Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Kepastian


__ADS_3

" Gue udah coba nyegah elu, Man! namun sepertinya Klewing itu mendominasi pikiran lu. Apa yang bisa gue lakuin saat tangan dan kaki gue di ikat? Gue cuman bisa berteriak, berharap elu sadar saat gue panggil-panggil elu." tuturku


Iman diam termenung sejenak.


" Maafin gue bah, gue marah, karena gue takut." ucap Iman merasa bersalah karena memarahiku.


" Gue maklum kok, Man. Gue juga sebagai teman lu, udah lalai ngelindungi lu Man, mungkin ini yang mereka inginkan, agar kita bertengkar dan persahabatan kita merenggang. Jangan sampai kita terbawa emosi. Disini gue juga sama bersalahnya, maafin gue Man." ucapku.


"Iya bah, tapi setelah kejadian ini, gue harus apa? Apa nasib gue akan sama kaya Om Rizal, di teror Klewing seumur hidupnya, gue enggak mau kaya gitu, bah! Gue takut." rengek Iman.


"Gue akan berusaha, bantuin elu lepas dari mereka. Semoga ada jalan. Kita berdoa saja pada yang kuasa. Sekarang yang terpenting kita harus segera keluar dari tempat ini." ujarku.


" Iya bah, ayo kita pergi dari sini." ajak Iman dia menghampiri pintu yang berada di belakangku.


Ceklek! Ceklek!


" Bah, pintunya terkunci." ungkap Iman menggerakan gagang pintu berkali-kali.


" Apa? Kok bisa?" tanyaku heran.


"Bagaimana cara kita keluar, Bah?" tanya Iman lagi.


" Kita cari pintu lain, mungkin ada pintu belakang di sini." ungkap ku.


Kami berdua pun berjalan ke arah lain memasuki setiap ruangan, berharap pintu yang kami buka adalah jalan keluar, namun nihil semua pintu di sini terkunci rapat.


"Coba kita buka jendela, Man!" usulku.


Iman menghampiri jendela yang ada di depan kami.


"Ugh! Macet Bah, sama gak bisa di buka." ucap Iman sekuat tenaga membuka kunci selot jendela.


"Bagaimana ini?" aku bingung.


" Sudahlah, kita pecahkan saja kacanya, aku ingin segera pergi dari sini." usul Iman,


Iman mengambil kursi kayu dan membantingnya ke arah jendela. Jendela pun pecah, Kami berusaha keluar dari jendela tersebut.


Tiba-tiba.


" Hey! Siapa kalian!" ada seorang bapak tua yang meneriaki kami dari kejauhan.


Setelah kami berhasil keluar, bapak tua itu menghampiri kami.

__ADS_1


" Apa-apaan ini! Kenapa kalian memecah kan jendela rumah ini! Kalian pencuri ya!" bentak bapak tua itu.


" Tidak, bukan Pak!" refleks aku menjawab.


" Enak saja, kami bukan pencuri pak! Kalau kami pencuri, untuk apa kami mencuri di rumah kosong dan tua seperti ini." timpal Iman kesal.


" Kalau bukan, kalian ini siapa? Tindakan kalian sangat mencurigakan." ujar bapak itu memasang raut wajah penuh selidik.


" Kami di jebak di dalam oleh kumpulan orang berjubah hitam." tutur Iman.


Mendengar penjelasan Iman, bapak itu mengernyitkan alisnya.


"Bukan, Pak! bukan begitu, maksud teman saya, kami terjebak disini karena kami mencoba bersembunyi dari kejaran para preman berbaju hitam. Ya begitu ceritanya, iya kan Man!" ucapku menjelaskan sambil menyenggol lengan Iman.


"Hufht, iya benar Pak, tapi setelah bersembunyi kami terkunci dari dalam jadi kami sengaja memecahkan jendela." timpal Iman lagi.


" Oh begitu, tapi seingatku rumah ini sudah terkunci sejak lama, kenapa kalian bisa masuk?" Tanyanya lagi


" Kami masuk lewat pintu depan disana. Setelah kami masuk, kami malah terkunci dari dalam. Mungkin kunci pintu rumah sudah rusak pak!" jawabku mencari alasan.


" Apa iya ya? Rusak?" Bapak tua itu hanya menggaruk kepalanya penuh keheranan.


" Kalau begitu pak, Boleh kami pergi sekarang, kami harus segera pulang." ucapku.


" Tidak bisa, kalian harus mengganti kaca yang sudah kalian pecahkan, jadi ikut saya ke pos jaga untuk ganti rugi." ujarnya.


Kami kembali ke jalan tadi, ke tempat kami memarkirkan motor.


tapi, aku merasa aneh dengan sikap Iman yang tiba-tina jadi pendiam.


" Man?" panggilku sambil berjalan.


" Hmm.." jawabnya tanpa menengok padaku.


" Elu masih marah?" tanyaku lagi.


" Enggak bah." jawabnya singkat.


" Terus kenapa jawabnya kaya yang gak semangat gitu." ujarku.


" Gue cuman enggak percaya aja, kalau gue udah jadi pengikut sekte sesat itu, Bah. Gue kepikiran akan nasib gue bakal gimana kedepannya." ujar Iman.


" Elu ngerasa punya kesaktian nggak? Setelah kejadian itu?" tanyaku.

__ADS_1


" Kesaktian? Kesaktian gimana maksudnya?" tanya Iman tidak mengerti.


"Hmm, Kaya gue sama Pak Rizal. Yang mudah deh! elu bisa lihat setan nggak sekarang? atau elu ngerasa ada energi baru yang masuk ke Tubun lu? Atau ngerasa badan elu, lebih kuat atau gimana gitu ." jelasku.


" Enggak ada? Biasa aja? penglihatan gue juga biasa aja gak lihat yang aneh-aneh tuh. Kesaktian apaan, gue ngerasa masih bego-bego aja." celetuknya.


"Itu yang gue heran, harusnya kalau elu udah resmi jadi pengikut mereka, harusnya elu punya kesaktian kaya Pak Rizal. Dan gue juga pernah liat acara pemujaan sebelum ini di mimpi gue. Setelah meminum darah itu, harus nya klewing memancar sebuah cahaya merah dari matanya ke pemuja nya, cahaya itu menyerap ke dalam tubuh si pemujanya. Dan tadi gue nggak liat kejadian itu pas pemujaan elu Man." tuturku.


" Iya ya? gue juga nggak sadar, tapi sejauh ini gue ngerasa biasa aja bah, nggak ada beda, sama aja tuh!" timpal Iman.


" Nah, setidaknya, harusnya mata batin elu kebuka lah, tapi ini nggak sama sekali kan?" ujarku.


" Jadi sebenarnya bagaimana ini? Aku sudah bergabung atau belum dengan mereka bah? Ku harap sih belum." tanya Iman penuh harap


"Entahlah Man, aku juga tidak tahu pasti." jawabku.


Ini membingungkan.. Aku akan tanyakan pada Ki Sugro nanti. Tapi ngomong-ngomong dia kemana? Saat kejadian genting tadi, dia juga tidak muncul sama sekali untuk menolongku.


"Tidak, secara aturan sekte tersebut, dia belum resmi bergabung." ucap Ki Sugro yang muncul tiba-tiba.


" Nah, kan baru muncul! Aki kemana saja! Kenapa tidak menolong kami waktu kejadian tadi." jawabku melalui pikiran dengan nada marah.


" Memang kamu kira mudah melawan klewing dengan jumlah yang begitu banyak?!" timpal Ki Sugro dengan nada tinggi. Ku lihat seluruh tubuh Aki kacau, pakaiannya kotor, banyak luka dan darah di sekujur tubuhnya.


"Apa selagi kami terjebak di dalam rumah itu Aki melawan mereka?" tanyaku memastikan.


"Tentu saja, lantas melawan siapa lagi?! Satu Klewing saja kekuatannya cukup sakti, apalagi dengan jumlah belasan seperti tadi. Aki menghalau mereka untuk tidak menyerang kalian, jika pengikut dan klewing menyerang secara bersamaan, bagaimana nasib kalian?" tutur Ki sugro.


" Benar juga. penampilan aki saja sampai kacau begini." ujarku.


" Kami hanya mengalihkan perhatian Klewing saja, selagi ada kesempatan aki segera menyadarkan teman manusiamu itu. Entah bagaimana nasibnya jika dia ikut di bawa oleh mereka. Untung saja Aki tepat waktu membuatnya sadar kembali." bebernya.


" Terima kasih Ki, aku terlalu ceroboh membuntuti pak Yono tanpa persiapan, sehingga kami tak berdaya, akhirnya Iman sudah menjadi bagian dari mereka, setelah ini dia pasti akan di datangi oleh Klewing kan Ki?" ujarku menebak.


" Tidak, masih belum." ucap Ki Sugro.


" Maksudnya?" tanyaku


" Menurut peraturan sekte mereka, teman manusiamu itu belum bergabung secara sah, karena Klewing sendiri yang merasukinya." tutur Ki Sugro.


"Lalu?" tanyaku


"Mana ada, Klewing menerima pemujaan yang di lakukan oleh Klewing lain, padahal mereka pemimpinnya, Itulah mengapa mereka tidak memberi kesaktian pada temanmu. Karena temanmu hanya di pakai sebagai cangkang untuk menggertak kita. Sebab tempat persembunyian mereka sudah kita ketahui." bener Ki Sugro

__ADS_1


"Astaga! Jadi seperti itu!" Seruku.


.........................


__ADS_2