga bapak cepat sembuh." ucap Iman.
" Ayo bah! Kita pulang.." ajak Iman padaku sambil berjalan menuju luar kamar.
" Sekarang?" tanyaku kaget dan memastikan.
" Ya, urusanku sudah selesai di sini." jawab iman dingin tanpa menoleh sedikitpun.
" Kenapa buru-buru man?" tanya Ibu tirinya mengejar Iman.
" Aku harus pulang sekarang." cetus Iman sedikit sinis.
Semua keluarga ibu tirinya melihat sikap Iman, tentu mereka menatap kesal pada Iman, mereka terlihat saling berbisik menggunjing Iman.
Aku pun mulai jengah melihatnya.
" Kami pamit ya Bu, assalamualaikum." tanpa basa-basi aku pamit pada semuanya dan berlalu pergi.
Di parkiran Motor..
" Man.. Tungguin gue, elu cepet banget jalannya, emangnya mau maraton!" ucapku kesal mencoba berlari kecil agar bisa mengejar Iman.
" Sorry ya bah, habisnya gue kebawa emosi karena meluap-luap tadi ngeluarin unek-unek ke bokap. Hufht.." keluhnya membuang nafas kasar.
" Ya sudah, yuk balik sekarang kan?! udah malem juga" ucapku.
Iman pun mengangguk dan menyalakan motor nya kami pun pulang, Iman mengantarku lebih dulu sampai rumah.
"Makasih ya bah, maaf gue ngerepotin elu lagi, terus elu jadi lihat keadaan yang seharusnya nggak elu lihat, sorry ya.." ungkap Iman merasa malu terhadapku.
" Santai aja Man, wajar elu marah, dengan elu ngeluarin unek-unek ke bokap elu, pasti lega juga kan?" tanyaku.
" Iya bah, gue lega, tapi sedikit cemas melihat kondisinya tadi" Iman kembali merenung.
" Doain aja Man, semoga Allah memberi jalan yang terbaik buat bokap lu dan mengampuni semua dosanya" ucapku
" Iya Bah, aamiin.." jawab Iman.
......................
__ADS_1