
Kenapa dia terpental padahal aku belum menyerang dia sama sekali..
" Hebaattt bah! Lanjutkan bah!" sorak Iman dari balik pohon melihat pertarunganku.
Saat Pak kuncen itu hendak menyerang untuk ketiga kalinya padaku, tiba-tiba semburan api muncul menyerangnya dia terpental lagi.
" Oh jadi begitu! Pantas saja kamu terlihat kuat, ternyata ada yang ikut membantumu rupanya.. Cepat keluar kamu bocah, jangan bersembunyi!" teriak Pak Kuncen pada Ku Dayeng yang bersembunyi di atas pohon.
Namun bukan Ki Dayeng yang keluar dari persembunyian, melainkan Iman.
Iman menghampiri aku dan Pak Kuncen.
Pak Kuncen terlihat aneh menatap Iman.
"Kenapa dia memanggilku bah?" tanya Iman kikuk.
Aku menepuk jidatku.
" Bukan elu yang dia panggil Man!" jawabku.
" Lah! Jelas-jelas dia panggil gue bocah, terus di suruh keluar dari tempat sembunyi, ya berarti gue kan? memang ada lagi orang lain disini selain kita bertiga?" tanya Iman.
"Ya tetap aja bukan elu yang dia sebut." jawabku.
" Terus siapa?" tanya Iman.
"Mmm.. Rekan ghoib gue." jawabku jujur agar Iman mengerti dan berhenti menganggu pertarungan.
" Oh, gitu... Dimana rekan ghoib lu?" tanya lagi.
"Duh, Udah sembunyi lagi sana! Di sini berbahaya, dari tadi elu ganggu jadinya kan terhambat." Keluhku pada Iman.
" Oh, Apa jangan-jangan semburan api yang gue lihat itu berasal dari rekan ghoib elu Bah? Iya kan..?" tanya Iman memastikan.
Aku tidak menjawab pertanyaan Iman yang terus mengoceh, aku justru berusaha untuk mendorong tubuh Iman untuk kembali ke balik pohon.
Sementara Ki Dayeng sudah muncul dan sedang bertarung dengan Pak Kuncen.
Ki Dayeng sekali lagi menyemburkan Api pada Pak kuncen.
" Bah! itu ada api lagi! Kok! dia terpental sendiri, elu kan disini terus yang serang dia dia sana siapa?." Iman heran lagi.
" Ssst,, elu bisa nggak.. Jangan banyak tanya dulu man, elu diem aja di sini, oke." tegasku
" Nggak ah! Gue ikut elu, gue janji gak bakalan ganggu, gue cuman gak mau sendiri bah, gue takut, biarin gue di deket elu ya?" pinta Iman.
" Astaga..." ucapku mulai jengah.
Iman mengikuti aku menuju pertarungan, aku berusaha membantu Ki Dayeng. Dan Iman berdiri tak jauh dari belakangku.
__ADS_1
Kami beradu kekuatan fisik juga tenaga dalam.
Pak Kuncen tiba-tiba duduk bersila dan memejamkan mata dia membaca lagi mantra.
Duh! serangan apa yang dia akan gunakan? Apa mungkin samber nyawa seperti waktu itu..
Tiba-tiba muncul sosok hitam kerdil seukuran Ki Dayeng, bermata merah, bercakar dan bertaring.
Mahluk apa itu?!
"Baahh! Itu apaaan?!" teriak Iman histeris, ternyata dia juga melihatnya.
Bukan hanya satu, namun tiga, mereka berlari dengan cepat dan gesit menghampiri aku dan Iman.
Dua sosok itu menyerangku dan satu sosok lagi mengincar Iman, Iman sontak berteriak ketakutan dan berlari kabur.
" Aaaaa.. !! Bah tolong gue! Hiiii.... Bah dia ngejar gue." teriak Iman yang berputar-putar mengelilingi pohon mencoba menghindari sosok hitam kerdil yang terus mengejarnya dengan gesit dan meloncat-loncat, seakan sedang bermain kejar-kejaran bersama Iman.
Kulihat Ki Dayeng masih bertarung dengan pak kuncen, kurasa dia sengaja mengeluarkan sosok hitam kerdil agar kami tidak mengganggu pertarungan mereka.
"Tunggu Man! Gue beresin yang ini dulu."seruku.
Mahluk yang satu bergelantung di kakiku sambil mencakar-cakar tubuhku hingga bajuku terkoyak, dan yang satu lagi bergelantung di tanganku dia hendak menggigitku.
Aku pukul kepalanha yang hendak mengigitku, dan aku lempar sejauh mungkin.
Dan yang satu lagi mencakarku, aku tarik tubuhnua dan ku tendang sekeras mungkin hingga dia terpental jauh.
Melihat aku berhasil melawan mereka, Iman yang masih di kejar satu sosok lagi, dia langsung berlari ke arahku.
" Toloong guee bah!" teriak Iman sangat panik dan takut.
Namun saat Iman hampir mendekatiku, sosok hitam kecil itu berlari lalu melompat dan bergelantung di leher Iman.
" Aaaaaaaa.. Lepasin gue! Lepasin! sana pergi!!" teriak Iman dan meronta-ronts mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan berkuku tajam tersebut.
Namun tenaganya kalah dari sosok kerdil tersebut. Dan..
GRAUK!!
"Aaaaaaaaaa...." Sosok hitam kerdil itu berhasil menggigit leher Iman, Iman langsung pingsan di tempat.
Aku langsung menarik kepala sosok kerdil itu dari tubuh Iman, dan melemparnya ke arah pohon besar, terhantam begitu keras hingga berbekas, dan menghilang.
" Man..?" aku mengecek keadaan Iman.
" Dia pingsan.. Ah biarkan saja dulu dia seperti ini, memang lebih baik dia pingsan dari pada bangun dan menggangguku." ucapku sambil membopong Iman ke tempat aman, dan ku baringkan dia di bawah pohon yang sedikit jauh dari tempat pertarungan.
Aku pun bergegas membantu Ki Dayeng yang mulai kewalahan melawan Pak Kuncen.
__ADS_1
"Anom dia cukup sakti, pertarungan inicukup menguras tenagaku." keluh Ki Dayeng dengan nafas tersengal-sengal.
" Apa yang harus aku lakukan untuk membantu mengalahkannya Ki? apa aku serang saja dia dengan Brajamustiku." usulku.
" Jangan.. Brajamustimu hanya bisa di gunakan sekali, lebih baik kamu gunakan itu saat menyerang siluman ular nanti, aki masih bisa mengalahkannya dengan ini.." tutur Ki Dayeng dan langsung menyemburkan api nya, namun semburan api dari mulutnya cukup berbeda.
Api itu sangatlah besar, hingga tidak saja membakar Pak kuncen tapi juga pohon- pohon di sekililingnya.
"Aaaaaaa .. Panaaaas! Kulitku terbakar! Aaaaaa..." teriak Pak Kuncen histeris tubuhnya di kelilingi api, dia berlari dan kabur menuju air terjun.
" Fuuuhh.." Ki Dayeng meniup sekali, api yang membakar pohon- pohon tadi langsung padam dalam hitungan detik.
" Ayo kejar dia Anom! Dia menuju air terjun!" seru Ki Dayeng
" Tunggu Ki! Bagaimana dengan Iman, dia pingsan di sana." tunjukku memperlihatkan Iman pada Ki Dayeng.
" Biarkan saja dia sana.." jawab Ki Dayeng
" Jangan dong Ki.. kalau dia terbangun dan mencariku, lalu dia kenapa-kenapa bagaimana?" ucapku cemas.
" Ya, sudah bangunkan saja dia." jawabnya lagi.
Aku lekas membangunkan Iman.
" Maaan, bangun Man!" panggilku sambil menepuk pelan pipinya."
" Aaaaaa! Lepasin! Lepasin gue setan! Aaa!" teriak Iman dalam keadaan terpejam.
" Hey! Bangun setannya udah gak ada, elu udah aman!" ucapku mencoba membuatnya tersadar.
Akhirnya Iman membuka matanya dengan keringat yang mengucur banyak. Dia celingukan melihat sekitar.
" Bah! Mana setan tadi?" tanya Iman langsung waspada.
" Gue udah banting dia ke pohon besar. dia udah pergi." ucapku.
" Be.. Beneran Bah? Setan tadi udah nggak ada?" Tanya Iman lagi dengan wajah yang masih siaga dan takut.
" Iya, ayo buruan kita harus segera ke air terjun." ajakku.
" Nggak bah! Gue nggak mau, gua mau pulang sekarang." keluh Iman merengek lagi.
" Tapi urusan gue di sini belum selesai man. ya udah, elu tunggu aja di sini, gue pergi beresin urusan gue dulu." ucapku.
" Hii, masa gue ditinggal disini." keluh Iman.
" Ya udah, elu mau disini atau ikut gue." ucapku.
" Gue ikut elu deh.. " jawab Iman dengan terpaksa.
__ADS_1
......................