
" Sembunyi Man!" sontak aku menarik Iman untuk bersembunyi, karena sosok itu menyadari suara teriakan Iman tadi, Dia mencari-cari.
Untunglah karena kami langsung bersembunyi, sosok tersebut kembali duduk.
"Man, sepertinya dia bukan setan, kakinya menapak di tanah pasti dia manusia coba kita lihat lebih dekat.." ucapku sambil sedikit mengendap-endap.
Karena mata kami sudah terbiasa dengan suasana gelap, kami bisa melihat dengan jelas. Benar dugaanku dia manusia, bukan mahluk.
Dia tetap terduduk seolah menunggu sesuatu, dari ciri-cirinya dia memakai ikat kepala dan baju pangsi.
Tunggu, Aku merasa familiar dengan orang itu, tapi siapa ya?
"Bah! Dia kan bapak kuncen air terjun yang di temui bokap gue waktu itu." seru Iman yang sedari tadi dia juga mengamati orang tersebut.
" Ah ya benar! tapi sedang apa dia duduk di sana man? seolah dia sedang menunggu sesuatu." ucapku sambil bersembunyi di balik pohon yang jaraknya cukup aman.
" Gak tahu bah! Jangan-jangan dia mau ketemu siluman ular lagi, Hiiii... Mendingan balik yuk bah, gue takut." keluh Iman.
" Kita awasi saja dulu dari sini, lagian ini sudah setengah jalan, masa pulang gitu aja, apalagi ini tuh tugas penting yang harus gue selesaikan, jika ingin semua cepat selesai kita harus cepat sampai ke air terjun."ucapku.
" Tapi gimana caranya kita ke sana bah? Kuncen itu ada di depan kita sekarang, sedangkan di sini tidak ada jalan pintas lain, jika kita terang-terangan melewati dia, aku yakin dia tidak akan melepaskan kita bah." tutur Iman.
" Iya man, gue juga bingung nih, dia bukan hanya akan menangkap kita, gue juga takut dia akan menyerang kita." jawabku sedikit bingung dan cemas bagaimana jika aku di serang seperti waktu itu.
" Ya udah kita pulang aja lah bah! daripada disini kan berbahaya, aku sudah tidak tahan di hutan ini, disini banyak sekali nyamuknya.." keluh Iman lagi sambil menepuk-nepuk nyamuk dan menggaruk tangannya yang gatal.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Iman yang merengek kukuh ingin pulang seperti anak kecil.
Aku tidak bisa pulang begitu saja man, Ki Dayeng pasti menunggu ku di air terjun. Aku harus cari cara bagaimana agar aku bisa sampai air terjun tanpa di lihat oleh kuncen itu.
" Kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia akan pergi dari sana." ucapku berharap.
Kami pun menunggu dan duduk termenung di tanah bersandar pada pohon, memikirkan jalan keluarnya.
Tiga puluh menit pun berlalu.
"Kita harus nunggu berapa lama lagi bah, gue pengen balik nih." keluh Iman lagi.
Aku mencoba kembali mengintip memastikan Kuncen itu sudah pergi atau belum.
__ADS_1
Sialnya saat aku akan hendak mengintip..
Tiba-tiba..
" Astagfirullah!" seruku terkejut hingga sedikit terhentak mundur.
Ki Dayeng tiba-tiba muncul dengan menampakkan wajahnya di depan wajahku.
"A.. Ada apa Bah!" Imun pun sama terkejutnya karena aku.
"Nggak ada apa-apa Man, i.. Itu tadi ada.. Ada katak, yaa..ada katak yang meloncat ke arahku. Aku Sampai kaget. Hee .." ucapku mencari alasan agar Iman tidak panik.
" Lah, Gue kira ada setan, Ah elu, sama katak aja takut. Bikin kaget aja." kata Iman mengejekku.
Ternyata Ki dayenh mendengar pembicaraanku dengan iman.
"Tadi kamu sebut aki apa??! katak!" timpal Ki Dayeng sedikit kesal padaku.
"Bukan.. bukan seperti itu maksudku Ki! aku hanya mencari alasan agar temanku tidak sampai takut, Aki sih! Ngapain tiba-tiba muncul depan muka." ucapku berbisik pada Ki dayeng.
"Elu bisik-bisik ngobrol sama siapa Bah!? Gue curiga pasti ada setan, pasti di dekat gue kan?! Haduhh..Gue jadi merinding.."ucap Iman ketakutan dan gelisah
"Nggak kok, gue nggak ngomong sama siapa-siapa, Man! Ini gue cuman kesel sama nyamuk pada gigit begini." ucapku beralasan sambil berpura-pura menepuk- nepuk tangan.
" Lah, Ki terus aku harus bagaimana menjelaskan padanya, masa aku harus bilang aku mengobrol dengan aki, dia kan gak bisa lihat wujud aki, pasti dia makin ketakutan, bakal makin berisik mengajak untuk pulang." keluhku akhirnya berbicara lewat pikiran.
" Kenapa kamu lama sekali, aki sudah menunggu kamu di air terjun. Karena lama aki kembali menyusul kemari." Keluh Ki Dayeng.
" Aki nggak lihat, di depan sana ada siapa?" dia kuncen yang dulu menyerang kita, bagaimana aku bisa sampai ke air terjun, jika dia ada disitu." keluhku.
" Yaa, kamu tinggal melewatinya saja." ucap Ki Dayeng
" Kalau dia menangkap dan menyerangku seperti waktu itu bagaimana? "keluhku lagi.
" Yaa, kamu tinggal bertarung saja lawan dia." jawabnya.
"Aki ini menyebalkan kan yaa! enteng sekali kalau menjawab, Dia itu lebih sakti dariku, terus aki juga nggak ada tadi, bagaimana aku berani menyerangnya, pukulannya waktu itu masih membuatku sedikit trauma." keluhku kesal.
"Ya sudah, serang saja dia sekarang, aku kan sudah datang." jawabnya Ki Dayeng lagi.
__ADS_1
" Ya Allaah..! Ya Robbiii...! Berikan kesabaran yang banyak untukku.." keluhku menahan kesal.
Apa boleh buat, aku mengikuti saran Ki Dayeng untuk melewati kuncen itu begitu saja, jika dia menyerang, mau tidak mau aku harus melawannya.
"Aki akan mengawasi dari atas, jika kamu terdesak aki akan turun tangan." ucap Ki Dayeng tiba-tiba menghilang.
Kan... Lagi-lagi.. Dia menimpakan semuanya padaku.. Nasibku yang malang..
Aku dan Iman menghampiri kuncen tersebut.
" Akhirnya kalian datang juga.." ungkapnya Pak kuncen.
Aku dan iman bertukar pandang terheran-heran.
" Aku sudah lama menunggu kalian disini!" tuturnya.
Jadi dia dari tadi menunggu itu.. Menungguku?
" Kenapa kamu menunggu kedatangan kami?" tanyaku.
" Tentu saja aku menunggumu untuk mencegahmu. karena aku sudah tahu pasti kamu akan kembali kemari setelah pertemuan kita di air terjun, aku yakin tujuanmu sekarang adalah untuk menghancurkan tempat pesugihan." tuturnya.
"Benar! Aku kesini memang untuk menghancurkan tempat pesugihan itu, lantas kamu mau apa?" tanyaku.
" Wah! dugaanku benar ! ternyata aku sepandai itu, tapi jangan harap kamu bisa sampai ke air terjun, jika bisa lawan aku lebih dulu. Aku yakin kemampuanmu tidak sebanding denganku." ucapnya sombong.
"Baiklah, ayo kita bertarung." tantang ku memberanikan diri.
" Tunggu! Aku akan tidak mau ikut campur aku akan bersembunyi di balik pohon."ucap Iman dan berlari ke belakang pohon.
Dengan cepat dia mengeluarkan tenaga dalamnya dan hendak memukulku. Namun dia terpental.
Aku heran..
Kok dia terpental, aku kan belum melakukan apa-apa..
Sekali lagi dia bangkit dan hendak memukulku lagi dengan tenaga dalamnya.
Lalu terpental lagi.
__ADS_1
" Apa-apaan ini, ternyata dia cukup kuat seranganku tidak mempan padanya. Aku akan coba sekali lagi." pikir si pak kuncen.
......................