
Kami kebingungan bagaimana cara menghentikan Ayah Iman dan menggagalkan ritual.
Pak Kuncen hanya tersenyum puas karena rencananya berhasil menghentikan kami.
Sedangkan Iman panik melihat ayahnya yang ternyata sudah menentukan pilihannya.
Ternyata ayah Iman memilih anak ayam yang kecil, tentu saja sesuai perjanjian dalam ritual tadi maka Iman yang adalah anaknya, harus menjadi tumbal persembahan.
Iman terus saja berteriak meminta ayahnya berhenti melakukan ritual, namun sia-sia keadaan kami dalam proses Meraga Sukma, kami tidak akan terlihat ataupun terdengar oleh orang biasa.
Ayam kecil itu di lempar oleh ratu ular pada Ayah Iman, dan Ayah Iman berhasil menangkapnya.
" Makanlah ayam itu hidup-hidup di hadapanku, lalu sisakan tulangnya." ucap Ratu ular.
Ku lihat Ayah Iman sedikit ragu menatap pada ayam kecil tersebut.
Anak ayam itu bersuara dan mematuk-matuk, mencoba melepaskan diri, seakan dia tahu bahwa dirinya akan mati di tangan Ayah Iman.
Begitu Juga Iman dia tidak berhenti berteriak memanggil ayahnya.
"Pak, berhenti pak! Jangan lakukan itu! Aku ingin hidup Pak!" teriak Iman dengan menangis.
Tapi pada akhirnya Ayah Iman mengigit leher anak ayam tersebut.
CRAT!
Seketika Darah anak ayam itu bersimbur kemana-mana
Tiba-tiba Iman yang berada di sampingku merintih kesakitan.
" Ugh! Bah sa.. sakit! To.. Long gue, gue. Se..sak." Rintih Iman Memegangi lehernya kesakitan dan terjatuh duduk di tanah.
" Astaga! Maann! elu kenapa?!" teriakku panik.
Apa yang terjadi? Kenapa Iman tiba-tiba kesakitan, apa ini pengaruh dari anak ayam yang mati itu dan berdampak juga pada Iman... Sial.. Aku harus bagaimana sekarang?
Ayah Iman mulai mencabuti semua bulu pada anak ayam tersebut, dia lalu mengigit tubuh ayam Itu lalu memakannya habis, meski kulit dan dagingnya di penuhi dengan darah.
" Aaaaaaaaaa! sakiiitt!.....!!" Iman pun berteriak dan meronta, dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Ternyata benar, apa yang terjadi pada anak ayam itu Iman akan merasakan sakitnya.
Lalu setelah Ayah Iman memakan habis anak ayam itu, dan hanya menyisakan tulang. Tulang ayam tersebut dia lempar ke hadapan Ratu ular.
" Bagus sekali, sekarang aku akan mengabulkan permintaanmu." ucap Ratu ular senang.
SRING!
Tiba-tiba tulang ayam itu bersinar terang lalu berubah menjadi tumpukan emas, uang, perhiasan yang bertumpuk-tumpuk.
Ayah Iman lantas berlari kegirangan dan menghampiri tumpukan harta di depannya.
" Hahahaha! Aku kaya.." ucapnya begitu senang dan takjub melihat dan menyentuh emas yang bertumpuk banyak.
Bisa-bisanya dia kegirangan melihat harta, di saat anaknya merasakan sakit akibat perbuatannya. Dasar biadab!
"Ini semua harta yang kamu minta, ambilah, setelah ini, aku akan mengambil persembahanku." Ucap Ratu ular pada Ayah Iman dan seketika dia menoleh dan menatap ke arah kami dengan tajam dan tersenyum.
Deg!
__ADS_1
Aku takut, aku panik, aku tahu maksud tatapannya dia akan mengambil nyawa Iman sekarang.
Ratu ular berdiri tegak, dia melesat di air menghampiri kami.
SRAT!
Tiba-tiba aku dan Iman terbang melesat mundur ke tempat yang kami lewati tadi dan seketika kami kembali ke raga kasar kami.
Kini aku berada di rumahku, dengan keadaan sedang duduk bersila di atas sajadah.
Begitu juga Iman. Namun Dia tidak berhenti terbatuk-batuk.
" Ugh! Bah.. Sakit bah, Ohok..! Ohok..! Ohok..! Rintih Iman dan seketika darah segar keluar dari mulutnya hingga baju yang di pakainya penuh darah.
" Bertahanlah Man!" ucapku panik dan bingung entah harus bagaimana cara mengurangi rasa sakitnya.
Tiba-tiba Dita keluar dari kamar karena mendengar suara Iman yang terbatuk-batuk.
" Astaga! Imaaan! Kenapa Iman Yah? apa yang terjadi padanya?" ucap Dita panik melihat keadaan Iman yang parah.
" Tidak apa-apa.. Ini bukan urusanmu, Cepat masuk kamar.." tegurku pada istriku.
"Ta..tapi yah, Imaan....
" Tidak usah khawatir, cepat masuk kamar sekarang! Lalu kunci pintu dan jangan keluar apapun yang terjadi! Jaga anak kita! Cepat!" teriakku padanya.
Dita pun kembali masuk kamar dengan perasaan cemas, tapi apa boleh buat hanya itu satu-satunya cara melindungi keluargaku.
Dan benar saja pada akhirnya Iman tidak sadarkan diri di pangkuanku.
" Man, bangun! Bangun Man! gue bakal nolongin elu, bangun Man!" ucapku makin panik, aku terus mengoyang-goyangkan tubuh Iman, namun Iman tetap tidak kunjung bangun.
" Serahkan dia padaku!" pintanya.
" Tidak! Kamu tidak boleh membawanya!" tegasku pada Ratu ular.
"Kamu jangan menghalangiku untuk mengambil persembahanku! Berikan padaku!" tuturnya marah
" Tidak akan!" ucapku memeluk tubuh Iman yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Lalu Ratu ular menggerakan ekornya untuk mengambil Iman.
Aku menangkis ekornya saat menyentuh Iman.
" Dasar manusia pengganggu! Dia milikku!" ucapnya marah dia lalu menyerangku dengan hentakan dari ekornya.
Seketika rumahku bergetar. Aku mencoba menghindar dan menangkis setiap kibasan ekornya, dan bertahan melindungi Iman.
Tapi tiba-tiba dadaku terasa sesak dan sakit.
Ugh.. kenapa ini? apa yang terjadi padaku, kenapa dadaku sesak dan nyeri di saat seperti ini.
Tiba-tiba aku teringat serangan Pak Kuncen pertama kali yang mengenai dadaku namun aku tidak merasa sakit karena wujudku dalam keadaan raga halus.
Apa mungkin baru sekarang efek serangan itu terasa setelah aku kembali ke raga kasar... Kenapa harus di saat seperti ini sih.. Ugh..
Aku harus bertahan, demi Iman.. Aku harus melindunginya. Jangan sampai dia berhasil merebut Iman.
Akibat rasa sakit yang tidak tertahankan di dadaku, fokusku terganggu karena kesakitan, melihat aku lengah Ratu ular berhasil melilit tubuh Iman.
__ADS_1
" Tidak! Lepaskan dia.. Ugh!" teriakku sambil menahan nyeri di dada.
Ratu ular hendak terbang ke atas rumah dengan membawa Iman di ekornya.
BUGH!
Tiba-tiba Ratu ular terpental lagi ke bawah dan membentur lantai, seolah dia di serang seseorang, lalu Ki Dayeng muncul di hadapanku.
Aku langsung merebut Iman kembali dari ekornya saat Ratu ular itu kesakitan dan lengah.
Namun kulihat Keadaan Ki Dayeng nampak parah dan kacau, Dia terluka di sekujur tubuhnya, dia terlihat kelelahan.
Lalu di susul dengan munculnya Raja Ular.
" Sial.. Ternyata dia mengejarku hingga kemari." keluh Ki Dayeng.
Sepertinya Ki Dayeng kewalahan karena pertarungannya melawan Raja ular di air terjun tadi.
" Anom! Sepertinya lawan kita sangat tangguh, sepertinya temanmu tidak akan bisa selamat, dia sudah di tumbalkan oleh ayahnya sesuai perjanjian, mau tidak mau dia harus di bawa oleh mereka, aku sudah tidak sanggup untuk mencegahnya, aku tidak yakin bisa membantumu, tubuhku lemas sekali sekarang, aku sudah kehabisan tenagaku." ungkap Ki Dayeng terlihat kacau dan letih bahkan nafasnya pun tersengal-sengal.
" Tidak bisa! Jika kita menyerah sekarang apa gunanya usahaku selama ini yang sudah menolongnya dari awal, sekarang jadi sia-sia!" bentakku marah pada Ki Dayeng.
" Mereka tangguh Anom!"Jawab Ki Dayeng.
" Bukankah aki juga tangguh, tidak adakah ada cara lain untuk menyelamatkan Iman, Ki! Kumohon" pintaku.
" Ada satu cara untuk bertarung dan mengalahkan mereka." ucap Ki Dayeng.
" Apa Itu?" tanyaku.
" Dengan Brajamustimu." ucap Ki Dayeng
" Tapi tubuhku saat ini tidak memungkinkan, aku juga terluka akibat serangan kuncen di air terjun tadi, energi untuk melakukan Brajamusti sangat banyak, sedangkan energi ku saat ini tidak akan cukup untuk melakukan Brajamusti ki." keluhku.
" Aki juga sama! mau menolong temanmu bagaimana? kamu tidak lihat aki sudah kehabisan tenaga, aki juga kesakitan akibat luka dalam, gara-gara pertarunganku dengan raja ular." keluh Ki Dayeng lagi.
Tiba- tiba Iman yang berada di pelukanku tertarik, tenyata ekor ratu ular itu berhasil melilit kaki Iman.
Argh sial.. Aku lengah lagi ...
Aku mencoba menarik Iman tapi tenaga ratu ular cukup kuat aku juga ikut tertarik ke depan, namun untungnya Iman tidak lepas dari tanganku.
Aku menarik lagi tubuh Iman sambil membaca ayat kursi dan bacaan surat lainnya.
Aku mendapt sedikit tenaga, dan berhasil menarik Iman, namun Ratu ular itu juga masih belum menyerah dengan tarikan ekornya.
Terjadilah tarik-menarik mempertahankan Iman, antara aku dan ratu ular.
" Ugh... Ki Bantu aku!" teriakku pada Ki Dayeng.
Ternyata Ki Dayeng tidak membantuku justru dia malah duduk bersila di belakangku dengan memejamkan mata. Seolah sedang bermeditasi untuk memulihkan tenaga.
Sedangkan aku masih tarik menarik dengan Ratu uLar.
" Lepaskan dia, dia ini milik kami, menyerahlah!" ucap Ratu ular.
" Ugh.. Tidak akan!" Jawabku.
Aku harus bagaimana sekarang! Aku tidak bisa berlama- lama seperti ini..
__ADS_1
......................