Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Iman bergabung?


__ADS_3

Pak Yono dan pria yang di bawa nya, masuk ke dalam rumah besar itu.


Aku dan Iman berhenti sejenak di depan pagarnya yang sudah tua dan berkarat.


" Bah, Kok berhenti disini? enggak ngikutin dia sampai dalam?" tanya Iman heran.


" Gak bisa Man, Terlalu berbahaya jika kita menerobos masuk tanpa persiapan." tuturku sambil menatap ke atas atap.


" Kalau enggak masuk, terus kita ngapain disini?" tanya iman.


Aku tak sempat menjawab pertanyaan Iman , karena fokusku tertuju pada sesuatu yang ada di atas atap rumah tersebut


" Bah! Woy! Malah bengong, Liat apaan sih di atas?" tanya iman keheranan.


"Sembunyi Man!" seruku sambil menyuruh Iman berjongkok dan bersembunyi di balik rumput ilalang yang tinggi.


Iman menurut, namun ia nampak kebingungan.


" Ada apa Bah, kenapa lu nyuruh gue jongkok sih? Jelasin sesuatu, kek!" ujar Iman makin bingung.


"Sst, Jangan berisik Man, Di atas atap rumah itu ada sekelompok klewing, terus salah satunya sedang melihat ke arah kita. Elu paham kan! kenapa gue suruh jongkok. Agar kita enggak ketauan." jelasku pada Iman sambil tetap bersembunyi di balik ilalang dan tetap mengawasi Klewing-klewing itu dari tempatku.


Aku merasa heran, karena Iman tidak menanggapi apa yang aku ucapkan barusan, biasanya dia langsung panik atau ketakutan sehingga aku refleks menoleh padanya.


Astaga!


Aku justru melihat Iman sedang berdiri tegap, dia menatap fokus ke arah para Klewing yang kini sedang terbang ke arah kami.


" Man! kenapa elu malah berdiri! cepetan lari, para Klewing itu jadi melihat kita." seruku menarik tangan Iman untuk melarikan diri


Anehnya, Saat aku hendak menarik Iman untuk kabur, Iman justru berbalik menarik tanganku. Dia menatap ke arahku. raut wajahnya berubah, dia terlihat marah dan bringas, matanya merah menyala.


Jelas dia bukan Iman..


"Mau lari kemana?" ucapnya tersenyum menyeramkan dengan sorot mata yang tajam. Dia mencengkram tanganku dengan kuat


"Sadar Man! Elu kenapa? lepasin! Kok elu kaya gini!" ujarku mencoba melepaskan tangan Iman.


"Jangan banyak bicara! Ikuti aku!" tegas Iman dengan nada tinggi dan berat.


Matanya merah, seperti mata Klewing, apa mungkin Iman di rasuki Klewing lagi, argh.. sial!


Iman terus menarik tubuhku dan membawa ku hingga ke depan pagar rumah tersebut.


"Man! Sadar! kita dalam bahaya! lepasin Man! Lepasin gue!" tegasku, aku mulai mencemaskan keadaan kami berdua.


Karena satu persatu Klewing itu mulai turun.


Bagaimana ini..


Tiba-tiba aku melihat sebuah tangan dari arah belakang kami, tangan itu menutupi kepala Iman dengan kain hitam.


Aku kaget, refleks aku menoleh ke belakang.


dan.


BUGH!


Ugh!

__ADS_1


Terasa hantaman keras dari benda tumpul di kepalaku, sepertinya aku di pukul dari arah belakang.


Aku mulai pusing, penglihatanku kabur, meski berbayang, masih terlihat samar, ada sekumpulan orang berjubah hitam di depanku, dan mereka juga sama menutup wajahku dengan kain hitam, seketika semua gelap gulita.


......................


Perlahan aku membuka mata, Ku lihat Iman ada di depanku, Tapi aneh dia berpakaian sama dengan sekumpulan orang berjubah hitam di dekatnya.


"Imaaaan!" Refleks aku memanggilnya.


Aku mencoba menghampirinya, namun tubuhku tak bisa bergerak.


Ugh! Sial lagi-lagi aku di ikat seperti ini


" Iman! Tolong gue!" teriakku meminta tolong.


Namun sayang, Iman tidak mendengarku dia seolah terhipnotis menghampiri ke arah bayi yang di bawa Pak Yono.


Pak Yono tersenyum licik padaku.


" Kamu Lihat! Kawan baikmu ini, akan ikut bergabung bersama kami, Aku sangat tersanjung.. Hahaha.. Dengan begitu aku tidak perlu susah payah memaksanya." seru Pak Yono tertawa seakan dirinya menang.


" Tidak mungkin! Dia tidak akan sudi bergabung dengan kalian. Iman! sadarlah!" teriakku sambil meronta melepaskan Ikatan namun nihil seperti dalam mimpi, ikatan ini malah semakin kencang.


" Benarkah? sepertinya dia dengan sukarela bergabung dengan kami, bagaimana jika dia yang memimpin acara ritual pemujaan kali ini, untuk menyambut kedatangannya." ujar Pak Yono sambil menyerahkan bayi yang menangis pada Iman.


Entah dari Iman tiba-tiba memegang sebuah belati di tangannya, dia lalu mengangkat tangannya hendak menusuk bayi itu.


" Jangaaan! Iman jangan lakukan itu! Kasihanilah dia! bayi itu tidak berdosa!" teriakku memohon berharap iman mendengarku.


JLEB!


Bayi yang tadinya menangis seketika terdiam, darah keluar deras menutupi tubuh kecilnya, sementara pengikut yang lain mewadahi darah yang tengah mengucur dari tangan Pak Yono.


Tubuhku lemas melihat semua kejadian ini, Iman telah membunuh bayi tidak berdosa itu. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku.


" Hahahahah... Luar biasa! Tak aku sangka, kamu mampu melakukannya. Sekarang minumlah darah ini, agar kamu menjadi pengikut yang patuh" ujar Pak Yono.


" Jangaan! Iman kumohon sadarlah!" teriakku histeris lagi.


Tetap saja Iman tidak mendengarku, dia meminum darah itu dengan tatapan kosong. sampai habis tak tersisa.


Seketika air mataku mulai mengalir..


Hancur sudah, sahabatku telah jatuh di jebakan mereka. Iman maafkan aku, aku tidak bisa mencegahmu.


"Hey, kamu menangis?!" ucap Pak Yono menghampiriku, sambil mencengkram daguku.


" Ini hanya hukuman kecil bagimu, sahabat terbaikmu kini menjadi bagian dari kami, kami sudah memberikan peringatan-peringatan, agar kamu tidak ikut campur lagu dengan urusan kami, namun tetap saja kamu hiraukan. Jadi kini rasakanlah kekecewaanmu terhadap sahabat terbaikmu itu. Hahahaha..." ejek Pak Yono sambil pergi berlalu meninggalkanku yang masih terikat.


Iman berjalan mengikuti mereka dengan tatapan kosong.


Aku berharap sebelum dia pergi aku bisa menyadarkannya.


Saat Iman mulai melewatiku, aku berniat memanggilnya sekali lagi.


Tiba-tiba.


BRUK!

__ADS_1


Iman jatuh terduduk dengan lutut di lantai. Sambil menunduk. Sementara para manusia biadab itu menghilang entah kemana.


Syukurlah, dia tidak ikut pergi bersama mereka.


" Man!" panggilku.


Iman menoleh padaku. Dengan tatapan yang bercahaya, tidak kosong seperti tadi.


Syukurlah, dia sudah sadar.


"Bah! Kenapa kamu terikat disana!" ujarnya Dia menyadari dan melihat aku yang tengah terikat dia antara dua pilar. dia berlari ke arahku dan membuka semua ikatan di tangan dan kakiku


Setelah semuanya terlepas, aku langsung berterima kasih dan meminta maaf sambil tak kuasa menahan air mataku, aku sangat bersalah tak bisa melindunginya sehingga dia terjebak dan berhasil menjadi pengikut sekte 18.


Aku benci pada diriku yang seperti ini. Aku bersumpah setelah kejadian ini aku tidak akan membiarkan Pak Yono hidup tenang.


"Maafkan aku, Man!" lirihku.


"Kenapa elu minta maaf, elu kan enggak punya salah apa-apa sama gue? Astaga, elu malah nangis lagi! Dih, Elu kenapa sih? gue justru aneh, kenapa kita bisa ada di dalam rumah ini? kapan kita masuk? Ada apa sih Ini?"Iman bertanya-tanya.


" Elu tadi kerasukan Klewing! Tanpa sadar kita udah ketahuan waktu sembunyi tadi, elu narik gue buat masuk ke rumah ini, gue udah teriak nyoba nyadarin elu." tuturku bercerita.


" Apa! Gu, gue kerasukan Klewing! terus apa yang gue lakuin saat gue gak sadar? Apa gue ngelakuin kesalahan sampai elu minta maaf kaya gini? Ceritakan semuanya bah!" seru Iman panik dan kaget


Aku menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Iman nampak tercengang dan syok. Dia tak percaya dengan apa yang aku ceritakan .


" Nggak! Nggak mungkin! Nggak mungkin gue tega ngebunuh bayi bah!" ucap Iman tidak terima.


" Memang, Itu bukan diri elu yang asli Man, tapi Klewing yang menggerakan raga kamu untuk melakukannya. Kamu tidak lihat tangan kamu penuh darah, darah itu darah bayi yang kamu bunuh!" beberku pada Iman.


" Tidaaakk! Nggak Mungkiin! Elu bohong kan bah, tolong bilang ke gue kalau itu cuman karangan elu buat nakut- nakutin gue"teriak Iman mulai panik.


" Nggak, Man, gue sungguh-sungguh dengan cerita gue, bahkan elu udah meminum darahnya, lihat mulut elu belepotan merah akibat darah itu." Tuturku.


Iman langsung mengusap mulutnya, melihat darah yang membekas di telapak tangannya.


Iman langsung syok berat.


HOEK!


Iman mual dan memuntahkan semua isi di perutnya.


" Kenapa! kenapa elu gak coba cegah gue sebelum semuanya terjadi! Padahal elu tahu gue nggak sadar waktu itu, kenapa elu tega bah!" Iman murka.


......................


Assalamualaikum.


Sesudah baca, jangan lupa like nya ya.. biar makin semangat buat nulis.


Jangan lupa komen dan sarannya tentang apa yang kamu rasakan setelah membaca. sebagai semangat untuk memperbaiki tulisanku yang masih kurang bagus


Terima kasih sudah untuk dukungannya.


i love you readers.


😍🥰😘

__ADS_1


Wasalam.


__ADS_2