Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Bab 2. Lilis


__ADS_3

Pukul sepuluh malam di sebuah rumah di perumahan.


Seorang Ayah, Pak Budi namanya.


Sedang menonton televisi di ruang keluarga sambil menunggu kepulangan putrinya yang pergi bekerja bernama Lilis.


Jam sudah menunjukan sepuluh lewat tiga puluh menit.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tanpa curiga, beliau mengira putrinya sudah pulang.


"Tunggu sebentar Lis." ucap beliau beranjak dari kursi menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Namun, saat pintu di buka, Tidak nampak Lilis di sana. Pak Budi celingukan dan bingung


"Lis?" panggil Pak Budi. Sambil berjalan keluar, mencari Lilis di sekitar halaman rumah.


" Lilis kemana? Bukannya yang tadi ketuk pintu itu Lilis, jam segini kan memang sudah waktunya pulang kerja, tapi Lilis kok tidak ada.." lirih beliau sejenak termenung.


Tiba-tiba.


WUSH!!


Dari arah belakang Pak Budi, muncul sekelebat bayangan melintas masuk ke dalam rumahnya.


Seketika Pak Budi kaget dan menoleh.


Pak Budi melihat Lilis sudah ada di ruang tamu, sedang berdiri membelakanginya.


"Lho Lis tadi kemana? Bapak cari kamu di halaman depan, eh sudah masuk saja." ucap Pak Budi berjalan masuk ke rumah.


" Biasanya kalau pulang kamu suka mengucap salam, tadi cuman ketuk pintu aja, pasti tadi kamu sembunyi dan niat jahilin bapak ya kan?" tebak Pak Budi pada Lilis sambil mengunci pintu


Hening...


Pak Budi bingung kenapa Lilis diam saja, tidak membalas ucapannya. seketika Pak Budi langsung menoleh, Lilis yang sedari tadi berdiri membelakanginya sudah tidak ada.


" Lho! Lis? Lilis?!" panggil Pak Budi Mencari keberadaan Lilis.


Dari pintu ruang tamu, Pak Budi melihat Lilis berbelok menuju kamarnya.


" Duh, ada-ada aja kelakuan si Lilis bisa-bisanya bikin bapaknya kagetan seperti ini, tapi tumben juga hari ini dia diam saja, biasanya dia suka menanyakan anaknya, sudah tidur atau belum, tapi kali ini tidak." lirih Pak Budi nampak memikirkan sikap Lilis yang Aneh.


"Lis! bapak sudah kunci pintu, Bapak mau pergi tidur. kalau kamu mau keluar, kuncinya bapak taruh di atas meja dekat pot bunga ya?" teriak Pak Budi yang menduganya ucapannya terdengar oleh Lilis dari kamarnya.


Suasana Hening.


"Kok Lilis nggak menyahut. Apa mungkin dia sudah tidur, kok hari ini dia aneh ya? hmm.. Ah, sudahlah, mungkin dia terlalu lelah bekerja." ujar Pak Budi mencoba berpikir positif.


Setelah mengunci pintu dan menyimpan kunci di meja, Pak Budi pun masuk ke kamarnya untuk pergi tidur.


......................


Di kamar adiknya Lilis, tidak biasanya Iwan terbangun dari jam tidurnya.


Iwan mengerjap matanya dan menoleh untuk melihat jam, di lihatnya waktu menunjukan pukul tiga dini hari.


"Hoaamm.. Masih jam tiga malam.. Ku kira sudah waktu subuh." keluhnya, Iwan pun mencoba tidur kembali, sambil mengubah posisi tidurnya membelakangi ruangan dan pintu kamar.


Dalam setengah mengantuk, Iwan sayup-sayup mendengar suara seseorang yang memanggilnya dari belakang.


"Wan... Iwan..."


"Mmh.. siapa? Ini masih malam aku mau tidur lagi" ucapnya dengan malas.


" Iwan..."


"Siapa sih?! Ada apa?!" ucapnya setengah kesal, lalu Iwan pun menoleh


"Astagfirullah!" seru Iwan kaget dan sontak beranjak duduk.


" Kak Lilis! kenapa Kakak tiba-tiba masuk ke kamarku? ketuk pintu dulu dong, Aku kan jadi kaget." keluh Iwan.


Lilis nampak diam saja berdiri menghadap Iwan sambil menunduk.


" Ada perlu apa kak? aku masih ngantuk nih." ujar Iwan melihat sosok kakaknya yang tengah berdiri mematung di depannya


"Jemput kakak.."


"Hah? Jemput? Jempu kemana? Kakak kan sudah di rumah, Kakak ngawur nih, itu seragamnya aja masih kakak pakai, ya berarti sudah pulang kan. sudah ah, aku ngantuk nih." jawab Iwan sedikit kesal dengan kakaknya yang berbicara aneh.


"Tolong wan.."


"Tolong apa? memangnya kakak butuh bantuan apa?" tanya Iwan mulai heran.


"Jemput wan.."


" Kak Lilis bicara apa sih?! jangan bercanda deh, ini masih masih malam lho kak, Jemput kemana coba, kakak kenapa sih?" Iwan mulai kesal pada kakaknya.


" Sakit wan... Sakit.."


" Sakit? Sakit apa? kakak kenapa?" Iwan mulai cemas yang melihat Lilis yang hanya terus menunduk.


Lilis terdiam.


" Kak?!" tanya Iwan mulai fokus memperhatikan sikap kakaknya yang aneh.


Hiks... Hiks.. Hiks .. Tiba-tiba Lilis menangis.


" Lho! Kakak kenapa? Aku salah bicara? Maaf maksudku..


Tiba-tina perkataan Iwan tertahan karena suara tawa dari kakaknya.


Hihihi Hihihi...


Dan tiba-tiba tangisnya berubah menjadi tawa yang menyeramkan.


Seketika bulu kuduk Iwan berdiri.


"Kak? Ka..kakak kenapa sih.." Iwan mencoba bertanya kembali meski sedikit takut.


Namun Lilis terus tertawa sambil menunduk. Iwan mencoba mendekati kakaknya. namun saat akan menyentuh pundak kakaknya tiba-tiba..


Kyaaaaaaa!!! Lilis menjerit dan menadahkan wajahnya pada Iwan.


Iwan terkejut, wajah kakaknya sudah hancur, di penuhi darah merah yang segar dengan bau amis yang sangat menyengat.

__ADS_1


"Jemput.. Wan"


"Tolong..."


"Sakit..." lirih Lilis berjalan menghampiri Iwan dengan sangat perlahan dan tangannya yang penuh darah mencoba menggapai Iwan.


Iwan sontak mundur ketakutan, bau amis menyeruak di hidungnya.


"Sakit.." ucap Lilis sambil menunjukan perutnya yang terluka dengan organ dalam yang menjuntai keluar.


" Ja, jangan mendekat, kamu bukan kak Lilis, pergi!" teriak Iwan ketakutan, Iwan berjalan mundur, dan Lilis tetap saja berjalan maju menghampirinya.


Semakin dekat, dekat, dan Iwan semakin tersudut ke dinding.


"Hihi Hihihi"


"Sakit wan..."


"Hiks... Hiks.. Ayo tolong kakak.. Hihi hihihi..." ucap Lilis dengan darah yang terus mengucur terseret di lantai.


"Pergi!" bentak Iwan mencoba melawan.


namun tangannya Lilis mulai meraih tubuh Iwan.


"Aaaaaaaaaa... !!!" seketika Iwan teriak histeris. Hingga membangunkan Ayah dan Ibunya yang tertidur di kamar, Dan Iwan pun jatuh pingsan.


Mendengar suara teriakan Iwan, Pak Budi terbangun, begitu juga Bu Diah Istrinya, mereka saling menatap.


" Teriakan siapa itu bu!?" tanya bapak terkejut.


" Seperti suara Iwan pak!" ujar Bu Diah panik.


" Cepat kita ke kamarnya." ajak Pak Budi.


Mereka berdua pun bergegas menuju kamar Iwan.


Saat membuka pintu kamar Iwan, Bu Diah kaget melihat Iwan tergeletak di lantai kamarnya.


" Astaga! Wan! Iwaaan! Bangun Nak!" teriak Ibunya Panik dan memeluk tubuh Iwan.


" Astagfirullah, ada apa dengannya Bu?!" tanya Pak Budi pada Istrinya.


" Tidak tahu pak, dia sudah begini begitu kita datang, cepat angkat Iwan ke kasur pak." ucap Ibunya yang begitu cemas.


Ibu mencoba membangunkan Iwan dengan menepuk-nepuk pipinya, namun tetap tidak bangun.


" Bagaimana ini pak? Iwan kok nggak bangun-bangun." Bu Diah panik.


" Tunggu, bapak ambil minyak angin, mungkin Lilis punya. Liiss! Lilis!?" panggil Pak Budi.


Melihat suaminya memanggil putrinya, Bu Diah merasa aneh.


" Lilis nggak ada pak, dia belum pulang." ucap Bu Diah.


" Apa?! Bagaimana bisa dia belum pulang!" ucap Pak Budi terkejut.


" Iya Pak! waktu ibu ke kamar mandi tengah malam tadi, Desi sempat terbangun merengek cari ibunya, ibu temenin Desi sampai tidur lagi di kamarnya, benar kok Lilis belum pulang pak." tutur Bu Diah.


" Nggak! nggak mungkin! Jelas-jelas bapa bukain pintu saat Lilis pulang kok, bahkan bapak lihat Lilis masuk ke kamarnya." tutur Pak Budi.


Bu Diah mengerutkan alisnya mendengar penuturan Suaminya.


" Apa yang sebenarnya terjadi." lirih Pak Budi merasa tidak enak hati.


Tiba-tiba Iwan mengerang kesakitan dan dia pun tersadar.


" Wan! kamu kenapa Wan!" tanya Ibu panik.


" Ugh! kepala Iwan pusing Bu." lirih Iwan.


Melihat Iwan sadar, Pak Budi segera menghampirinya.


" Apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba berteriak sampai tidak sadarkan diri seperti itu, kamu kenapa?" tanya Ibunya cemas.


Iwan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan seketika ingatannya muncul teringat jelas.


" Kak Lilis,Bu!" seru Iwan pada Ibunya.


" Lilis?" ibu makin heran.


" Kak Lilis datang ke kamarku Bu, dia pakai seragam kerjanya, tapi... Dia berbeda Bu, seperti bukan kakak, badanya penuh luka dan darah.." tutur Iwan bercerita dengan panik.


Deg!


Pak Budi dan Bu Diah saling menatap lagi, mereka sama terkejutnya dengan penuturan Iwan.


" Mana Kak Lilis Bu? Iwan yakin kak Lilis pasti sengaja jahilin Iwan seperti itu." ujar Iwan kesal.


" Wan...Kakakmu itu belum pulang sampai sekarang." jelas Bu Diah.


" Hah? Mana mungkin, lalu yang tadi datang ke kamar Iwan siapa? i.. ibu jangan bercanda deh, jelas-jelas Iwan Lihat kak Lilis di sini, Iwan yakin Kak Lilis berniat untuk nakutin Iwan dengan kostum yang menakutkan, wajahnya hancur, perut darah , isi perutnya keluar. Mungkin itu kostum."ujar Iwan berpikir keras.


" Stop Wan! Jangan begitu, Kak Lilis benar-benar belum pulang sekarang. Ibu tengah malam tadi, tidur nemenin Desi di kamarnya. memang Lilis tidak ada, kakakmu itu belum pulang." tutur Bu Diah menjelaskan dengan sedikit panik.


" tidak mungkin bu, Iwan tidak percaya, Iwan mau ke kamar kak Lilis buat pastiin." ujar Iwan bangun dari tidurnya dan berlari menuju kamar kakaknya. di susul juga oleh Pak Budi dan Bu Diah.


BRAK!


Suara pintu terbuka dan terbanting dengan keras.


Benar saja, di kamar kakaknya tidak ada siapa pun, hanya kasur kosong tanpa ada yang menidurinya, namun seprai dan selimut berantakan di atasnya.


Iwan hanya diam mematung di ambang pintu. Mencoba mencerna pikirannya.


Tiba-tiba ibu berteriak melihat kamar Lilis yang kosong.


" Desi mana!?" teriak Ibu Panik.


Pak Budi dan Iwan baru menyadari bahwa Desi tidak ada di kamar.


Semua sangat panik mencari keberadaan Desi.


Ibu mencari ke ruang tamu dan dapur, bapak mencari di ruang tengah, dan Iwan tetap mencari di setiap kamar.


" Desi pergi kemana, anak kecil seperti itu mana mungkin berani keluar malam-malam begini." seru Pak Budi.


" Aku bingung Pak, Ini benar-benar tidak masuk akal, jelas tadi ada kak Lilis tapi tiba-tiba dia menghilang sekejap." jawab Budi.


"Bapak juga sama, bapak bahkan sempat membukakan pintu untuk kakakmu, bapak juga kakakmu itu masuk kamar, tapi ibumu bilang dia belum pulang, kemana kakakmu itu pergi? Bapa cemas." keluh Pak Budi.

__ADS_1


Iwan terkejut dengan ucapan ayahnya itu.


" Terus kalau kakak belum pulang, yang bapak dan aku lihat seperti kak Lilis itu siapa?" ujar Iwan makin bingung.


Mereka berdua terdiam nampak berpikir, menyadari ada hal janggal bulu kuduk mereka langsung berdiri.


Tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari kamar Lilis yang pintunya terbuka di depan ruang keluarga.


" Sstt, dengar itu? Ada yang menangis Wan." lirih Pak Budi mengingatkan Iwan


" Suaranya dari kamar kakak, pak." jawab Iwan yang juga mendengarnya.


Keduanya segera berlari ke kamar Lilis, dan kembali mencari asal suara tangis itu disana.


Dan suaranya semakin jelas, saat mendekati sebuah lemari.


" Pak, disini!" Iwan berbisik pada ayahnya.


Pak Budi pun mengangguk dan menyuruh Iwan untuk segera membuka pintu lemari.


Dengan berani Iwan membuka pintu lemari. Dan Mereka pun terkejut, ternyata Desi ada didalam sana, dia duduk sambil menutup mata, seolah ketakutan.


" Desii... !!" seru Iwan dan Pak Budi yang terkejut.


Melihat Iwan dan Pak Budi, sontak membuat tangis Desi pun pecah, dan Bu Diah yang mendengar tangisan Desi segera berlari menghampiri kamar dengan panik.


......................


Beberapa menit kemudian.


Tangis Desi pun reda, setelah di peluk dan di tenangkan oleh Bu Diah neneknya.


" Desi sayang kenapa? kenapa nangis?" tanya Bu Diah membujuknya untuk bercerita.


" Desi kangen Mama, Nek, kenapa Mama belum pulang-pulang?" tanya Desi polos.


" Mmm, Desi mungkin mamamu belum pulang, karena.. bisa saja di tempat kerja mama, banyak yang harus di kerjakan. Jadi Desi jangan cemas, setelah kerjaan mamamu selesai pasti pulang. lebih baik Desi kembali tidur di kamar, hari masih gelap, nanti saat Desi bangun, pasti mamamu sudah pulang." ucap Bu Diah menenangkan Desi.


" Enggaaak.. Hiks.. Desi nggak mau tidul di kamal, nggak mau... huuuhuu..." ucap Desi sambil menangis lagi.


" Lho kenapa nggak mau?" Tanya Bu Diah.


" Desi.. Hiks... Desi takut nek." jawabnya pelan.


" Takut kenapa sayang, kan nenek temenin Desi tidur." bujuk Bu Diah.


" Pokoknya Desi Nggak mau tidul di Kamal." Rengek Desi.


" Iya, iya tapi alasannya kenapa? pasti ada alasannya kan Desi nggak mau tidur di kamar, ada apa? coba cerita, terus tadi juga Desi masuk lemari, kenapa?" selidik Bu Diah.


Desi terdiam nampak ragu menceritakan.


" Gak apa-apa Desi, kan ada om jagain Desi, coba kenapa Desi sembunyi disana, om pengen tahu." bujuk Iwan.


" Mmm.. di kamal Desi, ada mama om." ujarnya.


Deg!


Semua orang terkejut. Namun Iwan coba tetap tenang agar Desi tidak ikut takut.


" Kok takut sama mama?" tanya Iwan.


" Desi yakin itu bukan mama om, pelempuan itu cuma milip. Dia selem banget, Desi... Hiks.. Desi takut, badannya semuanya berdarah banyaaak. Huuuuhuuu..." tangis Desi kembali pecah.


Deg!


Lagi-lagi semuanya terkejut mendengar penuturan Desi.


Apalagi Iwan, cerita Desi mengenai kakaknya sama persis dengan yang di alaminya tadi.


Bu Diah mencoba menenangkan Desi kembali, semua hanya diam termenung dalam pikirannya masing-masing dan tak lama Desi pun tertidur di pangkuan neneknya.


"Pak, bu Firasatku nggak enak, mengenai kakak." cetus Iwan.


" Berdoa saja semoga kakakmu baik-baik saja wan. Jika nanti malam kakakmu masih belum pulang, kita akan lapor ke polisi untuk membantu mencarinya." tukas Pak Budi.


Semua pun mengangguk tanda setuju.


......................


Beberapa hari kemudian.


Setelah kejadian Rusli selesai, Aku dan Iman sudah jarang sekali berkomunikasi lagi. karena, memang kami punya kesibukan masing-masing.


Entah kebetulan atau apa, baru saja mengingatnya, Iman tiba-tiba menelepon. tanpa lama-lama aku langsung mengangkatnya.


"Halo. Man?" ucapku


"Halo. Bah, wah gimana kabar lu Bah, sehat?" tanya Iman di balik telepon.


" Alhamdulilah baik Man, bagaimana kabar lu?" sapaku jawabku


"Alhamdulilah baik bah, sudah lama kita jarang bertemu bah, dasar orang sibuk hahaha." ujar Iman.


" Iya man, kerjaan sedang banyak-banyaknya." jawabku.


" Oh, ngomong-ngomong hari ini elu sibuk gak? gue ada perlu nih...hehehe." ucap iman malu.


"Biasanya kalau ada perlu, elu langsung datang ke rumah, tumben-tumbenan di telepon." cetusku.


"Hehehe, itu dia bah saya belum bisa berkunjung ke rumah lu, sekarang saja gue lagi di luar, sekalian jalan-jalan tadinya malah ketemu teman lama jadi lama berbincang, Nanti deh selebihnya gue cerita, sekalian gue bawa orang nya. katanya dia ada perlu sama elu bah, Boleh tidak kira-kira?" tanya Iman.


"Oh,ya boleh aja Man, tapi.. paling malam hari gue ada di rumah, sebab sore ini gue ada perlu." Tanyaku memastikan.


"Mmm gitu, ada pasien ya Pak dokter" goda Iman


"Ya gitu man, cuman minta bantuan dalam hal kecil Man, tidak terlalu berat.." jawabku.


"Oke, kalau gitu. Nanti malem gue ke rumah elu ya! sama temen gue itu." seru Iman


"Oke, gue tunggu." jawabku


Kami pun mengakhiri telepon kami.


Sepertinya akan ada permasalahan serius nih Si Iman sampai ingin mempertemukan gue sama temennya seperti ini.


Ada apa ya?


......................

__ADS_1


__ADS_2