
Selama satu tahun aku berhenti dalam tugasku mistisku, Berharap aku bisa sepenuhnya hidup normal seperti orang biasa, namun tidak.
Karena selama satu tahun itu bukan ketenangan yang ku dapat, melainkan rasa gelisah yang terus menghantuiku hingga menjadi beban dan pikiran.
Ki Sugro tidak pernah berhenti menampakkan dirinya padaku, meski beberapa kali aku bilang, aki menolak untuk tidak melakukan wejangan darinya.
" Anom, jangan kamu mengikuti hawa nafsu, ini sudah takdirmu, meskipun kamu menghindar, kemanapun kamu pergi aki akan terus mengikutimu, sebab kamu adalah kuncinya." tutur Ki Sugro.
Deg!
mendengar ucapan Ki Sugro aku teringat akan ucapan terakhir dari mendiang Pak Asep.
" Mulai sekarang, kamu harus belajar membagi waktumu, antara keluarga, pekerjaanmu untuk mencari nafkah, dan tugasmu untuk membantu orang banyak. Semampumu saja, kamu pasti bisa mengatasinya." ucap Ki Sugro.
Aku hanya bisa merenungkan semua ucapan Ki Sugro.
Ya Allah, jika memang ini adalah takdir yang sudah engkau tentukan bagiku, aku hanya ingin meminta padamu, lancarkanlah jalanku, lindungilah aku, mudahkan urusanku, bimbinglah aku agar selalu tetap di jalanmu.
Keesokan harinya, aku berbicara pada Dita mengenai hal ini.
" Dita, Jika aku kembali mengobati dan membantu orang-orang lagi, apa kamu mengizinkan?" tanyaku sedikit ragu.
" Hmm.. aku tidak tahu, di satu sisi, aku merasa jahat seolah aku menghalangi kamu untuk membantu mereka, tapi di sisi lain aku juga tidak mau kamu terus berpergian lalu meninggalkan aku dan Raka berdua saja di rumah, tanpa kepastian kapan kamu akan pulang. Dan kami hanya menunggu kamu seharian." ucap Dita terlihat gelisah.
" Maaf, mungkin karena aku menekuni tugas ini sewaktu masih duduk di bangku sekolah, Aku terbiasa fokus sendiri, Aku sampai lupa akan waktuku untuk kalian. Aku minta maaf, tapi, jika sekarang kamu izinkan, aku akan sebisa mungkin membagi waktu dengan adil." tuturku.
"Yakin? Aku ragu, kamu itu terlalu memaksakan diri untuk menolong mereka, bahkan kamu tetap saja pergi, meskipun mereka meminta bantuanmu pada dini hari." keluh Dita.
"Tenang saja, dengan membagi waktu, semua akan teratur. Jika kamu mengkhawatirkan aku, aku janji aku tidak akan terlalu memaksakan diri, aku juga tahu batasan fisikku." ucapku.
" Hmm.. ya sudah terserah kamu saja, asal kamu bisa mengatur waktu, dan menjaga fisik kamu sendiri. Selama kamu bisa lakukan itu aku tidak masalah, Jangan sampai kamu kelelahan, pilih-pilih juga siapa yang akan kamu bantu, tidak semua orang tahu akan balas Budi."tutur Dita.
" Ya, aku tahu itu." jawabku.
__ADS_1
Ngomong-ngomong aku teringat Iman, bagaimana ya kabarnya dia sekarang, sudahl lama aku tidak bertemu dengannya.
Selama satu tahun aku berhenti, selama itu juga aku tidak bertemu dengan Iman, aku sempat memberitahu Iman bahwa aku akan berhenti sementara dalam tugas mistisku, entah bagaimana reaksinya jika aku bilang aku akan membuka diriku kembali dalam tugasku lagi.
Setelah berbicara dengan Dita, aku segera pergi mengunjungi rumah Iman.
" Wah siapa ini!? Gue kedatangan tamu jauh! Hehe.. gimana kabar lu sama keluarga sehat?" sambutnya sambil memberi pelukan persahabatan.
" Alhamdulilah, Man. Kabar elu sama istri gimana sehat?Aman? Ngomgong- ngomong istri elu kemana?" tanyaku.
"Alhamdulillah, Aman.. Aman.., istri gue kerja Bah! pulang nanti sore." jawabnya.
"Oh, kerja?" ujarku.
" Iya, bah. Di rumah dia jenuh, nggak ada kegiatan jadi dia ingin nerusin kerjaannya." jawab Iman.
" Oh, ya, baguslah Man, kasihan juga di rumah sendirian sementara elunya juga kerja, gue doain juga biar elu bisa secepetnya dapet momongan, Biar yang berisikin kaya gue di rumah hehehe.." ujarku.
Satu fakta mengenai Iman, sebenarnya dia sudah berkeluarga awal menikah dan sebelum memiliki anak Istrinya sibuk bekerja dan setelah memiliki dua anak perempuan. istri dan anaknya pulang kampung, sebab ibunya sakit-sakitan, Iman tidak ikut karena dia harus tetap bekerja di kota.
" Ngomong-ngomong elu sengaja bah berkunjung kesini?" tanya Iman.
" Iya Man, sudah lama juga kita nggak ketemu, terakhir kali ketemu pas acara nikahan elu kan?" seruku.
" Wah iya tuh, berapa lama coba? Ada setahun kan? saling kontak juga jarang ya, bah?" tanya Iman lagi.
"Elu sendiri kenapa jarang kontak gue?" tanyaku.
" Hmm, gue canggung aja, Bah. Terakhir kali ketemu, elu bilang ke gue, elu mau berhenti dulu dari tugas mistis elu kan? jadi mau kontak elu, gue ragu.. takutnya ganggu waktu istirahat lu bah. Apalagi denger-denger perkumpulan yang gue anjurin buat elu gabung itu.. ternyata cuman manfaatin kemampuan elu doang, sampe elu jarang balik ke rumah, gue makin merasa bersalah sama elu terutama keluarga lu." tutur Iman menyesal.
"Sebenarnya sih, ada manfaatnya juga gue gabung ke perkumpulan itu, Man. Gue bisa ngasah kemampuan, terus bisa nolong elu juga kan? Memang sih semenjak gue gabung, badan gue rasanya kaya ancur! saking capeknya terus-terusan ngeluarin kemampuan dan tenaga, cuman buat jadi tameng mereka, muasin keinginan mereka. padahal mereka juga punya kemampuan sendiri, tapi tetep aja gue yang jadi sapi perahnya. Tapi Itu cuman masalalu sih." beberku pada Iman.
" Wah, Parah, ternyata sampai kaya begitu! gue gak nyangka, gue juga gak tahu detail nya, sorry ya bah, gara-gara gue..
__ADS_1
"Gak apa-apa Man, lagian udah lewat juga." jawabku.
" Jadi itu sebabnya elu berhenti sekarang dari tugas mistis elu?"tanya Iman.
" Nggak juga Man, Justru gue kesini mau ngasih kabar ke elu, gue mau coba membuka diri lagi, buat nerusin tugas mistis gue yang sempet berhenti, gue udah ngobrol juga sama istri." ujarku.
" Oh gitu! Terus gimana? Istri ngizinin?" seru Iman.
" Alhmdulilah ngizinin man, tapi gue nggak akan seaktif dulu sampai lupa waktu dan keluarga, gue akan lebih mengatur waktu dari sekarang." tuturku.
" Nah, gitu dong bah! Ini sih kabar baik namanya. Elu tahu nggak semenjak elu vakum, banyak orang yang menghubungi, nanyain elu. Yaa gue bilang Abah nggak ada dia sibuk mau jadi orang sukses, mereka percaya lagi. Hahaha.. "
" Hahahaha.. parah lu." aku pun ikut tertawa.
" Tapi bah, menurut pendapat gue, elu udah benar mengambil keputusan ini, soalnya sayang banget orang kaya elu yang di beri kemampuan lebih dari orang lain di biarkan gitu aja, padahal kemampuan elu bisa bermanfaat buat banyak orang, banyak menolong orang kan bisa jadi ladang pahala, anggap aja sebagai ibadah buat lu." tutur Iman.
Deg!
Serasa Deja vu, kali ini ucapan Iman yang mengingatkanku pada ucapan Pak Asep, setelah ucapan Ki Sugro tadi.
" kalau ada apa-apa bah, bilang aja ke gue, gue siap jadi partner elu setiap saat hehehe..". Serunya.
" Thank's banget Man." jawabku.
......................
Setelah pulang dari rumah Iman, malam harinya aku sembahyang, dan melakukan meditasi, aku memanggil Ki Sugro.
" Ki, aku sudah memutuskan untuk membuka diri lagi, sekarang tugas apa yang harus aku pelajari saat ini?" tanyaku.
" Keputusan yang baik,Anom. baiklah kali ini Aki akan mengajarkanmu cara Meraga Sukma. Besok malam hari kamu lakukan lagi meditasi seperti biasanya, aki akan memberimu beberapa amalan yang harus kamu lakukan, lakukanlah amalan itu dengan khusyu kepada sang pencipta. Apapun yang terjadi padamu nanti, kamu jangan kaget." tutur Ki Sugro
......................
__ADS_1