
Aku putuskan untuk memberitahu bos, kalau aku memang memiliki kemampuan spiritual.
" Iya bos, saya juga bisa melihat dan paham tentang hal-hal yang ghoib."ucapku jujur.
" Dari kapan? Selama empat tahun kerja disini kenapa kamu baru ngomong sekarang?" Ujar Bos.
" Saya mau ngomong apa bos, emang di pabrik keadaannya baik-baik aja kok, gak ada setan yang mengganggu sebab kan memang beda alam, masa saya harus ngarang-ngarang cerita." ujarku.
Mendengar ucapanku, Bos terlihat termenung dan berpikir keras.
" Terus menurut kamu Si Syukur gimana? Apa beneran dia orang pintar kaya kamu?"tanya Bos penuh selidik.
" Kalau dari cara ngomong sama gayanya sih, kelihatan kaya orang pintar, tapi kemampuan dan ilmu nya, dia nggak punya, cuman modal ngomong doang, bisanya nakut-nakutin, biar pasien kaya bos, khawatir, cemas, terus percaya sama dia." beberku.
" Kamu bisa buktiin nggak?" tanya Bos ku.
Buktiinnya gimana? Memangnya kemampuan spiritual bisa di buktikan secara nyata itu terlalu beresiko? Kalau saja ada Ki Dayeng, pasti aku akan tanya dan meminta bantuan padanya
"Suatu saat nanti, saya akan buktikan bos, tapi kalau bisa, bos panggil balik lagi Bang Anton sama Bang Rudi kemari, mereka bisa jadi saksi atas kelakuan Bang Syukur selama ini, pasti mereka akan menceritakan semuanya." tuturku.
Bos kembali berpikir keras.
Beberapa menit Kemudian Bang Syukur dan Asep sudah kembali, dia membawa Ayam hitam, dan sekantong plastik hitam, berisi barang bawaan lainnya
" Bos, saya udah dapat nih, Uang yang bos kasih ternyata kurang, ayam ini harga nya mahal sekali, jadi uang saya terpakai, nih." ujarnya.
"Ya sudah, nanti saya ganti, tapi ingat! kalau bisa malam ini setan-setan di pabrik, semua harus sudah hilang." ucap Bos lalu pergi keluar.
" Oke siap bos!" ujarnya, sambil masuk ke mess nya.
Beberapa menit kemudian, bau dupa kembali tercium, kali ini aku akan membiarkannya, sampai kapan dia akan berulah.
Dia keluar sambil membawa dupa yang menyala, dia taruh lagi di ruangan pabrik di pojokan dekat mesin besar.
Ku lihat semua pegawai yang lain mulai risih, di siang bolong begini, dia menyalakan dupa, tentu saja hal tersebut membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Setelah menaruh dupa, dia kembali masuk kamarnya, entah apa lagi yang akan dia lakukan di dalam sana.
Ah sudahlah, aku tidak akan peduli.
Setelah shalat Dzuhur, waktunya makan siang.
Tiba-tiba di ruang pabrik ada kegaduhan, aku mencoba melihat dari pintu masuk ke ruangan pabrik.
Ku lihat Asep kesurupan, pegawai yang lain sedikit menjauh karena takut, Asep terlihat menggeram, dan brutal, dia hendak menyerang pegawai lain.
Dengan sigap Pak Dodo langsung memegangi kedua tangannya, menahan Asep agar tidak menyerang orang lain
Pak Dodo merupakan seniorku, dia lebih lama kerja disini dibanding denganku, sekaligus dia pegawai yang umurnya lebih tua dari yang lainnya.
__ADS_1
" Cepat panggil Syukur!" teriak Pak Dodo pada rekan yang lain.
Salah satu dari mereka berlari menuju mess, memanggil Bang Syukur, aku hanya melihat dari kejauhan dengan santai menyantap bekal makananku.
Aku ingin tahu, apa yang akan di lakukan bang syukur saat ada kejadian seperti ini.. Jadi tontonan yang menarik nih..
Bang Syukur datang, dia menghampiri Asep dan memeganginya.
Namun Asep malah marah dengan mata yang melotot menatap Bang Syukur.
Asep terus menggeram dan meronta-ronta dengan bringas.
Berbagai cara dia lakukan untuk menyadarkan Asep, namun tidak ada hasil, Bang Syukur lantas meminta air minum pada rekan kerja yang lain, lalu dia sembur air minum itu pada wajah Asep.
Tetap saja Asep belum sadar, dia justru makin marah dan dia makin meronta, dan makin brutal.
" Naha maneh wani pisan ngageroan urang kadie? Naon maksudna?! (Kenapa kamu kamu berani sekali memanggilku kemari! Apa maksudmu?)"tanya Asep dengan suara yang berubah menjadi berat.
Nampaknya Bang Syukur mulai kewalahan, keringat mulai menetes di wajahnya, bahkan dia juga nampak kebingungan dan panik.
"Pak Dodo pegangin Asep dulu sebentar, sepertinya saya harus meditasi di kamar, buat ngusir setannya." ujarnya sambil sedikit mendorong tubuh Asep ke pa Dodo.
" Eh, kok begini sih..?" Pak Dodo bingung, namun dia tetap menahan Asep agar tidak menyerang yang lain.
Semua pegawai yang lain hanya bisa melongo melihat Bang Syukur pergi menuju kamarnya.
Semakin lama, Asep semakin tidak karuan. Bukan hanya Pak Dodo yang memeganginya, dua orang pegawai lain juga ikut membantu.
" Lepasin aja Asep, biar saya yang tangani." ujarku.
Semua para pegawai melihatku dengan penuh rasa heran, termasuk juga Pak Dodo.
" Saya tetap pegang dia Nan. Takutnya dia serang kamu, kamu mau apakah dia?" tanyanya.
Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan Pak Dodo.
Aku memegangi tengkuknya. Ku bacakan ayat kursi.
" Aaaakkkhhh! Panaaaass!" Asep berteriak hingga semua orang terkejut.
Aku masih belum melepaskannya, aku terus-menerus membaca ayat kursi tanpa henti.
" Aaaakkhh! Ampuuun! Panaaaas! Ampuuun!" teriaknya lagi, kini semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat.
"Indit maneh tina awak ieu! lamun heunteu ku aing duruk maneh nepi ka tutung!(Pergi kamu dari tubuh ini! Jika tidak aku akan membakarmu sampai hangus!)" bentakku pada Asep.
Tanganku langsung beralih memegangi ubun-ubun nya. Dengan satu tarikan nafas aku mencabut setan yang merasukinya.
Lalu Asep pun jatuh pingsan.
__ADS_1
Dengan sigap Pak Dodo menangkapnya.
Semua menatapku dengan wajah yang melongo.
" Baringkan saja dia di tempat yang nyaman, nanti jika dia bangun kasih saja air minum." ucapku dan kembali mengatur nafas.
"Ternyata kamu bisa Nan, ngobatin Si Asep?" seru Pak Dodo.
" Ya bisa pak lah pak, kita kan punya doa, setan model begini pasti kalah jika kita lantunkan doa dan ayat-ayat Al Qur'an." jawabku.
Tak lama Bang Syukur kembali datang, dia terlihat lega melihat keadaan kembali normal.
" Tuh kan, saya bilang juga apa, kalau bukan berkat saya yang bermeditasi di kamar Si Asep gak bakalan sembuh." tuturnya dengan sombong.
"Heh, kata siapa ini berkat lu?! Nih, sih Nandy yang ngobatin si Asep, bukan elu!" bentak Pak Dodo yang kesal pada Bang Syukur dengan membelaku
" Alah, itu mah cuman kebetulan, lagian saya juga bantu dia dari jauh, jadi semuanya lancar ."ujarnya
Pak Dodo mulai naik pitam, aku menahannya.
" Sudah! Lebih baik kita kembali bekerja, kerjaan masih banyak" seru ku mengalihkan suasana.
Semua kembali bekerja, ke bagian mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian, aku sudah menyelesaikan kerjaanku, aku putuskan untuk segera pulang.
Asep juga sudah siuman dari pingsannya, dia bertanya apa yang terjadi padanya, namun tidak ada yang berani menceritakan hingga detail.
Saat aku bersiap pulang Bang Syukur memanggil Asep yang baru saja hendak keluar gerbang.
" Asep! Jangan pulang!" teriak Bang syukur yang berlari menghampirinya.
" Lah! kenapa gak boleh pulang, kerjaan kan udah beres." keluh Asep.
" Nginep di mess aja lah, temenin gue, gue kewalahan sendirian ngelawan setan disini." pintanya.
" Apa? nginep sini? Ogah! Gue aja tadi kesurupan. Nggak ah, nggak mau gue." tolak Asep.
" Eh, gue udah telepon si bos tadi, katanya ajak elu aja buat bantuin gue di mess, anggap aja lembur katanya." bujuk Bang Syukur.
"Mm.. Beneran ini si bos yang nyuruh?" tanya Asep ragu.
" Iya ya lah. Kalau nggak percaya gue telepon si bos lagi nih." ucapnya meyakinkan Asep.
"Iya iya deh, gue nginep disini, gak perlu di telepon segala, nanti takut ganggu si bos, ntar gue di omelin lagi." jawab Asep dengan terpaksa.
Aku hanya tersenyum melihat mereka.
Aku yakin ini cuman akal bulus si Bang syukur, dia pasti takut sendirian di mess..
__ADS_1
......................