Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Penjelasan Deni


__ADS_3

"Gitu dong Sep, sering main dong ke toko gue. gak ada teman ngobrol di sini, elu sengaja mampir?" tanya Deni pada Asep.


" Ah, ngapain? nanti ujung-ujungnya minjem duit lagi. Saya memang sengaja datang kemari Bang, ada yang mau di obrolin, bahkan saya juga sengaja bawa Bah Nendi kemari." ujar Asep terus terang.


"Hah, ngobrolin apaan? Kok, gue jadi tegang." keluhnya.


" Saya ke sini mau bantu Bang Deni, biar nggak kejebak terus sama Dukun yang sering morotin duit abang. Ujung-ujungnya kan duit gaji saya yang di korbankan." keluh Asep.


" Hehe, iya sep maaf ya, nanti gue ganti, tapi nyicil ya? hehehe.. udah ah, jangan ngomongin hutang Sep, malu tuh ada teman elu di sini." ujar Bang Deni nyengir merasa canggung saat menatapku


" Gak apa-apa Bang, Bah Nandy ngerti kok, dia juga sudah tahu permasalahan kita Bang, makanya saya ajak dia kemari, dia ini punya kemampuan spiritual bang, jadi mungkin Bah Nandy bisa bantu Bang Deni lepas dari dukun matre itu." cetusnya Asep menjelaskan.


" Wah, yang benar sep dia juga paranormal?" jawab Deni kaget.


" Iya bang benaran, belum lama ini dia baru aja nolong Bos saya di tempat kerja, yang sudah di tipu mentah- mentah sama dukun palsu yang pura-pura jadi karyawan baru." celoteh Asep.


" Oh, jadi dia teman kerja elu di pabrik." cetus Deni.


" Hehe.. iya Bang." jawab Asep.


" Jadi pertama-tama bang Deni cerita dulu sama bah Nandy masalah bang Deni padanya." ujar Asep.


" Silahkan bang, mulai cerita saja, jangan sungkan." ungkapku.


" Hmm.. jadi begini, waktu saya baru saja buka toko ini, pembeliku masih belum ramai karena masih baru, suatu hari saya di tawari teman saya untuk datang ke seorang paranormal, tujuannya agar tokoku bisa laris manis, katanya paranormal itu adalah seorang wanita yang berasal dari titisan prabu siliwangi, saya banyak dengar dari teman saya itu, katanya yang pergi ke sana ada banyak, namun saya tidak tahu pasti, apakah keinginan mereka berhasil terlaksana atau tidaknya. karena penasaran saya coba ke sana.


Pertama kali, saya di suruh untuk membeli sebuah keris miliknya berukuran cukup besar, serta membayar sebuah mahar dengan harga yang cukup mahal, katanya untuk penglaris dagangan. Terpaksa uang sisa modal milik saya, saya pakai untuk membelinya, saya simpan keris itu di etalase toko, tapi tidak ada perubahan, tetap saja sepi, seperti awal baru buka toko.


Kedua kali, saya pergi lagi untuk meminta pertanggungjawaban, bukannya mendapat penjelasan justru dia menawarkan lagi barang lain untuk saya beli, dia bilang barang ini lebih bagus dari barang yang kemarin, lebih cepat menarik pembeli dan juga sakti, saya sempat menolak bah, tapi dia bilang saya wajib membelinya, jika tidak, akan ada pengaruh buruk, serta kutukan yang akan menimpa saya nanti, sebab saya sudah terikat dengan janji dan mahar padanya tempo lalu." tutur Deni menceritakan pengalamannya.


"Apa Bang Deni belum pernah coba, untuk menolak atau tidak membeli sesuatu darinya, terus, apa benar ada hal buruk yang terjadi seperti yang dia katakan?" tanya Asep.


"Pernah Sep, saya sempat menolak sebuah barang waktu itu. Setelah pulang dari sana, hawa di toko berubah tiba- tiba, gue sering merinding dan takut tanpa sebab, barang dagangan di etalase jatuh sendiri, seperti ada yang menjatuhkan, bahkan sering lihat yang sekelebat bayangan di sini, Seperti ada yang mengawasi gue tiap saat, padahal gue sendirian di sini." tutur Deni


" Apa benda-benda di atas meja ini, semua di beli darinya?" Tanyaku.


" Iya.. Sebagian benda lainnya saya simpan di kamar, karena harga yang saya beli sangat mahal sekali." ujar Deni.


" Boleh saya lihat bang?"tanyaku.

__ADS_1


" Duh, bagaimana ya? Benda yang di dalam itu di simpan, alasannya bukan karena harga nya yang mahal saja, tapi memang dukun itu melarang saya agar benda tersebut tidak boleh di sentuh orang lain, saya takutnya ada pengaruh nanti ke Abah. jika Abah, kenapa- kenapa bagaimana?" ujar Deni memasang ragu.


"insyaallah tidak akan tejadi apa apa." jawabku meyakinkannya


"Iya bang, keluarin aja bendanya, si Abah kan niat bantu kita, pasti dia juga perlu melihat semua benda yang berasal dari dukun itu." usul Asep.


"Ya sudah, tunggu sebentar aku akan mengambilnya." jawab ucap Deni dan berlalu menuju kamarnya.


Dengan wajah takut dan tergesa-gesa Deni pun kembali dengan membawa sebuah benda berukuran kecil yang di bungkus kain putih dan di ikat benang merah.


"Ini bah bendanya." ujar Deni menyodorkan barang tersebut dan meletakkannya di atas meja.


Aku pun segera mengambil gulungan kain tersebut dan membuka benang yang mengikatnya.


Aku amati benda tersebut dengan seksama, dan mengira apa isi di balik kain tersebut.


"Bah yakin mau di buka?" tanya Deni.


Aku mengangguk.


"Saya takut terjadi apa-apa pada kita semua " ujar Deni nampak gelisah.


"Jangan banyak tanya Bang, tenang saja si Abah ini sudah profesional."ucap Asep meyakinkan.


Aku membuka dengan sangat perlahan, kami semua tegang.


Saat kain itu terbuka, di dalamnya ada sebuah patung kecil berbentuk manusia dan keris kecil seukuran jari kelingking.


Asep terheran melihatku terdiam dengan mengerutkan alis saat menatap benda tersebut.


" Kenapa bah?" tanya Asep


" Lebih baik benda ini harus segera di hancurkan atau di lenyapkan." tuturku tanpa basa-basi.


Tiba-tiba sosok nenek-nenek tadi muncul lagi.


" Mau kamu apakan benda itu? Jangan ikut campur urusan tuanku, cepat kembalikan benda itu ke tempatnya." tegas Nenek itu sedikit marah.


" Ternyata Nenek masih berani muncul di hadapanku ya? padahal aku sudah menyuruhmu untuk pergi dari sini." gerutuku menjawab dalam lewat pikiran pada nya.

__ADS_1


" Aku tidak akan mengikuti apa yang kamu katakan, karena kamu bukan lah tuanku." jawab Nenek tersebut.


" Meskipun begitu, aku akan tetap menghancurkan benda ini." ancamku padanya.


" Tidak boleh! jika kamu berani melakukan itu, aku akan adukan pada tuanku, agar aku di izinkan untuk menyakitimu." jawabnya lalu pergi menghilang.


Bagus! Pergilah aku akan membuntutimu setelah ini.


" Boleh aku pinjam kamar Bang Deni sebentar?" tanyaku tiba-tiba.


" bo-boleh." jawab Deni merasa aneh namun mengizinkan.


Aku bergegas masuk ke dalam kamar Bang Deni,lalu menutup pintunya rapat-rapat, aku tidak peduli dengan Asep dan bang Deni yang menatapku dengan bingung.


Aku segera mencari tempat untuk duduk bersila, sebab patung dan keris tersebut mengeluarkan radar menuju tempat sang empu nya.


Aku pun langsung meraga Sukma untuk mengejarnya, ada portal bercahaya putih jauh di depanku. Aku bergegas berlari kesana.


Aku yakin nenek itu pergi ke arah sana. Aku harus mengejarnya.


Namun saat aku hampir sampai di depan portal tersebut, tiba-tiba ada tangan-tangan yang menangkapku dari arah belakang.


Tangan-tangan itu menarikku mundur dan menjauh dari portal.


Aku reflek mencoba untuk melepaskan diri.


" Lepaskan aku! Siapa kalian?!" teriakku, lalu melirik ke samping kiri.


Aku kaget ternyata yang menangkapku adalah si nenek tadi.


Dia tertawa terkekeh-kekeh.


" Halo, anak muda! Khihihihihi..." ucapnya


"Tikus kecil terpancing jebakan kita." ucap seseorang di samping kananku, refleks aku menoleh juga ke samping kanan.


Astaga! Siapa dia? ke..kenapa wajahnya sama? Bahkan sangat mirip..


" Kamu terkejut?! khihihihihi...." ucap satunya dan tertawa juga.

__ADS_1


................…


__ADS_2