Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Mendapatkan brajamusti


__ADS_3

Begitu banyak para wanita di depanku saat ini, mereka berjajar dengan paras yang cantik-cantik, aku memang terpaku pada salah satu wanita yang memakai pakaian serba hijau.


Dia memakai kemben hijau dan selendang hijau.


Bukan karena aku suka padanya, justru aku malu, karena tatapan wanita itu padaku terlihat berbeda.


Dia terus memperhatikan aku begitu lekat dengan senyumannya yang khas.


" Ini semua istriku Anom, cantik-cantik bukan? Aku memiliki seratus tiga istri dari berbagai dimensi, Aku lihat kamu tertarik pada salah satu dari mereka." ucap Ki Rongge menggodaku.


Aku hanya terdiam dan sibuk menyantap makananku, aku tidak menggubris perkataan Ki Rongge.


" Aku tidak masalah jika kamu menginginkan salah satu dari mereka, kamu tinggal bawa saja." ucapnya Ki Rongge enteng.


Aku tetap tidak menjawab, karena aku hanya menganggapnya sebagai gurauan.


" Aku sudah selesai makan Ki, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyaku tanpa basa basi.


"kamu harus berendam lagi di dalam kolam, namun kali tenggelamkan seluruh badan dan kepalamu, atur nafasmu sekuat kamu bisa menahannya di dalam air" ujar Ki Rongge.


Aku segera melepas pakaianku, dan mulai berendam, aku menenggelamkan seluruh tubuhku di air.


Kini aku bisa melihat dasar kolam, lalu aku duduk bersila di dasarnya sambil terus menahan nafas.


Lalu aku berhitung hingga dua puluh detik, Setelah itu aku kembali ke permukaan untuk mengambil bernafas.


Namun setelah aku sampai di permukaan dan hendak mengambil nafas, tiba-tiba dari arah belakang, ada yang menenggelamkan kepalaku ke dalam air.


Blup.. Blup.. Blup.


Aku meronta.


Siapa yang berani menenggelamkan aku!


Aku mencoba melawan, dan mendorong kepalaku ke permukaan, namun lagi-lagi kepalaku di tenggelamkan ke dalam air.


Aku mencoba menarik tangan yang memegangi kepalaku, dan membanting tubuhnya ke dalam air dan..


BYUR!


Dia tenggelam, anehnya aku mendengar suara Ki Dayeng yang tertawa.


"Hahahahaha" tawanya.


Sialan! Ternyata bocah tua itu yang melakukan hal tadi, apa dia ingin membunuhku


" Tenang saja, aki tidak berniat membunuhmu, hanya saja kamu terlalu sebentar menahan nafasmu di dalam air." ujar Ki Dayeng


" Kalau terlalu lama, aku bisa mati." jawabku kesal.


" Justru dengan menahan nafas yang lama di dalam air itu bagus, sampai tenaga yang kamu keluarkan untuk menahan nafas tersebut itu habis dan merasa lemas, disanalah letak keberhasilannya" jelas Ki Dayeng.

__ADS_1


Apa maksudnya, aku tidak mengerti.


"Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir, lakukan saja apa yang aku suruh, aku akan terus mengawasimu." ucapnya.


Aku pun kembali menyelam, aku mencoba fokus, dan mengatur nafas agar lebih lama di didalam air sekuat tenaga.


Semakin lama aku menahan nafas, aku mulai sesak, badanku terasa ringan, kepalaku mulai pusing.


Ugh! Aku sudah tidak kuat lagi.


Aku segera beranjak menuju permukaan untuk bernafas, namun baru saja aku hendak beranjak tangan Ki Dayeng menahan kepalaku lagi.


" Tahan sebentar lagi! Kamu hampir berhasil" ujarnya.


Aku mencoba bertahan, namun semakin lama pandanganku mulai gelap dan berat untuk membuka mata, aku terpejam sejenak.


Tiba-tiba saja mataku terbuka membelalak ke atas.


Aku melihat sebuah sosok yang berjubah di dalam air, dia menghunuskan pedang ke tubuhku dari bawah dan membelah tubuhku perlahan ke atas, aku kesakitan setengah mati.


Rasa sakit itu tidak tertahankan, sebab pedang yang membelahku, seolah kekuatan pedang itu sedang mengulitiku, dan daging di tubuh tertarik dan terpisahkan perlahan dari tulang-tulangku.


Aku tidak kuat lagi! ini benar-benar menyakitkan, sepertinya aku akan mati! Sakit sekali, sakiiit..


Pedang itu mulai naik ke atas ke perut, ke dada, leher dan mulai membelah kepalaku, dan hampir tiba ke ubun-ubunku.


" Aaaakkhh!!" aku menjerit kesakitan di dalam air.


Seketika, pedang yang menancap di kepalaku di cabutnya dan sosok berjubah hitam itu pun menghilang.


Mahluk apa itu? Kenapa dia datang dan ingin membunuhku!


Aku merasa lemas, gemetar dan tidak berdaya, aku merasakan tubuhku di baringkan di pinggir kolam. Aku juga melihat wajah Ki Dayeng di depanku, dan setelah itu semua pandanganku menjadi gelap.


......................


Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Ki Dayeng dan Ki Rongge tengah duduk di sampingku yang sedang berbaring di atas kursi kayu.


" Apa kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Ki Rongge melihatku yang sudah sadar dan membuka mata.


" Lumayan Ki, tapi tubuhku masih gemetar dan lemas sekali." jawabku.


"Minumlah air ini, agar kamu membaik." ucap Ki Rongge memberiku sebuah air dalam tempurung kelapa.


"Yang ku jumpai di dalam air itu siapa? Kenapa dia membelah tubuhku dengan pedangnya, bahkan kekuatan pedangnya bisa mengulitiku dan memisahkan daging dari tulangku?" tanyaku sambil meminum air pemberian Ki Rongge


" Itulah dia, sang pencabut nyawa.. Sedetik saja aku telat menarikmu dari dalam air, kamu bisa mati dan kamu tidak akan memiliki tanda ini." bener Ki Dayeng.


" Tanda apa?" tanyaku heran.


"Nanti juga kamu akan tahu, intinya dengan cara itu kamu bisa memiliki ajian brajamusti." tutur Ki Dayeng.

__ADS_1


Aku hanya termenung.


......................


" Anom, tugas disini sudah selesai, kita harus segera pulang, kembali ke batu karang." ujar Ki Dayeng.


Aku mengangguk mengiyakan.


kira-kira sudah berapa lama ya aku disini?aku rasa aku sudah terlalu lama meninggalkan keluargaku di rumah.


Aku pun beranjak pergi bersama Ki Dayeng dari tempat Ki Rongge. Tiba-tiba saat di depan gapura


." Tunggu Anom!" teriak seorang wanita dari arah belakangku.


Ku lihat dia wanita yang memakai pakaian serba hijau tadi, ya salah satu istri/selir Ki Rongge.


Dia menghampiriku, dan memberikan sebuah batu hijau padaku.


" Anom, bawalah cendramata dari kami ini untukmu." ucapnya.


"Terima kasih" jawabku


Wanita itu pun pergi dengan wajah tersipu.


Tanpa banyak berpikir, Kami mulai berjalan lagi untuk pulang.


" Sudah berapa lama aku disini?" tanyaku pada Ki Dayeng sambil berjalan.


" Dua puluh lima kali pergantian siang dan malam." jawabnya.


" Astaga! berarti sudah setengah bulan lamanya!." Aku terkejut sambil menghitung hari.


Sudah selama itu aku meninggalkan rumah, bagaimana keadaan keluargaku? pasti mereka mencariku.


Aku mulai kebingungan dan gelisah.


Setibanya kami ke batu karang besar, Ki Dayeng pun mulai naik ke atas, aku mengikutinya.


Setelah sampai di puncak karang.


" Anom mari kita lompat ke laut." ajak ki dayeng


" Apa!" aku terkejut oleh ajakan Ki dayeng.


" Bagaimana mungkin aku lompat ke laut dari karang setinggi ini, aku bisa mati tenggelam." tolakku.


" Sudahlah ayo." ajaknya lalu menarik tanganku dan melompat bersama.


"Aaaaaa..." teriakku memejamkan mata ketakutan.


......................

__ADS_1


__ADS_2