Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Selamat


__ADS_3

Aku terus berusaha mendekati suara adzan sambil memapah Iman.


Di tengah hutan ini dari kejauhan ku lihat sebuah mesjid megah yang bersinar, dan suara lantunan adzan itu pun berhenti.


Alhamdulillah ada mesjid disini...


Tanpa banyak berpikir aku segera berjalan menuju mesjid itu, jarak nya kurang lebih 100 meter, mesjid itu berada di atas bukit. sehingga dengan mudah dapat terlihat dari sini.


"Ayo Man! Kita harus menaiki bukit itu,agar bisa sampai ke mesjid di sana." ajakku


"Kok bisa Bah, di tempat setan kaya gini juga ada mesjid?" ucap Iman heran


"Bisa saja kan? tidak semua jin itu jahat, siapa tahu ada yang mau menolong kita disana sekalian kita sembahyang memohon pertolongan pada sang kuasa." tuturku


Aku dan iman segera menaiki bukit walupun tidak terlalu tinggi, tapi kondisi tanah yang licin dan berlumpur membuatku harus berhati-hati agar tidak tergelincir.


Melihat mesjid itu, Iman yang ingin segera pulang menjadi harapan besar baginya, dia begitu bersemangat sehingga melepaskan peganganku dan berusaha untuk menaiki bukit itu sendiri secara perlahan.


"Hati-hati Man! tanah nya licin." seruku mengingatkan


"Iya gue tahu bah, gue pengen cepet-cepet nyampe sana." tutur iman penuh semangat


Kami hampir sampai, terlihat jelas Bangunan mesjid itu begitu indah dan megah dengan kubah emas dan cahaya lampu yang begitu terang.


Aku dan iman seperti mendapatkan semangat baru bahkan panik kami berubah menjadi ketenangan.


Namun saat kami sedikit lagi tiba di sana, terdengar suara-suara dari arah belakang kami.


Ada suara tangisan, teriakan Bahkan ada yang melarang kami agar tidak mendekati mesjid itu.


"Jangan coba-coba pergi kesana! Kalian harus menjadi penghuni alam ini!" ucap salah satu sosok di belakang kami.


Aku dan Iman penasaran sehingga menengok ke belakang.


Dan memang benar dugaan ku, ada beberapa makhluk menyeramkan yang mengikuti kami dan mencoba menghalangi kami untuk tidak ke mesjid tersebut.


"Hiii, Abah mereka datang lagi! mereka mengikuti kita sampai kemari, bagaimana ini?ucap Iman takut dan panik.


"Biarkan saja mereka, jangan terlalu memperdulikan hasutan mereka, hiraukan saja Man, lebih baik kita fokus untuk sampai kesana." bujukku.


Aku dan iman kembali melanjutkan berjalan mendaki ke arah mesjid itu, namun rasanya kali ini terasa begitu jauh jarak kami ke mesjid itu seolah tidak sampai sampai.


Bahkan beberapa kali kami tergelincir, namun masih bisa mempertahankan tubuh agar bertahan untuk tidak terjatuh lebih jauh.


Terlihat beberapa sosok mulai ikut mendaki bukit dan mencoba menangkap kami.

__ADS_1


"Bah, kenapa tidak sampai sampai padahal mesjid itu sudah sangat dekat. Kaki begitu berat sekarang" rengek Iman panik dan kelelahan.


Ini pasti tipu daya para makhluk di tempat ini agar kami tidak sampai ke mesjid itu


"Tetap berdoa Man! jangan lengah dan teruskan saja mendaki." pintaku


Beberapa kali Iman sempat berhenti karena kelelahan. Sehingga membuat para makhluk itu semakin mendekat.


"Bah, gue gak sanggup lagi, kaki gue serasa mati rasa. Berat Bah!" keluh Iman


"Ayo Man! elu harus kuat, kita harus bisa sampai kesana, supaya kita bisa pulang." hiburku menyemangatinya.


Ini seperti adegan dalam sebuah film, dimana beberapa zombi mengejar dan ingin memakan korbannya, begitu juga kami disini mencoba lari dari kejaran para makhluk menyeramkan itu.


Tumpuan kaki iman terpeleset, membuat tubuhnya tergelincir sedikit ke bawah, saat dia hendak naik lagi, tiba-tiba ada yang menangkap kaki satunya


"Aaaaa, Abah!! Tolong!! Kaki gue ada yang narik!" teriak Iman panik setengah mati.


Ternyata yang menangkap kaki Iman adalah sosok genderuwo dia berusaha menarik Iman ke bawah, Namun aku juga tak kalah menarik Iman ke atas sekuat tenaga.


"lepaskan dia! makhluk lakn*t!" umpatku pada genderewo.


Terjadilah saling tarik-menarik tubuh Iman antara aku dan genderweo itu, membuat makhluk yang lain datang mudah mendekati kami.


Beberapa makhluk lain sudah ikut memegang kaki Iman yang satunya, Aku sekuat tenaga menarik iman agar tidak tertangkap oleh mereka.


"Kalian tidak boleh ke sana!" ucap genderuwo.


Tiba-tiba terdengar suara Adzan berkumandang lagi.


Seketika mereka semua kepanasan sehingga melepaskan cengkeramannya lalu kabur melarikan diri.


Aku pun mencoba membantu Iman untuk segera naik ke atas.


Setelah kami berhasil mencapai puncak bukit, kami melihat jalanan aspal yang mulus, dan sebuah tangga menuju mesjid tersebut.


Aku dan Iman menaiki anak tangga satu persatu.


Sesampai di teras mesjid kami kebingungan, karena tubuh kami sangat kotor, baju kami penuh lumpur dan tanah, kami celingukan mencari kamar kecil untuk membersihkan diri.


di sebelah kanan kami ada sebuah kolam dengan beberapa keran air di sana. kami segera membersihkan diri di sana.


Airnya begitu jernih, bahkan sejuk saat menyentuh kulit, membuat tubuh kami segar kembali, seketika tubuh pun kembali bersih.


Selesai membersihkan diri, kami berjalan memasuki mesjid.

__ADS_1


"Bah, kenapa bisa ada mesjid yang begitu megah, mewah dan indah di alam lain yang seperti ini, padahal alam ini banyak mahluk jahat yang menyeramkan dan menakutkan." ucap Iman bertanya-tanya dengan wajah yang terpana melihat arsitektur mesjid tersebut.


" Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, yang penting kita selamat." jawabku.


Kami segera membuka sepatu kami, dan hendak masuk kedalam mesjid. Tepat di depan pintu mesjid, pakaian basah yang kami kenakan saat membersihkan diri tadi, langsung kering seketika.


Kami kedua saling bertatap keheranan, aku dan Iman saling mengangguk tanda setuju untuk masuk ke dalam mesjid.


Kami langkahkan kaki memasuki mesjid tersebut, ada semilir angin yang membuat kami refleks menghirup udara tersebut sambil menutup mata, terasa begitu sejuk dan segar.


PATS!


Saat kami menghembuskan nafas dan membuka mata, kami melihat langit-langit rumah.


Aku dapati diriku terbaring di atas kasur, aku beranjak bangun bersamaan dengan Iman. Kami saling menatap heran.


Dan suara adzan yang dari tadi kami dengar ternyata itu adalah Dimas yang sedang mengumandangkan Adzan didepan kami.


Aku mulai mengerti apa yang terjadi, namun tidak dengan Iman, Iman sangat kebingungan.


Setelah selesai mengumandangkan Adzan Dimas pun menanyakan keadaan kami.


"Alhamdulillah, kalian sudah sadar! gimana kalian baik-baik aja kan?" sahut Dimas cemas.


"Alhmdulilah Dim, kami tidak apa-apa, hanya sedikit nyeri dan pegal di tubuh kami." jawabku sambil meregangkan tubuhku yang pegal dan nyeri.


" Bah ini aneh, kok bisa kita ada di rumah elu Dim?!" seru Iman bingung bertanya pada aku dan Dimas.


" Kalian berdua kecelakaan di sebuah gang kecil dekat sini, aku lihat warga sekitar sedang mengerumuni kalian yang sedang tidak sadarkan diri." jelas Dimas.


" Hah?!" Iman makin melongo heran dan bingung.


"Kamu bisa tahu kami kecelakaan di gang itu darimana?" tanyaku yang sama heran.


" Dari ayahku, Bah! sebelum aku menemukan kalian, ayahku menyuruhku untuk mencari keberadaan kalian karena kalian sedang dalam bahaya karena Klewing. Aku mencari kalian, sambil bertelepon dengan ayahku, ayahku memanduku ke tempat kalian berada dan benar saja aku mendapati sebuah gang dekat jalan raya begitu ramai dan banyak orang berkerumun disana, aku bertanya pada warga, ada dua pria yang kecelakaan dan tidak sadarkan diri sana, aku curiga untuk melihatnya. Ternyata itu benar kalian, aku langsung membawa kalian kemari." tutur Dimas.


" Ohh, aku mengerti sekarang, syukurlah Man! kita berdua bisa selamat karena pertolongan Dimas dan Ayahnya." sahutku pada Iman.


" Iya, Dim, makasih banyak, berkat elu kita bisa selamat. Hii... kami mengalami hal yang mengerikan disana." ucap Iman bergidik membayangkan pengalamannya.


"Iya, berkat Adzan yang kamu kumandangkan, kita dapat arah jalan untuk pulang dan kembali ke sini, makasih Dim!" ucapku juga.


" Hehe iya sama-sama Bah, Iman. sebenarnya Ayahku yang menyuruhku untuk kumandangkan adzan didepan kalian yang sedang pingsan. Gak ku sangka ternyata adzanku bisa menyelematkan kalian dan kalian kembali sadar." ucap Dimas lega.


......................

__ADS_1


__ADS_2