
Kami pun turun dari mobil. Mengendap-endap masuk ke goa secara bersamaan.
Dari lorong yang kami lewati, terdengar suara nyaring orang-orang yang tengah melantunkan suatu mantra yang mirip seperti lagu dengan bahasa asing yang kami tidak pahami.
Kami mengikuti arah suara mereka. Dan kami tiba di tempat pemujaan tersebut.
Meski ruangan goa itu cukup luas, tetap saja Bau bangkai yang busuk menyeruak di seluruh ruangan goa tersebut.
Sambil bersembunyi di balik batu besar dekat pintu keluar, kami mengamati sekeliling.
Disana terdapat banyak sekali meja batu berjajar, bagaikan ranjang tempat tidur. Dan di setiap meja batu itu terbaring jasad wanita.
Dan salah satu meja batu di depan kami tengah di kerumuni oleh orang-orang bejubah hitam tadi. Para pemuja Nini Kutek.
Mereka memutari meja batu yang terbaring wanita tadi di sana.
Kami hanya bisa memantau dari kejauhan menunggu waktu yang pas untuk menghentikan semuanya.
" Abah,Iwan... Apakah mungkin dari salah satu jasad-jasad wanita di meja batu itu ada jasadnya Lilis?" ucap Iman menduga.
" Ya, aku menduga jasad wanita di ujung sana adalah jasad Kak Lilis, Man! Aku akan ke sana untuk melihatnya." Sahut Iwan menunjuk dan hendak berlari ke arah jasad tersebut.
"Tunggu dulu! lihatlah, kita harus menyelamatkan wanita itu lebih dulu." ucap Iman menghentikan Iwan lalu menunjuk ke arah Ritual.
Dan benar saja, kami melihat salah satu orang yang berjubah hitam berdiri di samping wanita yang sedang tak sadarkan diri.
Orang itu tengah mengangkat belati hendak menusuk wanita tersebut, orang itu tak lain dan tak bukan dia adalah Roni.
Kami betiga saling menatap. Kami tahu saat ini adalah waktu yang tepat untuk menghentikan semuanya. Iwan berkata.
"Aku sudah menghubungi polisi. dan Aku juga sudan mengirim lokasi tempat berada kita sekarang. Setelah ini tunggu aba-abaku. Aku akan menghentikan pemujaan ini dengan mengalihkan perhatian mereka padaku, aku akan berlari menghampiri jasad wanita yang mirip Kak Lilis ujung sana, dan kalian segera selamatkan wanita itu..... inilah waktunya.. Sekarang!!"
Seketika Iwan berlari menuju jasad yang di duganya Lilis tersebut. Dan benar saja salah satu dari mereka pemuja itu melihat Iwan. dan dia berteriak.
"Ada penyusup!!"
Seketika semua pemuja itu menoleh ke arah Iwan yang tengah berdiri kaku di depan jasad tersebut.
"Tangkap dia!" teriak Roni yang tak jadi menusuk wanita tadi karena terkejut melihat adik iparnya ada di sana.
Semua pemuja itu berlari menangkap Iwan. Iwan terlihat pasrah saat di tangkap mereka, dan wajahnya yang terlihat pucat dia menatap terus ke arah jasad di meja batu tersebut.
__ADS_1
Roni pun menghampirnya.
"Kamu pasti terkejut bukan? melihat jasad yang terbaring kaku disana?" ucap Roni tersenyum remeh pada Iwan.
"Bang Roni, Brengs*k! Apa yang Bang Roni lakukan pada Kakakku hingga dia mati mengenaskan seperti ini! Kenapa Bang Roni tega bunuh kakak! Aku kecewa sama Bang Roni!" ucap Iwan murka, air matanya tak bisa lagi dibendung melihat jasad kakaknya disana.
Meski wajahnya sudah tak di kenali karena sudah hancur dan membusuk. Iwan yakin jasad itu adalah Lilis Kakaknya.
Di lihat dari rambut pendeknya yang sama seperti Lilis, Serta pakaian yang di kenakan tersebut adalah seragam yang selalu dipakai saat Lilis bekerja.
Iwan tak kuasa menahan tangisnya saat melihat ke arah luka di perut Lilis, luka tusukan yang melebar dan menganga terkoyak, berantakan seakan-akan jasad itu mati di makan binatang buas.
......................
"Kakaaakk... maafkan aku, Aku adik yang tak berguna, Aku tak bisa menolongmu di saat terakhirmu." ucap Iwan menangis meratapi nasib kakaknya yang hanya tinggal jasad.
Posisi Iwan masih di pegangi oleh para pemuja tersebut.
"Hahahaha... kamu menyadari kalau kamu memang adik yang tidak berguna dan b*doh? Aku bisa menebak kenapa kamu bisa tahu tempatku disini. Kamu pasti membuntutiku bukan?" ucap Roni.
" Kenapa Bang Roni bunuh Kak Lilis? apa salahnya? apa karena Kak Lilis tahu semua kejahatan Bang Roni selama ini ? sehingga Bang Roni tega membunuhnya hanya karena keegoisan Abang!" bentak Iwan.
" Bang Roni salah! Kak Lilis tidak pernah memberitahu siapapun selain Ayah! Bahkan Kak Lilis membuat ayah bersumpah untuk merahasiakan semua kejahatan Bang Roni dan tidak melaporkan Bang Roni ke polisi. Tapi Bang Roni jahat, demi harta Bang Roni tega menculik Kak Lilis dan membunuhnya seperti ini. Apa Bang Roni Gak kasian sama Desi? darah daging abang sendiri! Sekarang dia jadi anak Piatu gara-gara Abang! Dia syok kehilangan ibunya. Padahal Kak Lilis rela banting tulang kerja keras dari pagi sampai malam cuma buat hidupin desi, sedangkan Abang yang Ayahnya dan suaminya Kakak. Bang Roni... malah..." Iwan pun menangis pilu.
" Sudahlah, jangan mengajakku untuk meratapi kematian Kakakkmu. Sedari awal aku hanya menjadikan dia cinta sesaat. Aku cukup puas dengan kehidupanku. Aku lebih nyaman hidup sendiri, hidup tanpa beban dan tanpa larangan dari siapapun. Aku bebas melakukan apapun yang ku mau, Bahkan mudah bagiku untuk mendapatkan wanita lain yang ku inginkan sebagai pengganti kakakkmu. Hahahaha" ejeknya Roni
Mendengar itu seketika amarah Iwan membludak, Iwan pun meronta melawan para pemuja yang menahannya tubuhnya. Iwan sangat marah, dia melayangkan beberapa pukulan dan tendangan pada para pemuja itu. Membuat beberapa dari mereka tumbang kesakitan.
"Sial, ternyata kamu jago juga berkelahi!" remeh Roni.
"Aku bersumpah! Bang Roni akan membayar semua perbuatan Abang pada Kak Lilis. Di penjara pun Bang Roni gak akan hidup tenang Abang akan hidup di hantui rasa bersalah atas kematian Kakak!!" Tegas Iwan
" Oh, ya. jika benar terjadi, mana?? aku tidak merasakannya. Justru aku senang, bisa dengan mudah membereskanmu disini. Kamu akan menyusul Kakakmu, lalu ayahmu aku akan menghabisinya juga, semua orang yang mengetahui rahasiaku ini aku akan binasakan." timpal roni lagi
......................
Di sisi lain aku dan iman bergegas membawa kabur wanita yang akan jadikan korban penumbalan itu.
Saat kami melepas tali ikatan di tangannya, salah satu pemuja mememergoki kami. dan dia memanggil dua orang temannya untuk menangkap kami.
Sebelum mereka mendekat, kami berhasil melepaskan ikatannya, Iman bergegas keluar goa dan menggendong wanita itu ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Aku mencoba menghalangi tiga orang pemuja tadi yang hendak merebut kembali wanita itu.
Dengan pukulan dan tendangan, aku layangkan ke wajah dan perut mereka, hingga mereka jatuh tersungkur.
Melihat mereka kesakitan segera aku meninggalkan mereka dan menghampiri Iwan. Yang kini sedang berhadapan dengan Roni. Roni heran menatapku.
"Siapa kamu! oh, pasti dia temanmu kan Iwan? ternyata Adik Abang berani membawa temannya sekarang. Kalian mau melawanku?! Hahaha... bocah-bocah seperti kalian tidak akan bisa melawanku. Aku memiliki mahluk kuat yang akan melindungiku." ucap Roni percaya diri.
Lalu dengan belati yang di pegangnya, Roni menyayat sendiri lengannya.
Dan darah segar pun keluar dari sayatan itu. Roni hanya tersenyum menyeringai seakan tidak merasakan rasa sakit di tangannya.
Darah yang mengalir di tanganya dia wadahi dalam sebuah batok kelapa.
*Si*al dia pasti akan memanggil Nini kutek.
"Wan, cegah dia! jangan sampai dia menyimpan batok kelapa yang berisi darah itu ke dalam lorong goa di sana!" pintaku pada Iwan.
Iwan pun mengangguk, segera dia mengejar Roni yang tengah berlari menuju lorong gua tempat muncul nya Nini Kutek di sana.
Iwan bergegas merebut batok kelapa itu.
Iwan dan Roni saling berebut batok kelapa. Sesekali darah yang ada di dalam nya tumpah berceceran.
"Lepaskan ini,Bang!"ucap Iwan.
" Minggir keparat!!" ucap Roni sambil menendang perut Iwan, dan Iwan pun jatuh tersungkur menahan sakit.
Roni segera melamparkan batok kelapa itu ke dalam goa.
Dan tiba-tiba goa pun bergetar.
Aku dan Iwan panik, sedangkan dan Roni hanya tersenyum.
"Karena kalian sudah ikut campur dan mengagalkan ritual tadi. Aku akan menyerahkan kalian pada sang ratu Agung agar tidak ada yang menghalangi dan mengacaukan ritual penumbalan." ujar Roni
Dan terdengarlah suara tawa Nini Kutek.
"Keh.. keh.. keh..kekeh.. keh.."
......................
__ADS_1