Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Kuncen Air Terjun


__ADS_3

" Raga kasar? Raga halus? Maksudnya apa? gue sama sekali nggak ngerti bah." Iman kebingungan.


" Kalau di jelaskan secara sederhana Sukma kita keluar dari raga kita man, itu sebabnya mereka tidak bisa melihat atau mendengar suara kita." tuturku.


" Hah? Jadi maksudnya roh kita keluar dari tubuh kita begitu ?Artinya gue mati dong bah?!" ucap Iman kaget dengan penafsirannya sendiri.


" Ya nggak lah, Sukma sama roh itu beda. Sukma kita berkelana tanpa raga kita, Haduh gimana ya ngejelasin ke elu." keluhku sambil menggaruk kepala.


" Oh, kaya di film horor gitu ya? Wiihh hebat! Ternyata gue bisa kaya begini, berasa kaya mimpi bah! tapi tubuh gue gimana nasibnya kalau sukma gue pergi begini?" tanya Iman lagi dengan takjub memperhatikan seluruh tubuhnya.


" Ya raga kita ada di rumah gue lah!" jawabku.


" Oh iya, gue inget, gue selesai shalat kan terus meditasi bareng elu, pasti raga gue keadaannya lagi pingsan ya bah?" tanyanya lagi.


" Nggak, cuman nggak bergerak aja kaya tidur, tapi masih dalam posisi terakhir sebelum sukma kita keluar. Ah.. Elu banyak tanya bokap elu dah jauh tuh! Mau ngikutin mereka atau nggak nih?" keluhku dan bertanya.


" Waduh, Sorry bah! habisnya gue takjub banget, jadi lupa. Ya sudah! ayo cepat bah! kita ikutin bokap gue, gue penasaran kenapa dia ke hutan begini malam hari, mau apa coba." ungkap Iman.


Kami pun memutuskan untuk membuntuti Ayah Iman dan temannya dari belakang.


Ternyata mereka berjalan lebih jauh ke dalam hutan, jalan setapak yang kami lihat tadi juga menghilang, entah tertutupi ilalang yang tinggi atau memang karena kami sudah memasuk pelosok hutan.


Kelihatan mereka kesulitan untuk berjalan, Saking banyaknya ilalang yang menutupi akses jalan, sesekali mereka memotong ilalang tersebut.


Semakin lama berjalan, cahaya bulan juga mulai tidak terlihat, karena tertutup pohon-pohon yang begitu banyak, tinggi dan daun-daunnya rimbun. Suasana hutan sekarang benar-benar gelap tidak terlihat.


" Ya ampun! Sebenarnya mau kemana sih bokap gue." gerutu Iman mulai kesal.


" Ikutin aja dulu Man, jangan sampai kita kehilangan mereka." ucapku.


Dari kejauhan, kami kembali melihat cahaya bulan. seolah itu jalan keluar dari hutan ini, tentu saja ayah Iman dan temannya menuju ke sana.


Benar saja Kami pun keluar dari gelapnya hutan, dan di sambut oleh cahaya bulan yang menyinari air terjun yang bergemuruh.


" Bah, ada air terjun? Ngapain sih bokap gue kemari, mau wisata air malam-malam kali ya." ejeknya kesal.


Namun dugaan Iman salah, justru kami melihat ayah Iman dan temannya menghampiri sebuah gubuk yang ada di samping air terjun.


Mereka mengetuk pintu gubuk tersebut. Dan muncul seorang pria paruh baya, mungkin umurnya sekitar lima puluh tahun, dia memakai pakaian pangsi serba hitam dan dan ikat di kepalanya.


Sejenak pria paruh baya itu berbincang dengan Ayah Iman dan temannya.


" Bah siapa itu bapak-bapak? Dia tinggal di sini? Kok kaya kenal dan akrab begitu sama bokap gue, siapa sih dia?" celetuk Iman.


"Gue juga nggak tahu Man, mungkin dia bapak kuncen di air terjun ini kali." jawabku.


Tiba-tiba Obrolan mereka terhenti, dan si bapak kuncen itu menengok ke arah kami. Seolah dia mendengar suara aku dan Iman.


Aku seketika mundur dan menarik tubuh Iman menuju tempat yang gelap, yang tidak tersinari cahaya bulan.

__ADS_1


" Kenapa sembunyi bah? Pak Kuncen itu ngelihat kita ya? Dari tadi dia melihat kemari." ucap Iman menduga.


" Iya man, dia menyadari keberadaan kita.." jawabku singkat.


" Kok bisa? Bukannya kita memakai raga halus, bokap gue sama temennya gak bisa lihat, tapi kok dia bisa?" tanya Iman heran.


" Berarti dia sakti Man." jawabku.


" Ooohh.. kaya dukun gitu ya berilmu sakti, terus gimana dong bah? Kita berhenti ngikutin? Tapi gue penasaran sebenarnya bokap gue mau ngapain ke sini." keluh Iman.


" Kita buntuti mereka dari jauh aja man, biar gak ketahuan." usulku.


" Iya deh bah.." jawab Iman.


Untunglah sepertinya Pak Kuncen itu tidak melihat kami, dia kembali melanjutkan obrolan mereka, lalu mereka berjalan bersama menghampiri air terjun, dan masuk ke dalam air terjun tersebut lalu menghilang.


" Lho, kok! Emang air terjun bisa ditembus?!" tanya Iman keheranan.


" Bisa Man, jika didalamnya ada tempat yang tersembunyi." ujarku.


" Kita harus ikut nembus air terjun juga?" tanya Iman memastikan.


" Ya iyalah! dasar! emangnya ada jalan lain." ucapku kesal sedikit memukul pundak Iman.


" Ishh..." keluh Iman.


Kami pun menghampiri air terjun, dan mencoba menerobosnya, benar saja di balik air terjun ternyata ada sebuah goa.


" Siapa kalian?! Mau apa kalian kemari?!" tanyanya dengan nada marah.


"Berani sekali kalian masuk ke wilayah ini. Ini adalah area terlarang!" ucap Kuncen tegas.


" Kami tidak ada urusan dengan bapak! Kami ada urusan dengan kedua pria yang masuk ke dalam goa ini tadi. Ayo bah! Jangan pedulikan dia" ucap Iman menarik tangan dan mencoba masuk ke dalam goa tanpa menghiraukan Pak Kuncen.


" Tidak bisa! Kalian tidak boleh masuk!" tegasnya marah.


" Kenapa! Mereka bisa masuk kenapa kami tidak!" ucap Iman kesal.


" Tidak sembarangan orang bisa masuk kemari! Bahkan kedatangan kalian tidak undang sama sekali, kalian bukan tamu kami, kalian hanya akan menghancurkan ritual pemujaan." ungkapnya.


" Ritual pemujaan apa! Memangnya ini tempat apa!" Iman mulai marah.


" Ini adalah tempat pesugihan siluman ular penunggu air terjun." tuturnya.


Saat mendengar kata pesugihan Kulihat Iman kaget dan menelan salivanya.


Gleg!


Iman mengerti sekarang, apa tujuan ayahnya kemari adalah untuk melakukan pesugihan.

__ADS_1


Itu artinya dirinya akan di tumbalkan, terlebih lagi, Iman tahu jika dirinya akan di tumbalkan oleh ayahnya pada siluman ular penunggu tempat ini.


Raut wajah Iman seketika berubah, kecewa marah juga takut.


" Argh! Dasar bokap sial*n! Cepat bah! kita susul bokap gue di dalam." ucap Iman marah berjalan menerobos masuk melewati pak Kuncen.


Tapi dengan cepat Pak kuncen menghalangi Iman dengan mendorong tubuh Iman hingga terjatuh.


BRUK!.


" Sudah aku bilang kalian tidak boleh masuk!! Jika kalian masih bersikeras, kalian harus berhadapan denganku!" Ucap Pak Kuncen penuh amarah.


" Siapa takut! Ayo bah lawan dia!" tantang Iman.


" Ish! dasar lu! Kenapa gue! padahal elu yang nantang duluan!" keluhku.


BUGH!


Pak Kuncen itu datang memukulku dengan tiba-tiba, namun aku berhasil menangkisnya.


" Sorry bah, gue gak bisa bertarung bah!" teriak Iman.


" Si*lan lu! Malah ngorbanin temen sendiri! Bantuin gue kek!" teriakku.


Karena gerakan Pak kuncen sangat cepat, dan aku yang tidak fokus dan belum bersiap, Akhirnya beberapa pukulannya berhasil mengenaiku tepat di bagian dadaku.


BAGH!


BUGH!


Aku refleks memasang raut wajah yang meringis kesakitan, namun sesaat aku terkejut karena tidak ada rasa sakit sama sekali yang aku rasakan akibat pukulannya itu, padahal pukulannya tepat mengenai dadaku.


Aku refleks mengusap dadaku, dan merasa aneh.


Kenapa pukulannya tidak terasa sakit?


Pak Kuncen juga memasang wajah kaget dan aneh.


" Wah! Wah! Ternyata aku bukan bertarung dengan raga asli ya? tapi dengan raga halus milikmu. itu artinya kamu bukan orang sembarangan, kamu bisa melalukan meraga sukma. Bahkan kamu mampu meraga Sukma hingga ke tempat ini. hahaha... luar biasa!" tuturnya tertawa dengan menyeramkan.


" Mungkin beberapa pukulanku tadi tidak mempan karena kamu dalam wujud raga halus, bagaimana jika aku menyerangmu dengan Ini." ungkapnya sambil mengeluarkan sebuah keris yang entah muncul dari mana.


Dia memejamkan mata, sambil memegang erat keris tersebut, lalu mulutnya berkomat-kamit membaca sebuah mantra.


WUSH!


Lalu muncul dua bola api yang muncul di belakangnya.


Aku tahu ilmu apa yang sedang dia keluarkan untuk menyerangku.

__ADS_1


Itu adalah samber nyawa, Jika aku terkena serangan itu, pasti akan berhasil melukaiku. Ini berbahaya.. sangat berbahaya..


......................


__ADS_2