
Setelah aku sampai rumah, aku melakukan shalat isya, setelah selesai sembahyang, aku kepikiran Bang Syukur sambil terduduk di atas sajadah.
Di kampungnya bos bilang Bang Syukur terkenal sebagai paranomal sakti, aku ingin membuktikannya, karena aku ragu, menurut penerawangan ku dia itu seorang penipu bermodus paranormal, justru menurutku dia sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun, dari cara pengusiran setan aja sangat salah, di tambah cerita dari kesaksian Bang Anton dan Bang Rudi yang memperkuat **dugaank**u selama ini.
Aku ingin membuktikannya sekali lagi agar aku benar-benar yakin kalau dugaan selama ini adalah benar, sehingga aku bisa menyusun semua bukti dan saksi agar bos bisa mempercayaiku.
Tapi bagaimana caranya mendapatkan bukti yang nyata?
Jika ada Ki Sugro di sini dia akan menyuruhku apa ya? Oh.. Ya! Meraga Sukma.. Yaa, aku bisa meraga Sukma ke pabrik tempatku bekerja, aku bisa memantau Bang Syukur tanpa ketahuan.
Aku mulai bermeditasi mengumpulkan tenaga dalam dan energiku. Setelah kurasa cukup, aku mulai meraga Sukma menuju pabrik.
Dalam sekejap aku langsung berada di dalam pabrik.
Aku lantas mencari keberadaan Bang Syukur.
Dari arah kamar mandi aku mendengar suara ayam yang ribut.
Aku menuju ke sana, tampak ku lihat Bang Syukur dan Asep sedang menyembelih ayam hitam yang di belinya tadi pagi.
CRAT!
Darah ayam yang memuncrat, mengenai tangan dan baju mereka sehingga bernodakan merah darah.
" Apa-apan ini! Bukankah ayam yang dia beli seharusnya Ayam cemanik! Kenapa darahnya merah? Bukankah harusnya hitam?" ucapku terkejut.
"Asep, tolong siapkan air panas!" titah Bang Syukur pada Asep.
" Buat apa air panas? Seduh kopi? Kan ada air panas di dispenser Bang." Jawabnya.
" Bukan bikin kopi, B*go! Gue mau rebus ayam ini, nanti elu cabutin juga bulu-bulu nya." titahnya lagi.
" Terus di apakah lagi?" Tanya Asep.
" Kita bikin ayam bakar lah, malam ini kita akan makan enak, Sep." ujarnya senang.
" lho bang, bukannya ayam ini untuk bahan sesajen?" tanya Asep heran.
" Sesajen apaan.. sayang lah, masa ayam begini di pake sesajen, mending kita masak, terus kita makan Sep, lagian ini bukan ayam cemanik kok, ini cuman ayam kampung biasa yang warnanya hitam." Ujarnya sambil membuat kayu bakar di dekat pintu gerbang pabrik.
" Wah.. Si*lan! Dia ngelabuin aku sama si bos nih, kenapa malah elu yang makan ayam sesajennya Bang.. Berarti elu setannya.. harusnya yang di usir dari pabrik tuh elu! Bang Syukur b*go!" gerutuku memakinya meski dia tidak bisa mendengarku.
Sementara mereka sedang sibuk membakar ayam, aku mengecek ke seluruh pabrik, aku masuk ke ruangan tempat biasa kami bekerja.
Baru melihat dari balik pintu, aku melihat banyak sekali mahluk Ghoib di dalam sana. Ramai sekali, dari pocong, Kunti, genderuwo, setan kakek-kakek, hingga nenek-nenek, setan anak kecil serba hitam ada, hingga setan yang tidak lengkap anggota tubuhnya pun semua ada, mereka berkumpul di dalam sana.
Dari kejauhan aku masih bisa melihat, nampak masih ada dupa yang menyala di pojokan dekat mesin besar.
__ADS_1
" benar kan! apa yang aku bilang selama ini, ngusir setan pake dupa itu salah, justru mereka senang dengan dengan baunya, Pantas aja Bang Rudi sama Bang Anton gak betah, setan yang munculnya banyak begini, Sok tahu! B*go dia! daripada aku masuk ke sana, terus harus berhadapan dengan mereka, lebih baik aku ke mess, cari kamarnya Bang Syukur." gerutuku meninggalkan ruangan pabrik dan pergi menaiki tangga menuju mess.
Aku tepat di depan pintu kamarnya Bang Syukur sekarang, Meski kamarnya di kunci, aku masih bisa masuk dengan cara menembus pintu.
" Waduh! ini kamar apa warung! banyak sekali persediaan makanannya, dari makanan berat hingga makanan ringan ada semua, bahkan minuman kaleng sampai minuman keras juga ada. Ckckckck... Padahal ini masih tanggal tua, tanggal gajihan juga masih lama, dia dapat uang dari mana untuk membeli ini semua.." gerutuku sambil merogoh saku celana mencari ponselku untuk memotret situasi kamar sebagai bukti.
" Duh b*go! aku kan sekarang lagi jadi mode mahluk halus, mana ada mahluk halus bawa ponsel" keluhku yang baru menyadari jika aku sedang meraga sukma.
"Udahlah, gue yakin ada yang nggak beres sama Bang Syukur.." ucapku curiga, sambil keluar dari kamar dan kembali ke tempat Bang Syukur dan Asep berada.
Ku lihat mereka tengah enak menyantap ayam bakar buatannya, sambil meminum minuman keras.
" Enak kan Sep, elu Deket sama gue, elu bisa makan enak, mabok bareng juga hehehe ." ujarnya.
" Tapi memangnya gak apa-apa Bang, kita berdua begini." cetus Asep merasa bersalah dengan tindakannya.
" Lah, Kan elu udah gue kasih duit dua ratus ribu pas belanja tadi, elu paham nggak. maksud gue ngasih elu duit?" tanya Bang Syukur pada Asep.
Asep menggeleng.
"Gue pengen elu rahasiakan semua ini dari siapapun, cuman elu sama gue yang tahu, kita bagi untung berdua, jadi kita sama-sama menikmati hasilnya, adil kan?" seru Bang Syukur.
" Oh gitu, iya deh Bang, siap.." jawab Asep menyetujuinya.
" Bagus Bang! Elu ngungkapin sendiri niat busuk elu di depanku, sekarang aku yakin elu emang seorang dukun penipu." ucapku
"Ternyata selama ini dugaanku benar, Aku juga sudah membuktikannya, aku juga sudah mendapatkan fakta dari penuturan kesaksian Bang Anton dan Bang Rudi tentang kelakuannya, di tambah sekarang Asep dia bahkan mengetahui rahasia Bang Syukur, besok pagi aku harus sampai pabrik lebih awal, aku harus mendekati Asep setelah ini, tunggu aja Bang, bentar lagi kebohonganmu bakal terungkap."
......................
Pukul setengah enam pagi aku sudah siap, dan hendak pamit pada Dita
" Dita, Aku berangkat kerja sekarang ya."seruku.
"Lho, kok pagi-pagi sekali, baru aja aku mau bikin sarapan." jawab Dita heran.
" Gak usah, bikinin aja sarapan buat Raka sama kamu, aku sarapan di tempat kerja aja." jelasku.
" Kenapa buru-buru banget sih, biasanya juga enggak. Aku bikinin bekal aja ya? aku bikinin yang simple, tunggu sebentar." ucap Dita terburu-buru lari ke dapur.
"Kerjaanku di tunggu hingga siang ini, harus cepat di selesaikan, jadi aku harus berangkat lebih awal, cepetan ya masaknya." tuturku.
" Iya, iya ini sebentar lagi beres." serunya dari dapur.
Beberapa menit kemudian, Dita memberikan bekal untuk makan siang nanti, aku pun pamit dan pergi.
Karena masih pagi sekali, jadi belum terlalu banyak kendaraan, jalanan cukup kosong dan tidak terkena macet, perjalanan memakan waktu satu jam lebih cepat dari biasanya
__ADS_1
Sesampainya di pabrik, keadaan masih terlihat sepi, nampak hanya ada Asep yang sedang membersihkan area tempat kerjanya.
Aku menghampirinya, dia terkejut saat aku tepat berdiri di belakangnya.
"Sep!" panggilku.
"Waa! sep! Asep! I.. Ya..Gue Asep! jawabnya latah dan kaget, sampai sapu yang di pegang olehnya terjatuh.
Aku menahan senyum melihatnya.
"Eh, Bang Nandy! kenapa bikin kaget sih Bang, gue kira setan yang manggil." ujar nya kesal.
"Bang Syukur mana?" tanyaku langsung.
" Dia masih tidur Bang di kamarnya." jawabnya sambil kembali meraih sapunya yang terjatuh.
" Cih, bukannya kerja, malah enak-enakan tidur." gerutuku di depan Asep.
" Katanya kecapean sih Bang." timpal Asep kembali menyapu.
" Kecapean habis ngapain coba, Bukannya semalam elu sama dia bakar-bakar ayam sambil mabok." sindirku pada Asep.
Asep yang mendengar ucapanku seketika kaget dan berhenti menyapu.
"Lho! Bang Nandy tahu dari mana kalau semalam bakar-bakar?"tanya Asep dengan wajah heran.
" Tahu aja lah." jawabku singkat sambil berlalu ke ruangan kerjaku.
Refleks Asep mengikutiku, nampak Asep sedang berpikir keras.
"Oh, pasti Bang Nandy tahu, karena lihat sisa-sisa kayu bakar sama tulang ayam di dekat gerbang ya?" Asep menduga
"......" aku hanya diam tak menjawab.
" Eh, tapi perasaan selesai makan, kami langsung bersihkan semuanya, bahkan udah di buang ke pembuangan sampah utama." ucap Asep menjawab pertanyaannya sendiri.
" Bang serius loh ini, Bang Nandy tahu dari mana?" tanya Asep terheran-heran lagi.
" Gue juga tahu, elu sama Bang Syukur udah sekongkol buat nipu si Bos kan? Ayam yang kemarin tuh bukan ayam cemanik tapi ayam kampung hitam biasa kan? bahkan Bang Syukur sampai ngasih uang tutup mulut senilai dua ratu ribu ke elu. Kenapa elu mau aja sekongkol sama penipu Sep!" tuturku tegas pada Asep.
Nampak Asep begitu syok mendengar penuturanku, dia tampak menelan ludahnya sendiri saking terkejutnya.
"Kok, Bang Nandy bi..bisa tahu.. Bang Nandy kan ng...gak ada di pab..rik, jelas-jelas semalam.. cuman ada saya.. sama Bang Syukur berdua." jawabnya mulai terbata-bata.
" Menurut elu, kenapa gue bisa tahu?" tanyaku balik.
......................
__ADS_1