
"Awaaaaasss imaaann!" teriakku.
dan..
BRAK !
Motor kami menabrak pembatas jalan, dan menyangkut di antara dua pohon pinus yang cukup besar menjulang tinggi di tepi jurang.
Sebelum motor menabrak pembatas jalan, tubuhku dan Iman terdorong ke samping, sehingga kami tersungkur di bahu jalan, dan untunglah kami selamat.
"Anom! Bangun Anom! kamu tidak apa-apa?" seru Ki Sugro.
" Aduuh! Tubuhku sakit sekali! Apa Aki yang selamatkan kami?" ucapku menahan sakit.
" Yaa, untung saja Aki tepat waktu menyelamatkan kalian. Klewing itu sudah merasuki tubuh temanmu!" Beber Ki Sugro.
"Apa! Pantas saja Iman aneh! Tapi terima kasih banyak, Ki berkat Aki kami masih bisa selamat kalau nggak ada Aki entah bagaimana nasib kami. Tapi kenapa aku tidak merasakan energi kehadirannya?" tanyaku.
"Dia itu bukan mahluk sembarangan, kamu harus selalu waspada Anom! Dia lawan yang kuat." tutur Ki Sugro.
"Baiklah Ki." jawabku.
Iman pun tersadar dari pingsannya.
"Uuuhh, sakiit, Ada apa ini? Kenapa kita ada disini? ini dimana Bah?" tanya Iman linglung.
Aku menghampiri Iman yang terduduk beberapa meter dariku, dengan jaket dan celana yang robek juga keningnya yang berdarah karena sedikit tergores, tak salah jika tubuh kami semua terasa sakit karena hantaman keras saat terjatuh tadi.
"Elu gak kenapa-napa kan, Man? ada luka yang parah nggak?" ucapku mencoba membantunya berdiri.
"Nggak ada, cuman lecet dikit, Bah. Tapi ini dimana? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Iman yang sedikit merintih.
"Barusan kita kecelekaan Man." sahutku.
"Kecelakaan! Beneran?" tanyanya seakan tak percaya.
" Ya beneran! lu pikir nyeri di tubuh elu ini boongan!" jawabku memukulnya di area tubuhnya yang sakit.
"Aw.." ucap Iman sambil berkedip tak percaya.
"Gara-gara elu kerasukan Klewing, elu bawa motor kaya pembalap Rossi, Kita hampir nabrak mobil tronton! Tapi untungnya kita masih selamat, Kita langsung terjatuh sebelum masuk ke jurang. Tuh! motor elu nyangkut di sana!" sahutku menunjuk ke motor yang tersangkut di antara kedua pohon pinus
Imah melongo kaget.
" Anj*** motor gueeee!" Iman berlari menghampiri motornya seakan semua sakit di tubuhnya hilang seketika.
Kami berdua pun perlahan dan berhati-hati menarik motor yang tersangkut itu.
Motor nya hanya patah di bagian spion dan penyok di bagian bodynya.
Tapi untunglah motor itu masih menyala saat Iman mencoba menghidupkannya.
Alhamdulilah, tuhan masih menolong kami, kami hanya luka ringan dan motor juga tidak rusak parah, kami masih selamat dan bisa kembali pulang.
" Elu tadi bilang, gue kerasukan Klewing?' tanya Iman tiba-tiba.
" Iyaa.. elu gak ngerasa ada yang aneh gitu sama elu sendiri sebelum balik dari rumah si Dimas?" tanyaku lagi.
"Nah, Itu dia Bah! di rumah Dimas gue terus-terusan denger suara aneh, di telinga gue kaya ada yang bisikin sesuatu, tapi apa gituuu... gue nggak inget." jawabnya.
__ADS_1
"Oh, kayanya elu udah di rasukin pas masih disana, pantesan, elu gue tanya gak nyahut-nyahut diem terus. Justru elu malah bawa kita ke jalan yang bahaya kaya gini, pake acara ngebut lagi." jelasku.
"Sori Bah! pas udah denger bisikan itu, gue nggak inget apa-apa, gue juga nggak inget kalau gue bawa motor ngebut." ucap Iman heran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ya udahlah, Man. Gue paham kok, kondisi elu. Sekarang gimana? elu masih kuat buat bawa tuh motor? Kita harus buruan balik nih." ajakku.
"Iya bisa Bah, tenang aja gue cuman lecet dikit." ucap Iman sambil menyalakan motornya.
Kami pun pulang dengan Hati- hati meski terkadang motor yang kami naiki mati mendadak. Tapi akhirnya kami bisa pulang dengan selamat sampai rumah.
......................
Dengan kondisiku yang sedikit pincang karena kecelakaan, sampai di rumah, Dita yang melihat keadaanku begitu panik.
"Astagfirullah! kamu kenapa? kenapa jalannya pincang begitu? kenapa ada memar di dahi kamu? kenapa pakaianmu juga kotor? apa yang terjadi? kamu gak apa-apa kan,Yah?" ucap Dita menghujaniku dengan banyak pertanyaan.
" Aku sama Iman tadi kecelakaan di jalan, tapi gak parah kok, cuman lecet aja, Mah." jawabku.
"Kok bisa? gimana ceritanya? kenapa gak hati-hati sih kalau bawa motor." cecar Dita sambil mengambil P3K dari lemari.
"Ceritanya panjang, nanti aku ceritain. Bisa nggak tolong siapkan air hangat lebih dulu, aku mau mandi." ucapku.
"Oh iya, iya. Tunggu di sini." ucap dita berlari ke dapur.
Setelah membersihkan diri, Dita langsung mengobati luka di tubuh dan di dahiku.
Sementara Dita membereskan P3K, Aku merebahkan diriku di atas karpet tebal.
Tiba-tiba ponsel ku berbunyi.
Hah? Dimas telepon? ada apa ya?
"Halo, Dim ada apa?" tanyaku langsung.
"Bah! tolong Bah! Ayahku.. Dia.. tiba-tiba berteriak kesakitan, aku harus bagaimana?" tuturnya panik.
"Astaga! Tenang Dim, jangan panik. Coba kamu mengaji lagi seperti tadi dekat ayahmu. Kita lihat sakitnya hilang tidak?" tuturku
"Sudah Bah! Saya sudah coba mengaji tadi dan membacakan semua do'a, tapi tetap saja ayah kesakitan." tutur Dimas.
"Aaaaa!!! Ampun sakittt! Dimaaass.. ! Tolong Bapaaak!" teriak Pak rizal yang terdengar olehku di balik telepon.
"Bapaaaak !" teriak Dimas.
Dan telepon pun terputus, membuatku semakin mencemaskan keadaan Pak Rizal.
Namun ponselku kembali berbunyi. Bukan Dimas yang menelepon melainkan Iman .
Iman?
"Ya, Man? Ada apa?" tanyaku
"Bah! Tolongin gue Bah! Ada yang aneh sama gue" ucap Iman panik.
"Aneh gimana?" tanyaku balik.
"Kaki gue gak bisa di gerakin, Bah. Terus ada suara bisik- bisik di telinga gue." ungkap Iman.
"Astagfirulloh! Ada apa ini sebenarnya. Tadi Dimas sekarang elu. Coba lu berdoa sebisa mungkin sambil tunggu gue dateng, gue otw ke rumah lu sekarang." jawabku.
__ADS_1
"Iya, Bah cepetan, Gue udah gak kuat".ucap Iman.
Dan Iman pun mematikan teleponnya.
Kini aku bingung, harus mulai dari mana dulu, sementara tubuhku kini masih terasa sakit, akibat kecelakaan tadi.
Padahal Iman dan Dimas saai ini membutuhkan pertolonganku.
Saat aku hendak bersiap, lalu memakai jaket. Dita panik berteriak memanggilku dari kamarnya.
"Yah! Raka Demam! Badannya panas banget. Obat penurun panasnya habis, Bagaimana ini?!" Sahut Dita cemas.
"Allahuakbar! Kenapa tiba-tiba dia bisa sakit? dia gak salah makan kan?" jawabku mulai cemas juga.
"Nggak kok, dia cuma makan sup yang aku buat, kalau gara-gara sup mungkin aku juga sakit." jawab Dita..
" Hiks.. Hiks.. Mamah, aku pusing.. terus dingin." keluh Raka menangis dengan tubuh menggigil dan demam masih tinggi.
"Gimana ini? Aku khawatir, Yah!" ucap Dita makin cemas.
"Temenin dulu! Aku akan beli obat penurun panas ke apotek 24 jam dekat sinj.." ucapku menghimbau pada Dita.
Dita mengangguk dan pergi ke dapur dan menyiapkan air kompresan untuk Raka.
Sementara aku sedang bersiap hendak keluar membuka pintu.
Tiba- tiba.
Anak keduaku Rayi yang tengah tertidur lelap, dia menangis sangat kencang.
Sontak aku tak jadi membuka pintu, dan kembali ke kamar melihat keadaan anak-anak ku.
Ku dapati Dita sudah di kamar.
" Yah, tolong kompresin Raka, aku repot Rayi tiba-tiba kebangun dari tidurnya." sahut Dita mencoba menenangkan Rayi sambil menggendongnya.
Aku pun mengompres Raka. Yang suhu demamnya mulai naik lagi.
Bagaimana Ini? Anak-anakku membutuhkan aku disini, sedangkan Iman dan Dimas juga butuh pertolongannku Di sana.
Aku memberikan segelas air yang sudah ku bacakan doa untuk Raka.
Tiba- tiba.
BLAGH!!
Ada suara hantaman benda keras yang terdengar di atap rumah, Sontak membuat Aku dan Dita kaget.
"Apa itu, Yah?" ucap Dita mulai ketakutan.
"Ini minumkan air ini dulu lalu usapkan ke seluruh tubuh Raka dan Rayi. Aku akan mengecek ke ruang tengah." himbauku menyodorkan gelas berisi air padanya dan keluar kamar menuju ke ruang tengah.
Aku tahu suara itu adalah suara yang di akibatkan dari benturan energiku dengan energi yang jahat yang hendak menerobos masuk ke rumahku, namun terhalang oleh pagar gaib yang aku buat.
Aku mencoba duduk bersila di ruang tamu, mencoba bermeditasi, untuk menguatkan pagar gaibku yang aku buat untuk melindungi keluargaku.
Tiba-tiba Dimas kembali menghubungiku, dan seketika itu membuat fokusku buyar.
......................
__ADS_1