Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Di intai


__ADS_3

Menyadari itu Pak Yono, Aku lekas ijin kepada atasan dengan alasan ada barang yang tertinggal.


Agar cepat sampai, aku berlari-lari menuju rumah, aku teringat pesan Pak Rizal jika dia orang yang berbahaya, aku harus berhati-hati, itulah sebabnya saat ini aku sangat mengkhawatirkan keluargaku dirumah.


Tuhan, aku mohon lindungi keluargaku.


Setelah sampai, aku tergesa-gesa membuka pagar, nampak pintu rumah tertutup dan sepi.


Kumohon semoga kalian baik-baik saja.


Aku mengetuk Pintu dengan keras.


Tok! Tok! Tok! Tok!


" Assalamualaikum, Dita!? Kamu ada didalam? cepat buka pintunya! Ini aku!" panggilku panik dan cemas.


Tak lama, Dita membuka pintu.


" Lho! Kok? bukannya kamu kerja? Baru berangkat tadi kan? Masa sudah pulang?!" tanya Dita kaget dan heran.


"Ka, kamu dan anak-anak tidak apa-apa kan?! Baik-baik aja kan?! Hah.. Hah.. Hah.. "tanyaku sambil ngos- ngos- an Akibat berlari- lari tadi, dan kini aku mencoba mengatur nafasku.


" Maksud kamu apa? Aku dan anak-anak baik-baik saja kok, kami sedang menonton tv di kamar. Kamu habis ngapain sih ,Yah? bisa-bisanya sampai ngos-ngos an kaya gitu?" tanya Dita mengerutkan keningnya


"Aku habis lari dari tempat kerja kemari, aku khawatir dengan keadaan kalian." jawabku masih mencoba mengatur nafas.


"Khawatir kenapa? kami baik-baik aja di rumah kok, ada apa sih? Aneh-aneh aja, udah masuk dulu , aku ambilkan air minum di dapur." ucap Dita bergegas ke dapur.


Aku pun masuk, dan mengistirahatkan kakiku dengan duduk lesehan di karpet dan memanjang kaki ku yang pegal karena berlari tadi.


Ah, untunglah mereka tidak apa-apa , Aku sempat panik tadi. Tapi apa tujuan sebenarnya Pak Yono kemari tadi? Tapi Apa benar dia Pak Yono?


Tiba-tiba pikiranku buyar, saat Dita datang membawakan minum. Setelah minum air aku merasa lebih baik.


"Setelah aku berangkat tadi, ada orang lain tidak? yang datang ke sini?" tanyaku memastikan.


"Pas kamu berangkat tadi ya? Mmm..." jawab Dita mengingat-ingat.


" Oh ya, ada.. Kurir baru yang datang tadi, dia ngasih paket pesanan, aku pikir itu barang pesanan kamu" jawab Dita.


" Paket?" tanyaku heran.


" Iya, sebuah kotak ukurannya sedang. Aku taruh di meja dapur tadi, tunggu aku ambilkan." ucap Dita bergegas mengambil kotak di dapur.


" Ini.. Tapi aneh loh Yah! kayanya dia kurir baru deh, orangnya baru liat sih, terus pakaiannya juga beda, gak seperti kurir lain, dia pakai jas hitam, pakai topi hitam, yah..pokoknya rapih banget deh. Kurir kok pake baju gitu ya? dari toko mana coba?"celoteh Dita.


Aku tidak terlalu mendengar celotehan Dita, karena aku masih belum tahu dia Pak Yono yang atau bukan, dan aku terlalu penasaran pada kotak yang di bawa Dita.

__ADS_1


Kotak apa ini? Dan apa isinya ?


Kulihat memang benar, ada namaku dan alamat rumahku tertera di sana,Karena penasaran aku langsung merobek bungkusnya.


Aku dan Dita keheranan melihat isi kotak itu.


Ada sebuah buku disana. Aku ambil dan aku lihat dan di buka.


Buku Kosong?


"Kok kosong? Sebenarnya kamu beli apaan sih Yah, sampe buku kosong kamu beli lewat online segala, cuman 1 lagi, buku Raka kan masih banyak yang kosong loh kenapa meski beli lagi." omel Dita


" Aku gak pesen ini. Buat apa aku pesan buku kosong." jawabku membela diri.


"Kalau bukan, kenapa alamatnya di kirim ke sini?" tanya Dita.


"Mungkin orang iseng kali. Sekarang kan musim dimana-mana orang yang seperti itu." ucapku beralasan.


" Huufht, ada-ada aja.." ucap Dita kesal.


Tapi aku masih curiga, Segera aku mengeceknya sekali lagi, buku kosong itu, kini aku buka setiap lembarannya.


Tepat di lembaran bagian tengah, aku dan Dita kaget.


Ada sebuah tulisan bertinta merah disana.


" Apa maksud tulisan itu, Yah?" tanya Dita heran dan mengerutkan alisnya dia mulai menaruh curiga.


Aku terdiam dan berpikir.


" Kamu sedang menyelesaikan kasus apa?! tulisan ini seperti sebuah peringatan! Keluarga kita sedang dalam bahaya kan?!" ucap Dita mulai panik.


"Sst, sudah jangan takut! Nanti anak-anak jadi ikutan takut. lebih baik kamu banyak berdoa dan mohon perlindungan kepada yang kuasa, semoga keluarga kita selamat dan selalu dalam perlindungan-NYA." ucapku menenangkan Dita yang panik.


Dita mengangguk, meski ada sedikit raut wajah cemas terlihat.


" Aku akan pergi lagi untuk bekerja. Tolong hari ini kamu jangan keluar rumah, jaga saja anak-anak." pintaku pada Dita. Dan pamit padanya.


......................


Di tempat kerja, aku terus memikirkan yang terjadi tadi.


Aku merasa gelisah, hatiku juga tidak tenang, pikiranku kalut, hingga saat istirahat pun aku tidak bernafsu untuk makan siang.


Aku hanya menyeduh kopi, dan duduk di meja makan bersama rekan kerja lainnya.


Aku terpaku pada meja yang berada di depanku, hanya terhalang dua meja setelah mejaku.

__ADS_1


Aku melihat para supervisor di tempat kerjaku duduk disana.


Tentu saja berbeda dengan jabatan ku, aku hanya buruh yang bekerja di bagian produksi yang terjun langsung dengan mesin- mesin farmasi.Tentu seorang supervisor seperti mereka pasti berpakaian rapih dengan setelan jas kantoran.


Dan dari salah satu supervisor itu, aku tertegun melihat orang dengan ciri- ciri yang tidak asing, ber-jas hitam, topi hitam semua serba hitam. Aku teringat pada sosok pria yang menanyakan alamatku tadi pagi.


Deg!


Pak Yono! Apa mungkin itu dia?


Dia menatap ke arahku sambil tersenyum.


Aku segera menanyakan pada rekan yang duduk sampingku.


" Bro, orang yang duduk bersama supervisor lain itu siapa? Orang baru?" tanyaku.


" Yang mana?" tanya rekanku balik.


" Itu yang duduk paling sebelah kiri,." tuturku.


"Oh itu, dia tamu perusahaan kita, dia datang dari luar kota." jelasnya.


" Siapa namanya?" tanyaku semakin penasaran.


"Mmmm... Kurang tahu juga, Hehehe.. Emang kenapa?" tanya rekanku lagi.


" Ah, gak apa-apa! Aku cuman aneh aja, baru liat orang itu disini, kirain supervisor baru." tanyaku beralasan.


Aku makin penasaran, lantas aku memberanikan diri untuk mendekatinya.


Semua orang keheranan melihatku yang menghampiri si tamu perusahaan tersebut.


Saat aku berhadapan dengannya aku menatapnya dengan intens.


Memang benar dia adalah pria yang menanyakan alamatku tadi pagi, dan ciri-cirinya sama persis dengan yang di ucapkan Pak Rizal, aku makin yakin dia adalah Pak Yono.


Aku mencoba menyentuh pundaknya. Mencoba untuk menyapanya.


Tapi...


Tiba-tiba wajah pria itu berubah menjadi lain, sosok pria muda yang berpakaian jas biasa, tidak memakai topi atau pun jas hitam.


" Ya, mas.. Ada apa ya?" tanya pria itu sontak bertanya padaku


Apa-apaan ini! Kenapa tiba-tiba berubah? Wajahnya berbeda! Siapa dia? kemana topi dan baju hitam yang dia kenakan tadi.


......................

__ADS_1


__ADS_2