
"Ada satu hal lagi yang aku ingin tanyakan, sampai kapan kamu terus menjadi perantara manusia yang sudah mati, dan berhenti bergentayangan?" tanyaku.
" Hingga empat puluh hari setelah kematian mereka, lalu kami akan pergi dan kembali pada sang kuasa. Jika hari kiamat tiba, dan amalan manusia di hisab, jika manusia yang kami ikuti masuk neraka, maka kami pun juga akan ikut di siksa bersamanya di neraka, jika manusia yang kami ikuti masuk syurga, maka kami akan menjadi pelayannya disana, kita akan bersama-sama mendapatkan kenikmatan syurga."
" Baiklah aku mengerti." jawabku.
KemudianJin Qorin dan Jin Qorik ku kembali masuk kedalam raga kasarku.
Aku termenung sejenak akan semua penjelasan dari Jin Qorin ya g membuatku sadar akan tugasku hidup di dunia. banyak rahasia yang tidak kita ketahui tentang ciptaan-Nya, Kenapa kita selalu lalai dalam melakukan kewajiban kita dan kadang kita lupa untuk bersyukur padahal tanda-tanda kekuasaannya sangatlah nyata adanya.
Akan aku jadikan ini sebagai pembelajaran untuk memperbaiki hidupku ke depannya.
" Anom! kembalilah ke raga kasarmu, sudah terlalu lama raga halusmu di luar." titah Ki Sugro.
" Kembali? Bagaimana caranya Ki aku tidak tahu?" ucapku kebingungan.
" Dekatilah raga kasarmu, sesuaikan irama nafasmu dengannya, jika sudah sama, masuklah saat dia tengah mengambil nafas." tutur Ki Sugro.
Aku mencoba apa yang Ki Sugro suruh, dan aku berhasil kembali ke ragaku.
......................
Beberapa hari kemudian.
Setelah kejadian kemarin, aku sama sekali tidak terkejut melihat Jin Qorinku sesekali menampakkan dirinya padaku, seolah dia memberitahu jika dia sedang melakukan hal yang sama persis, seperti yang sedang aku lakukan saat ini.
Namun ternyata dia tidak hanya menampakkan dirinya padaku namun juga pada istriku Dita.
Tentu saja Dita terkejut dan sedikit takut.
" Yah, kemarin malam kamu tidur jam berapa?" tanya Dita.
" Hmm.. Sekitar jam dua belas lebih, kan Rayi sempat bangun, setelah dia mulai mengantuk aku menidurkannya dan aku juga ikut tertidur, memangnya kenapa?" tanyaku balik, heran melihat Dita mengerutkan alisnya seolah nampak berpikir keras.
" Hmm.. Tidak ada apa-apa mungkin aku salah lihat." jawabnya.
" Memangnya kamu melihat apa? coba cerita." tukasku.
" Hmm itu, kemarin malam sekitar jam dua dini hari aku sempat terbangun, cuma membuka mata saja ingin merubah posisi tidurku yang miring ke kiri, aku lihat kamu sedang duduk di samping dekat kakiku. mengarah ke jendela sambil menunduk, ku kira kamu belum tidur dan sedang asik bermain ponsel, aku juga tida bertanya karena saking mengantuknya, tapi saat aku mencoba merubah posisi tidurku dan berbalik miring ke arah kanan, aku kaget lihat kamu sedang tidur di sampingku. Lalu yang duduk tadi siapa? pas aku tengok lagi ke kiri sudah tidak ada siapa-siapa. Dia mirip sepertimu dari belakang, baju yang dia pakai juga sama seperti yang kamu pakai kemarin malam. sempat kaget sih, Apa itu hantu? atau aku terlalu berimajinasi saat terbangun dari tidurku" tanyanya nampak sedang berpikir berat.
" Oh, itu bukan hantu tapi Jin Qorinku" ucapku sambil tersenyum.
" Hah?" jawab Dita kaget.
" Iya Jin Qorin, kamu tahu kan Jin Qorin?" ucapku.
" Ta.. Tahu sih, tapi kenapa dia menampakkan dirinya padaku. Bukankah harusnya dia menampakkan diri saat kita sudah meninggal, kamu kan masih hidup." ujar Dita.
" Mungkin dia ingin berkenalan denganmu, kamu kan juga tahu aku pernah cerita saat aku berumur empat puluh tahun nanti, aku harus pulang. Entah pulang itu maksudnya pulang sementara(mati suri) atau selamanya. Jadi mau Jin Qorin itu menampakkan diri sekarang atau nanti juga sama saja kan." tukasku
BUK!
" Kenapa kamu memukulku." keluhku yang di pukul Dita di bagian pundak.
__ADS_1
" Kenapa sih bicaranya harus begitu!" ucap Dita marah sambil memukulku dengan majalah yang dia baca.
"Memang seperti itu.. Nyatanya..
BUK! BUK! Dita memukulku lagi
"Aw.. iya-iya aku aku berhenti ngomong!" ucapku sambil berpura-pura sakit karena pukulannya.
" Kenapa sih, mudah sekali kamu ngomong begitu, gak sayang kamu sama keluarga? Kamu gak mau melihat anak-anak kita tumbuh dewasa dan berkeluarga? Gak bisa kamu berdoa yang baik-baik? Daripada ngomong seram begitu." ucap Dita sedih.
" Wallahuallam Dita, aku hanya di beritahu oleh 'mereka' saat umur empat puluh aku harus kembali, tapi kan kita tidak kebenarannya seperti apa." ucapku.
" Tapi Mereka kan tidak punya hak untuk menentukan umur seseorang! semua itu cuman tuhan yang tahu! Mereka juga bukan malaikat ataupun utusan-Nya! Kamu seumur hidup harus terus-terusan menolong orang yang berhubungan dengan hal ghaib, sampai nyawa jadi taruhan, itu saja sudah berat untuk seorang manusia biasa, apa dalam pikiranmu pernah terbesit, apakah kamu gak berhak untuk hidup bahagia bersama keluargamu, setelah apa yang kamu lakukan dan korbankan selama ini ?" ucap Dita menyeka air matanya meninggalkanku sendirian.
"Aku selalu mendoakanmu dalam shalatku agar kamu selalu sehat, panjang umur dan selalu dalam lindungan-NyA, aku tahu allah itu maha adil dan berkuasa atas segalanya. dia pasti mendengarkan doaku yang tulus untukmu. Jadi tolong berhentilah mengucapkan kematian dengan mudah. Setiap kali kamu mengucapkan itu, Aku benar-benar ketakutan, bagaimana aku bisa hidup tanpamu. apakah aku harus memiliki kemampuan sepertimu agar aku bisa mencegah kepergianmu saat umurmu empat puluh tahun nanti." ucap Dita dalam hati dan pergi masuk ke kamarnya dengan air mata yang terus menetes.
......................
Malam harinya aku kembali bermeditasi dan melakukan lagi Meraga Sukma.
Ki Sugro membuat akses dimensi, lalu muncul sebuah gerbang berbentuk lingkaran hitam yang di kelilingi energi berwarna putih seperti asap.
" Peganglah tanganku, Anom!" ucap Ki Sugro.
Kami berjalan memasuki lingkaran hitam itu, lalu setelah aku masuk di dalamnya seperti dalam terowongan goa yang gelap.
Kami pun berjalan menelusurinya terowongan itu.
" Kita mau kemana Ki?" tanyaku penasaran.
Semakin kami jauh berjalan semakin terdengar suara-suara aneh, seperti teriakan dan suara-suara yang memanggilku. Namun kami terus berjalan.
" Suara apa itu Ki, lalu kita sedang dimana? Ini tempat apa?" tanyaku.
" Ini adalah dunia pararel, dunia yang menjadi penghubung antara dimensi-dimensi lainnya." jawab Ki Sugro singkat.
Dari kejauhan kami melihat banyak pintu yang bercahaya. Ki Sugro menarikku ke salah satu pintu bercahaya yang ada di sebelah kanan.
" Pergilah kamu lebih dulu, nanti aki akan menyusul." ucapnya
Aku pun memasuki pintu tersebut.
Dan tiba-tiba, aku berada di tepi laut, dengan banyak sekali batu karang yang besar-besar, keadaanya terlihat begitu sepi, hanya suara deburan ombak kecil yang ku dengar.
Aneh aku merasa tidak asing dengan tempat ini, seperti pernah kemari sebelumnya tapi kapan?
Aku pun mencoba menyusuri tempat ini.
Aku harus kemana sekarang? Ki Sugro pergi kemana lagi katanya mau menyusul tapi tak kunjung datang?
Lalu aku menemukan sebuah batu karang yang sangat besar dan tinggi, di atasnya ada seseorang.
Aku mencoba menaiki batu besar itu. Setelah sampai di puncak batu besar, aku melihat seseorang yang tengah duduk bersila, namun tubuhnya kecil seperti seperti anak kecil.
__ADS_1
Mahluk apa ini? Bangsa Jin atau manusia?
Aku mencoba mendekatinya, sepertinya. dia sedang bersemedi.
Anak kecil bersemedi?
Semakin mendekat, ternyata dia berjanggut panjang. Dan bukan anak kecil melainkan kakek kerdil.
Aku mencoba menyapanya.
"Sampurasun?" ucapku.
Dia hanya diam sambil memejamkan mata.
"Sampurasun?" sapaku lagi.
Dia tetap diam dan tidak menjawab.
" Sampurasun?"sekali lagi aku mencoba menyapanya.
" Dari pada kamu banyak bicara, lebih baik kamu ikuti apa yang sedang aku lakukan, duduk dan bersilalah di sampingku, jangan sampai kamu beranjak sedikitpun dari sini apapun yang terjadi nanti." tuturnya padaku.
Aku sempat kaget namun aku langsung mengikuti apa yang dia katakan padaku, aku pun duduk namun aku bingung apa yang harus aku lakukan, beberapa kali aku celingukan kesana kemari melihat sekeliling.
Aku juga sulit untuk fokus, karena tidak tahu aku harus fokus pada apa dan bagaimana, aku hanya bisa memejam dan membuka mataku berulang kali, sesekali melirik ke arah si kakek kerdil.
Dari kejauhan aku melihat ombak besar dan tinggi menuju ke arah kami. Aku ingin beranjak dan pergi dari sini. Namun aku ingat kata si kakek kerdil aku tidak boleh pergi apapun yang terjadi.
Bagaimana ini aku harus apa? Apalagi aku tidak bisa berenang, jika ombak itu menerjang aku bisa mati tenggelam. Bocah tua ini kenapa tidak melakukan sesuatu, apa sih yang sedang dia lakukan!
Ombak besar itu semakin lama semakin dekat. Gemuruh ombak nya juga semakin keras terdengar, Bahkan ombak itu sudah berada atas kepalaku hendak menerjangku.
Oh tidak ! Mati aku!
ZRRASH...
Tiba-tiba ombak terbelah menjadi dua saat menghantam batu karang yang besar ini, Aku terkejut bukan main ku kira ombak tadi akan menyeretku hingga tenggelam, ternyata hanya melewatiku begitu saja dan hanya menyisakan sedikit cipratan air yang mengenai tubuhku.
Aku terdiam melongo.
Kenapa ombak tadi bisa seperti itu?
" Hahahahaha...." ucap kakek kerdil itu tertawa lepas.
"Astaga... ada apa dengan Si Sugro.. Aku kira dia sudah mengajarkan bocah ini ilmu yang tinggi" ucapnya mengoceh sendiri.
Kenapa dia tahu Ki sugro?
" Kenapa aki bisa kenal dengan Aki Sugro?" tanyaku penasaran.
" Tentu saja aku kenal, siapa yang tidak kenal dengan si kucing budug." ejeknya.
" Lantas, aki ini siapa?" tanyaku.
__ADS_1
......................