
Tidak ada kasus yang begitu berat yang aku alami selama beberapa Minggu terakhir ini. Hanya sekedar mengusir jin penganggu di rumah beberapa warga, ada juga tugas mengusir jin yang menempel pada tubuh seseorang, yang membuat mereka jatuh sakit.
Malam ini aku tengah mengaji selepas sholat di kamar, sementara anak dan istriku sudah terlelap.
Dengan suasana hening karena anak-anak sudah tertidur, aku jadi bisa fokus mengaji, namun saat tengah mengaji, terdengar suara ketukan pintu.
Jam menunjukan pukul sepuluh malam.
Tok.. Tok.. Tok
" Siapa yang mengetuk di jam segini?" gumamku sambil berjalan menuju ruang tamu.
" Assalamualaikum.." ucap seseorang dari luar.
"Walaikumsalam." jawabku.
itu sih, suara si Iman, ada apa ya? Biasa nya dia selalu kasih kabar sebelum datang kemari.
Aku pun membuka kunci pintu dan menyambutnya. saat ku lihat wajah iman tersirat ada kesedihan, cemas dan takut namun seolah dia sengaja menutupinya dariku.
" Woah, Iman, kemana aja lu? gimana kabarnya? Kirain gue setan lho, yang ketuk-ketuk pintu tadi ternyata elu yang datang." ucapku.
"Parah lu, masa gue di kira setan. Alhmdulilah bah gue baik, elu gimana sekeluarga?" tanya Iman balik, dan bersikap seperti biasa, kami berpelukan sesaat melepas rindu sesama sahabat yang cukup lama tidak berjumpa.
" Hehehe sorry man. Alhmdulillah Baik man, Ya sudah ayo masuk dulu." ajak ku.
" Memang nggak apa-apa gitu? Takutnya ganggu istri dan anak lu bah." ujar Iman merasa canggung.
" Nggak lah, istri sama anak sudah tidur di kamar, tumben banget ngomong begitu, biasanya elu kalau kemari nggak ingat waktu." ujarku sedikit mengejeknya.
" Hehe iya ya" jawabnya yang baru menyadari memang dirinya terkadang seenaknya.
" Sebentar ya gue buat kopi dulu." ucapku.
" Eh, nggak usah repot-repot bah, kalau bisa sama cemilan ya, keluarin aja semua." canda Iman.
" Ah, sayang man kalau cemilan gue di keluarin, elu kan tukang ngabisin makanan orang, gue ada banyak tuh biji salak, nggak akan habis- habis kalau di makan, Mau?"jawabku bergurau dengannya.
"Ogah bah, elu tempelin aja tuh biji salak sama hidung lu, biar nggak kelihatan pesek. Hihihi." gurau Iman.
" Hahaha, Kampret lu!" jawabku sambil pergi ke dapur.
Setelah beberapa menit, aku pun membawa nampan kopi dan kue kering untuknya.
__ADS_1
" Kemana aja lu, sibuk? Sampai jarang kontak, biasanya elu kalau datang ke sini suka telepon dulu." ujarku sambil menurunkan semua isi nampan di meja.
" Itu dia bah, Sorry ya gue tiba-tiba datang kesini, sebab gue nggak sempat kabarin elu, gue tuh habis pulang kampung, terus buru-buru balik lagi ke kota buat ketemu elu." ujarnya terus terang.
" Hah? Dari kampung langsung kemari! Ada apa memangnya sampai buru-buru begitu, memang sih gue orangnya ngangenin, tapi kalau kangen nggak usah sampai segitunya, Man." gurauku.
"Ew, najis lu." ucap Iman bergidik merinding.
" Gue kira elu sibuk sama kerjaan, ternyata elu balik ke kampung." jawabku.
" Iya Bah." Jawab Iman nampak berpikir.
" Memangnya ada apa sih? sampai elu pulang ke kampung dadakan, balik ke kota juga dadakan." tanyaku penasaran.
" Gue habis jenguk paman gue di kampung, dia sakit parah bah." jawabnya Inan.
" Astagfirullah , sakit apaan?" tanyaku.
" Nah. Itu dia alasan kenapa gue langsung kemari, gue berharap elu bisa nolong paman gue bah." jawab Iman.
"Coba elu cerita lebih detail, memang dia sakit apa?" jawabku.
" Entahlah bah, gue bingung, menurut medis mereka bilang belum bisa menemukan penyebab apa yang terjadi pada tubuh paman gue, gue sempat curiga itu bukan penyakit biasa, soal nya beberapa kali gue nemuin belatung dan binatang melata di tempat tidurnya, jadi sengaja gue bawa semua paranormal di kampung gue buat lihat keadaan paman. Mereka bilang paman gue kena guna-guna." tutur Iman.
" Dia hanya terbaring lemah bah, buat duduk saja dia kesulitan, apalagi kulitnya yang melepuh bah, merah seperti luka bakar yang masih baru, bahkan saking melepuhnya, Dia nggak bisa berpakaian, jika dia berpakaian, kulitnya akan menempel pada pakaian tersebut, apapun jenis kainnya tetap saja menempel. Jadi untuk waktu yang lama tubuhnya hanya bisa berbaring di atas daun pisang yang menutupi badannya juga." tutur Iman dengan ekspresi sedih.
Aku hanya bisa terdiam terkejut mendengar ceritanya.
" Menurut penglihatan elu gimana bah? Sama nggak sama penuturan paranormal di kampung gue? Dan sayangnya dari semua paranormal itu, nggak ada satu pun yang sanggup mengobatinya, pernah ada satu paranormal yang berani, namun baru saja memulai pengobatannya di awal, dia tiba-tiba jatuh sakit dan harus di rawat di ICU. Makannya gue langsung teringat sama elu, jadi dari kampung gue buru-buru ke sini. Ya, gue juga sebenarnya malu bah, lagi-lagi gue minta bantuan elu, malam-malam begini bertamu." tutur Iman merasa tidak nyaman.
" Ya elah, elu kaya yang baru kenal gue sehari aja. Nggak usah canggung begitu Man, selama gue sanggup buat bantu elu, gue bakal bantu kok, apalagi masalah hal mistis begini sudah jadi tanggung jawab gue. Lihat elu jadi orang nggak enakan, malah aneh gue." jawabku.
" Parah lu bah, itu artinya gue lagi coba berubah jadi orang lebih baik, sanjung dikit kek." gerutu Iman.
" Hahaha, iya.. Iya.. Sori." candaku padanya.
" Jadi gimana Bah, kira-kira elu bisa nerawang kondisi paman gue nggak? Kelihatan nggak?" tanya Iman.
Namun saat aku hendak menerawang, tiba-tiba.
BRAK!
Pintu rumah yang sedari tadi terbuka lebar saat Iman datang, tiba-tiba terbanting dan tertutup dengan sendirinya.
__ADS_1
" Astagfirullah!" ucap Kami berdua yang terhentak kaget.
Kami sejenak terdiam, dan bertukar pandang. Sesaat keheningan terjadi. Iman merasa bulu kuduknya berdiri.
" Kok bisa Bah pintu ke tutup sendiri begitu, keras pula, padahal nggak ada angin yang berhembus." ucap Iman mulai cemas.
" Sepertinya orang yang mengganggu Paman lu itu tahu, kalau gue berniat bantu Paman lu." ujarku.
" Hah? Tunggu.. jadi maksud lu orang yang kirim guna-guna ke paman gue itu dukun? Terus dukun itu tahu kalau elu mau nolong Paman gue gitu?" Tanya Iman memastikan.
Aku mengangguk.
" Kok bisa? padahal gue nggak pernah cerita ke siapapun kalau gue mau minta tolong ke elu bah, ini kan kota, bukan kampung tempat tinggal paman gue, masa dukun itu bisa tahu sih, apa jangan-jangan ada orang yang ngikutin terus mata-matain gue sampai ke sini lagi." ucap Iman was-was bergidik ketakutan sambil mengintip keluar lewat jendela.
" Nggak gitu juga Man, pikiran elu ke banyakan nonton film aksi sih." keluhku.
"Cih, suka-suka lah, bisa aja cerita film itu kejadian sama gue kan, gue juga harus waspada kudu jaga-jaga bah. " gerutu Iman.
"Cih lagaknya elu mau jadi bintang Hollywood, elu tuh cocoknya jadi pemeran figuran atau tukang siomay yang nggak sengaja ke rekam di film." gurauku mencairkan suasana agar Iman terlihat cemas tadi lebih santai.
"Perasaan kita jarang ketemu Bah, pas ketemu kok elu tambah ngeselin ya. Apa gue balik aja gitu." gerutu Iman.
" Lah, elu nggak sadar elu juga tambah rese, balik ya tinggal balik, nanti juga itu pintu itu kebuka dan tebanting sendiri kaya tadi" jawabku sedikit menakuti Iman.
" Kampret lu ah!" ejek Iman melempar topi kupluknya ke arahku.
" Masa elu nggak ngerti, Itu artinya dia bukan dukun sembarangan. Dia juga bisa menerawang kaya gue, kayaknya kejadian tadi sebuah peringatan buat gue untuk tidak ikut campur permasalahan antara dia sama Paman elu, atau bisa juga ada seseorang yang nggak suka sama Paman lu, lalu bertindak lewat dukun itu."Tuturku.
"Ohh, berarti ucapan paranormal itu benar dong, kalau paman gue di kampung kena guna-guna?" tanya Iman Memastikan.
" Jika di lihat dari sakit parah yang di alami paman lu, Lebih tepatnya, dia itu terkena teluh." tuturku.
" Teluh? jadi bukan guna-guna? Memang apa bedanya? Bukannya sama aja." jawab Iman.
" Duh, Iman, Iman.. B*go elu pelihara, pelihara tuh kambing kek, sapi kek, biar jadi ternak." keluhku menepuk jidat.
" Bah, elu mau rasain helm gue ngejitak kepala lu nggak?" tanya Iman dengan wajah yang mulai kesal.
" Hahaha, nggak man makasih, elu aja duluan nanti baru ceritain ke gue gimana rasanya." ucapku tertawa terbahak-bahak.
"Si Abah sialan." ejek Iman kesal.
Aku hanya menahan tawa, melihat wajahnya yang kesal dengan guyonanku, untunglah dia tidak terlalu panik dan cemas seperti tadi.
__ADS_1
......................