Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Bab 6. Bang Syukur


__ADS_3

Hari ini aku berangkat kerja seperti biasa, aku bekerja di pabrik sablon baju, Aku bekerja selama sepuluh jam, dari jam delapan pagi hingga jam enam sore.


Jarak menuju tempat kerja, terbilang cukup jauh, aku harus menaiki kendaraan umum sampai tiga kali, Terkadang jika terlalu lelah aku selalu menumpang bersama rekan kerja yang memiliki motor.


Aku bekerja sebagai borongan, jadi tidak terlalu terikat oleh peraturan.


Jika aku bekerja, tentu aku bisa mendapatkan uang, bahkan jika aku bisa menyelesaikan pekerjaanku lebih banyak, upah yang aku dapat juga banyak.


Tetapi, jika aku tidak masuk kerja, aku tidak akan mendapat uang pada hari tersebut.


Sehingga, jika aku ada misi spiritual, aku bisa bolos sehari agar bisa menyelesaikan misi hingga tuntas,


Sebab absen di tempat kerjaku tidak terlalu menjadi permasalahan yang besar, paling-paling aku tidak mendapatkan upah karena bolos.


Karena jarak yang cukup jauh, aku sampai ke rumah selalu larut, sekitar jam delapan hingga jam sembilan malam, dan Tentu saja akibatnya aku tidak bisa banyak meluangkan waktuku untuk keluarga.


Pulang bekerja, istri dan anakku pasti sudah terlelap, namun aku harus menjalankan dulu tugasku dari Ki Dayeng aku di haruskan bermeditasi setiap malam.


Meski hal ini membuatku lelah, aku harus tetap semangat dan ikhlas menjalankan nya.


Ki Dayeng akan selalu membimbingku hingga aku memiliki kemampuan yang lebih besar, agar bisa menjalankan tugas-tugas berat yang akan aku akan lalui nanti.


Begitu juga pinta Ki Sugro padaku, Dia menyuruhku untuk selalu patuh pada perintah Ki Dayeng, dia menitipkan aku pada Ki Dayeng, dan dia pergi entah kemana.


Pikirku dia memiliki tugas lain yang harus di jalankannnya. aku hanya bisa berdo'a semoga dia selalu selamat.


Saat ini, kurang lebih 30 menit sebelum aku tidur, aku bermeditasi, aku mulai memfokuskan diri dalam keheningan agar bisa rileks.


Tiba tiba..


Terdengar suara di telingaku, membuat fokusku sedikit buyar.


"Anom, aki beritahu, suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan orang yang akan menganggap dirinya sebagai orang sakti, orang pintar dan orang paham akan ilmu."


Huffht.. ini sih suara Ki dayeng, kebiasaan... Dia selalu saja menggangguku saat bermeditasi..


Aku membuka mata dan mencari keberadaannya, Aku rasa ada yang ingin Ki Dayeng sampaikan padaku.


Tapi Ki Dayeng tidak terlihat.


Apa dia sembunyi?


"Ki?" panggilku sambil celingukan ke sekitar ruangan, berharap dia muncul.


"Aki kemana sih? Padahal aku ingin bertanya. apa maksud dari perkataan aki tadi." tanyaku


"Dengarkan! Kamu harus benar-benar jeli saat menilai orang, jangan sampai terperdaya dan tertipu oleh orang orang itu."ucap Ki Dayeng lagi tanpa menampakkan dirinya.


"Aku tidak mengerti maksud dari ucapan aki. Kenapa aki tidak muncul saja , sudahlah jangan main petak umpet.. ini kan sudah malam.. nanti aki di sembunyikan wewek gombel mau?"ucapku bercanda.


"Aki akan mengawasi kamu dari jauh, jadi ingatlah pesanku tadi, kamu harus teliti dan harus jeli, jangan sampai tertipu atau terperdaya, latih terus mata batinmu" tutur suara Ki Dayeng

__ADS_1


"Loh, memang aki mau kemana? Kenapa hanya mengawasiku dari jauh saja? Aki mau pergi seperti Ki Sugro? Memangnya tugas aki untuk membimbingku sudah selesai? tapi kenapa... Sepertinya ilmu dan kesaktianku sama sekali tidak bertambah?"ucapku menghujaninya dengan banyak pertanyaan.


"Ki? Ki Dayeng?" Panggilku lagi, namun sama sekali tidak ada jawaban.


"Ah, Ki Dayeng selalu saja datang dan menghilang begitu saja, jadi beneran mirip makhluk halus, tapi dia kan emang makhluk halus yaa.. Dasar mahluk tua.."gerutuku


"Aki masih bisa mendengar ucapan mu Anom.. jangan kurang ajar pada gurumu." cetus ki dayeng yang tiba tiba marah


"Eh, hahaha... maaf Ki maaf, ku kira aki udah pergi." timpal Ku.


Aku menduga Ki dayeng masih bersembunyi di sekitarku.


"Ki ? Aki ? Aki masih di sini ?." tanyaku.


Namun tidak ada jawaban dari Ki Dayeng


Ah, mungkin dia benar-benar sudah pergi" sekarang.


Aku segera masuk ke kamarku untuk beristirahat, sambil terbaring


dan melihat langit-langit kamar, aku masih kepikiran dengan ucapan Ki Dayeng tadi, tapi aku masih belum mengerti apa maksudnya.


......................


Pagi hari aku mulai kembali beraktifitas, seperti biasa pukul lima pagi istriku sudah bangun dan menyiapkan sarapan, selesai sembahyang subuh aku segera mandi dan sarapan.


Sebelum berangkat bekerja. aku menghampiri anakku Raka yang masih tertidur pulas. aku menatapnya dan mengelus rambutnya perlahan.


Aku tidak berjanji, jika hari libur aku bisa menghabiskan waktu untuk keluarga, sebab pasti ada saja pasien yang meminta pertolongan dalam hal spiritual, mau tak mau aku harus membantunya.


Pukul enam pagi aku harus segera berangkat kerja, karena jauh saat naik kendaraan umum sering kali aku terjebak oleh kemacetan.


......................


Sesampainya di tempat kerja ku lihat ada orang asing yang duduk di sebelah bos ku.


"Asalamualaikum." sapaku pada bos dan temannya


"Walaikumsalam, Eh.. Nan, baru Dateng nih, oh iya! ini kenalkan ada pegawai baru, namanya Syukur, dia dari Karawang, dia sepupu jauh saya. Sekarang dia kerja bareng kamu ya? jadi tolong bimbing dia, ajarkan dia cara-cara yang belum dia pahami."ucap bos ku.


"Oh siap bos siap." jawabku.


Aku pun mengajak Syukur ke area tempat kerjaku, segera aku menyiapkan alat alat keperluan kerja, kali ini aku di bantu oleh Syukur.


"Nandy.. Ngomong-ngomong kamu sudah lama kerja sama Pak bos?" ucap Syukur mulai membuka pembicaraan.


"Iya bang, saya bekerja di sini kurang lebih sudah 4 tahunan lah.." jawabku sambil sibuk kesana kemari menyiapkan alat dan bahan untuk menyablon baju.


Aku memanggil Syukur Abang karena aku tidak tahu berapa umurnya, siapa tahu dia lebih tua dariku.


Karena dia berasal dari luar kota dia dia sedikit kesulitan dengan bahasa daerah yang sering aku ucapkan.

__ADS_1


"Mmm, kalau boleh tahu, gajih kamu disini berapa, Nan.. Setahuku yang sudah lama bekerja disini, pasti nominalnya lebih besar dari pekerja baru" tanya Syukur


"Nggak juga bang, tapi ya.. lumayan sih, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." jawabku.


Semakin hari, semakin akrab, kami sering melewatkan waktu bersama, kini kami mulai tidak canggung, bahkan sering kali kami bercanda satu sama lain, sehingga obrolan kami jadi lebih santai sambil bekerja.


Di tengah pekerjaanku, Bang Syukur pergi ke kamar mandi, lalu bos ku datang menghampiri.


"Nan.. gimana kerjanya Si Syukur aman?" tanya Bos ku.


" Aman Bos, dia cepat mengerti saat aku ajari hal yang baru." jawabku.


" Oh baguslah.. Oh ya, kamu harus hati-hati sama Syukur Nan.. Katanya, dia bisa lihat hantu lho, jadi jangan sampai dia mengganggu konsentrasi kamu saat kamu lagi kerja, jangan dengarkan dia, kalau dia mulai ngomong yang ngawur-ngawur nanti." ucap bos mengingatkan dan pergi


Bang syukur bisa lihat hantu? Masa sih?


"Siap pak bos, tenang saja, kalau saya sih, gak takut sama hal- hal begitu." jawabku


"Nah, iya betul Nan, jangan takut lah sama hantu atau apalah itu,, saya juga sering lihat penampakan dan semacamnya, tapi saya gak pernah lari, lho! Saya pemberani." ucap Syukur tiba- tiba datang dan menimpali.


"Hebat dong bang."Pujiku pada Bang syukur, dengan tetap fokus bekerja.


Sepertinya saat ini, aku harus menyembunyikan kemampuanku pada Bang Syukur, apalagi kalau yang di ucapkan si bos tadi memang benar. Aku takut dirinya merasa tersaingi dan hubungan kami menjadi tidak akrab.


"Syukur ikut aku." Ajak bos memanggilnya tiba-tiba


Bang Syukur pun segera mengikuti bos di belakangnya.


Dari kejauhan aku memperhatikan mereka, mereka terlihat membicarakan sesuatu, kemudian Bang Syukur menunjuk ke berbagai arah dan dia menunjuk ke setiap sudut pabrik, ke atas langit-langit, bahkan ke kamar kecil. entah apa yang sedang mereka bicarakan, Aku tidak terlalu memikirkannya, aku kembali fokus pada pekerjaanku.


"Ah, yang bener?!" Tiba-tiba, bos terkejut dan berbicara cukup keras, sehingga menarik perhatianku.


Seketika aku kembali memperhatikan mereka begitu pula dengan rekan-rekan kerjaku yang lain.


"Gawat dong! bisa tidak kamu menyuruh mereka pergi dari tempat ini." tanya bos kepada Syukur


Aku semakin penasaran, sesekali mencoba untuk mendengarkan pembicaraan mereka dari dekat, sambil berpura-pura mengambil cat untuk sablon yang ada di dekat mereka.


"Gampang bos, serahkan saja semua sama saya."ucap Syukur


" Ya sudah, aku akan percayakan sisanya padamu. Aku akan mencari barang yang kamu minta tadi" ucap Bos dan berlalu pergi dengan tergesa-gesa.


Ada apa ini? kenapa juga Pak bos pergi terburu-buru seperti itu


Karena Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku kembali bekerja saja ,mungkin bukan hal yang penting.


Tiba-tiba bang syukur datang menghampiriku.


" Hahaha, ada tugas tambahan Nan dari si bos, saya di suruh ngusir semua setan di pabrik ini, soalnya saya memang bisa lihat setan Nan, di sini banyak setannya, mungkin itu yang bikin pabrik ini suka apes dan gak maju-maju." ucap Syukur dengan wajah senang.


Hah?banyak setan? bikin apes? perasaan selama empat tahun aku kerja di sini, nggak ada tuh, setang yang menampakkan diri ataupun hantu yang bikin apes pabrik.

__ADS_1


......................


__ADS_2