Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Pamit


__ADS_3

Pertarungan yang sengit tadi sudah selesai sekarang, Akhirnya Raja kera itu sudah binasa, Begitu juga dengan nasib Si Kakek dukun yang terkapar tidak berdaya.


"Syukurlah semua sudah berakhir sekarang." ucapku.


" Tentu saja berakhir, penyebab semua kekacauan ini sudah kita bereskan." jawab Aji Saka.


" Ya, kamu benar Aji saka, warga akan jauh lebih tenang sekarang." ucapku.


Tiba-tiba terdengar dari kejauhan aku mendengar suara teriakan dari beberapa orang yang memanggilku.


"Baaaaaah!! Abah ! Elu dimana?!"


Ini sih suara Iman.


Benar saja tidak lama aku melihat kemunculan Iman dan warga desa di belakangnya.


Kenapa mereka bisa sampai ke tempat ini? Aku ingat aku sudah menyuruh mereka untuk kembali ke desa.


" Baaah!!! Elu dimana?!!!" teriak Iman lagi, sambil mencari keberadaanku.


"Gue di sini,Man!" teriakku pada Iman. Iman pun menoleh, dia lalu berlari menghampiriku, di susul juga oleh warga yang lain yang mengikutinya.


"Bah! Syukurlah.. elu baik-baik saja. Kita semua cemas sama elu bah." ujar Iman dengan nafas terengah-engah.


" Loh, memangnya ada apa? Gue baik-baik saja kok, kenapa kalian bisa sampai ke sini? bukankah aku sudah menyuruh semua orang untuk kembali ke desa, di sini terlalu berbahaya." tuturku menegaskan.


"Kami sempat pulang ke desa kok bah, cuman kami semua khawatir sama elu yang nekat pergi sendirian ke dalam hutan, jadi kita semua menyusul, sempat tidak tahu arah sih, tapi kita mengikuti jalan yang elu lewati tadi." Iman menjelaskan.


"Iya bah, sebelum ketemu Abah di sini, kami juga sempat mendengar suara dentuman yang keras sekali dari kejauhan, bahkan di langit kami jug melihat kilatan-kilatan cahaya, karena penasaran kami mencari tahu, tapi syukur lah kita bisa menemukan Abah di sini." ujar Pak Toto.


" Sebenarnya apa yang telah terjadi? Lalu siapa orang yang terbaring di sana bah?" tanya Pak Yusuf, melihat tubuh dukun yang tergeletak di tanah.


"Dia dukun alias kuncen pohon keramat Pak, dialah yang selama ini sudah meneror para warga dan mengajak orang-orang untuk melakukan pesugihan kepada Raja siluman kera." tuturku menjelaskan.


"Apa!! ja.. jadi dia pelaku di balik semua kekacauan ini?" ucap Pak Yaya Kaget.


" Ya, dia juga yang membuat kita kesulitan saat menebang pohon keramat, sehingga dia mengirim mahluk astral untuk merasuki kalian waktu itu." tuturku lagi.


" Dasar dukun kepar*t, tapi aku puas sekarang melihat dia tidak berdaya seperti itu. " ejek Pak Yaya.


" Apa mungkin dia masih hidup?sepertinya dia juga terluka." pungkas Pak Yusuf yang mencoba memeriksa keadaannya.


"Denyut nadinya sangat lemah, dengan luka yang separah ini mana mungkin dia bisa bertahan, ayo kita segera bawa dia ke rumah sakit!" ucap Pak Yusuf.


"Untuk apa! biarkan saja dia mati. sudah sepantasnya dia mendapat hukuman. karena dia sudah melakukan kejahatan pada warga." ucap Pak Yaya.


"Jangan seperti itu ya! Setidaknya kita harus punya sedikit hati nurani untuk menolongnya, meski dia sudah berbuat jahat sekalipun." ucap Pak Toto.


" Ya benar, mungkin dengan begitu dia akan jera dan bertaubat." ucap Pak Amin."


" Tapi, aku masih tidak habis pikir apa yang membuat dia bisa terluka separah ini?" ungkap Pak Yusuf yang masih bertanya-tanya.


" Mungkin dia terkena Azab pak." ucap Pak Yaya menjawab pertanyaan Pak Yusuf


" Husshh!! tidak boleh berbicara seperti itu, tidak baik." Sahut Pak Amin.


" Yaya, Yaya, gaya bicaramu keterlaluan, ingin sekali aku jahit mulutmu itu." sindir Pak toto kesal pada Pak Yaya.


" Sudah- sudah, Lebih baik kita segera membawanya ke rumah sakit." sahut Pak Yusuf.


Karena jarak hutan ke desa lumayan jauh.


Beberapa warga bergotong royong membuat tandu darurat dari akar dan batang pohon untuk membawa dukun itu ke desa.

__ADS_1


Sementara semua sibuk menyiapkan tandu.


Aku tengah berkomunikasi dengan rekan-rekan gaib dalam pikiranku.


"Terimakasih rekan-rekanku semua, kalian sudah membantuku hingga pertarungan terakhir" ucapku.


"Sama-sama Anom, ini sudah menjadi takdir bagi kami untuk selalu membantu dan mendampingimu." jawab Ki Sugro.


"Masih banyak hal yang tidak terduga yang akan terjadi nanti Anom, kamu harus selalu siap dalam menjalankan tugas-tugas dengan baik." sambung Aji Saka.


"Kami pamit anom jaga diri mu baik baik" tutur Nini kembar.


Lalu mereka pun menghilang.


"Bah! Woy! Malah melamun... ayo pulang? jangan bilang elu masih betah di sini. gue maklum sih, disini kan banyak teman-teman setan elu, kan! Tapi kasian lho istri sama anak lu di rumah bah." seru Iman.


"Dih, siapa juga yang betah di hutan, lagipula berteman dengan mahluk begitu harus pilih-pilih, Daripada punya teman setan mending gue temenan sama elu yang meski sedikit rese." ejekku sambil melengos pergi.


" Apa! Rese? Wah benar-benar nih, cari ribut." ucap Iman sambil mengejar ku.


Aku hanya tersenyum melihat Iman kesal.


Kami pun kembali bergegas menuju desa


Kurasa kali ini tugasku sudah selesai.


Rusli sudah selamat, dukun dan siluman kera itu telah mendapat hukuman mereka.


Itu artinya warga akan dengan mudah menebang pohon keramat tanpa gangguan.


Semoga dengan hilangnya pohon keramat, akses untuk orang-orang melakukan pesugihan juga akan hilang.


......................


Tibalah kami di depan rumah Pak Amin.


" Rusli! Alhamdulillah, mereka sudah kembali. Abah juga ada." seru Bu yasmin memberitahu Rusli yang tengah mengobrol dengan warga di dalam rumah.


" Benarkah Bu?" ucap Rusli berseru, dia segera berlari ke depan rumah untuk memastikan.


" Wah, benar! alhamdulillah! semua kembali dengan selamat Bu." ucap Rusli bersyukur.


" Ya Rusli, ini semua berkat Allah yang melindungi kita semua." ucap Bu Yasmin.


" Tapi siapa orang yang mereka bawa di tandu itu,bu?" tanya Rusli penasaran.


" Iya ya, siapa yang terluka? Ayo kita sambut mereka." jawab Bu Yasmin.


Setelah kami tiba dan di sambut Bu Yasmin, Rusli dan warga lain pun mengucap selamat dan merasa lega kami sudah pulang, kami semua senang dan terharu.


Semua orang nampak memeluk keluarganya masing-masing sambil mengucap syukur pada sang pencipta.


" Ini siapa Pak?" tanya Rusli pada Pak Amin tiba-tiba.


" Ini lho Rus, Dukun yang sudah membuat kita kesurupan saat menebang pohon keramat waktu itu, dia jugalah yang sudah meneror semua orang di desa." seru Pak Yaya geram.


"Untung saja kita hanya kesurupan, berkat Abah juga kita bisa pulih dengan cepat, Bahkan yang menangkap dukun ini juga Abah." sahut Pak Toto memberitahu semua warga.


Semua warga pun riuh memujiku, bahkan dari mereka ada yang tidak menyangka dengan penuturan Pak Toto, muncul rasa marah di hati para warga saat melihat si kakek dukun, tapi tidak dengan Rusli dia justru nampak Iba melihat kondisi Kakek Dukun.


"Bagaimana dengan kondisinya? Ku lihat dia terluka parah sekali." tutur Rusli.


" Dia sekarat, Rus. meski dia sudah berbuat jahat terhadap kita, tapi kita harus tetap menolongnya. itulah yang membedakan kita dengannya. Kita masih punya hati nurani dan adab untuk saling membantu antar sesama sekalipun itu musuh, adakah kalian yang mau memaafkan dan menolongnya?" Tanya Pak Yusuf ada semua warga.

__ADS_1


Mendengar penuturan Pak yusuf semua warga pun berbesar hati memaafkan perbuatan Dukun itu. Dan saling membantu menyelematkan nyawa kakek Dukun.


" Mari kita segera bawa dia ke rumah sakit terdekat." sahut Pak Yusuf.


Warga pun dengan sukarela ikut membantu. Ada yang memanggil Ambulans dan ada juga yang ikut mendampingi kakek dukun hingga ke rumah sakit.


Tinggal Beberapa warga yang masih bersama kami di rumah Pak Amin. Kami berkumpul dan bermusyawarah bersama memutuskan bagaimana nasib kakek dukun nanti.


"Oh, ya Rus. Pohon keramat itu sekarang sudah bisa di tebang dengan aman. Karena siluman kera itu sudah di musnahkan." ucapku.


"Hah! yang bener, Bah! Berarti siluman kera itu sudah tidak ada?!" tanya Rusli kaget.


Aku mengangguk mengiyakan.


" Alhamdulillah... Akhirnya secara tidak langsung penderitaanku dulu sudah terbalaskan. Bahkan semua warga sudah aman sekarang, tidak akan ada lagi korban sepertiku, Besok aku dan warga akan langsung menebangnya, Bah!" seru Rusli senang.


"Iya Rus, tebang saja langsung, lebih cepat lebih baik." sambung Iman.


" Berhubung tugas saya disini sudah selesai. kami ingin pamit untuk pulang." ucapku.


"Kalau begitu, bapak dan warga kampung, mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk semua yang telah abah lakukan bagi keselamatan warga dan kampung kami." ujar Pak Yusuf


" Saya juga bah, terimakasih sudah menolong saya waktu itu." ucap Rusli.


"Iya, bapak juga ingin berterimakasih sama Abah. sudah menyelamatkan anak saya, Rusli." sambung Pak Amin


"Sama-sama Pak, ini sudah menjadi tugas saya, saya hanya menjalankan peran yang di berikan sang kuasa untuk saling membantu antar sesama." jawabku


"Mungkin nanti setelah kami menebang pohon itu, kami akan mengadakan sedekah kampung sebagai tanda syukur keselamatan kampung kami. Jangan lupa datang, kami mengundang kalian." seru Pak Yusuf padaku dan Iman.


"Iya Pak, terimakasih Insyaallah kami akan menyempatkan waktu untuk datang. Kalau begitu saya pamit pulang sekarang, hari sudah mulai menjelang subuh. istri dan anak saya pasti sudah menunggu di rumah." sahutku.


"Salam untuk keluarga abah di rumah ya." sahut Bu yasmin.


Aku dan iman pun pamit pada semua orang disana.


Rasa lelahku tergantikan oleh keberhasilan menjalankan tugas ini.


Teringat yang dikatakan Aji Saka akan ada hal-hal yang baru yang tidak akan aku duga, dan aku harus siap untuk menjalaninya.


"Wiih, sungguh pengalaman yang seru bah! kayaknya kejadian ini hal yang paling ekstrim yang pernah gue alami, selama gue ikut sama elu Bah!" seru Iman.


"Itu artinya elu betah kan temenan sama gue." cetusku.


" Yoi." serunya.


......................


Keesokan harinya.


Aku mendapat kabar dari Pak Amin.


Pohon keramat berhasil di tumbangkan, batangnya di potong-potong dan di jadikan kayu bakar oleh seluruh warga, dan beberapa batang kayu besarnya di jadikan untuk banguan pos ronda.


Sempat Pak Yusuf memintaku untuk menghadiri sedekah kampung atau syukuran, namun aku tidak bisa hadir karena pekerjaanku yang dulu sempat ijin jadi banyak tertunda.


Yang penting mereka semua tetap aman dan hidup tentram, pohon keramat juga sudah di tumbangkan jadi tidak akan ada lagi tempat pesugihan.


Kini Aku bisa fokus bekerja dan punya lebih banyak waktu bersama keluargaku.


Terkadang masih ada orang-orang yang memintaku untuk menolong dalam hal-hal kecil, seperti mengusir jin dan kesurupan.


Namun, firasatku saat ini mengatakan sepertinya akan ada misi baru yang menungguku.

__ADS_1


Jadi aku harus mempersiapkan diri dari sekarang.


......................


__ADS_2