Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Bangsa Arof


__ADS_3

Hari sudah larut malam, jam menunjukan pukul satu malam, aku memutuskan untuk masuk kamar dan tidur.


Aku melihat Dita dan Anakku Raka (1 tahun) sudah terlelap.


Aku pun berbaring, namun saat berbaring wajah Ki Dayeng tiba-tiba muncul tepat di depan wajahku.


" Astaga!" aku terkejut.


" Bangun! Jangan tidur, cepat lakukan meditasi terlebih dulu." titah Ki Dayeng padaku.


" Aduh, apa tidak bisa besok saja Ki, aku ingin tidur sekarang, aku lelah." keluhku.


" Tidak bisa! Kamu harus lakukan meditasi sekarang, bukankah kakek buyutmu si Sugro itu menyuruhmu untuk selalu patuh padaku selama aku membimbingmu? Kamu tidak ingat? jangan pura-pura lupa." tegas Ki Dayeng padaku.


" Astaga, iya.. Iya guru kecil aku akan melakukannya." lirihku pada Ki Dayeng.


Aku segera beranjak dari kasur, Namun Dita terbangun.


" Mau kemana Yah? Bukannya kamu mau tidur?" tanyanya.


" Ah, tidak aku belum mengantuk, aku ingin meminum kopi di tengah rumah sebentar." ucapku mencari alasan.


" Oh ya, sudah!" jawab Dita.


Aku pun keluar kamar dan pergi ke ruang tengah, lalu duduk bersila di karpet yang terampar.


" Ayo cepat keluar dari raga kasarmu!" seru ki Dayeng.


" Maksud aki? Aku harus meraga Sukma?" tanyaku memastikan.


" Tentu saja." jawabnya.


Aku pun segera melalukan meraga Sukma seperti yang di ajari Ki Sugro padaku dulu, dan tentu saja aku harus melewati dunia pararel dulu.


Aku harus mencari dimensi yang menarikku untuk masuk ke sana, Aku juga sudah terbiasa dengan suara-suara rintihan dan panggilan yang ada di dunia pararel. Aku tetap fokus.


Lalu, Ki Dayeng menyuruhku untuk masuk ke sebuah cahaya putih yang melingkar.


"Cepat masuk ke lingkaran putih itu." titah Ki Dayeng.


Aku pun menghampiri cahaya itu, namun Ki Dayeng tidak ikut, dia hanya berdiri di belakangku.


" Kenapa aki tidak ikut? Apa aki tidak akan mendampingiku?" tanyaku menoleh ke belakang melihat Ki Dayeng yang hanya berdiri saja.


" Aku tidak bisa masuk ke dalam sana, aku hanya akan mengawasimu dari sini." ungkapnya.


" Hah? Kenapa tidak bisa masuk?" tanyaku heran.


" Kebiasaan sekali kamu ini! Memang terlalu banyak bertanya, cepat masuk saja sana!!" ucap Ki Dayeng sambil menendang kakiku.

__ADS_1


Otomatis kerena tendangan Ki Dayeng aku terdorong masuk ke dalam cahaya tersebut.


Tiba-tiba aku berada di tempat yang begitu luas, seperti di gurun pasir, aku tidak tahu harus ke arah mana.


" Ki Dayeng!!! Ki Sugro!! aku harus bagaimana dan harus kemana?!!" teriakku mencoba memanggil mereka.


Namun sama sekali tidak ada jawaban dari mereka.


Ki Sugro, aki lihat kan! Ki Dayeng menyuruhku masuk ke sini tanpa tahu aku harus kemana dan bagaimana, dasar menyebalkan!


Aku hanya melihat hamparan luas gurun pasir, namun anehnya tidak terasa panasnya sengatan matahari pada kulitku, justru sejuk yang aku rasakan disini.


Mau tidak mau aku berjalan tanpa tujuan, sesekali aku berteriak memanggil mereka lagi.


Aku merasa, aku sudah berjalan jauh sekali, Seolah tempat padang pasir ini tidak berujung.


Ah, dasar bocah berjanggut, apa dia ingin membunuhku.


Tiba-tiba tanah tempatku berpijak bergetar, seolah ada mahluk raksasa yang sedang berjalan kemari, sehingga membuat tanah ini bergetar.


Mahluk apa yang akan datang? Apa mungkin monster? Atau mahluk dimensi yang jahat?


Aku sedikit takut, ingin rasanya aku bersembunyi, tapi dimana? Aku hanya bisa berdiam diri di tempatku berpijak.


Dari kejauhan aku melihat sosok besar yang memakai pakaian serba putih dan bersorban.


Dia semakin mendekat, dengan perasaan was-was aku mencoba menenangkan diri.


Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari gangguan mahluk ghoib.


Pada akhirnya dia berhenti tepat di depanku, tentu saja yang di hadapanku sekarang hanya kakinya saja.


Refleks aku mengadah ke atas untuk melihat wajahnya.


Meski gemetar, aku mencoba memberanikan diri untuk berbicara padanya.


" Wahai penghuni dimensi ghoib, jika kamu berdiri seperti ini di depanku, aku tidak bisa melihat wajahmu" ungkapku.


Tiba-tiba manusia besar itu mundur, lalu duduk bersila, dia yang duduk bersila saja tingginya mencapai atap rumah yang berlantai tiga.


Dia lalu mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak aku pahami. Suaranya keras dan menggelegar, membuatku refleks menutup telinga.


Aku mencoba mundur beberapa langkah agar tidak terlalu dekat dengannya, karena pasti dari jarak jauh pun aku masih dapat melihat dan mendengar ucapannya.


" Maaf, aku tidak bisa mengerti bahasamu, apakah kamu bisa memahami bahasaku? apa kamu bisa berbicara seperti bahasaku ?" tanyaku.


" Tentu saja bisa." ucapnya dengan suara yang keras dan lantang.


" Mau apa kamu datang kemari? Dan kenapa kamu bisa masuk ke tempatku?" tanyanya lagi.

__ADS_1


" Aku disini terjebak, karena suruhan dari rekan ghoibku." jawabku.


"Apa rekanmu itu berasal dari bangsa jin?" tanyanya lagi.


"Tentu saja, bukankah kamu juga dari bangsa yang sama." jawabku.


" Tidak, aku bukan berasal dari bangsa jin, aku berasal dari bangsa Arof." jawabnya.


Bangsa Arof?


" Apa itu bangsa yang berasal dari malaikat?" tanyaku.


" Tentu saja bukan." jawabnya.


" Lantas bangsa apa itu?" tanyaku lagi.


" Kamu siapa?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.


" Aku manusia." jawabku.


Mendengar jawabanku dia sedikit termenung.


" Tidak, Mana mungkin ada manusia yang bisa masuk dimensiku." ucapnya tidak percaya.


" Aku juga sebenarnya tidak bisa masuk kesini tanpa bantuan dari rekan ghoibku itu." jawabku.


" Siapa rekan ghoib dari bangsa jin itu?" tanyanya lagi.


" Ki Dayeng " jawabku lagi.


" Dayeng? Maksudmu si tua kerdil? Tentu aja aku mengenali mahluk itu. Karena kami bangsa Arof adalah pendamping bangsa jin yang membantu mereka." ungkapnya.


Hah! Ternyata jin juga memiliki pendamping?


" Maksudnya bagaimana? Bukankah bangsa jin lebih peka dari manusia, mereka kan lebih mengetahui hal yang ghoib. Kenapa mereka perlu pendamping?" tanyaku makin bingung.


" Sungguh maha dahsyat penciptaan-NYA, Dia yang menciptakan seluruh alam semesta dari yang terlihat, maupun alam semesta yang tidak terlihat, Allah juga menciptakan rosul-rosul dan nabi-nabi dari bangsa jin dan manusia untuk memberi petunjuk, salah satunya dari bangsa manusia yang Allah ciptakan adalah Sang Nur dan dia bertugas menyampaikan kebenaran berdasarkan petunjuk dari Allah melalui kitabnya. Dan tidak ada satupun dari bangsa Arof, jin maupun manusia yang lain, yang dapat berkomunikasi dengan malaikat selain Sang Nur." tuturnya.


Sang Nur?


" Siapa Sang Nur?" tanyaku.


" Tentu saja rosul dari bangsamu, dia nabi penutup dari bangsa jin dan manusia, dengan turunnya Sang Nur yang di jadikan sebagai khalifah di bumi ini, maka tertutuplah seluruh pintu dimensi dan pintu akhirat yang dahulu terbuka, sehingga setan dapat keluar masuk ke sana untuk mencuri rahasia langit, kami juga bangsa Arof tidak bisa seenaknya keluar masuk ke setiap dimensi ataupun langit." ucapnya.


Aku tertunduk mendengar perkataan bangsa Arof, karena Sang Nur itu adalah nabi kita, Nabi Muhammad Saw.


Beliau membawa kabar baik untuk alam semesta dan makhluk Allah lainnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2